Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Menyatakan Kasih Allah kepada Anak


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Salah satu hal yang paling penting di dunia ini bagi para orangtua Kristen, guru SM, pelayan anak yang mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap akal budi adalah menyatakan kasih itu kepada anak-anak atau murid-murid mereka. Akan tetapi, kesalehan hidup kita belum tentu menghasilkan anak-anak atau murid-murid yang takut dan mengasihi Tuhan. Lalu, bagaimanakah cara terbaik untuk mengajar anak-anak kita tentang kasih Allah, agar mereka sendiri memiliki kasih dan hati yang bertaut kepada-Nya?

Ketika kita berusaha mengajar anak-anak kita tentang kasih Allah, sangat mudah untuk menggambarkan Allah sebagai sahabat tanpa menunjukkan sifat-sifat-Nya yang lain. Jika kita terlalu menekankan gambaran Allah sebagai sahabat saja, kita dapat menjadikan Allah terlalu bersifat manusiawi. Kita bisa mengubah gambaran Allah dari Tuhan yang membangkitkan rasa hormat menjadi seorang bapak yang hebat dalam dongeng. Kita bisa menunjukkan begitu banyak kasih-Nya secara pribadi bagi individu, sehingga kita menghilangkan semangat beribadah yang kita ingini dimiliki oleh anak-anak kita.

Kita harus mempunyai keseimbangan yang tepat dalam gambaran yang kita berikan mengenai Allah. Ia bukan seorang sahabat yang begitu mengasihi kita dan yang begitu bodoh, sehingga Ia mau memberikan kita segala sesuatu yang kita inginkan. Ia bukan ada untuk memenuhi keinginan pribadi kita. Sebaliknya, Ia juga bukan hantu yang mau menerkam kita. Beberapa anak menjadi ketakutan bila mereka berpikir tentang Allah Yang Maha Melihat dan mata-Nya terus tertuju pada mereka. Meskipun kita tidak ingin anak-anak kita menganggap Allah sebagai sebuah mesin penjual barang secara otomatis di angkasa, kita pun tidak ingin mereka takut kepada-Nya.

Kita harus dengan cermat menjaga keseimbangan waktu kita untuk memperkenalkan Allah. Ini tidak terlalu sulit dilakukan bila kita menggunakan Alkitab dan mengajarkan kepada anak-anak kita seluruh Firman Allah. Dengan demikian, mereka tidak akan merasa ngeri dengan Tuhan, sebab mereka akan mengetahui bahwa Tuhan itu sama dengan Yesus, sahabat bagi anak-anak kecil.

Waktu mengajarkan tentang kasih Allah, contoh yang kita berikan lebih penting daripada kata-kata yang kita ucapkan. Ketika saya masih kecil, ayah saya -- yang pada waktu itu bukan seorang percaya -- merupakan contoh terbaik bagi saya mengenai Bapa surgawi yang penuh kasih, tetapi yang banyak permintaan-Nya. Ayah membuat saya mudah mengerti tentang Tuhan.

Tidak sesaat pun saya pernah meragukan bahwa ayah saya mencintai saya, tetapi saya juga tidak pernah menyangsikan perintahnya. Bila dia meminta kami melakukan sesuatu, kami tahu bahwa dia mengharapkan agar kami melakukannya dengan sempurna. Walaupun dia tidak pernah memukul kami, kami tidak meragukan wewenangnya. Pada saat yang sama, kasih selalu ada di sana, mendasari segala sesuatu yang dia perbuat. Tidak pernah saya merasa kikuk untuk datang bergayut di lutut ayah saya dan dikasihi serta disambut gembira.

Demikian pula, teladan kita lebih berarti daripada kata-kata atau nasihat kita. Saya perlu menunjukkan pada anak-anak saya bahwa Allah adalah bagian yang paling penting dalam kehidupan saya. Jikalau saya mengajar sesuatu dan hidup saya tidak mencerminkannya, maka pasti pelajaran yang saya berikan tidak efektif. Allah haruslah menduduki tempat terpenting dalam hidup saya sendiri, sebelum saya bisa menunjukkannya kepada anak-anak saya bahwa memang Dia patut mendapat kedudukan terpenting dalam hidup mereka juga.

Apakah saya mempunyai persekutuan pribadi setiap hari? Apakah hidup saya setiap hari menunjukkan bahwa saya berusaha melakukan apa yang Allah katakan dalam Firman-Nya? Apakah saya berusaha menjauhkan diri dari kejahatan? Apakah saya beribadah kepada Tuhan dengan sukacita setiap hari Minggu? Apakah saya memberikan perpuluhan untuk Tuhan? Apakah saya bertanya kepada Tuhan pada waktu saya harus membuat keputusan atau pada waktu saya memerlukan pertolongan? Apakah saya memuji Dia karena kebaikan-Nya? Apakah saya membicarakan Dia dengan rasa cinta dan gembira?

Kita harus mengajarkan anak-anak kita mengenai kasih dan ketaatan yang harus berjalan bersama-sama. Kita tidak bisa berkata bahwa kita mengasihi Tuhan tetapi tidak menuruti Firman-Nya. Segera setelah kita memberi dasar Alkitabiah yang baik kepada anak-anak kita agar mereka mengetahui apa yang Allah harapkan dari mereka, untuk selanjutnya, hendaknya kita mengharapkan agar mereka taat.

