Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Teladan Seorang Pendidik


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Jikalau Tuhan memberi kita hak untuk menjadi orang tua atau guru dari seseorang, kita harus sadar bahwa kita sedang dijadikan seorang arsitek jiwa bagi orang lain. Kita harus merencanakan bagaimana menjadikan mereka menjadi orang-orang yang akan dibentuk.

Ketika seseorang masih kanak-kanak, ia memiliki kemungkinan yang sangat besar untuk dibentuk. Mereka cepat meniru orang lain, khususnya orang-orang yang mereka kagumi. Jikalau seorang anak menemukan orang yang ia kagumi, tidak lama kemudian semua gerak-geriknya akan sama seperti orang yang dikagumi itu.

Pada usia 8 tahun, saya memunyai seorang guru sekolah minggu yang sangat baik, begitu mencintai Tuhan, dan begitu mengenal anak-anak didiknya. Saya sangat mengagumi dia. Ia seorang guru perempuan, padahal saya laki-laki. Tanpa sadar, saya mulai mengikuti gerak-geriknya. Bahkan, ketika guru itu bibirnya sedikit miring, maka bibir saya ikut-ikut miring. Kekaguman akan membuat kita ingin meniru atau menjadi imitasinya, dan mau meneladani dia. Itu sebabnya, Anda harus memerhatikan kalimat ini: "Pendidik harus memunyai satu pribadi yang boleh menjadi seorang pendidik". Ini kriteria yang sangat penting. Sebagai seorang pendidik, kita sedang membangun pribadi seseorang menurut pribadinya sendiri. Kalau seorang pendidik memiliki kepribadian yang belum beres, atau tidak sesuai dengan kedudukan dan kewajiban sebagai pendidik, maka pribadinya yang tidak baik akan merusak orang lain, sekalipun ia memiliki teori pendidikan yang sangat baik, yang terus-menerus keluar dari mulutnya.

Jika kita menjadi pendidik, biarlah kita mengingat suatu konsep dasar bahwa pendidikan harus dimulai dengan mendidik pribadi. Pendidikan bukan penyalur pengetahuan. Pendidikan juga bukan merupakan salah satu di antara sekian banyak profesi, untuk kita menyelesaikan problema nafkah hidup kita sendiri. Pendidikan adalah pembentukan karakter, maka pendidik sendiri harus memunyai karakter yang bertanggung jawab. Dasar ini merupakan dasar yang sangat penting. Sejarah sebenarnya merupakan ekstensi dari bayang-bayang karakter-karakter yang agung, yang muncul di dalam sejarah manusia. Sejarah suatu suku, suatu bangsa, atau suatu bidang akademik, sebenarnya merupakan ekstensi gerak-gerik dari bayang-bayang beberapa karakter yang agung. Jika di dalam sejarah tidak ada pribadi-pribadi yang begitu agung dan bersifat memengaruhi, maka tidak ada sejarah yang bisa dicatat bagi kita. Tidak ada seseorang yang sekarang mempergunjingkan berapa gaji yang diterima oleh Socrates ketika hidup, atau kemungkinan banyaknya dan harganya pertambangan yang bisa dijual secara internasional. Orang tidak terlalu menghiraukan hal itu, tetapi orang akan memikirkan siapa orang yang berpribadi agung, yang memberikan kontribusi agung bagi zamannya dan bagi zaman yang akan datang.

