Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Kebangkitan Yesus


Jenis Bahan PEPAK: Bahan Mengajar

Sesudah Tuhan Yesus dikuburkan, murid-murid-Nya berkumpul bersama-sama, mereka berkabung. Aduhai, hatinya seperti diiris sembilu, terlalu pedih rasanya. Mereka tak dapat berpikir lagi. Bingung, terlalu bingung memikirkan kematian Tuhan Yesus.

Mereka bertopang dagu, tak ada yang berkata-kata. Apa gunanya hidup lagi? Sekarang tak ada lagi Pemimpinnya, yaitu Tuhan Yesus. Musuh-Nya ternyata lebih kuat daripada-Nya. Hidup murid-murid terasa tak ada artinya lagi. Lebih baik mereka mati bersama-sama dengan Tuhan Yesus itu ... Aduhai ... sedihnya ...!

Tapi ada beberapa perempuan yang ada di situ yang tidak putus asa. Mereka besok pergi ke kubur Tuhannya dan meminyaki mayat-Nya. Kali ini mereka akan melakukannya lebih sungguh-sungguh dari sebelumnya. Ketika matahari terbenam dan hari Sabat sudah lampau, mereka membeli rempah-rempah lagi. Dan pada hari Minggu pagi-pagi sekali mereka sudah pergi ke kubur. Mereka sama sekali tidak tahu, bahwa kubur itu dijaga oleh prajurit-prajurit Romawi.

Matahari sudah terbit ketika mereka masuk ke dalam taman milik Yusuf dari Arimatea itu. Langit terang, cuaca cerah, indah permai suasana di sekelilingnya. Burung-burung berkicau di mana-mana. Seluruh alam cemerlang dalam sinar matahari yang baru terbit itu. Di mana-mana terang-benderang.

Di mana-mana? Tidak. Pikiran perempuan-perempuan yang berjalan di taman itu sama sekali tidak terang-benderang dan rasanya takkan terang lagi untuk selama-lamanya. Dalam mukanya tersirat kesedihan yang amat sangat, jalannya bungkuk. Maria Magdalena, isteri Kleopas, Salome serta Yohana, isteri Kusas. Makin dekat mereka kekubur, makin sedih hatinya.

Tiba-tiba mereka berhenti dan berpandang-pandangan, karena bukankah kubur itu ditutup batu. Siapa yang akan menggulingkan batu dari muka kubur itu, kalau tidak ada murid-murid laki-laki yang bersama mereka?

Yah ... siapa? Batu itu terlalu berat, terlalu besar. Tak mungkin mereka menggulingkan itu. Meskipun mereka belum tahu, entah bagaimana menggulingkannya, namun mereka terus juga berjalan. Batu besar itu adalah urusan belakang.

Tiba-tiba mereka ... seakan-akan terpaku ketanah. Matanya terbelalak karena terperanjat. Mereka memandang liang kubur yang sudah terbuka! Dinding kubur yang putih itu bersinar-sinar ditimpa matahari pagi. Batu penutup sudah digulingkan, tetapi siapa yang menggulingkannya? Liang yang gelap gulita itu ternganga. Siapa yang menggulingkan batu itu? Siapa yang telah mencuri badan yang amat mereka kasihi itu?

Apakah kepala-kepala imam serta ahli-ahli Taurat itu masih juga belum puas dengan kematian-Nya? Apakah benci mereka kepada Tuhan Yesus tak ada batas, hingga mayat-Nya pun harus turut mengalaminya? Siapa lagi yang berani mengambil tubuh Tuhan Yesus itu? Kemarin hari Sabat. Orang-orang tak boleh bekerja. Tidak salah lagi, pasti para imam serta ahli-ahli Taurat yang telah mencuri mayat itu.

Maria Magdalena yakin, bahwa musuh-Nya yang menyembunyikan mayat Yesus. Perempuan-perempuan itu menangis tersedu-sedu. Kehabisan akal. Sambil menangis tersedu-sedu, Magdalena bergegas-gegas kembali ke kota untuk memberitahukan kabar sedih itu kepada murid-murid Yesus.

Sementara itu perempuan-perempuan yang lain mendekati kuburan yang ternganga itu. Dengan hati yang berdebar-debar mereka masuk ke dalam liang yang samar-samar itu.

Baru saja mereka maju beberapa langkah, nampaklah suatu makhluk yang berkilau-kilau. Seorang muda berjubah putih yang indah kemilau duduk di tempat Tuhan Yesus berbaring dulu.