Saya kira, kita tidak bisa meyakinkan anak-anak kita untuk mengasihi Tuhan jika kita membiarkan mereka tidak menaati kita. Orangtua tidak perlu bersifat keras dan menuntut macam-macam, tetapi mereka perlu memegang pimpinan. Anak-anak harus mengetahui batas-batas ketaatan mereka dan menaati batas-batas tersebut. Ketaatan mereka haruslah bersifat konsisten.

Salah satu hal yang paling berbahaya kita lakukan pada anak-anak kita adalah jika kita tidak konsisten. Kita berkata, "Inilah peraturan," kemudian kita memberlakukannya pada kesempatan tertentu dan pada kesempatan lain membiarkan peraturan tersebut diabaikan. Hal ini membingungkan anak-anak itu. Bila kita menetapkan peraturan, kita harus menjaga agar peraturan itu ditaati.

Adalah kejam bila kita membiarkan anak-anak tumbuh tanpa disiplin. Saya ngeri setiap kali saya melihat orangtua membiarkan anak-anak mereka berkuasa di rumah -- menuntut macam-macam, manja, dan kasar. Saya ingin tahu bagaimana anak-anak semacam itu akan pernah belajar untuk membiarkan Allah memimpin hidup mereka, bila tidak pernah ada orang lain yang memberlakukan disiplin kepada mereka.

Kita harus mengakui bahwa iman bersifat pribadi. Tidaklah cukup bila seorang anak hanya dibesarkan dalam keluarga yang ayah dan ibunya percaya pada Tuhan. Masing-masing anak harus menyerahkan diri secara pribadi kepada Tuhan Yesus Kristus. Saya kira anak-anak benar-benar belajar mengasihi Allah, hanya setelah mereka membuat keputusan ini.

Kita tidak bisa memberi iman pribadi kepada anak-anak. Iman ini berasal dari Allah sendiri, yang memberikan Roh-Nya di dalam kita dan membuat kita sadar bahwa kita adalah anak-anak-Nya (Roma 8:15-17; Galatia 4:6). Melalui Roh Kudus, Dia menarik kita lebih dekat pada-Nya, kemudian kasih kita bagi-Nya akan bertumbuh dan berkembang. Kita harus berhati-hati untuk tidak merasa puas dengan iman bekas pakai pada anak-anak kita. Kita perlu memastikan bahwa masing-masing anak mencapai tingkatan untuk membuat keputusan pribadinya.

Walaupun demikian, kita hendaknya tidak mendorong mereka untuk membuat keputusan itu sebelum anak tersebut siap. Sesungguhnya, keputusan itu harus timbul dari keinginan si anak, bukan keputusan yang dipaksakan atau dipengaruhi oleh ayah dan ibu. Seringkali, kita harus menahan diri dengan memberikan kesempatan, tetapi tidak memaksakan penyerahan diri ini sampai individu tersebut siap. Kadang-kadang, hal ini akan berarti lebih banyak waktu berdoa di kamar kita daripada berurusan langsung dengan anak tersebut.

Anak-anak memerlukan dasar yang kuat dari Alkitab. Mereka perlu mengenal betul cerita-cerita, baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru. Mereka perlu melihat Allah sebagai hakim dan sebagai sahabat. Yang paling utama, anak-anak perlu melihat bahwa Allah, dalam seluruh hubungannya yang beraneka ragam dengan manusia, mengasihi mereka. Ketika Allah menghukum dunia, ini adalah karena kasih-Nya, sama seperti bila Ia menjawab setiap permohonan doa, sebab hanya melalui penghukumanlah, bumi ini bisa dipulihkan kepada kebaikan semula yang Allah tetapkan untuk umat-Nya.

Charles Galloway meringkaskannya dengan baik, "Kebutuhan untuk mengasihi dan dikasihi merupakan keinginan paling sederhana dari semua manusia. Manusia memerlukan kasih seperti ia memerlukan matahari dan hujan. Ia akan binasa tanpa hal itu. Kerinduan utamanya adalah dikasihi dan bisa mengasihi. Tidak ada kebutuhan lain yang benar-benar demikian berarti bagi kodrat hidupnya." (Lloyd Cory, comp, Quote Unquote [Wheaton, III.: Victor Books, 19771])

Seorang anak tentu memerlukan kasih -- kita semua mengetahuinya. Bahkan, seorang bayi yang baru lahir tidak akan bertumbuh dan berkembang tanpa kasih. Dunia kedokteran semakin banyak menemukan bukti betapa hebatnya perasaan dikasihi dan diterima itu berhubungan dengan kesehatan fisik kita. Jika seorang anak sungguh-sungguh merasa bahwa Allah mengasihinya, maka ia juga akan belajar untuk mengasihi Allah. Membimbing mereka untuk semakin hari bisa lebih mengasihi Allah merupakan tugas kita sebagai orangtua maupun guru SM-nya.

Kategori Bahan PEPAK: Anak - Murid

Sumber
Judul Buku: 
Penerapan Praktis Pola Hidup Kristen
Pengarang: 
Donna McKee Rhodes
Halaman: 
361 - 364
Penerbit: 
Kerja Sama antara Gandum Mas, Yayasan Kalam Hidup, dan YAKIN
Kota: 
Malang, Bandung, dan Surabaya
Tahun: 
2002

Komentar