Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Saling Menerima di Pelayanan SM


Dalam pelayanan Sekolah Minggu, sikap saling menerima merupakan bagian dari gaya hidup anak-anak Tuhan yang harus dikembangkan untuk menjalin keakraban antarmurid dan juga para pengajar Sekolah Minggu. Selain itu, menanamkan sikap menerima sejak dini kepada murid-murid Sekolah Minggu akan membentuk karakter mereka untuk dapat menghargai dan menghormati orang lain tanpa memandang perbedaan yang ada.

Sebelum menanamkan sikap saling menerima kepada para murid, para pengajar harus terlebih dulu dapat saling menerima satu sama lain dan menerima murid-murid mereka apa adanya. Hal ini untuk memberikan teladan yang positif kepada anak-anak didiknya. Apa yang ada di pikiran para murid jika melihat guru mereka tidak mau menerima murid lainnya hanya karena murid tersebut berasal dari keluarga sederhana. Padahal, setiap minggu guru tersebut selalu mengingatkan para muridnya untuk menerima orang lain tanpa memandang status ekonomi.

Walaupun mudah untuk dikatakan dan diperintahkan, pada kenyataannya menjadikan sikap saling menerima sebagai suatu gaya hidup tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Apa yang telah direncanakan sejak semula bisa jadi berantakan ketika berhadapan dengan tipe-tipe orang yang tidak kita sukai. Yang muncul bukannya keinginan untuk menerima dia, namun justru keinginan agar dia tidak berada di dekatku. Jangan sampai anak itu jadi muridku, jangan sampai dia menjadi gitarisku saat aku sedang mengajar, atau jangan sampai dia berlama-lama jadi Guru Sekolah Minggu.

Nah, berikut ini beberapa cara sederhana yang dapat dipakai untuk menumbuhkan sikap saling membangun di kalangan pelayanan Sekolah Minggu:

  1. Tumbuhkan kesadaran bahwa semua orang berharga.

    Tuhan berfirman dalam Yesaya 43:

    "Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau, maka Aku memberikan manusia sebagai gantimu, dan bangsa-bangsa sebagai ganti nyawamu."

    Ayat tersebut dengan tegas menyatakan bahwa semua manusia berharga dan mulia di mata Tuhan tanpa terkecuali. Nah, jika Tuhan menganggap ciptaan-Nya berharga, tentu saja kita sebagai ciptaan-Nya juga harus menganggap sesama kita berharga dan mau menerima mereka apa adanya sama seperti Tuhan telah menerima kita apa adanya. Sikap inilah yang harus kita miliki dalam menjalin hubungan dengan sesama manusia.

  2. Miliki pengertian bahwa tidak semua orang sama.

    Dalam beberapa lingkungan masyarakat sering muncul pendapat bahwa orang kaya sombong, orang miskin pemalas, orang kota lebih pandai dari masyarakat desa, dan berbagai pendapat lainnya. Opini itulah yang kemudian mempengaruhi sikap seseorang ketika berjumpa dengan orang yang tidak satu golongan dengannya.

    Seorang anak kecil dari keluarga tidak mampu bisa saja enggan bermain dengan anak orang kaya karena menganggap anak tersebut sombong. Nah, tanamkan pengertian bahwa tidak semua orang sama, sekalipun mereka satu golongan. Tidak semua orang kota lebih pandai dari orang desa dan sebaliknya.

  3. Maafkan kesalahan orang lain.

    Seringkali seseorang tidak dapat menerima orang lain karena pernah disakiti oleh orang tersebut. Parahnya, jika hal itu terus terbawa dan menganggap bahwa orang yang segolongan dengan orang yang pernah menyakitinya sama buruknya. Sebagai contoh, seorang anak dari keluarga yang mampu sering dimintai uang paksa oleh orang-orang pinggiran yang tingkat perekonomiannya rendah. Selanjutnya, anak tersebut tidak mau bergaul dengan orang-orang yang berasal dari keluarga tidak mampu karena menganggap mereka jahat.

    Agar sikap ini tidak terus terulang, perlulah memaafkan orang yang pernah berbuat salah kepada kita dan berpikir bahwa tidak semua orang sama.

  4. Tumbuhkan sikap menerima jika ingin diterima.

    Tumbuhkan perasaan memahami perasaan orang lain. Jika ditolak atau tidak diterima itu menyakitkan, maka terimalah orang lain apa apanya.

  5. Dasari semuanya dengan doa.

    Seringkali kita masih sulit menerima orang lain walaupun sudah berkali-kali mencoba. Oleh karena itu, kita memerlukan kekuatan dari Tuhan untuk memampukan kita menerima seseorang apa adanya. Berdoalah terus jika Anda mengalami kesulitan dalam menerima seseorang.

Menciptakan sikap saling menerima di antara murid dan pengajar Sekolah Minggu memang tidaklah mudah dan memerlukan waktu yang tidak singkat. Namun, dengan keinginan yang kuat maka sikap saling menerima akan tumbuh dengan sendirinya dan sekaligus dapat menjadi gaya hidup yang akan semakin membangun hubungan harmonis antara murid dan pengajar Sekolah Minggu.
/Tri Hardhono

Komentar