Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Panggilan yang Ajaib


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Nas: Matius 2:1-2 Natal merupakan sebuah peristiwa yang paling agung di dalam sejarah. Sayangnya, kita sering kali hanya mengenang peristiwa ini pada hari Natal atau menjelang Natal, walaupun kita tidak tahu kapan tepatnya Natal yang sesungguhnya. Bagi saya ini tidak penting, yang penting adalah bagaimana kita senantiasa mengingat jiwa, teladan, dan kerendahan dari inkarnasi Kristus. Itu sebabnya, pada hari ini kita kembali merenungkan makna Natal dalam hidup kita. Kita akan belajar beberapa butir

Nas: Matius 2:1-2

Natal merupakan sebuah peristiwa yang paling agung di dalam sejarah. Sayangnya, kita sering kali hanya mengenang peristiwa ini pada hari Natal atau menjelang Natal, walaupun kita tidak tahu kapan tepatnya Natal yang sesungguhnya. Bagi saya ini tidak penting, yang penting adalah bagaimana kita senantiasa mengingat jiwa, teladan, dan kerendahan dari inkarnasi Kristus. Itu sebabnya, pada hari ini kita kembali merenungkan makna Natal dalam hidup kita. Kita akan belajar beberapa butir penting sehubungan dengan Natal.

Pertama, Natal membuktikan bahwa anugerah Allah lebih besar daripada dosa manusia. Kedatangan Kristus dalam dunia ini menunjukkan bahwa kasih Allah lebih besar daripada dosa manusia. Andaikata keadilan Allah lebih besar daripada dosa manusia, maka kita semua tidak akan merayakan Natal dan itu berarti kita semua harus dihukum.

Kedua, Natal membuktikan bahwa cara kerja Allah sering kali berada di luar jangkauan pikiran manusia. Ketika Allah menggenapi janji-Nya, kita melihat penggenapannya sering kali berada di luar pikiran dan pengalaman manusia. Secara waktu, siapa yang pernah berpikir bahwa Anak Allah datang ke dunia justru setelah Allah diam selama 400 tahun. Allah tidak memakai seorang nabi pun untuk memberitakan firman pada zaman itu. Namun, setelah 400 tahun, barulah Allah menggenapi janji yang telah Ia nubuatkan ribuan tahun yang lalu. Secara tempat, siapa yang pernah berpikir bahwa untuk menggenapi janji-Nya, Allah justru memakai tempat yang sederhana dan tidak terkenal, yaitu kota Bethlehem. Bethlehem berarti rumah roti. Kota Bethlehem adalah kota kecil yang mungkin berada di luar pikiran manusia. Namun, di sini kita melihat bahwa apa yang tidak dipandang oleh manusia justru dipakai Allah untuk menjadi rumah roti bagi jiwa manusia yang lapar dan haus.

Ketika Allah menggenapi janji-Nya, bukan hanya di kota yang tidak terpandang, Ia juga lahir di sebuah tempat yang tidak terpikirkan oleh manusia, yaitu sebuah kandang yang hina, kotor, dan bau. Bahkan, Anak Allah dibaringkan pada sebuah palungan, yaitu tempat makan binatang. Kandang dan palungan adalah tempat yang tidak layak untuk dihuni oleh manusia, tapi justru di situlah Allah menggenapi janji-Nya. Sungguh, ini berada di luar pemikiran manusia yang terbatas.

Ketiga, Natal berarti Allah ada di tempat yang tidak pernah diharapkan oleh manusia. Siapa yang menyangka bahwa Anak Allah datang ke dalam dunia justru memakai rahim seorang wanita yang masih gadis. Rahim seorang wanita yang masih dara seharusnya tidak berisi. Namun, di sini kita melihat wanita yang tidak seharusnya berisi justru menjadi berisi. Sebaliknya, kubur Yesus yang seharusnya berisi menjadi tidak berisi. Mengapa ini terjadi? Karena kuasa Allah. Namun, siapa yang pernah menyangka dan mengharapkan bahwa Anak Allah sekarang ada di dalam kandungan seorang wanita. Demikian juga, siapa yang pernah menyangka Allah ada di sebuah kandang, lebih khusus di dalam palungan. Bahkan, kalau kita tarik lebih jauh, yaitu pada saat penyaliban, siapa yang pernah menyangka Allah ada di atas kayu salib. Sungguh, ini merupakan satu peristiwa yang sulit dipikirkan oleh manusia karena memang ini berada di luar kemampuan pikiran dan pengalaman manusia yang terbatas. Ya, ser ing kali Allah tidak ditemukan di tempat yang dapat dicapai oleh pikiran manusia yang terbatas. Tidak. Justru, Natal membuktikan bahwa Allah ada di tempat yang tidak pernah diharapkan oleh manusia.

Keempat, Natal pertama memanggil orang yang tidak pernah dipikirkan dan diharapkan manusia. Siapa yang pernah menyangka bahwa Natal justru pertama kali memanggil orang yang berada jauh di luar bangsa Israel. Natal pertama kali memanggil orang Majus, bukan penggembala, meski akhirnya dalam Alkitab dikatakan bahwa gembalalah yang tiba terlebih dahulu.

Secara khusus kita akan mengamati orang Majus. Di sini, saya menemukan beberapa pelajaran rohani yang penting berkenaan dengan orang majus. Pembahasan kita mengenai orang Majus ini meliputi tiga hal, yaitu pribadinya, perjalanannya, dan penyembahannya.

Dilihat dari pribadinya, orang Majus bukanlah orang Yahudi atau dengan kata lain bukan bangsa pilihan Allah, melainkan orang kafir. Orang kafir, menurut orang Yahudi, adalah orang yang tidak memiliki pengharapan di dalam dunia. Orang Majus adalah orang yang seharusnya dikerat, dibuang, dan dibakar. Itu sebabnya pertama kali, tatkala Allah menggenapi janji-Nya, justru janji tersebut bukan pertama-tama di dengar oleh para imam, ahli Taurat, atau umat Israel. Berita sukacita pertama kali didengar oleh orang kafir, yaitu orang yang tidak masuk hitungan dan sungguh tidak pernah terpikirkan oleh orang Yahudi bahwa kedatangan Mesiah yang dijanjikan justru pertama kali didengar oleh orang kafir. Orang Majus bukan hanya orang kafir, tetapi juga merupakan para sarjana. Mereka adalah orang-orang yang terpandang, baik di dalam pendidikan, kekayaan, dan kedudukan. Jadi orang yang pertama kali dipanggil oleh Allah justru bukan ahli kitab, orang beragama, atau orang Israe l, melainkan orang kafir yang berpendidikan dan berpengetahuan tinggi.

Dari segi perjalanannya. Orang Majus berasal dari tempat yang sangat jauh. Banyak penafsir yang mengatakan bahwa orang Majus adalah orang Arab atau orang Persia. Saya pribadi lebih setuju bahwa orang Majus kemungkinan berasal dari Persia, mengingat orang Persia pada masa itu terkenal dengan ilmu astrologinya. Perjalanan dari Persia ke Yerusalem membutuhkan waktu yang sangat lama. Mereka harus berjalan berbulan-bulan untuk sampai ke Bethlehem. Kita mungkin bertanya, "Bagaimana mereka -- yang berasal dari tempat yang begitu jauh -- bisa tahu bahwa ada Raja orang Yahudi yang baru dilahirkan?" Saya pribadi percaya, mereka tahu bahwa ada Raja orang Yahudi baru dilahirkan karena mereka mempelajari bintang dan juga mempelajari Kitab Suci orang Israel. Ingat bangsa Israel pernah ditawan ke Persia. Jadi, panggilan Tuhan kepada mereka pertama-tama melalui wahyu umum, selanjutnya ketika mereka mempelajari Kitab Suci, Tuhan memimpin mereka dan memberikan pencerahan kep ada mereka sehingga mereka dapat memahami melalui ilmu perbintangan yang mereka pelajari, bahwa Allah telah memakai bintang untuk memberitahukan kepada mereka bahwa Raja orang Yahudi yang dijanjikan sudah lahir.

Ketika mereka berjalan dari tempat yang jauh, banyak tantangan yang mereka hadapi dan itu tidak mudah. Mereka harus melalui padang gurun, padang pasir yang panas, penuh dengan pasir dan debu. Belum lagi bahaya dari para perampok, binatang buas, dan banyak lagi kesulitan-kesulitan yang lain. Namun, di sini kita melihat ketekunan dan pengorbanan mereka. Ya, hanya untuk melihat dan menyembah Raja orang Yahudi yang baru dilahirkan, mereka telah melintasi jarak ribuan kilometer jauhnya. Mereka adalah orang-orang yang jauh secara geografis, namun dipanggil Tuhan menjadi orang-orang yang dekat dengan Tuhan secara relasi. Berbeda dengan banyak orang Israel, pemimpin-pemimpin agama mereka adalah orang-orang yang dekat secara georafis, namun justru jauh dari Tuhan secara relasi. Sekalipun mereka adalah bangsa pilihan dan orang-orang yang menamakan diri beragama, namun hati mereka justru jauh dari Tuhan. Yang jauh menjadi dekat dan yang dekat menjadi jauh. Yang tidak diharapkan memperoleh pengharapan dan yang seharusnya memperoleh pengharapan justru membuang pengharapan.