Mereka menunduk kepadanya dengan penuh khidmat bercampur takut. Mereka yakin, bahwa makhluk itu seorang malaekat. Tetapi terdengar suara yang lemah lembut berkata: "Apakah sebabnya kamu mencari Yang Hidup di antara yang mati?"

Keheran-heranan mereka menengadah ke atas. Kelihatan seorang malaekat lagi. Dua pesuruh Tuhan Allah yang berjubah putih yang indah kemilau berdiri di samping mereka.

Katanya kepada perempuan-perempuan itu: "Janganlah terkejut. Kamu mencari Yesus, orang Nazaret yang tersalib itu. Ia telah bangkit, Ia tidak ada disini, lihatlah tempat bekas Dia diletakkan."

Segera perempuan-perempuan itu datang mendekat. Benarlah, tempat itu kosong. Perempuan itu berpandang-pandangan. Hampir-hampir tak percaya apa yang dilihatnya. Mimpikah mereka itu?

Ooh, mereka bingung karena girangnya. Matanya yang tadi berat karena sedih, sekarang terbuka lebar-lebar. Mukanya berseri-seri. Dengarlah pesuruh Allah itu menyambung: "Tetapi pergilah, katakanlah kepada para murid-Nya dan kepada Petrus, bahwa Ia mendahului kamu ke Galilea. Disanalah kamu akan melihat Dia, seperti yang telah dikatakan-Nya kepada kamu."

Mereka mengangguk saja, tak dapat berkata-kata karena girangnya. Perlahan-lahan mereka maju selangkah demi selangkah keluar. Mereka tak sabar lagi untuk mengabarkan bahwa Tuhan Yesus sudah bangkit dari tengah-tengah orang mati, mereka bergegas-gegas pulang ke Jerusalem.

Karena cepatnya mereka tak menoleh ke kiri maupun ke kanan. Tiba- tiba mereka terkejut. Siapakah yang sekonyong-konyong berdiri di mukanya? .... Suara yang dikenalnya benar-benar terdengar berkata: "Sejahteralah kamu!"

Wah, orang yang berdiri di hadapannya itu ialah Yesus. Tuhannya yang telah bangkit dari kematian. Mereka terus berlutut hendak memeluk kaki-Nya.

Kata Tuhan Yesus kepadanya: "Janganlah kamu takut. Pergilah kamu memberitakan ini kepada segala saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea. Di sanalah kelak mereka itu akan melihat Aku."

Ketika mereka memandang ke atas, kepada-Nya, Yesus sudah tidak ada lagi. Dengan ajaib Ia tiba-tiba berdiri di hadapan mereka, dengan ajaib pula Ia meninggalkan mereka.

Mimpikah mereka? Apakah yang dilihatnya itu hanya khayalan belaka? Tidak, bukan khayalan. Yesus sudah bangkit. Perempuan-perempuan itu yakin bahwa yang dilihatnya itu bukan mimpi.

Lebih cepat mereka berjalan supaya lekas dapat membawa kabar itu kepada para murid. Mereka hampir berlari-lari, karena tak sabarnya. Tidak berapa lama kemudian mereka bertemu dengan beberapa murid Yesus. Perempuan-perempuan itu berceritera, sambil menangis dan berseru karena girangnya. Mereka menceritakan tentang kubur yang terbuka, tentang malaikat-malaikat itu, tentang Tuhan Yesus sendiri.

Tetapi murid-murid itu dengan heran memandang kepada perempuan- perempuan yang terharu, yang sebentar menangis, sebentar berseru memuji Tuhan itu.

Digelengkannya kepala mereka. Tidak beres lagi otak perempuan itu. Mereka terlalu sedih. Karena itu khayalan yang tidak-tidak terbayang di mukanya.

Makin murung muka mereka, hatinya bertambah sedih. "Tak mungkin!" Kasihan, perempuan itu kehabisan akal. Mereka terlalu sedih. Karena itu bermacam-macam hal yang tidak menentu timbul dalam pikiran mereka.

Mereka tak percaya. Ini tak dapat masuk dalam akal mereka, bahwa kesedihannya tiba-tiba sudah tak beralasan lagi. Bahwa mujizat sudah terjadi. Mujizat bahwa Tuhannya sudah bangkit dari kematian. Tapi mereka tak dapat menerimanya, karena mujizat itu terlalu besar, terlalu indah.

