Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Kesanggupan Untuk Merasakan Perasaan Orang Lain


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Apakah Empati? Empati adalah kesanggupan untuk turut merasakan apa yang dirasakan orang lain dan kesanggupan untuk menempatkan diri dalam keadaan orang lain. Empati membuat kita dapat turut merasa senang dengan kesenangan orang lain, turut merasa sakit dengan penderitaan orang lain, dan turut berduka dengan kedukaan orang lain. Hubungan Antara Empati, Belas Kasihan, Kepedulian Rasa empati dekat sekali hubungannya dengan rasa belas kasihan. Karena seseorang berempati dengan orang lain, maka ia dapat

Apakah Empati?

Empati adalah kesanggupan untuk turut merasakan apa yang dirasakan orang lain dan kesanggupan untuk menempatkan diri dalam keadaan orang lain. Empati membuat kita dapat turut merasa senang dengan kesenangan orang lain, turut merasa sakit dengan penderitaan orang lain, dan turut berduka dengan kedukaan orang lain.

Hubungan Antara Empati, Belas Kasihan, Kepedulian

Rasa empati dekat sekali hubungannya dengan rasa belas kasihan. Karena seseorang berempati dengan orang lain, maka ia dapat merasa belas kasihan pada orang lain, dan dari rasa belas kasihan, dapat tumbuh rasa peduli yang dalam.

Empati Bersifat "Bumerang"

Pada sisi lain, empati bersifat seperti "bumerang". Perbuatan yang kita lakukan terhadap orang lain memunyai efek emosional terhadap diri kita sendiri. Jika karena perbuatan kita seseorang menjadi senang atau menjadi menderita, perbuatan itu seakan-akan berbalik kepada kita. Kita merasa senang jika kita berbuat yang menyenangkan, dan merasa bersalah (guilty feeling) jika kita membuat orang menderita.

Hati nurani yang mulai tumbuh pada anak yang peka pada usia sekitar lima tahun adalah kesadaran yang membantu seseorang membedakan apakah sebuah perbuatan baik atau buruk. Pada anak di bawah usia lima tahun, ukuran apakah sebuah perbuatan baik atau buruk tergantung oleh akibat yang ditimbulkan perbuatan tersebut -- apakah ia mendapat pujian atau hukuman karena melaksanakan hal tersebut. Tetapi pada waktu usia kira-kira 7 -- 11 tahun, mulai tumbuh kesanggupan pada anak untuk belajar menilai sendiri moral sebuah perbuatan. Maka usia anak SD adalah masa yang amat penting untuk pembentukan hati nurani seseorang, karena mereka sudah bisa melihat dari sudut pandang orang lain dan dapat membayangkan akibat perbuatannya terhadap perasaan orang lain. Anak-anak perlu merasa hatinya tertusuk dan merasa bersalah ketika menyadari bahwa ia telah melukai orang, baik secara fisik atau perasaan. Dari peristiwa ini akan tumbuh kepedulian yang sejati. Karena itu, empati mendo rong kita untuk memperlakukan orang lain dengan baik.

Simpati-Empati

Perbedaan dengan simpati adalah saat kita bersimpati, itu berarti kita senang dan peduli akan orang tersebut (simpathy: you care about the other person). Tetapi kalau kita berempati, kita seakan-akan masuk ke dalam orang tersebut dan menjadi seperti orang tersebut (empathy: you are the other person).

Empati; Kesediaan Berbuat Baik (Altruisme)

Kalau kita merasakan apa yang dirasakan orang lain, kita ingin melakukan sesuatu untuk orang itu. Hubungan antara empati dan kesediaan berbuat baik (altruisme) telah dicatat oleh banyak hasil penyelidikan psikolog. Empati yang tinggi memerbesar kesediaan untuk menolong, untuk berbagi, dan untuk berkorban demi kesejahteraan orang lain.

Kesanggupan untuk berempati adalah kesanggupan bawaan yang ada pada tiap orang, namun dengan derajat yang berbeda-beda. Ada anak yang dilahirkan dengan lebih banyak kesanggupan untuk turut merasakan ada yang kurang. Psikolog anak telah menemukan kesanggupan empati pada anak yang berusia satu setengah tahun, ketika ia melihat seorang anak sedih, ia menawarkan bonekanya untuk menghibur anak tersebut.

