Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Mengapa Perlu Ada Kelas Bayi?


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Tidak pernah ada usia yang terlalu dini untuk mengajarkan firman Tuhan kepada anak, bahkan kepada bayi sekalipun. Menunggu hingga anak menjadi besar, berarti melewatkan kesempatan yang sangat berharga untuk menaburkan benih iman kepada anak-anak. Bayi memang belum bisa bicara, ia juga belum bisa membaca, menyanyi, dan duduk manis seperti layaknya anak-anak yang lebih besar yang sudah sekolah. Bagi sebagian orang dewasa, bayi adalah makhluk yang mengerikan. Ia tidak bisa diam, tidak bisa mengarahkan

Tidak pernah ada usia yang terlalu dini untuk mengajarkan firman Tuhan kepada anak, bahkan kepada bayi sekalipun. Menunggu hingga anak menjadi besar, berarti melewatkan kesempatan yang sangat berharga untuk menaburkan benih iman kepada anak-anak. Bayi memang belum bisa bicara, ia juga belum bisa membaca, menyanyi, dan duduk manis seperti layaknya anak-anak yang lebih besar yang sudah sekolah. Bagi sebagian orang dewasa, bayi adalah makhluk yang mengerikan. Ia tidak bisa diam, tidak bisa mengarahkan perhatian kepada guru, sangat sulit dimengerti, bahasanya kacau, kemauannya macam-macam, masih sering mengompol, muntah, dan gampang terjatuh serta terluka. Oleh karena itu, cukup masuk akal bila banyak guru sekolah minggu enggan mengajar para bayi.

Bayi Dapat Mengerti Firman Tuhan

Banyak keraguan di hati para guru sekolah minggu yang ingin memulai sebuah kelas bayi. Selain karena kesiapan teknis, seperti ruangan yang memadai, fasilitas yang mencukupi, dan sumber daya manusia (siapa guru yang memiliki kerinduan mengasuh kelas ini), juga karena muncul keraguan: Apakah bayi dapat mengerti firman Tuhan?

Ada sebuah kesaksian yang indah dari seorang ibu, yang menceritakan pengalaman bayinya kepada saya. Waktu itu, bayinya yang masih berusia beberapa bulan mengikuti kelas bayi yang saya asuh. Pengasuhnya dengan setia memegangi Sam, nama bayi tersebut, yang waktu itu belum bisa duduk sendiri. Sam kecil datang setiap Minggu, hanya duduk manis dengan bantuan pengasuhnya, sementara saya mengajarkan lagu-lagu kepada para bayi yang lebih besar, yang sudah mampu merespons dengan bertepuk tangan atau pun dengan mengikuti gerakan yang saya ajarkan.

Lagu favorit kelas bayi yang saya asuh waktu itu adalah "Yesus Cinta Saya". Demikian lagu itu kami nyanyikan dengan gerakannya:

Yesus (kedua tangan diangkat dengan jari telunjuk menunjuk ke atas) cinta saya (kedua tangan didekapkan di dada) 3x. Yesus (kedua tangan diangkat dengan jari telunjuk menunjuk ke atas) cinta saya (kedua tangan didekapkan di dada). Haleluya (kedua tangan dilambaikan).

Belum genap 1 tahun usia bayinya, sang ibu terheran-heran melihat perilaku anaknya. Bagaimana tidak? Acapkali hendak tidur, Sam kecil pasti mengangkat tangannya ke atas sambil mengatakan "sus ... ya ... sus ... ya" berulang kali, setelah itu baru ia merebahkan diri dan tidur. Suatu kali, karena pengasuh Sam sedang cuti, sang ibu menemani Sam kecil mengikuti kelas bayi dan melihat kami sedang menyanyikan lagu "Yesus Cinta Saya" tersebut. Barulah sang ibu mengerti bahwa selama ini anaknya menirukan lagu "Yesus Cinta Saya" yang pernah dinyanyikan di kelas bayi, sebelum ia tidur.

