Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Bagaimana Caranya Kita Mengajarkan Kejujuran?


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Kejujuran merupakan salah satu dari "nilai-nilai inti", yaitu bahan baku sejati yang dapat membentuk integritas dan kematangan pribadi. Sama seperti nilai-nilai lainnya kejujuran tidak dapat dikenakan kepada seorang anak bagaikan memulas satu lapisan cat. Akan tetapi kejujuran itu tumbuh seperti serat-serat pada kayu -- yaitu merupakan bagian dari seluruh perkembangan dan pertumbuhan anak itu. Sebagai orangtua tugas kita ialah membimbing anak-anak kita agar mempunyai hati nurani yang jernih, mempunyai komitmen untuk berlaku jujur, dan sanggup untuk berpikir sendiri.

Mengajarkan anak untuk berlaku jujur itu menyangkut tiga tahap pemberian instruksi: yang faktual, yang menyangkut hubungan, dan yang sifatnya pribadi.

Tahap faktual merupakan proses yang berkesinambungan untuk mengisi pikiran anak dengan konsep kejujuran dan berbagai konsekuensi ketidakjujuran. Cerita-cerita Alkitab yang menggambarkan betapa besarnya nilai integritas (kepercayaan) itu sangat bermanfaat. Cobalah menceritakan kepada anak-anak yang masih duduk di Sekolah Dasar cerita tentang penipuan Yakub terhadap ayahnya (Kejadian 27). Diskusikan dengan anak-anak remaja kisah dosa Daud dengan Batsyeba (2Samuel 11). Perhatikanlah kesetiaan Yosia terhadap rencana-rencana Allah (2Raja-raja 22,23) dan komitmen Mikha pada kebenaran (1Raja-raja 22:14).

Identitas psikoseksual seorang anak mulai terbentuk pada waktu anak berusia kira-kira dua tahun. Selain mendengarkan apa yang Anda katakan anak seusia itu mulai meniru Anda secara lebih cermat. Keinginan untuk mencontoh ini merupakan awal dari tahap pemberian instruksi yang menyangkut soal hubungan. Itu sebabnya Anda perlu memperhatikan dengan cermat standar-standar kejujuran Anda sendiri. Seorang anak kecil pun akan dapat melihat dan mengerti lebih banyak daripada apa yang Anda sadari tentang komitmen Anda pada soal integritas. Apa yang akan Anda katakan kepada anak-anak Anda, ketika Anda misalnya, melakukan urusan dagang Anda atau menyusun perhitungan pajak Anda? Pernahkah Anda "berbohong demi kebaikan" untuk menyenangkan hati orang atau mengelakkan sesuatu yang tidak menyenangkan (seperti menyuruh anak Anda menjawab telepon dan mengatakan bahwa Anda tidak di rumah)?

Sangatlah penting anak Anda melihat Anda mengakui dengan jujur atas kegagalan-kegagalan Anda; misalnya, mengendarai mobil terlalu cepat dalam keadaan lalu lintas yang ramai, tidak pulang ke rumah padahal Anda mengatakan bahwa Anda akan pulang, atau tidak menepati janji. Memberi teladan secara demikian realistik itu akan menyebabkan anak itu merasa bebas untuk bergumul dengan masalah-masalahnya sendiri. Seorang ibu menceritakan bagaimana anaknya yang di taman kanak-kanak tidak mau mengakui dosa-dosanya kepada Allah pada waktu doa malam bersama, sebelum ayahnya mengakui secara terang-terangan kekurangan- kekurangannya.

Latihan tahap ketiga ialah untuk menolong anak itu untuk secara pribadi menerapkan prinsip kejujuran dalam konteks kehidupannya sehari-hari. Tunjukkanlah kepada seorang anak prasekolah atau yang sudah duduk di Sekolah Dasar sehelai uang Rp 1.000,00 dan tanyakan apa yang akan dilakukannya bila ia menemukannya di jalan. Tekankan bahwa bersikap jujur akan membuat seseorang mempunyai perasaan senang, menolong orang lain, dan menyenangkan Allah maupun ayah dan ibu. Perankanlah bersama suatu sandiwara kecil tentang berbagai keadaan lain yang menuntut keputusan untuk berlaku jujur.