Dengan perkembangan kesanggupan berbahasa, berkembang juga kesanggupan untuk berempati.

Usul Untuk Orang Tua, Pendidik Lain, Atau Guru

Usaha untuk Menumbuhkan Empati

  1. Menceritakan apa dan mengapa perasaan orang. Empati dapat ditumbuhkan dengan menceritakan apa dan mengapa seseorang mengalami sesuatu. Seseorang akan lebih mudah turut merasa dengan orang lain kalau orang itu memunyai informasi tentang apa yang dirasakan orang itu (what the person feels). Selanjutnya, orang akan lebih bersedia untuk berempati kalau ia mengerti mengapa orang itu merasa seperti yang dirasakannya (why he feels as he does). Informasi yang paling efektif untuk membangkitkan empati adalah informasi mengenai apa yang sedang diperjuangkan orang itu dan apa perjuangannya untuk mencapai tujuannya.
  2. Menyatakan kesenangan, pujian, atau penghargaan. Selanjutnya, orang tua, pendidik lainnya, atau guru perlu menopang kesediaan anak untuk berempati dengan menyatakan kesenangan, pujian, atau penghargaan mereka atas empati yang ditunjukkannya.
  3. Menunjukkan akibat dari perbuatan anak terhadap perasaan orang lain. Orang tua yang secara konsisten bereaksi terhadap perbuatan negatif anaknya dengan menunjukkan pada perasaan yang telah ditimbulkannya pada orang tersebut, cenderung memunyai anak yang lebih sanggup memahami sudut pandang orang lain, lebih empatik, dan lebih bersedia berbuat baik.
  4. Sekali empati telah dibangkitkan, dorongan pada anak untuk berbuat baik akan datang dari diri anak itu sendiri. Di sini, empati akan bertindak sebagai pencetus untuk disiplin diri.

Latihan untuk Mengembangkan Anak Bersikap Empati

  1. Salah satu cara terbaik untuk mengajar anak berempati ialah dengan bermain peran (role play). Dengan bermain peran, anak diajak untuk mengalami dunia dari sudut pandang orang lain. Dengan membayangkan bahwa dirinyalah yang menjadi orang tersebut, ia bisa melihat dari mata orang tersebut, bersikap seperti orang tersebut, dan bisa menyelami perasaan orang itu. Dengan membayangkan secara terpimpin, seorang anak akan memahami dan peduli terhadap tujuan dan perjuangan seseorang. Adalah penting dalam permainan peran ini bahwa anak mendapat kesempatan untuk mencoba peran yang tidak biasa baginya, sehingga ia belajar melihat dari sudut pandang orang lain. (Perhatian: setelah role play selesai, anak perlu dibebaskan kembali dari peran ini, de-role, dan menjadi dirinya kembali). Misalnya, dengan mengatakan bahwa mereka telah bermain dengan baik dan sekarang kembali menjadi A atau B. Lalu tanyakan bagaimana rasanya menjadi X atau Y.
  2. Kejadian sehari-hari dapat digunakan sebagai latihan empati. Misalnya, saat ibu meminta anak remajanya untuk mengecilkan suara radionya yang terlalu bising, ia perlu mengatakan kebutuhan dan perasaannya, serta menjelaskan akibat yang dirasakan si ibu dari suara bising tersebut. Keterangan ini membuat anak merespons berdasarkan rasa peduli akan ibunya dan bukan karena rasa takut dimarahi. Di permukaan, bisa jadi persoalan ini tampak sebagai persoalan disiplin, tetapi apa yang tampak sebagai persoalan disiplin sering kali pada dasarnya adalah karena kurang kepekaan dan kepedulian serta kurang dapat menempatkan diri di tempat orang lain.
  3. Peran teladan (role model). Dengan mendengar biografi dari orang-orang yang terkenal akan kepedulian mereka, anak belajar untuk mencontoh perilaku tersebut. Mencontoh teladan adalah cara terpenting untuk mengajar anak berperilaku peka dan peduli.
  4. Diskusi kelompok mengenai bagaimana perbuatan memengaruhi perasaan. Misalnya, mengenai topik: sesuatu yang kulakukan yang membuat ibu senang, sesuatu yang kulakukan yang membuat ayah marah, atau sesuatu yang kulakukan yang membuat teman senang.
  5. Menyimpulkan atau curah pendapat tentang berbagai perasaan yang dimiliki orang.

