Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Memperkenalkan Allah Kepada Anak


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Lalu, bagaimanakah kita memperkenalkan Allah dalam kehidupan anak-anak kita? Kita dapat mempelajari beberapa cara yang Tuhan sendiri pakai untuk memperkenalkan Diri-Nya kepada umat Israel. Dengan mengetahui cara Tuhan memperkenalkan Diri-Nya, kita akan menemukan pengertian mengenai bagaimana memperkenalkan Allah pada anak-anak kita.

1. Allah memakai peraturan untuk memperkenalkan sifat kekudusan-Nya.

Dari sekian banyak pohon yang buahnya boleh dimakan oleh Adam dan Hawa, ada satu pohon yang tidak boleh dimakan buahnya. Mengapa demikian? Alasannya adalah karena peraturan mengenai pohon tersebut dapat membuat manusia mengenal arti ketaatan dan arti kekudusan Allah. Tuhan banyak memberikan peraturan kepada manusia, juga kepada Musa, supaya manusia mengenal sifat Allah yang kudus.

Kita pun perlu memperkenalkan peraturan kepada anak-anak kita. Sejak kecil mereka perlu diperkenalkan dengan peraturan keluarga. Misalnya, boleh menonton TV pada waktu-waktu tertentu dengan siaran-siaran tertentu, setelah bermain harus merapikan mainan, hari Minggu harus ke gereja, dll. Selain untuk membentuk pola kehidupan keluarga yang baik, peraturan itu diberikan dengan tujuan untuk memperkenalkan sifat kekudusan dan otoritas Allah.

2. Allah memakai alat peraga untuk memperkenalkan kasih dan rencana-Nya.

Allah memberikan Adam dan Hawa baju dari kulit binatang untuk menggantikan baju dari dedaunan. Alat peraga berupa kulit binatang seperti ini lebih mudah diingat dan dimengerti sebagai ungkapan kasih Allah yang secara simbolik melukiskan pengurbanan Yesus Kristus sebagai anak Domba Allah yang disembelih untuk penebusan dosa manusia.

Pada kesempatan lain, Tuhan memberikan pelangi sebagai tanda janji pemeliharaan dan kesabaran-Nya. Ketika ada hujan yang sangat deras di rumah, anak saya menangis ketakutan. Dia takut hujan deras itu mengakibatkan banjir seperti yang dialami Nuh. Saya bersyukur karena Tuhan memberikan pelangi sebagai alat peraga untuk Nuh dan anak saya. Saya menenangkannya dengan mengingatkan, "Ingatkah kamu akan pelangi yang Tuhan berikan untuk Nuh? Tuhan berjanji melalui pelangi itu bahwa Tuhan tidak akan memberikan banjir sehebat itu lagi. Percayalah, hujan ini pasti berhenti dan nanti akan ada pelangi". Melalui peristiwa itu anak saya yang kecil belajar tentang janji dan kasih Tuhan.

3. Allah memperkenalkan Diri-Nya melalui sejarah.

Allah memilih Abraham dan membawanya ke tanah Kanaan; Ia memakai Yusuf untuk membawa seluruh keluarganya ke Mesir; Ia memilih Musa untuk membawa orang Israel kembali ke tanah Kanaan; Ia memilih Daud dan menyampaikan janji-Nya akan kedatangan Mesias; dan seterusnya. Kita pun dapat memakai sejarah kehidupan keluarga kita untuk memperkenalkan Tuhan kepada anak-anak kita. Bukankah Tuhan banyak menyatakan Diri-Nya dalam kehidupan keluarga kita? Dengan mencatat peristiwa-peristiwa penting dalam keluarga, menyusun album foto, membuat catatan harian keluarga, kita dapat menolong anak belajar tentang kasih Tuhan.