Kepala-kepala imam yang menghukum mati Tuhan Yesus, musuh-Nya itu, percaya akan kabar itu. Mereka takut amat takut.

Waktu hari masih pagi-pagi benar, ketika mereka menginjak halaman Bait Suci, beberapa prajurit datang mendapatkannya. Mukanya pucat pasi. Mereka gemetar karena takutnya, padahal seharusnya prajurit yang tak pernah takut melihat musuhnya. Tidak semua penjaga itu yang pergi melapor kepada imam itu yang lain kucar-kacir, entah kemana larinya. Giginya gemeletak gemeletuk waktu menceritakan pengalamnnya di taman itu. Mereka tak malu. Coba saja, siapa yang tak takut melihat makhluk yang luar biasa itu? Siapa berani tinggal di situ? Makluk yang amat mendasjatkan ... berkilau-kilau ... turun dari langit.

Imam-imam itu tak dapat mengeluarkan sepatah kata pun, demikian terperanjatnya mereka mendengar laporan prajurit-prajurit itu. Segera dipanggilnya imam-imam lainnya untuk mengadakan rapat. Mereka harus cepat bertindak.

Sedikit pun mereka tak sangsi tentang kebenaran pengalaman prajurit- prajurit itu. Meskipun begitu keras hatinya, tak mau berobah. Mereka tak mau tunduk juga. Malah makin benci kepada Tuhan Yesus itu. Sekarang mereka tak berpikir panjang lagi. Karena takut mereka mulai mencari akal busuk untuk mencegah tersebarnya berita ini. Jangan sampai kabar itu tersiar kemana-mana. Rakyat tidak boleh tahu itu. Kabar itu harus dirahasiakan sebisa-bisanya.

Dari perbendaharaan Bait Suci mereka mengambil uang yang besar jumlahnya. Uang emas yang berkilat-kilat yang mendering waktu diletakkan di muka prajurit itu.

Kata imam-imam itu: "Nah, sekalian uang ini adalah untukmu! Tetapi jangan ceritakan kepada siapapun juga, apa yang terjadi tadi. Katakan saja bahwa murid-murid-Nya mencuri mayat Yesus waktu kamu tidur. Kamu tak usah kuatir takkan dihukum kamu karena tertidur waktu jaga. Kalau kabar itu sampai kepada wali negara, kami akan membereskannya. Jangan takut, kamu takkan beroleh gangguan suatu apa pun!"

Prajurit itu setuju saja. Mereka tak pusing menyiarkan kabar bohong itu, apalagi kalau sudah disuap. Masa bodoh! Pembesar-pembesar itu harus tahu sendiri. Mereka tinggal menurut saja.

Sambil menyeringai diterimanya uang itu meskipun tangannya masih gemetar waktu memegang uang itu.

Di tengah jalan mereka menyampaikan kabar bohong itu kepada siapa saja yang bertemu dengan mereka.

Dusta yang bodoh sekali! Mana boleh mereka tahu, bahwa murid-murid- Nya yang mencuri mayat-Nya, padahal mereka tidur nyenyak! Lagi pula masakan mereka berani memberitahukannya padahal mereka akan dihukum mati, kalau ketahuan bahwa mereka tertidur sewaktu jaga.

Tetapi orang-orang yang mendengar kabar itu tak berpikir panjang. Asal mendengar saja. Sampai sekarang masih ada orang-orang Yahudi yang berpendapat, bahwa mayat Tuhan Yesus itu dicuri murid-murid-Nya dan dipindahkan ke tempat yang lain, bahwa tidak benar Ia sudah bangkit dari kematian.

Dan bagaimana murid-murid-Nya? Ah, mereka sekali-kali tak terpikir kepada kebangkitan. Mereka tak percaya apa yang dikatakan oleh perempuan-perempuan itu.

Akan tetapi mereka harus percaya, karena hari itu juga mereka akan melihat Tuhan Yesus dengan mata kepala mereka sendiri ....

Kategori Bahan PEPAK: Kurikulum - Pedoman Mengajar

Sumber
Judul Buku: 
Tjerita-tjerita Alkitab Perjanjian Baharu
Pengarang: 
Anne De Vries
Halaman: 
241 - 244
Penerbit: 
Balai Alkitab dan Badan Penerbit Kristen
Kota: 
Jakarta

Komentar