Baca: Filipi 2:5-11
"Seandainya ada seorang raja yang mengasihi pelayan wanitanya yang miskin," begitulah seorang filsuf Denmark, Soren Kierkegaard (1813 -- 1855), mengawali perumpamaannya. Bagaimana cara sang raja menyatakan kasihnya kepada pelayan wanita itu? Mungkin si pelayan akan menanggapinya karena takut atau terpaksa, padahal sang raja menginginkan pelayan itu mengasihinya dengan tulus.
Kemudian, sang raja yang sadar bahwa jika ia tampil sebagai raja, hal itu akan menghancurkan kebebasan
Artikel di bawah ini akan membantu para pelayan anak melihat lebih jauh mengapa sekolah minggu kerap tidak dapat memertahankan murid-muridnya. Pengurus sekolah minggu dapat mengadakan pertemuan khusus untuk membicarakan hal ini. Berikut adalah petunjuk jika pengurus mengadakan pertemuan untuk membahas masalah tersebut.
Pembahasan ini dimulai dengan menanyakan pendapat-pendapat para pekerja untuk menentukan beberapa alasan mengapa anak-anak keluar dari sekolah minggu.
Mendapat dan membuat para pekerja sekolah minggu bertahan dalam pelayanan adalah salah satu masalah yang paling sering disebutkan oleh pengurus sekolah minggu. Akan tetapi, sebagian besar masalah itu terjadi karena kelalaian para pengurus. Sering kali, program pendidikan tidak dilaksanakan atau sangat lemah. Kebanyakan mereka tidak pernah mencari tenaga yang baru untuk dipakai di dalam program pendidikan gereja mereka.
Apakah hal-hal berikut sedang Anda rasakan? Tidak ada lagi sukacita melayani sebagai seorang guru. Melayani dengan perasaan beban sangat berat sehingga membuat frustrasi. Melayani tanpa gairah, banyak masalah dengan sesama guru, rasanya ingin berhenti menjadi guru sekolah minggu, seandainya ada yang mau menggantikan, pelayanan anak hanya melelahkan saja tidak ada hasilnya, atau terpaksa masih menjadi guru sekolah minggu. Kreatif? Alat peraga? Kegiatan anak? Ah, pusing-pusing amat dengan semuanya itu. ... baca selengkapnya »
Guru Kristen merupakan suatu bagian penting dari perkembangan gereja mula-mula. Referensi tentang guru-guru Kristen ini banyak terdapat di Perjanjian Baru. Beberapa referensi dalam Perjanjian Baru untuk mereka yang melayani di posisi formal sebagai guru, seringkali sebagai pendeta-guru. Kebanyakan dari Perjanjian Baru tentang guru-guru, berkaitan dengan mereka yang sekarang ini melayani sebagai guru sekolah minggu.
... baca selengkapnya »
Jika kita bertanya kepada orang kristiani dewasa, "Apakah sekolah minggu perlu atau penting?", apakah kira-kira jawaban mereka? Kemungkinan besar jawabannya berkisar antara: "Oh, sangat perlu", "Ya, anak-anak harus diajar mengenal Tuhan sejak kecil", atau "Sekolah minggu harus diadakan". Pada dasarnya, mereka menganggap pelayanan sekolah minggu perlu dan penting.
Namun, apakah sikap yang memandang penting pelayanan anak itu terwujud dalam kenyataan?
Pembunuhan besar-besaran di Kolombia mengakibatkan negara ini menjadi bobrok, sehingga banyak orang yang bertanya-tanya apa penyebab keadaan ini. Mereka bertanya, "Mengapa masyarakat kita menjadi sangat lepas kendali?"
Sebenarnya jawabannya sangatlah sederhana. Bukan masyarakat yang hilang kendali -- individu-individu di dalamnyalah yang hilang kendali.
Diringkas oleh: Christiana Ratri Yuliani "Tetapi dengan teguh (hidup kita, dalam segala hal, dalam berbicara, dalam berhubungan, dan menjalani hidup) berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala." (Efesus 4:15)
Narcissus
Kata Narcissus berasal kisah Narcissus, seorang tokoh mitos yang sangat tampan.
Apakah Empati? Empati adalah kesanggupan untuk turut merasakan apa yang dirasakan orang lain dan kesanggupan untuk menempatkan diri dalam keadaan orang lain. Empati membuat kita dapat turut merasa senang dengan kesenangan orang lain, turut merasa sakit dengan penderitaan orang lain, dan turut berduka dengan kedukaan orang lain.
Hubungan Antara Empati, Belas Kasihan, Kepedulian
Rasa empati dekat sekali hubungannya dengan rasa belas kasihan. Karena seseorang berempati dengan orang lain, maka ia dapat
"Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu." (Amsal 29:17)
Sebagai orang tua, kita telah sering mendengar ayat ini. Bahkan, ada saat-saat di mana kita sangat bergantung pada kepastian yang diberikan dalam ayat ini. Apakah saya melakukannya dengan benar? Apakah saya telah terlalu banyak mengatakan "tidak" hari ini? Apakah ini benar-benar "perang" yang pantas bagi anak dua tahun? Bagi anak tujuh belas tahun?