Beberapa orang tua juga menceritakan pengalaman serupa kepada saya, bagaimana anak-anak mereka yang sejak bayi rajin datang ke sekolah minggu, ternyata mampu merespons dalam gaya, bahasa, atau pemahaman yang sederhana. Hal itu menunjukkan bahwa firman Tuhan yang telah ditaburkan tidak akan kembali dengan sia-sia. Puji Tuhan!

Saya telah menceritakan kisah-kisah Alkitab kepada anak saya saat ia masih berusia 3 bulan. Tentu saja dengan menggunakan buku Alkitab anak-anak yang bergambar dan berwarna menarik, di mana tulisan per halaman hanya satu sampai dua kalimat. Hal ini tidak berarti kita memaksa bayi untuk membaca atau belajar Alkitab. Tetapi kita bisa menggunakan banyak cara untuk mengajarkan firman Tuhan kepada anak-anak yang masih kecil, yaitu melalui sesuatu yang menjadi minat atau mampu menarik perhatiannya.

Setiap kali melihat gambar, bayi saya sangat menikmatinya. Oleh karena itu, menceritakan kisah Alkitab melalui buku Alkitab bergambar sangat sesuai baginya. Pada saat anak saya berusia 1 tahun, ia sudah hafal semua kisah yang ada di Alkitabnya tersebut. Berbeda dengan anak saya yang kedua, ia baru tertarik dibacakan kisah-kisah dalam Alkitab saat berusia menjelang 2 tahun.

Murid sekolah minggu saya, Steven -- seorang anak yang sangat aktif bergerak dan hampir tidak bisa diam -- belajar firman Tuhan dengan cara aktif bergerak, yaitu menirukan gerakan-gerakan saya, baik saat saya menyanyi, berdoa, bercerita, dan bermain bersamanya. Seiring dengan kemampuan bicaranya yang mulai meningkat, saat ini Steven senang bila ia bisa terlibat secara aktif dalam pembicaraan dengan saya.

Tidak pernah terlalu dini untuk menyampaikan firman Tuhan kepada para bayi. Namun, yang perlu kita perhatikan adalah semuanya harus disajikan dalam lingkungan dan suasana yang menyenangkan, tanpa paksaan atau pun target-target tertentu.

Kita memang bisa segera mengevaluasi hasil pembelajaran anak-anak yang lebih besar, misalnya melalui tes, ujian, atau kuis dan bentuk-bentuk evaluasi lainnya. Akan tetapi, tidak demikian halnya dengan para bayi. Segala sesuatu yang kita tabur sekarang, mungkin baru bisa terlihat hasilnya (bila Tuhan mengizinkan kita melihat hasilnya) berbulan-bulan, bahkan mungkin bertahun-tahun yang akan datang.

Izinkanlah setiap anak belajar sesuai dengan gaya dan kecepatannya masing-masing. Tugas kita adalah menaburkan benih firman Tuhan, dan hanya Roh Kuduslah yang mampu memberikan pertumbuhan pada waktu-Nya yang tepat.

Apa yang Bisa Sekolah Minggu Lakukan Untuk Para Bayi dan Batita?

Sebagian gereja memilih untuk menyediakan ruang kebaktian khusus bagi para orang tua yang membawa bayi mereka, biasanya ruangan ini dipisahkan dengan kaca atau kedap suara, sehingga tidak mengganggu jalannya ibadah bagi orang dewasa. Sebagian gereja lain memilih untuk menyediakan taman atau ruang bermain bagi anak-anak mungil ini sembari menunggu orang tua mereka beribadah. Dan, sebagian gereja lagi memilih untuk menyediakan kelas sekolah minggu khusus bagi para bayi agar mereka juga memperoleh pengajaran firman Tuhan.

