Oleh: Suyatno
Tiap manusia berkembang dalam hidupnya sebagian besar dipengaruhi oleh kegiatan bermain. Sampai-sampai banyak orang yang tergila-gila dengan permainan. Lihat saja, setiap pertandingan permainan sepak bola, voli, balap karung, atau permainan apa saja, selalu banyak yang menonton. Hal itu membuktikan kalau permainan memang digemari oleh banyak orang.
Nah, tentunya akan memberikan dampak yang luar biasa bagi perkembangan kejiwaan, kecerdasan, keterampilan, dan kesantunan anak, apabila
Saat istri saya menjadi kepala divisi anak-anak sekolah minggu, dia meminta anak-anak asuhnya untuk menyediakan waktu lima belas menit dari waktu penyembahan untuk menulis satu paragraf tentang seperti apakah Tuhan itu. Berikut beberapa contoh hasilnya.
"Menurutku, Tuhan itu Seseorang yang berjenggot dengan rambut yang panjang, bermata coklat dan teduh, serta berpakaian compang-camping." "Tuhan adalah orang yang hebat. Tuhan adalah sukacita dan kebahagiaan.
Cerita Hamlet yang ditulis oleh Shakespeare mengisahkan bahwa Hamlet mengetahui keterlibatan raja dalam pembunuhan ayahnya. Agar raja mau mengakui kesalahannya, Hamlet memaksa dia untuk melihat serangkaian cerita yang dimainkan tentang kejahatan itu. "Memainkan sesuatu," harap Hamlet, "di mana aku akan membuat raja sadar pada kesalahannya."
Apa yang dilakukan Hamlet, "memainkan sesuatu", juga dapat dilakukan dalam pelayanan anak.
Teknik yang terkenal akhir-akhir ini, bermain peran (role play), mengajak kita kembali kepada psikoterapi tahun 1930-an. Sejak itu, role play telah berkembang menjadi berbagai bentuk dan variasi pendidikan dari tingkat pemula di sekolah dasar hingga ke tingkat yang lebih tinggi dalam pelatihan manajerial bisnis eksekutif. ... baca selengkapnya »
Dalam "role play", anak-anak berperan sebagai orang lain -- mereka memainkan suatu peran. Namun, permainan ini tidak perlu latihan dan tidak untuk hiburan. Role play biasanya menyampaikan suatu masalah sebelum memberikan pemecahan atas masalah itu. Anak-anak yang mainkan peran itu menunjukkan apa yang akan mereka lakukan -- bagaimana reaksi mereka terhadap suatu kejadian atau situasi.
Sebagian orang menyebut mereka keluarga tiri. Sebagian lain menyebut mereka keluarga besar. Sebagian yang lain masih saja menyebutnya sebagai keluarga yang dibentuk atau disusun ulang. Terserah Anda mau memakai istilah yang mana, namun setiap hari terbentuk 1.300 keluarga yang demikian. Ketika jumlah keluarga campuran dan keluarga dengan orang tua tunggal digabungkan, jumlahnya sama dengan jumlah keluarga di mana suami dan istri tinggal bersama anak-anak kandung mereka.
Keluarga campuran tidak
Menjadi orang tua tiri bukan sebuah hal yang mudah. Sulit untuk menjalin sebuah kedekatan dan memeroleh penerimaan dari anak tiri. Artikel berikut ini kiranya dapat membantu para orang tua yang mengalami kesulitan di dalam membangun hubungan dengan anak tiri. Tuhan Yesus memberkati.
MEMBANGUN HUBUNGAN YANG SEHAT DENGAN ANAK TIRI
Menjadi orang tua memiliki banyak tantangan besar. Namun, tidak banyak yang lebih menantang daripada menjadi orang tua tiri Kristen. Singkatnya, orang tua tiri bersama
Menjadi orang tua tiri bukan sebuah hal yang mudah.
Autis adalah penyakit atau gangguan pada perkembangan otak yang diperkirakan menyerang 1 dari 1.000 orang di Amerika. Orang yang menderita autis biasanya kurang mampu berbahasa dan tidak mampu bergaul dengan lingkungan sosialnya. Sekitar 80% dari jumlah penderita autis adalah laki-laki. Mengapa demikian, alasannya tidak diketahui oleh para peneliti.
Hal yang juga tidak diketahui adalah penyebab autis.
Bagi beberapa keluarga, pengalaman bergereja sering kali merupakan tradisi yang diturunkan. Keluarga-keluarga lain mengenali kebutuhan mereka akan tempat berlindung secara rohani dan mengasuh untuk pertama kalinya dalam hidup mereka pada saat mereka memiliki anak atau pada masa-masa sulit lainnya.
Contoh kasih "agape" atau kasih tak bersyarat yang Kristus berikan merupakan contoh tertinggi bagi pemahaman kita terhadap peran penerimaan di gereja.
Salah satu bentuk kekhawatiran yang ditemui pada kebanyakan anak-anak adalah takut jika gagal. Anak yang memiliki ketakutan untuk gagal yang berlebihan dapat dikatakan mengidap "kakorafiofobia". Ingin mengetahui lebih banyak tentang hal ini? Silakan simak artikel selengkapnya berikut ini. APAKAH ANAK ANDA MENGIDAP KAKORAFIOFOBIA? Sebuah pertanyaan bagi Anda, mana yang lebih buruk, takut akan kegagalan atau kegagalan itu sendiri?