Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Prinsip untuk Bercerita secara Efektif


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Banyak guru (terutama guru baru) yang takut untuk bercerita di depan kelas, karena selain ia harus bisa membuat ceritanya menarik, guru juga harus bisa mempesona anak sehingga mereka mau mendengarkan cerita hingga selesai. Bercerita sebenarnya adalah suatu ketrampilan yang dapat dipelajari dan dikembangkan oleh semua orang. Kalau guru mengerti dan menguasai prinsip-prinsip bercerita yang efektif, maka bercerita di depan kelas seharusnya tidak akan menjadi sesuatu yang menakutkan lagi.

Berikut ini adalah beberapa prinsip sederhana untuk dapat bercerita dengan baik:

  1. Milikilah keyakinan bahwa cerita anda patut didengarkan

    Tanyakan pada diri anda:

    • Mengapa cerita ini penting untuk didengarkan?
    • Hal apa yang sangat menarik dalam cerita ini?
    • Bagian mana dari cerita ini yang dapat menarik perhatian?
    • Hal apa yang dapat membuat anak-anak tertarik dan berminat ketika mendengarkan cerita anda?
    Ajukan pertanyaan itu pada diri anda sendiri untuk meyakinkan diri anda bahwa cerita tersebut punya nilai bagi kelas anda. Jika anda merasa percaya bahwa cerita yang akan anda sampaikan itu bernilai dan menarik untuk didengarkan, maka kemampuan anda dalam bercerita tidak lagi menjadi hal yang utama untuk diperhatikan.

  2. Siapkan cerita dan berlatihlah bercerita

    Empat langkah untuk mempersiapkan anda dalam bercerita:

    • Identifikasi cerita. Anda perlu mengetahui dengan jelas tujuan cerita anda.
    • Membuat garis besar cerita. Anda mengidentifikasi peristiwa-peristiwa utama dalam cerita anda.
    • Review fakta-fakta dalam cerita. Dengan demikian setiap poin dalam garis besar dapat mengingatkan anda pada detail-detail cerita yang terjadi di dalamnya.
    • Berlatihlah bercerita dengan suara keras sesuai dengan garis besar cerita yang telah anda buat. Anda dapat berlatih di depan anggota keluarga, di depan cermin, atau dengan merekamnya.

  3. Tangkaplah perhatian anak-anak dari sejak dari awal

    Permulaan yang bagus sangat penting sebab lebih mudah menangkap perhatian para pendengar pada awal cerita daripada menarik perhatiannya setelah perhatian mereka mengembara ke mana-mana. Bagi anak-anak, cara terbaik untuk memulai cerita adalah dengan menanyakan pengalaman-pengalaman menarik yang mereka alami, yang dapat dihubungkan dengan beberapa aspek dalam cerita, misalnya:

    • Pertanyaan tentang sesuatu yang pernah dilihat dan dikerjakan anak-anak. Anda juga dapat mensharingkan pengalaman anda sendiri kepada mereka.
    • Berikan ilustrasi yang jelas untuk memulai cerita, dapat berupa kejadian yang anda alami atau dari sesuatu yang pernah anda baca.
    • Libatkan anak-anak dalam aktivitas yang anda persiapkan untuk mendukung cerita anda, seperti permainan, menggambar, mendengarkan lagu, dsb.

  4. Identifikasi tingkat pengenalan/pemahaman anak terhadap cerita

    GSM menghadapi tantangan saat menceritakan cerita Alkitab kepada anak-anak. Di satu sisi, ada anak-anak yang sama sekali belum mengetahui cerita tersebut. Di sisi yang lain, ada anak-anak yang sudah sering mendengar cerita itu dan kemungkinan besar mereka akan menunjukkan kebosanan saat mendengar cerita itu lagi. Pertama-tama sebelum menceritakan narasinya, jelaskan terlebih dulu bagian-bagian yang kemungkinan besar tidak mudah dipahami oleh anak-anak yang belum pernah mendengar cerita itu. Kedua, tunjukkan bahwa anda tahu ada beberapa anak yang sudah pernah mendengar cerita tsb. tapi jelaskan nilai pentingnya cerita itu sehingga perlu diceritakan lagi.

