Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Belajar dari Masa Kanak-Kanak Yesus


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Allah menciptakan kita supaya kita belajar dari pada-Nya sebagai seorang anak dan terus berusaha mengembangkan diri dengan terus belajar sebagai orang dewasa. Istilah hubungan pribadi, apabila diterapkan dalam hubungan kita dengan Allah, berarti bahwa seseorang telah menerima karya penyelamatan Yesus di atas kayu salib dan menjadi seorang Kristen. Sebenarnya, pada saat itu seseorang baru mulai mengenal Allah secara formal. Suatu hubungan pribadi seharusnya menjadi tujuan hidup yang jauh melebihi

Allah menciptakan kita supaya kita belajar dari pada-Nya sebagai seorang anak dan terus berusaha mengembangkan diri dengan terus belajar sebagai orang dewasa.

Istilah hubungan pribadi, apabila diterapkan dalam hubungan kita dengan Allah, berarti bahwa seseorang telah menerima karya penyelamatan Yesus di atas kayu salib dan menjadi seorang Kristen. Sebenarnya, pada saat itu seseorang baru mulai mengenal Allah secara formal. Suatu hubungan pribadi seharusnya menjadi tujuan hidup yang jauh melebihi perkenalan tersebut. Cara pertama untuk memenuhinya tentu saja dengan berdoa.

Mari kita lihat teladan yang diberikan Yesus, terutama berkaitan dengan masa kanak-kanak-Nya untuk melihat teladan yang telah diberikan-Nya bagi anak-anak kita.

Kebijaksanaan Seorang Anak

Ketika Yesus berumur dua belas tahun, orangtua-Nya membawa Dia ke Yerusalem untuk merayakan Paskah sesuai dengan adat yang berlaku. Setelah perayaan itu selesai, sementara kedua orangtua-Nya pulang, Yesus tertinggal di Yerusalem, namun mereka tidak menyadarinya. Ketika Maria dan Yusuf menyadari bahwa anak mereka menghilang, mereka kembali untuk mencari-Nya. Setelah tiga hari mereka menemukan Dia "... sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran dengan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya." (Lukas 2:46-47).

Orangtua Yesus menemukan Dia setelah mencari selama tiga hari. Apa yang terjadi dalam waktu tiga hari itu? Selama perayaan Paskah, tentunya Bait Allah penuh dengan para pengunjung yang datang dari seluruh wilayah Kekaisaran Romawi. Banyak orang yang tertarik untuk lebih mendalami Alkitab dari para alim ulama. Para alim ulama berkumpul untuk membagikan keyakinan dan pengetahuan mereka akan firman Allah kepada para hadirin. Mereka tidak akan berkumpul hanya untuk berbicara dn mendengarkan seorang anak berumur dua belas tahun!

Jadi mari kita asumsikan bahwa apa yang disaksikan oleh kedua orang tua Yesus pada hari ketiga itu adalah titik puncak dari serangkaian peristiwa. Pemahaman dan jawaban-jawaban Yesus begitu mengherankan sehingga lambat tapi pasti selama tiga hari itu Ia berhasil menarik perhatian orang-orang yang hadir di situ. Para pendengar-Nya bukan hanya beberapa orang alim ulama; Alkitab mengatakan "para alim ulama" yang berarti banyak alim ulama. Jelas bahwa Yesus telah berhasil menarik perhatian para alim ulama yang berkumpul di sana, dan barangkali juga orang-orang yang datang untuk mendengarkan para alim ulama itu.

Bahkan seorang anak, apabila ia meluangkan waktu untuk Allah dan belajar dari-Nya, dapat memukau orang-orang, yang menurut standar dunia termasuk bijaksana dan terpelajar. Alkitab mengatakan, "Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia." (1 Korintus 1:25) Pada saat anak-anak kita mulai meluangkan waktu untuk Allah, maka kita (dan yang lainnya) akan melihat perbedaannya.