Saya memunyai satu jurnal khusus tentang anak-anak saya. Suatu ketika saat besar nanti, ia akan dapat melihat betapa besarnya perbuatan Tuhan di dalam dirinya. Saya juga menyusun album fotonya sedemikian rupa berdasarkan tema, misalnya: "Yang Papa Ajarkan pada Saya", "Bermain dengan Papa", "Timmy dan Mama", "Timmy dan Sekolah", "Timmy dan Teman-Teman", "Timmy dan Alam", "Eksplorasi Timmy", "Cita-Cita Timmy", "Wajah Unik Timmy", "Waktu Timmy tidur", dll.. Melalui susunan album seperti itu, dia bukan hanya melihat sederetan perkembangan diri dari tahun ke tahun, melainkan dia juga menyaksikan adanya kasih yang menyelimuti kehidupannya, dan adanya keajaiban-keajaiban Tuhan dalam peristiwa hidupnya.

4. Allah memperkenalkan Diri-Nya melalui narasi.

Allah mengajarkan banyak kebenaran penting melalui cerita-cerita perumpamaan. Sebagaimana orang yang baru percaya, seorang anak membutuhkan cerita-cerita kontekstual yang berkaitan langsung dengan kehidupannya sehari-hari. Melalui cerita anak yang hilang, cerita Lazarus dan orang kaya, dan sebagainya, kita memahami prinsip kebenaran secara lebih mudah.

Anak-anak tidak bisa melihat Allah secara jasmaniah. Anak-anak juga belum dapat memahami banyak hal tentang Tuhan sebagaimana pemahaman orang dewasa yang telah lama mengikut Tuhan. Akan tetapi mereka dapat menyimpan kebenaran mengenai Diri Allah dalam pikiran mereka melalui cerita-cerita Alkitab yang kita sampaikan secara rutin tiap hari. Mereka akan menyimpan baik-baik dalam pikirannya, mengulangnya, atau meminta Anda mengulang cerita yang sudah ratusan kali Anda ceritakan. Mereka mungkin memodifikasi cerita itu sesuai dengan dunia mereka. Sebagai contoh, oleh mereka, kisah Daud mengalahkan Goliat dengan 'menggunakan umban' disesuaikan menjadi 'menggunakan laser'. Akan tetapi, percayalah bahwa cerita-cerita narasi tersebut memunyai kekuatan yang besar. Pada waktunya nanti, cerita-cerita tersebut dapat secara ajaib menghubungkan diri dengan segala macam konsep yang mulai tertanam oleh pertolongan Roh Kudus. Pada saat itu, anak-anak mulai memahami makna cerita-cerita tersebut dan relevansinya dengan kehidupan mereka.

Ketika saya menceritakan cerita dari Kitab Raja-Raja kepada anak saya, saya berpikir betapa membosankannya kisah itu baginya. Hampir semua cerita berkisar tentang raja yang menyembah berhala dan kemudian dihukum Tuhan, dan raja yang menyingkirkan berhala menyenangkan hati Tuhan. Saya tidak menyangka bahwa cerita-cerita tersebut ternyata sangat melekat di pikiran anak saya, sehingga ketika saya menjelaskan tentang film-film serta mainan-mainan yang tidak sehat, dia lebih mudah menangkapnya karena dia sudah punya konsep mengenai "mendukakan" dan "menyukakan" Tuhan. Demikian juga ketika saya menceritakan tentang cerita Lazarus dan orang kaya, hatinya begitu sedih mendengar kenyataan bahwa orang kaya itu tidak bisa masuk surga. Kesempatan itu membuat saya dapat memperkenalkan konsep "pengabaran Injil" kepada orang-orang yang belum mengenal Kristus.