  5. Fokuskan cerita anda

    GSM harus benar-benar mengetahui tujuan cerita yang disampaikan. Cerita-cerita dalam Alkitab bertujuan untuk membuat orang memikirkan tentang pelajaran yang diberikan, lalu bagaimana cara meresponnya/menerapkannya.

    Setelah itu, GSM menjelaskan tujuan itu kepada anak-anak. Supaya tidak bertele-tele bercerita, jadikan tujuan itu sebagai fokus cerita. Jika tujuan utamanya lebih dari satu, pilih salah satu saja dan ceritakan dengan jelas. Satu tujuan utama yang diceritakan dengan jelas lebih baik daripada menceritakan banyak poin tetapi tidak ada yang akan diingat.

  6. Tentukan plot cerita

    Setiap cerita memiliki 5 unsur penting:

    • Setting (Lokasi cerita).
      Setting biasanya menjadi unsur yang tidak terlalu dianggap penting. Namun, dalam cerita-cerita Alkitab, setting menolong anak-anak untuk menyadari bahwa cerita itu terjadi di dunia nyata.
    • Karakter (Tokoh utama dalam cerita).
      Bila tokoh utamanya punya nama atau pekerjaan yang tidak dikenal anak-anak, jelaskan hal itu terlebih dulu sebelum bercerita. Ceritakan secara rinci tentang tokoh utama itu sehingga anak-anak mengetahui peristiwa apa yang dialaminya.
    • Problem (Peristiwa yang dialami tokoh utama).
      Buat anak-anak tertarik untuk mengetahui apa yang dialami tokoh utamanya.
    • Aksi (Respon dari tokoh utama).
      Jika anak-anak tertarik dengan apa yang dialami tokoh utamanya maka mereka akan secara otomatis ingin mengetahui apa yang akan dilakukan tokoh utama dalam situasi yang telah diceritakan tadi.
    • Hasil dari aksi yang dilakukan tokoh utama.
      Untuk anak-anak kelas kecil, cerita dapat disampaikan dengan plot yang berurutan. Untuk kelas besar, GSM dapat membuat variasi dari kelima unsur tersebut.

    7. Libatkan anak-anak

    Untuk anak-anak yang sudah bisa menggunakan Alkitab, berikan kesempatan kepada anak-anak untuk membuka Alkitab mereka baik sebelum, selama ataupun sesudah bercerita. Bantulah anak-anak untuk:

    • Mencari alamat ayat dari cerita tersebut.
      Hal ini membuat anak-anak menyadari bahwa cerita itu benar-benar dari Alkitab (bukan imajinasi GSM) dan membangun percaya diri untuk mempelajari Alkitab.
    • Membaca apa yang dikatakan Alkitab.
      Selain membaca ayat, anak-anak dapat diminta untuk menemukan informasi yang ada dalam ayat tersebut, seperti nama orang, jawaban pertanyaan, pernyataan, dsb.
    • Memahami apa yang dibaca.
      GSM dapat memandu anak-anak untuk memahami ayat yang dibacanya. Caranya yaitu dengan mengajukan pertanyaan: "Adakah cara lain untuk mengatakan ayat itu?" atau "Bagaimana caramu menjelaskan ayat ini kepada seorang temanmu?"
Nah ... selamat mempraktekkan!

Kategori Bahan PEPAK: Metode dan Cara Mengajar

Sumber
Judul Buku: 
Sunday School Smart Pages
Pengarang: 
Wes & Sheryl Haystead
Halaman: 
149 - 151
Penerbit: 
Gospel Light
Kota: 
Ventura
Tahun: 
1992

Komentar