Kelas bayi yang tersedia pun sangat beragam bentuknya. Ada gereja yang menyediakan ruangan sekolah minggu untuk para bayi beserta orang tua atau pengasuhnya. Di tempat lain, kelas serupa hanya dihadiri oleh anak-anak dan para petugas sekolah minggu, tanpa kehadiran orang tua atau pengasuh. Ada pula gereja yang menyediakan ruang bagi bayi dan batita bersebelahan dengan ruang khusus bagi para ibu atau pengasuh. Masing-masing gereja punya alasan dan pertimbangannya sendiri. Namun yang jelas, masing-masing gereja telah menyadari perlunya pelayanan khusus bagi para bayi dan juga bagi para orang tua atau pengasuh mereka.

Mengapa Perlu Diadakan Kelas Bayi dan Kelas Batita Secara Khusus?

Banyak sekali gereja yang sudah memiliki sekolah minggu kelas balita (0 -- 5 tahun). Dengan demikian, setiap Minggu, anak-anak dari rentang usia beberapa bulan hingga usia TK berkumpul di satu tempat untuk memuji Tuhan dan belajar firman Tuhan. Namun, kerap kali para guru sekolah minggu kelas balita mengalami kesulitan saat memimpin kelasnya tersebut.

Para bayi umumnya hanya duduk manis sambil melihat-lihat, ada yang terlelap dalam gendongan pengasuhnya, ada yang minum susu botol, ada yang sedang disuapi, ada yang belajar jalan, ada yang rewel dan menangis, serta berbagai kesibukan lainnya yang bisa saja dirasakan mengganggu jalannya acara sekolah minggu bagi anak-anak yang lebih besar.

Kemampuan anak balita untuk berkonsentrasi juga sangat berbeda. Rentang waktu perhatian bayi umumnya hanya dalam hitungan detik. Adapun anak batita umumnya masih bisa duduk manis selama beberapa menit, sedangkan untuk anak yang sudah sekolah (Playgroup dan TK), biasanya sudah mulai bisa mendengarkan cerita dalam rentang waktu sekitar 10 -- 15 menit.

Bayi membutuhkan perhatian secara individu melalui orang-orang yang dikenalnya. Pelajaran lebih banyak diterima atau diserap oleh bayi melalui sentuhan, suara, penglihatan, dan indra pengecap. Oleh karena itu, mustahil menyuruh bayi diam dengan manis, sementara guru sekolah minggu bercerita di depan kelas kepada anak-anak.

Berbeda dengan bayi berusia di bawah 1 tahun, anak batita (1 -- 3 tahun) benar-benar tidak bisa diam karena mereka memasuki masa pertumbuhan fisik yang luar biasa. Anak batita sedang dalam proses belajar mengoordinasikan tubuhnya (berjalan, berlari, melompat, berputar-putar, memanjat, dan sebagainya). Selain itu, mereka juga sedang mengembangkan kemampuan berbahasa. Meskipun di usia ini anak batita sudah mulai bisa bicara, bahasa mereka belum sepenuhnya bisa dimengerti dengan jelas oleh orang lain. Anak batita juga sangat impulsif dan egosentris.

Karena jurang perbedaan level pertumbuhan inilah, akan lebih efektif bila sekolah minggu menyediakan kelas yang berbeda untuk para bayi, batita, dan balita yang sudah besar (anak-anak yang sudah memasuki usia sekolah Playgroup dan TK). Terlebih bila jumlah anak balita sudah mencapai puluhan, mungkin ini saat yang tepat untuk mulai mempersiapkan kelas khusus bagi para bayi.

Kategori Bahan PEPAK: Pelayanan Sekolah Minggu

Sumber
Judul Buku: 
Merintis dan Mengembangkan Kelas Bayi (0-2 tahun) di Sekolah Minggu
Pengarang: 
Meilania
Halaman: 
11 -- 16
Penerbit: 
Gloria Graffa
Kota: 
Yogyakarta
Tahun: 
2007

Komentar