5. Allah memperkenalkan Diri-Nya melalui Amsal dan Mazmur.

Musik dan pujian adalah cara yang paling mudah untuk memperkenalkan Allah kepada anak segala usia, termasuk janin dalam kandungan. Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk yang musikal, sehingga bayi pun dapat memberikan reaksi terhadap musik. Ketika anak kedua saya lahir, ia membutuhkan musik sepanjang hari; ia selalu menangis menjelang senja (antara pukul 17.00 hingga pukul 20.00) dan tidak ada yang dapat menenangkannya selain musik. Demikian juga pada saat-saat dia marah, gelisah, waktu sakit, yang dia butuhkan adalah musik. Memang mengherankan sekali melihat seorang bayi bisa dengan serius memerhatikan setiap nada yang ia dengar, kemudian tertidur dengan tenang. Dalam suatu buku mengenai "Teach the Child to Read" dikatakan bahwa seorang bayi yang selalu dibacakan cerita oleh ibunya, akan selalu berharap untuk diceritakan tiap hari bukan karena isi ceritanya, tapi karena ia senang mendengar nada suara ibunya. Dengan demikian sebenarnya membacakan Mazmur kepada bayi juga merupakan kebiasaan yang baik.

Tuhan kita adalah ahli pendidikan yang hebat. Dia tahu metode terbaik untuk melekatkan kebenaran dalam pikiran manusia. Amsal [ucapan bijak] dan mazmur [syair pujian] adalah metode yang paling jitu dalam memorisasi. Coba saja pikirkan kekuatan ingatan kita ketika berada dalam kesusahan. Dengan segera kita ingat Mazmur 23, "Tuhan adalah gembalaku". Anak-anak juga membutuhkan amsal dan mazmur. Banyak kebenaran penting yang diingat anak dalam bentuk sajak dan lagu. Oleh sebab itu, jangan anggap remeh pekerjaan mengajarkan lagu-lagu rohani dan sajak anak-anak. Banyak teolog dan pengkhotbah besar yang percaya Tuhan karena mendengar atau mengingat lagu-lagu sekolah minggu.

6. Allah memperkenalkan Diri-Nya melalui manusia.

Allah sangat mengetahui kebutuhan manusia terhadap hal-hal yang konkret. Itulah sebabnya Ia mengutus para nabi, memilih bangsa Israel, dan akhirnya menghadirkan Diri-Nya sendiri dalam Yesus Kristus. Anak-anak pun membutuhkan contoh konkret tentang sifat-sifat Allah melalui manusia. Sebagai contoh konkret, manusia yang paling dekat dengan anak adalah orang tua mereka sendiri. Hubungan orang tua dengan anak sangat memengaruhi konsep anak tentang Allah. Sebagai contoh, banyak orang Kristen yang terus-menerus diliputi rasa bersalah karena semasa kecilnya selalu dihukum oleh orang tua, sehingga ia mengenal Allah sebagai Allah yang kudus tetapi diktator; salah satunya adalah Martin Luther.

Banyak orang tua yang ingin membuat anak mereka taat dengan mengatakan, "Nanti Tuhan marah kalau kamu seperti ini!". Tanpa disadari orang tua telah memakai nama Tuhan untuk kepentingan diri orangtua sendiri dan merusak konsep anak tentang Allah. Bila kita lebih serius memikirkannya, kita akan mengakui bahwa Allah sebetulnya tidak akan marah kalau anak kita tidak mau makan, kalau ia memukul adik karena iri hati, atau kalau ia merebut mainan yang ia sukai. Allah memunyai pemahaman yang sempurna mengenai perkembangan anak. Dia sangat mengerti pergumulan-pergumulan anak kita. Di lain pihak, kita perlu berhati-hati pada saat mewakili sifat Tuhan dalam tugas mendidik yang kita laksanakan.

Dengan mencermati bagaimana Allah memperkenalkan diri-Nya dalam Alkitab, kita dapat menarik kesimpulan bahwa sebenarnya tidak ada batas waktu kapan memperkenalkan Allah kepada anak. Kita sudah dapat memperkenalkan Allah dengan cara yang sederhana dan mudah dimengerti oleh anak sejak mereka masih sangat muda.

Kategori Bahan PEPAK: Pengajaran - Doktrin

Sumber
Judul Artikel: 
Orangtua sebagai Duta Allah bagi Anak-Anak
Pengarang: 
Ev. Anne Kartawijaya, MA
Situs: 

http://www.oocities.com/~eunike-net/21/didik.html (Eunike: Buletin Pendidikan Iman Anak -- diakses: 9 September 2010)

Komentar