Bawalah Anak itu Kemari

Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Dalam Markus 9:19 tertulis bahwa Yesus memerintahkan agar anak yang sakit itu dibawa kepada-Nya. Lalu Dia menyembuhkan anak itu. Ini merupakan suatu tanda bahwa Dia mengasihi anak itu dan anak-anak lain pada umumnya. Yesus juga memperhatikan kebutuhan anak-anak. Pada bagian lain kita dapat membaca bagaimana Yesus memberkati anak- anak. Dia membawa anak-anak ke pertemuan mereka dan menjadikan anak- anak ini sebagai lambang orang yang akan masuk ke dalam Kerajaan Allah (Markus 10:13,16).

Suatu kali orang tua anak ini melihat banyak orang berbondong- bondong mendatangi suatu tempat. Ketika diketahuinya Yesus ada di situ, maka ia membawa anaknya ke sana. Ia mengutarakan maksudnya kepada murid-murid Yesus, tetapi mereka tidak dapat menyembuhkan. Akhirnya orang tua itu memberanikan diri berkata kepada Yesus yang dipanggilnya guru. Setelah menegur murid-murid, Yesus berkata, "Bawalah anak itu kemari." Karena melihat iman orang tua yang membawanya, Yesus pun menyembuhkan anak itu.

Kisah selengkapnya tentang kesembuhan anak ini dapat dibaca dalam Matius 17:14-21; Markus 9:14-29; dan Lukas 9:37-43. Berdasarkan kisah ini, ada hal atau kenyataan yang akan disoroti, yaitu kenyataan bahwa Yesus mengasihi anak-anak.

KENYATAAN BAHWA YESUS MENGASIHI ANAK-ANAK

Dalam Markus 9:19 tertulis bahwa Yesus memerintahkan agar anak yang sakit itu dibawa kepada-Nya. Lalu Dia menyembuhkan anak itu. Ini merupakan suatu tanda bahwa Dia mengasihi anak itu dan anak-anak lain pada umumnya. Yesus juga memperhatikan kebutuhan anak-anak. Pada bagian lain kita dapat membaca bagaimana Yesus memberkati anak- anak. Dia membawa anak-anak ke pertemuan mereka dan menjadikan anak- anak ini sebagai lambang orang yang akan masuk ke dalam Kerajaan Allah (Markus 10:13,16).

Dari dua bagian Alkitab ini, kita melihat bahwa orang-orang yang paling dekat dengan Yesus, yaitu murid-murid-Nya, justru menghalangi berkat Tuhan untuk anak-anak. Mengenai sikap murid-murid, atau gereja, akan kita bahas di bagian lain. Namun seharusnya, para murid atau gereja membantu anak-anak yang kurang berdaya ini untuk datang kepada Yesus dan menerima berkat-Nya. Harus ada orang yang membawa anak-anak kepada Yesus, seperti ayah anak yang sakit ayan itu. Jika tidak, anak-anak ini tidak akan dapat menerima Yesus dan akan menerima hukuman sebagai orang berdosa. Harus ada orang yang mengantarkan anak-anak datang kepada Yesus. Jika tidak, maka mereka akan datang ke tempat lain yang ditawarkan oleh dunia ini.

Ada banyak hal yang dapat menghalangi anak-anak untuk datang kepada Yesus. Menurut Pendeta Gonbei di antaranya adalah 8S: Sex, Speed (motor, mobil), Sake (minuman keras, obat-obatan terlarang), Smoke (rokok, ganja), School (sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, kursus), Screen (bioskop, televisi, video, permainan video), Sport (olahraga), Sound (musik). Penghalang itu ada di mana-mana; di jalan, di sekolah, bahkan di rumah. Namun, ada satu S lagi yang hanya dapat diperkenalkan oleh gereja, yaitu Savior (Juruselamat) yang kita tahu Dia adalah Yesus Kristus.

