Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Konsep Diri Positif


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Salah satu indikator dari kedewasaan karakter seorang pendidik Kristen adalah memiliki konsep diri yang positif. Untuk mengetahui apakah kita mempunyai konsep diri yang positif simaklah artikel berikut ini.

KONSEP DIRI YANG POSITIF

Modal dasar yang juga sangat perlu bagi kesuksesan tugas mengajar ialah konsep diri yang positif dari guru itu sendiri. Seorang guru dengan konsep diri yang baik akan mampu memandang dirinya dimiliki atau diterima oleh Allah tanpa syarat sebab ia yakin bahwa darah Yesus Kristus yang tercurah pada kayu salib merupakan bukti kuat akan kasih Allah terhadap dirinya (lihat Roma 5:6,8; Ibrani 9:14). Penghargaan terhadap dirinya sendiri tidak didasarkan atas faktor fisik, materi dan prestis, ataupun prestasi, melainkan oleh karena perhargaan yang diterima guru itu dari Allah, yakni kasih sejati. Bagi Allah guru memandang dirinya berharga karena telah ditebus oleh kasih Kristus serta dipanggil menjadi "rekan sekerja-Nya" (Efesus 2:10; 2Korintus 5:17). Dengan dasar konsep diri positif semacam itu, guru dapat memiliki perasaan mampu dan dimampukan oleh kuasa serta kehadiran Allah. Dengan begitu pula ia dapat bebas dari rasa kurang percaya diri. Ada banyak dampak yang dihasilkan oleh konsep diri positif dalam kehidupan dan pekerjaan seorang guru.

PERTAMA, guru dapat berkembang secara sehat dalam relasi dengan orang lain, termasuk anak didik dan rekan sekerjanya. Ia mampu menerima orang lain sebagaimana adanya, sadar bahwa ia pun memiliki kelebihan dan kekurangan (Roma 14:1; 15:1-3). Kemampuan semacam ini amat perlu mengingat guru menghadapi peserta didik yang senantiasa mencari konsep diri lebih baik. Patut kita catat bahwa lemahnya konsep diri yang dimiliki peserta didik sering berakibat kurang menyenangkan bagi kelangsungan kegiatan belajar mengajar. Boleh dikata salah satu tugas penting dari guru ialah meningkatkan konsep diri secara positif, selain membimbing peserta didiknya ke arah pengenalan dan penerimaan diri secara sehat.

KEDUA, dengan konsep diri yang baik guru dapat bertumbuh dalam penerimaan akan dirinya, akan potensi-petensi positif dan negatif (kelemahan) yang dimilikinya. Ia akan berupaya bertumbuh dalam karakter-karakter positif dan berusaha memerangi karakter-karakter negatif di dalam dirinya. Dengan kata lain ia mengembangkan persepsi diri yang sehat, tidak dilanda prasangka negatif (Roma 12:3,16; Filipi 4:8). Sebab prasangka buruk terhadap peserta didik dan rekan sekerja selalu menimbulkan gangguan bagi kesuksesan mengajar. Perlu ditambahkan bahwa prasangka buruk sering muncul dalam diri orang adalah karena hadirnya perasaan takut, seperti takut tersaingi, takut tidak dihormati, dan takut dianggap tidak berwibawa.

KETIGA, dengan konsep diri positif guru dapat mengembangkan dirinya dalam segi kesediaan berkorban demi orang lain, serta menempatkan kepentingan orang lain terlebih dahulu (altruism). Kita tahu bahwa sikap sedia berkorban demi kemajuan peserta didik sangatlah penting dimiliki oleh seorang guru. Dengan sikap mental demikian guru bersedia tidak memaksakan kehendaknya, apalagi yang berkaitan dengan hal-hal yang peserta didik sendiri tidak mampu mengikuti atau melaksanakan. Dalam pengalaman, sering guru harus berkorban dalam segi perasaan, rela disepelekan, dianggap sepi oleh peserta didiknya sambil menunggu waktu untuk memperlihatkan kualitas diri yang sebenarnya. Sudah tentu upaya demikian harus diungkapkan dengan cara yang sehat (lemah lembut).

Seorang guru dapat melihat teladan Yesus dalam kesediaan berkorban ini, di mana Ia bersedia untuk menyerahkan nyawa-Nya sekalipun (Yohanes 10:17,18; 1Yohanes 4:8-10). Yesus juga telah memberitahukan prinsip hidup utama yang harus didemonstrasikan oleh murid-murid- Nya. Ia berkata bahwa tidak salah menjadi besar dan terkemuka di hadapan orang lain, tetapi cara yang tepat untuk sampai ke tujuan itu haruslah dengan menjadikan diri sebagai pelayan atau penolong bagi orang lain (Matius 20:26-28; Markus 10:45).

Keempat, dengan konsep diri yang sehat, seorang guru akan mampu mengembangkan kemampuan dan ketrampilan pelayanannya dengan sikap percaya diri. Apalagi bila ia terus menunaikan tugasnya dengan motto: "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberikan kekuatan kepadaku" (Filipi 4:13). Artinya, persekutuan hidup dengan Kristus dapat membuahkan kemampuan baru dalam pribadi seorang guru. Justru perkara inilah yang akan dinyatakan Yesus sehingga Ia mengemukakan dengan tegas,

"Barangsiapa tinggal di dalam Aku, dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa- apa." (Yohanes 15:5)

Kemampuan memang tidak datang begitu saja tanpa upaya belajar dan latihan untuk meningkatkan diri. Yang perlu ditegaskan juga di sini ialah bahwa kemampuan tidak saja menyangkut segi ketrampilan berbuat, tetapi juga segi kedewasaan pikiran dan perasaan. "Rasa mampu" atau tepatnya "percaya diri" inilah yang akan semakin dinyatakan Yesus di dalam diri seorang guru yang sepenuhnya bersedia bersandar kepada-Nya. Hal demikian dapat terjadi karena Roh Kudus senantiasa menyatakan kehadiran Yesus, yang mampu membuat guru tidak merasa kesepian lagi dalam menunaikan tugasnya (Yohanes 16:11-13; 1Yohanes 2:20,27; 3:24; 4:4)

Kategori Bahan PEPAK: Guru - Pendidik

Sumber
Judul Buku: 
Menjadi Guru Profesional Sebuah Perspektif Kristiani
Pengarang: 
B. Samuel Sidjabat, M.Th., Ed.D.
Halaman: 
38 - 40
Penerbit: 
Yayasan Kalam Hidup
Kota: 
Bandung
Tahun: 
1993

Komentar