Ingatlah senantiasa bahwa menurut hasil penelitian, seorang anak pada tahun-tahun awalnya tidak memiliki kesadaran batin tentang yang benar dan yang salah, yang dimilikinya hanyalah ketakutan akan konsekuensinya. Anak itu menerima apa yang dikatakan oleh orang tuanya karena ia ingin menyenangkan mereka. Pujian atau pukulan di pantat atau hukuman untuk tinggal di kamar merupakan ukuran bagi anak tentang apakah suatu tindakan itu jujur atau tidak, jadi bertukar pikiran tentang soal-soal kelakuan tidak akan banyak berpengaruh pada tingkah laku anak kecil itu.

Tetapi menjelang masuk Sekolah Dasar, hati nurani anak itu sudah mulai menjadi matang, dan tindakannya mulai dinilai berdasarkan standar moral hati nuraninya. Dalam usia ini anak-anak dapat mulai diajarkan tentang kejujuran dengan menceritakan kisah-kisah kehidupan yang sebenarnya. Umpamanya, tanyakanlah apa yang akan dilakukan oleh anak itu jika ia melihat seorang teman menyelipkan alat penajam pinsil yang kecil ke dalam kotak makanannya sewaktu berada di sebuah toko alat-alat tulis. Lanjutkan dengan pertanyaan- pertanyaan seperti "Mengapa?" dan "Apa akibatnya nanti?" Pada umur-umur ini motivasi anak Anda sudah harus lebih daripada sekadar menyenangkan orangtua saja, dan sudah harus dapat melakukan yang benar karena dengan demikian ia pun akan merasa senang dengan dirinya sendiri.

Anak-anak yang duduk di SLTP dan SLTA sudah harus memiliki hati nurani yang sudah berkembang dengan baik dan sudah harus dapat berpikir secara lebih abstrak tentang tata nilai yang dijunjungnya. Anda dapat memberinya semangat dengan mengadakan diskusi dengan anak remaja Anda tentang artikel-artikel surat kabar yang memberitakan berbagai tindakan yang tidak jujur, baik yang dilakukan secara perseorangan maupun secara kelompok di kalangan pengusaha dan pemerintahan. Tolonglah anak Anda untuk dapat melihat apa motivasi mereka dalam melakukan tindakan semacam itu.

Teruslah mengandaikan keadaan-keadaan yang realistik yang cocok dengan umur anak Anda, seperti kesempatan-kesempatan untuk berbuat curang pada waktu ujian, memakai surat keterangan orang lain, atau berbohong kepada orangtua tentang ke mana ia pergi. Pikirkan berbagai kemungkinan akibat ketidakjujuran, terutama tentang rusaknya hubungan kita dengan orang lain. Perhatikan bagaimana satu kebohongan akan membuat kita berbohong lagi untuk menutupi keadaan yang sebenarnya. Bimbinglah anak Anda agar dapat menyadari bahwa jika kita tidak jujur, kita tidak dapat bergaul dengan orang lain secara sehat - baik di sekolah, di rumah, dalam pernikahan, masyarakat, atau pemerintahan.

Jika anak Anda sudah mempunyai pengertian yang jelas bahwa kejujuran itu berakar pada firman Allah, ia tidak akan jatuh ke dalam perangkap yang sering dihadapi yaitu kecenderungan untuk memandang baik atau salah itu hanya dari segi apa yang paling menyenangkan hati, yang direstui orang lain, atau yang mana yang paling penting. Perasaan hati anak itu akan peka terhadap ketidakjujuran dalam segala bentuknya dan hal itu akan menolongnya untuk terus-menerus menghindarinya.

Dalam sepanjang proses perkembangan itu, usahakanlah untuk memusatkan perhatian pada tindakan-tindakan anak Anda maupun tindakan-tindakan orang-orang lainnya. Yakinkan dan berilah pujian kepada anak Anda itu, baik di hadapannya sendiri maupun di hadapan teman-teman sebayanya. Dengan memberi label jujur kepada anak Anda itu berarti Anda menekankan dan sangat menghargai kejujuran; hal itu akan memotivasikan dia untuk mengejar sifat itu bila di dalam kehidupan ini ia harus membuat pilihan yang benar-benar berat.

Kategori Bahan PEPAK: Anak - Murid

Sumber
Judul Buku: 
Cara Mengarahkan Anak
Pengarang: 
Paul Lewis
Halaman: 
153 - 157
Penerbit: 
Yayasan Kalam Hidup
Kota: 
Bandung
Tahun: 
1997

Komentar