Prinsip-Prinsip untuk Melatih Empati dalam Kehidupan Sehari-Hari

  1. Minta agar anak memerhatikan perasaan orang lain. Minta ia untuk membayangkan bagaimana perasaannya kalau ia di tempat orang tersebut.
  2. Beritahukan akibat yang ditimbulkannya pada perasaan orang lain.
  3. Terangkan mengapa orang merasa demikian.
  4. Tanyakan perbuatan apa yang dapat dilakukannya yang lebih bersikap peduli pada orang lain.
  5. Kita katakan kepadanya bahwa kita meminta atau berharap ia bersikap lebih peduli dan panjang pikiran.
  6. Hargai, puji, dan nyatakan kegembiraan kita kalau ia bersikap panjang pikiran. Tunjukkan kekecewaan kita kalau ia bersikap sebaliknya.
  7. Ceritakan kepada anak perasaan empati kita pada seseorang, dan perbuatan baik yang kita lakukan kepada orang tersebut.
  8. Beri contoh tentang orang yang bersikap empati dan orang yang tidak, dan nyatakan penghargaan kita atas kebaikan orang.
  9. Bantulah ia menolak pengaruh negatif dari teman yang mengejek perasaan empatinya.
  10. Dalam mencari teman, anjurkan ia memertimbangkan kesanggupan anak tersebut untuk merasa empati.

Kesanggupan untuk Menyatakan Kepedulian dalam Tindakan Nyata

Kesanggupan untuk mengobservasi, untuk merasakan dengan orang lain (empati), baru ada gunanya kalau kesanggupan itu ditindaklanjuti dengan perbuatan nyata.

Perbuatan tersebut bukan hanya akan menyenangkan orang yang ditolong, tetapi terutama akan menyenangkan diri si pemberi bantuan tersebut. Yang paling kita ingat dari pengalaman hidup kita ialah kejadian atau peristiwa di mana kita telah melakukan sesuatu untuk orang lain.

Salah satu faktor penting untuk membangun kesanggupan menyatakan kepedulian dalam tindakan nyata ialah latihan bertanggung jawab. Sebuah studi di Universitas Harvard menunjukkan hubungan yang jelas antara besarnya tanggung jawab yang diberikan kepada anak dan kecenderungan untuk bersedia mementingkan orang lain.

Tampaknya anak-anak yang diberikan segala sesuatu kecuali tanggung jawab, tidak hanya menjadi anak yang manja, tetapi juga cenderung kehilangan perasaan dan kepedulian mereka kepada orang lain.

Usul untuk Orang Tua, Pendidik Lain, atau Guru

Cara yang paling efektif untuk memberikan bantuan atau pelayanan ialah dengan memenuhi kebutuhan yang dirasakan oleh orang tersebut. Kita harus berpikir dengan keras untuk merumuskan apa sebetulnya kebutuhannya yang sungguh-sungguh, dan memertimbangkan apa jalan keluar yang dapat menjawab kebutuhan tersebut. Kita harus berusaha memberikan apa yang dibutuhkan, bukan apa yang diingini orang. Kita dapat membedakan keduanya, kalau secara objektif kita bertanya pada diri sendiri, apa akibat dari pemberian kita itu.

Kadang-kadang, apa yang kita inginilah yang menjadi penghalang untuk memenuhi kebutuhan orang lain. Karena yang kita ingini untuk orang lain bisa jadi tidak sesuai dengan yang dibutuhkannya. Cara lain yang dapat ditempuh adalah dengan menanyakan apa yang dibutuhkan orang itu.

Di samping bantuan atau pelayanan yang telah dipikirkan dan direncanakan dengan masak-masak, ada jenis bantuan yang diberikan dengan mendadak spontan. Misalnya, membantu seorang ibu memunguti belanjaannya yang jatuh.

Kategori Bahan PEPAK: Pelayanan Anak Umum

Sumber
Judul Buku: 
Ajarlah Mereka Melakukan
Pengarang: 
Dr. Andar Ismail
Halaman: 
191 -- 197
Penerbit: 
PT BPK Gunung Mulia
Kota: 
Jakarta
Tahun: 
1998

Komentar