Dari sisi penyembahan, orang Majus datang dari jauh hanya untuk melihat dan menyembah Raja orang Yahudi yang baru dilahirkan. Meski mengalami banyak kesulitan, namun mereka terus mencari Raja tersebut. Akhirnya, mereka tiba di Yerusalem dan bertemu dengan Raja Herodes. Mereka memberitahukan maksud kedatangan mereka, yaitu untuk menyembah Raja orang Yahudi yang baru dilahirkan. Tentu saja hal ini membuat Herodes terkejut dan bertanya-tanya di dalam hati. Namun, akhirnya orang Majus bertemu dengan Yesus yang baru dilahirkan. Bagaimana kira-kira perasaan mereka ketika bertemu dengan Yesus. Kita tidak tahu. Namun demikian, pastilah ketika pertama kali mereka melihat bayi Yesus Raja orang Yahudi yang baru dilahirkan, mereka terheran-heran. Karena Raja orang Yahudi yang baru saja dilahirkan tidak seperti apa yang mereka pikirkan. Sekarang mereka hanya melihat seorang bayi dari keluarga sederhana. Namun demikian, di sini kita belajar satu hal di tengah-tengah apa yang mereka lihat, mereka tidak hanya berhenti pada penampakan lahiriah. Mereka tidak hanya melihat secara fenomena, melainkan jauh melampaui apa yang mereka bisa lihat secara fenomena. Itu sebabnya ketika mereka melihat Yesus, yaitu Raja orang Yahudi, yang baru dilahirkan, mereka segera sujud menyembah bayi Yesus. Aneh kelihatannya, tapi itulah yang terjadi. Ketika Yesus belum bisa bicara, ketika Yesus belum mampu berjalan apalagi memberitakan firman dan memproklamasikan diri-Nya, di sini kita melihat ada satu kekuatan yang besar yang telah memanggil orang-orang berpendidikan, berpengaruh, dan kaya untuk datang dan menyembah Dia. Satu hal yang sangat langka dan belum pernah terjadi di dunia. Orang-orang berpengaruh dalam masyarakat datang dan menyembah seorang Bayi yang sederhana. Inilah iman. Iman menembus jauh melampaui apa yang bisa mereka lihat, iman memercayakan diri kepada suatu pribadi sekalipun nampaknya pribadi tersebut sulit untuk kita pahami karena kesederhanaan- Nya. Itulah iman!

Orang Majus menjadi gambaran bagaimana Allah memilih dan memanggil umat pilihan-Nya. Orang yang tidak pernah kita pikir, tidak pernah diharapkan, justru merekalah yang Allah panggil. Sering kali Allah memberikan anugerah-Nya kepada umat pilihan melalui cara yang tidak pernah kita pikirkan dan harapkan.

Bagaimana dengan diri kita? Kita juga bukan orang-orang yang layak karena secara kebangsaan kita bukan umat pilihan Tuhan. Dan kita tinggal jauh dari tempat Kristus lahir. Namun, Tuhan telah memanggil dan menyelamatkan kita. Namun demikian, izinkan saya bertanya bagaimana respons kita terhadap panggilan Allah? Ketika dipanggil oleh Allah, orang Majus taat. Mereka melangkah sekalipun banyak rintangan, banyak tantangan, banyak pengorbanan, dan akhirnya mereka tiba di tempat Kristus berada. Setelah itu mereka menyembah dan mempersembahkan korban di hadapan bayi Kristus. Marilah kita belajar dari pengorbanan dan teladan penyembahan orang Majus. Kiranya Tuhan memberkati kita. Amin.

-- Bergabunglah dalam: http://fb.sabda.org/binaanak --

Kategori Bahan PEPAK: Pelayanan Anak Umum

Sumber
Situs: 

http://www.grii-andhika.org/ringkasan_kotbah/1999/19990124.htm (Gereja Reformed Injilia Indonesia Surabaya -- Andhika)

Komentar