Sejarah memunyai bayang-bayang yang berkesinambungan, dari gerak-gerik yang dipengaruhi oleh karakter-karakter yang agung. Pada waktu kita menelusuri sejarah kembali, maka karakter-karakter agung yang pernah muncul dalam sejarah, segera masuk ke dalam bayang-bayang kita. Ketika kita memikirkan Socrates, Beethoven, Abraham Lincoln, atau yang lain, kita akan langsung melihat sumbangsih mereka. Semua ini menunjukkan bahwa sejarah dibentuk oleh pribadi-pribadi yang berpengaruh, yaitu pribadi-pribadi yang memiliki potensi dan sekaligus kebahayaan, yang bersama-sama bertumbuh dan berada di dalam hidup seseorang. Ketika kita memikirkan tentang Jerman, kita langsung memikirkan orang-orang yang penting, seperti Beethoven, Hegel, Goethe, Schiller, termasuk Hitler. Karakter-karakter tertentu akan menjadi simbol dari suatu bangsa, budaya, atau suatu sistem akademis tertentu. Maka semua yang kita pikirkan akan dipengaruhi oleh beberapa karakter itu. Demikian juga ketika kita membicarakan sejarah kekristenan, selain kita memikirkan Kristus, kita juga memikirkan Paulus, Timotius, Agustinus, Polycarpus, Luther, Calvin, B.B. Warfield, Billy Graham, dan lain-lain. Karakter-karakter Kristen yang telah memberikan sumbangsih bernilai di dalam sejarah, kita ingat dan kita pelajari, sehingga menjadi teladan bagi kita. Itu sebab pembentukan karakter sangat penting dalam pendidikan. Setiap orang tua, guru Kristen di sekolah, guru sekolah minggu, atau guru pribadi, adalah orang-orang yang diberi hak yang sangat besar oleh Tuhan, untuk mendidik karakter-karakter yang diberikan kepadanya. Inilah suatu hak istimewa yang sangat besar. Mewakili Tuhan yang mengutus saya, dengan sungguh-sungguh saya berkata: "Hormatilah diri Anda sebagai guru."

Jikalau Anda secara sembarangan menjadi guru, tanpa pengabdian, tanpa komitmen, dan tidak mengetahui berapa besar kemungkinan sumbangsih Anda kepada masyarakat, bangsa, sejarah, kebudayaan, dan gereja, atau sebaliknya Anda tidak menyadari berapa besar pengrusakan yang akan Anda akibatkan melalui pendidikan yang salah, maka sekali lagi dengan amat sangat saya meminta kepada Anda untuk menghormati hak yang ada pada Anda, kedudukan Anda sebagai guru anak-anak. Allah telah memberikan yang paling berharga kepada Anda. Bukan emas atau perak atau hal-hal yang lain, tetapi menyerahkan anak-anak manusia, yang dicipta menurut peta dan teladan-Nya sendiri, yang memunyai pribadi-pribadi yang tidak pernah terulang dan tidak mungkin diganti. Bagaimanakah Saudara mendidik mereka?

Ketika seorang ayah sedang berjalan menuju ke tempat seorang pelacur di malam hari, ia beranggapan tidak ada yang mengetahui kepergiannya. Ketika hampir tiba di rumah pelacur itu, pada saat ia melihat ke belakang, ia melihat anak laki-lakinya mengikutinya dari belakangnya. Ia memarahi anaknya dan mengusir anaknya pulang. Ia masih ingin memakai wibawanya sebagai ayah. Tetapi anaknya hanya tertawa dan mengatakan bahwa ia sudah mengikuti ayahnya selama dua bulan. Ia berkata: "Saya baru tahu bahwa ayah yang begitu galak ternyata tidak beres." Mulai hari itu, dengan kuasa apakah ayah seperti itu bisa mengatakan apa yang boleh atau apa yang tidak boleh dilakukan anaknya?

Orang tidak mungkin tidak menghormati Anda, kecuali Anda sendiri tidak menghormati diri Anda sendiri terlebih dahulu. Kalau boleh saya meminta dengan sangat kepada para orang tua, para guru, hiduplah secara beres, demi hidup anak-anak Anda dan anak-anak didik Anda. Hargailah diri Anda yang menjadi guru orang lain. Hargailah hak Anda untuk menjadi ayah dan ibu orang lain. Masih ingatkah, ketika kecil kita menyebut "ayah" atau "ibu" dengan begitu hormat? Jika ada anjing mau menggigit kita, kita tidak lari mencari polisi, kita mencari ibu, meskipun anjing itu lebih besar dari ibu, kita tetap yakin ibu bisa memberikan pengharapan bagi kita, ibu pasti akan menyelesaikan problema kita. Hargailah diri Anda, karena Anda sedang menggarap diri orang lain.

