Panggilan Mengajar Anak-anak


Kategori Bahan PEPAK: Kesaksian Guru

Oleh: Senda

Sejak kelas 2 SMP saya sudah ikut dalam pelayanan sebagai guru Sekolah Minggu. Jika kembali ke masa lalu cukup aneh bagaimana saya bisa menjadi guru Sekolah Minggu sampai saat ini. Pada awalnya saya belum ada sama sekali minat atau panggilan untuk menjadi guru Sekolah Minggu. Saya masih ingat, dahulu saat saya kelas 4 SD, di Sekolah Minggu saya ada salah seorang guru yang bisa dikatakan "judes". Guru ini jarang sekali tersenyum atau pun ikut menertawakan gurauan kecil kami pada waktu itu. Yang membuat hal ini semakin tidak nyaman adalah guru itu teman mama saya di Sekolah Minggu. Sudah jelas hal ini membuat saya malu untuk cerita ke mama saya. Takut apa yang saya ceritakan akan diteruskan ke teman guru itu. Jadi sampai kelas 6 SD saya dan teman-teman pasti mengeluh kalau guru itu mengajar di kelas kami. Sebenarnya guru itu cukup hebat dalam menceritakan firman Tuhan. Tetapi dari nada bicaranya cukup membuat kami tidak terlalu menyukai beliau.

Hal anehnya dimulai dari sini. Saya pada saat itu sudah kelas 2 SMP. Kebetulan saya saat itu bosan pulang ke rumah karena tidak ada kartun yang bagus untuk ditonton. Akhirnya, saya mengikuti mama saya ke Sekolah Minggu. Selama 1 tahun berjalan, anak-anak Sekolah Minggu mulai akrab dengan saya. Saya juga mulai bisa menghafal satu per satu nama anak Sekolah Minggu dan mulai membantu sebagai MC. Pribadi saya yang tidak mudah bergaul dengan banyak orang pada saat itu membuat saya harus mengakrabkan diri dengan semua teman mama saya. Di situlah saya bertemu kembali dengan guru yang "judes" itu. Saya diajak mengobrol dengan semua orang dan seketika menjadi akrab dengan semua dalam hitungan 2 minggu. Kebetulan juga pada saat itu ada calon pendeta yang sedang PPK di gereja kami.

Mengajar

Karena banyak hal yang membuat saya betah di Sekolah Minggu, saya meraskan panggilan Tuhan dibidang pelayanan ini. Saya memang masih perlu banyak belajar dari guru-guru yang punya pengalaman lebih banyak dari saya. Tapi hal ini tidak menyurutkan semangat pelayanan saya. Hingga pada suatu hari sebelum Sekolah Minggu di mulai, banyak guru senior mencemaskan anak Sekolah Minggu yang masih suka bermain dan tidak fokus di kelas. Para guru senior pun berbagi cerita dengan saya bagaimana mengatasi hal itu. Di sinilah saya memiliki penilaian lain terhadap guru saya pada saat itu. Jadi, apa yang beliau lakukan pada saat itu adalah salah satu usahanya supaya firman Tuhan yang disampaikan bisa dipahami kami anak Sekolah Minggu.

Inilah kesulitan yang sering dihadapi guru Sekolah Minggu. Memang tidak mirip seperti sekolah dasar pada umumnya. Namun, sebagai guru Sekolah Minggu seperti kita, dituntut untuk dapat mengajarkan dengan baik supaya anak selalu mengingat dan melakukan firman Tuhan. Selain itu, kita juga mengajarkan beberapa nilai yang tidak diajarkan oleh guru SD pada umumnya. Saya sendiri, saat ini sudah masuk ke dalam tahap dimana kemampuan saya benar-benar diasah supaya saya bisa menyampaikan firman dengan baik kepada anak-anak, mulai dari anak yang rewel, suka berlarian di kelas, anak yang jail sampai anak yang sangat diam. Selama di kelas mengajarkan saya bahwa hal ini memang tidak mudah. Namun, dibalik ketidak-mudahan itu ada banyak sukacita yang menanti, baik yang diberikan Tuhan melalui anak-anak itu ataupun dari kita sendiri. Selalu ada lika-liku selama mengajar Sekolah Minggu. Tapi saya tidak pernah menganggap hal itu menjadi hambatan. Namun, menjadi cambuk buat saya supaya semakin sepenuh hati mengajar anak-anak yang Tuhan titipkan ini.

Komentar


Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK