Apa yang Kristus Ajarkan tentang Kasih (1Korintus 13)


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Yesus menitikberatkan ajaran-Nya pada satu perintah yang besar dan baru, yaitu perintah untuk saling mengasihi. Pada saat-saat terakhir kehidupan-Nya di dunia, Dia mengumpulkan murid-murid-Nya di suatu ruang yang lebih tinggi, mengadakan perjamuan yang kita sebut Perjamuan Terakhir. Segera setelah makan malam itu usai dan sebelum perjamuan peringatan, Yesus menanggalkan jubah-Nya, mengambil kain, menuangkan air ke dalam basi, dan membasuh kaki murid-murid-Nya. Pikirkan itu! Dia adalah raja, Dia melayani seperti seorang pelayan, melayani murid-murid-Nya. Dia menjadikan ajaran-Nya jelas: "Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi, jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu" (Yohanes 13:13-15). Setelah kejadian dramatis yang mengharukan ini, Ia memberikan pengajaran yang besar, "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi" (Yohanes 13:34).

Perintah untuk saling mengasihi ini bukanlah perintah yang benar- benar baru yang hanya ada dalam Perjanjian Baru. Perintah ini sudah diberikan di Perjanjian Lama. Dia telah berulangkali menunjukkan kasih-Nya kepada umat Israel. Kasih Tuhan ini memberikan contoh sehingga mentransendenkan pengertian normal kasih tersebut dan menjadikan pengertian seperti itu menjadi suatu pemahaman yang kuno. Pada akhir perjalanan hidup-Nya di dunia, Dia memberikan perintah- Nya yang terakhir, perintah yang penting karena perintah itu adalah yang terakhir, tetapi menjadi lebih penting lagi karena perintah itu melambangkan semua yang diinginkan Yesus dari murid-murid-Nya.

Bagaimana perintah itu diterapkan di dunia saat ini? Dunia ini sudah dirusak oleh perselisihan dan pengelompokan. Orang-orang Roma menyatukan segala hal dalam suatu birokrasi pemerintahan yang sangat besar dan dalam suatu mesin militer yang kuat. Tetapi dalam struktur monolitik ini terdapat jurang-jurang yang dalam. Jurang itu antara lain adalah perbedaan ras. Orang-orang Yahudi merendahkan orang- orang yang bukan Yahudi dan orang-orang Samaria; orang-orang Yunani menghina orang-orang Yahudi; orang-orang Roma membenci orang-orang Skitia, dan lain-lain. Ada pengelompokan-pengelompokan antara ikatan dan kebebasan, karena mungkin hampir separuh dari semua orang yang ada adalah para budak. Terdapat perselisihan diantara kelompok- kelompok agama, orang-orang Farisi melawan orang-orang Saduki dan orang-orang Yahudi melawan para penyembah berhala. Terdapat diskriminasi gender; wanita dianggap sebagai warga negara kelas dua. Terdapat perbedaan politik; dan saja, ada kelas-kelas sosial dalam masyarakat.

Palestina sendiri adalah pusat dari keekslusifan dari permusuhan itu. Dalam sekejap, permusuhan itu meledak melawan Roma. Terdapat kebencian yang mendalam antara agama dan partai-partai politik yang ada di daerah tersebut. Kebencian antara orang Samaria dan orang Yudea adalah perasaan yang umum, dan para pemimpin di Yerusalem mengejek orang-orang Galilea. "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?" (Yohanes 1:46) adalah kata-kata yang sudah umum didengar.

Dalam situasi ini, Yesus telah mengirim kira-kira empat orang dari kedua belas murid-Nya untuk menyampaikan pesan-Nya. Diatas semua pesan itu, Dia menempatkan perintah baru untuk mengasihi ini. Dan mereka juga mengingatnya. Paulus menggolongkan perilaku mereka dengan memberikan perintah agar menempatkan kasih sebagai yang terutama (Roma 13:9; Galatia 5:14). Yakobus menyebut perintah untuk mengasihi orang lain sebagai "hukum yang tertinggi" (Yakobus 2:8). Oleh karena perintah ini adalah dari Raja, hukum dari Raja Surga. Perintah ini terpenuhi jika kehendak Tuhan dilakukan di bumi.

Yesus memberikan perintah kasih ini kepada murid-murid-Nya. Dengan berbagai cara pula, Dia ingin agar perintah ini menjadi ciri yang utama dari hidup-Nya sendiri dan murid-Nya. Oleh karena itu, sebagai pengikut Kristus, kita juga harus memiliki kasih yang sama seperti Dia dalam hidup kita. Dengan memiliki kasih seperti Kristus, perselisihan dunia dapat dipulihkan dan nama Tuhan semakin dimuliakan.

Kategori Bahan PEPAK: Guru - Pendidik

Sumber
Judul Artikel: 
What Jesus Taught About Love
Judul Buku: 
What Jesus Taught
Pengarang: 
George Alder
Halaman: 
95 - 96
Penerbit: 
The Standard Publishing
Kota: 
Ohio
Tahun: 
1965

Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK

Komentar