Belajar Seperti Seorang Anak

Kitab Amsal mengatakan bahwa takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan. Anak-anak tidak menganggap bahwa kecerdasan dan ketajaman pemikiran mereka sebagai sumber kebijaksanaan. Walaupun demikian, sebagai orang dewasa kita cenderung untuk berpikir bahwa kita benar. Tetapi Allah menciptakan kita supaya kita belajar dari pada-Nya sebagai seorang anak dan terus berusaha mengembangkan diri dengan terus belajar sebagai orang dewasa. Apabila pada masa kanak-kanak kita tidak dididik untuk belajar dari Allah, sangatlah mudah bagi kita untuk terpaku pada apa yang telah kita pelajari dan kita berhenti bertumbuh. Sungguh indah jika kita memiliki kesempatan untuk mengarahkan agar anak-anak kita belajar dari Allah sekarang dan mempersiapkan jalan bagi mereka untuk terus belajar selama mereka hidup.

Jika kita melihat dua laporan mengenai masa kanak-kanak Yesus yang mengapit kisah mengenai kunjungan-Nya ke Bait Allah, kita akan melihat bahwa meskipun Yesus adalah Anak Allah, Bapa-Nya telah merencanakan agar Ia belajar tentang Allah dan memiliki hubungan yang bertumbuh dengan-Nya, seperti yang seharusnya dilakukan oleh seorang anak. Ia belajar segala sesuatu mengenai Allah, bukan sebagai bagian dari Allah Tritunggal, namun sebagai anak yang sejak lahir memiliki hubungan dengan Allah. "Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat dan kasih karunia Allah ada pada-Nya ... Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia." (Lukas 2:40,52) Dari sini kita dapat menyimpulkan hal-hal berikut ini sehubungan dengan masa kanak-kanak Yesus juga perkembangan rohani-Nya:

  1. Yesus semakin bijaksana (secara mental) sesuai dengan kehendak Allah melalui ajaran-ajaran Yahudi, didikan orangtua-Nya, dan mempelajari Taurat.

  2. Yesus tumbuh besar (secara fisik) berkat proses pertumbuhan alami dan makanan yang dikonsumsi-Nya.

  3. Yesus semakin dikasihi Allah (secara spiritual) karena Yesus tunduk kepada-Nya dan kehendak-Nya, juga melalui doa.

  4. Yesus semakin disukai oleh sesama (secara sosial) berkat keterlibatan-Nya di masyarakat sekitar-Nya, komunitas, dan sinagoga, juga karena Ia belajar untuk melayani dan mengasihi sesama-Nya.

Kita tahu bahwa istilah "orang Kristen" memiliki arti "menjadi serupa dengan Kristus" dan sebagai orang-orang Kristen yang dewasa kita tahu bahwa kita harus mengikuti teladan Kristus dalam perilaku, pelayanan, komitmen terhadap Allah, dsb.. Namun siapakah yang harus diteladani oleh anak-anak Kristen? Yesus seperti yang digambarkan di dalam Lukas 2! Ia pernah menjadi anak-anak dan Ia telah memberikan teladan bagi mereka.

Kehidupan Yesus diawali sebagai anak-anak dan Ia bertumbuh bersama Allah sebagai Pembimbing, Bapa, Guru, dan Sahabat-Nya. Ia tumbuh besar sesuai dengan kehendak Allah bagi setiap anak, yaitu memiliki hubungan yang indah dengan Bapa dan Pencipta mereka. Yesus menjamin bahwa hubungan-Nya yang begitu indah dengan Bapa-Nya juga dapat dialami oleh setiap anak, melalui pendalaman Kitab Suci, tunduk kepada kehendak Allah, dan yang terpenting, dengan bertumbuh di dalam doa.

Belajar dari Orangtua Yesus yang Saleh

Maria dan Yusuf memperoleh kesempatan dan tanggung jawab yang besar untuk menjalankan seluruh perintah Allah untuk membesarkan anak mereka sesuai dengan kehendak-Nya. Allah memilih dan mempersiapkan mereka, seperti yang dilakukan-Nya dulu dengan Abraham dan Sara, supaya mereka dapat membesarkan Anak Allah sesuai dengan rencana Allah bagi setiap anak.