Sangat perlu disadari bahwa seperti halnya orang dewasa, anak-anak juga memerlukan Juruselamat. Anak-anak juga akan dihukum jika mereka tidak menerima Sang Penebus. Jangan kita tunggu hingga mereka besar untuk memperkenalkan Yesus kepada mereka. Siapa yang tahu umur seseorang. Anak-anak bisa mati karena penyakit, kecelakaan, perang, kejahatan, dan lain-lain. Inilah alasan mengapa peran gereja atau tepatnya pelayanan anak begitu penting. Amatlah penting bagi kita untuk memperkenalkan Yesus Kristus pada fase yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Jika pelayanan anak dilakukan dengan baik, kita bisa berharap akan mendapat sumber daya manusia yang handal untuk gereja dan bangsa.

Yesus meminta kita agar membawa anak-anak kepada-Nya. Yang perlu diperhatikan di sini adalah kita harus membawa anak-anak kepada Yesus bukan hanya secara fisik. Namun yang lebih penting adalah agar mereka dapat bertumbuh dalam pengenalan akan Allah dan dapat melayani Tuhan dalam segala aspek kehidupan mereka. Janganlah kita menjadi seperti murid-murid Tuhan Yesus yang menghalangi anak-anak untuk datang kepada Yesus.

Menghalangi anak datang pada Tuhan dapat berupa tindakan secara fisik maupun rohani. Mungkin kita tidak akan menghalangi anak secara fisik, misalnya melarang mereka datang ke pelayanan anak. Namun, yang menjadi masalah adalah bahwa acap kali tindakan dan bahkan pelayanan kita menghalangi anak-anak untuk mengenal Allah yang sesungguhnya. Penyampaian cerita Alkitab (lebih tepatnya firman Tuhan) dengan sembarangan merupakan salah satu cara menghalangi anak melihat Allah. Perhatikan contoh berikut.

Suatu hari seorang pelayan anak bercerita, "Anak-anak, suatu hari Tono diminta ibunya untuk membeli sesuatu di warung. Tetapi uangnya dipakai untuk jajan oleh si Tono. Lalu Tono berkata kepada ibunya bahwa uangnya hilang." "Malam harinya, anak-anak," guru itu melanjutkan, "si Tono bermimpi. Dalam mimpi itu ia dikejar-kejar oleh setan. Karena ketakutan, Tono berlari-lari sampai kemudian ia terbangun. Setelah bangun, ia ingat telah berbohong kepada ibunya. Jadi, ia pun mau mengaku salah kepada ibunya."

Contoh di atas benar-benar terjadi. Kebenaran Alkitab manakah yang ingin disampaikan oleh guru ini? Kapan setan atau iblis dapat membuat seseorang bertobat? Kalau memang iblis dapat mengajak orang bertobat, berarti Yesus tak perlu disalibkan. Kita pun tak perlu melayani.

Contoh lain yang sering terdengar adalah: "Anak-anak, supaya dapat masuk surga, kalian harus rajin ke gereja, rajin berdoa, tidak nakal, tidak nyontek ...." Apakah benar demikian? Kapan Tuhan berkata demikian kepada manusia? Bukankah keselamatan hanya didapat bila kita percaya kepada Yesus Kristus, karena keselamatan adalah anugerah?

Jadi, jika kita tidak mengajarkan secara benar siapa Tuhan Yesus itu dan bagaimana seseorang dapat diselamatkan, berarti kita menghalangi anak-anak untuk mengenal Tuhan. Jika kita tidak menganggap penting pelayanan anak, maka kita juga membuat anak menganggap kebaktian anak tidak penting. Itu pun sama dengan menghalangi anak datang kepada Yesus. Ironis memang, bila guru-guru Sekolah Minggu sendiri malah menjadi penghalang bagi anak-anak untuk mengenal Tuhan di gereja. Ironis memang, kalau anak-anak justru belajar ketidakadilan dan ketidakseriusan di gereja.

Kategori Bahan PEPAK: Guru - Pendidik

Sumber
Judul Artikel: 
Bawalah Anak Itu Kemari
Judul Buku: 
Menciptakan Sekolah Minggu yang Menyenangkan
Pengarang: 
Sudi Ariyanto dan Helena Erika
Halaman: 
25 - 32
Penerbit: 
Gloria Graffa
Kota: 
Yogyakarta
Tahun: 
2003