Salah satu hal yang paling besar di dalam diri dan hidup kita adalah: pengaruh pribadi kepada pribadi. Pengaruh pribadi kepada pribadi ini kurang dibahas di dalam bidang-bidang ilmu yang sedang berkembang pesat saat ini. Di situlah Tuhan memberikan sesuatu kemungkinan melalui apa yang Anda lihat dan ketahui, Anda dapat dididik dengan apa yang tidak kelihatan. Hal seperti ini sangat tegas di dalam Alkitab. Paulus menegaskan bahwa setiap orang yang bisa dipelajari dan menjadi teladan bagi hidup kita, harus diperhatikan sampai ke titik akhir hidup mereka. Paulus menuntut untuk jemaat saling melihat, apakah yang mereka lakukan seumur hidup mereka cukup konsisten. Jikalau seseorang mengajar sesuatu sedemikian muluk, tetapi kemudian apa yang ia lakukan sama sekali berlawanan dengan apa yang ia ajarkan, itu hanya ucapan kosong belaka. Tetapi, jika seseorang melayani Tuhan selama berpuluh-puluh tahun dengan semangat yang sama, sungguh-sungguh berkorban, sungguh-sungguh berjerih lelah untuk orang lain, dan sungguh-sungguh mengabdi kepada Tuhan, maka ia adalah orang yang patut dihormati. Ia sungguh-sungguh seorang hamba Tuhan, dan ia sungguh-sungguh boleh menjadi guru. Saya berharap, agar ketika anak-anak saya bertumbuh menjadi dewasa, mereka tetap dapat menganggap saya sebagai ayah yang dapat mendidik mereka dengan baik. Demikian juga, saya berharap agar murid-murid saya, ketika mereka telah menjadi pendidik-pendidik, mereka tetap bisa mengaku bahwa saya bisa mendidik mereka. Saya berharap setiap Anda juga memunyai tekad yang sama seperti saya, tetap konsisten dan berkesinambungan semangatnya dari awal sampai akhir, seperti Paulus berkata: "Lihatlah titik akhir orang-orang itu."

Dalam peribahasa Tionghoa dikatakan: "Setelah peti mati itu ditutup, barulah terjadi kritik atau pujian yang betul-betul adil." Sebelum seseorang meninggal, jangan terus-menerus dipuji, karena mungkin ia akan jatuh di titik akhirnya. Sebelum ia meninggal, juga jangan terus-menerus dikritik, karena mungkin sebelum meninggal ia bisa bertobat dan menjadi lebih baik dari pengkritiknya. Itu berarti masalah kesinambungan waktu menjadi suatu saksi yang setia. "Time ia the most faithful witness to your personality." Itu sebabnya, satu peribahasa kuno mengatakan, bahwa untuk mengerti kuda yang baik, bukan dengan melihat tubuhnya saja, tetapi dengan melihat kuda itu berlari jauh. Jalan yang panjang akan menguji kekuatan kuda. Hari dan tahun-tahun yang lama akan menguji kesetiaan kawan.

Kita harus menghormati diri kita, menghormati pekerjaan yang diberikan oleh Tuhan, menghormati profesi sebagai pendidik yang begitu berharga yang dimandatkan oleh Tuhan kepada kita.

Artikel ini pernah dipublikasikan dalam e-BinaAnak edisi 134 < http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/134/ >

Diambil dari:

Judul buku : Seni Membentuk Karakter Kristen: Hikmat Guru dan Ayah Bunda
Judul bab : Karakteristik Seorang Pendidik
Judul artikel : Teladan Seorang Pendidik
Penulis : Dr. Maria Setiawani dan Pdt. Dr. Stephen Tong
Penerbit : Lembaga Reformed Injili Indonesia
Halaman : 37 -- 42

Kategori Bahan PEPAK: Guru - Pendidik

Komentar