Dalam kehidupan-Nya di bumi ini Yesus digambarkan sebagai orang yang senantiasa berdoa. Ia mengatakan bahwa setiap tindakan dan perkataan-Nya berasal dari Bapa dan diperoleh-Nya melalui doa. Ia selalu menyendiri untuk berdoa dengan teratur dan hubungan-Nya dengan Allah adalah harta milik-Nya yang paling berharga. Meskipun Yesus senantiasa memiliki hubungan dengan Allah karena Ia adalah bagian dari Allah Tritunggal, dalam wujud-Nya sebagai manusia Ia mengembangkan hubungan dengan Allah di bumi ini, yang dimulai pada masa kanak-kanak-Nya.

Kita dapat mengajar anak-anak kita untuk berdoa supaya mereka dapat mengembangkan hubungan dengan Allah sesuai dengan teladan Yesus. Itulah caranya agar kita dapat mempersiapkan mereka untuk dapat menjadi manusia yang sesuai dengan rencana Allah, mempelajari apa yang diinginkan Allah, dan menerima semua berkat yang disediakan oleh Bapa surgawi bagi mereka. Kehadiran doa di dalam kehidupan anak-anak kita adalah kehadiran pribadi dan kuasa Allah.

Allah siap, bersedia, dan mampu untuk masuk ke dalam rumah tangga Anda: memeluk anak-anak Anda, mengajar mereka, memerhatikan mereka, dan mendekatkan mereka kepada-Nya. Dia juga siap untuk bekerja di dalam kita dan menganugerahkan kebijaksanaan, kasih, kekuatan, dan keterampilan sehari-hari agar kita dapat menjalankan peran kita di dalam proses tersebut. Kita tidak perlu menjadi sempurna atau melakukan segala hal dengan benar, namun kita bertolak dari kasih, kemurahan, dan kesetiaan Allah.

Kita juga dapat menjadi seperti anak-anak kecil; kita dapat mengesampingkan keangkuhan kita dan memohon kepada Allah untuk mengajar kita, mengubah kita, menolong kita, dan meminta campur tangan-Nya setiap hari. Sebagai orangtua, kita tidak ditinggalkan sendiri.

Belajar untuk Percaya pada Pemeliharaan Allah

Alasan mengapa kita tidak memperoleh apa yang kita inginkan, tulis rasul Yakobus, adalah karena kita tidak berdoa. Dan apabila pun kita berdoa, "... tetapi kamu tidak menerima apa-apa karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu." (4:3) Dengan kata lain, kita yakin bahwa kita tahu apa yang terbaik bagi kita. Jadi pada dasarnya kita berdoa supaya keinginan kita dikabulkan. "Ini yang saya inginkan dan begitulah cara mendapatkannya."

Yakobus tidak mengatakan bahwa kita tidak dapat memperoleh apa-apa yang kita inginkan melalui doa; ia juga tidak mengatakan bahwa kita harus selalu mendoakan orang lain. Maksudnya adalah di dalam doa yang efektif, kita menyerahkan diri dalam pemeliharaan Allah. Doa adalah alat untuk kita berkomunikasi dengan Allah, mengembangkan hubungan dengan-Nya, dan belajar untuk memercayai Dia. Allah ingin agar kita percaya kepada-Nya, mencari kebijaksanaan, rencana, dan yang terbaik yang bisa kita peroleh dari-Nya.

Percaya kepada Kasih Allah

Allah adalah kasih. Kasih itu tidak mementingkan diri sendiri. Oleh karena itu, segala sesuatu yang direncanakan Allah bagi kita adalah demi kepentingan kita sendiri. Pada saat kita memutuskan untuk mencari jalan sendiri, mungkin hal itu dikarenakan kita tidak menyadari hak istimewa dan kesempatan emas dari doa dan hubungan dengan Allah.

Di dalam Yeremia 29:11-13, Allah menyatakan: "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan dengan segenap hati." (Lihat juga Mazmur 40:5, 86:5; dan Efesus 3:20 untuk pernyataan lain mengenai rencana Allah yang indah bagi hidup kita dan kuasa-Nya untuk menggenapi rencana itu.)

Kategori Bahan PEPAK: Pengajaran - Doktrin

Sumber
Judul Artikel: 
Belajar dari Masa Kanak-kanak Yesus
Judul Buku: 
Cara Mengajar Anak Anda Berdoa
Pengarang: 
Rick Osborne
Halaman: 
29 -- 40
Penerbit: 
Gospel Press

Komentar