Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Disiplin Bergereja


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Bergereja bukan hanya berarti pergi kebaktian di sebuah gedung. Bergereja adalah tentang apa artinya menjadi umat Allah, menjadi tubuh Kristus, kumpulan umat Allah.

Kalau saya adalah seorang Kristen, kenyataan yang paling penting di dalam hidup saya ialah hubungan saya dengan Yesus Kristus. Alkitab mengajarkan bahwa jika saya menyatu dengan kepalanya, yaitu Yesus Kristus, berarti saya juga menyatu dengan tubuhnya, yaitu Gereja. Saya perlu memandang pengunjung gereja dengan mengingat apa artinya menjadi anggota tubuh Kristus. Itu bukan hanya soal ikut kebaktian pada hari Minggu pagi, tetapi itu soal menjadi seseorang tertentu.

Dengan mengingat hal itu, ada tujuh alasan mengapa kita seharusnya terlibat dan mendisiplin rohani untuk bergereja:

  1. Dengan perantaraan Yesus Kristus, Allah telah membuat kita menjadi bagian dari suatu umat. Dengan menyelamatkan kita, Allah menjadikan kita bagian dari suatu realitas sosial baru -- Gereja di dunia. Sebagai orang Kristen, kita adalah anggota yang seorang terhadap yang lain (Roma 12:5). Artinya, kita perlu berada bersama dengan saudara-saudara kita dalam Kristus. Bergereja adalah satu cara kita untuk membentuk kesatuan umat Allah yang baru.

  2. Gereja menempatkan kita pada jalan yang benar. Bergereja/ibadah menentukan arah kita. Saat kita beribadah bersama saudara- saudara kita dalam Kristus, kita menangkap suatu pandangan yang nyata dari sudut pandang Allah. Waktu kita menjalani minggu itu dunia cenderung mengaburkan indera kita, menutupi kita seperti dengan tirai tebal. Kita digoda untuk melihat berbagai hal hanya dari sudut pandang manusiawi yang bersifat jasmani dan terikat oleh ruang dan waktu. Waktu bergereja tirai itu disingkapkan dan kita melihat gambar yang sebenarnya. Kita melihat berbagai hal dari sudut pandangan Allah, dan hidup kita diarahkan kembali. Kita berkata, "Oh ya, inilah yang penting. Inilah prioritas yang harus memimpin hidupku."

  3. Keikutsertaan dalam tubuh Kristus merupakan sarana untuk bertumbuh dan melayani. Kita tak akan menjadi orang beriman yang bertumbuh dan hidup, kecuali apabila kita berhubungan erat dengan saudara-saudara kita dalam Kristus. Kita juga tidak akan mempunyai pelayanan yang berhasil karena Allah memakai keterlibatan kita dengan sesama orang Kristen untuk mengajar kita bagaimana melayani. Perjanjian Baru melukiskan gereja sebagai suatu masyarakat dimana segala karunia rohani dipergunakan untuk mendatangkan kepujian bagi Allah dan untuk kebaikan semua orang (Roma 12:4-8; 1Korintus 12-14). Gereja adalah tempat untuk menggunakan berbagai karunia rohani kita, dengan demikian belajar untuk memberi dan menerima. Orang-orang tertarik untuk bergereja bila mereka melihat bukti pekerjaan Roh dalam keseluruhan kumpulan orang beriman.

  4. Allah sudah memerintahkan kita untuk menjadi bagian dari masyarakat Kristen. Saya teringat pada berbagai perayaan dan peringatan serta peristiwa-peristiwa perjanjian khusus dalam Perjanjian Lama, ada yang setiap hari, ada yang setiap minggu atau pada saat-saat tertentu dalam setahun. Sebetulnya Allah berfirman, "Kalian adalah umat-Ku dan kalian harus datang ke hadapan-Ku mempersembahkan diri kalian dan beribadah kepada-Ku" (lihat Imamat 23). Seluruh hidup kita ada di bawah kekuasaan Allah, dan kita menaati-Nya karena menyadari siapa Dia itu dan siapa kita ini. Kita tahu bahwa dengan mentaati Dia, kita akan memperoleh kepuasan dalam hidup.

  5. Bergereja adalah persembahan kita kepada Tuhan dan kepada satu sama lain. Mungkin ada yang mengatakan, "Kukira aku tak akan pergi ke gereja lagi karena tidak banyak yang kudapat dari sana." Kata-kata itu sendiri sudah menyingkapkan suatu masalah. Kalau kita adalah orang-orang Kristen yang bertumbuh, kita beribadah bukan hanya karena apa yang dapat kita peroleh, melainkan juga karena apa yang dapat kita berikan. Banyak orang Kristen memerlukan pengarahan kembali secara radikal dalam cara berpikir mereka tentang soal ini.

    Hendaknya kita bergereja untuk menaikkan pujian kepada Allah, suatu persembahan korban syukur (Imamat 7:12). Persembahan terpenting dari kita kepada Tuhan adalah persembahan hidup kita dengan pujian, ibadah, dan penyembahan. Kita hendaknya ikut beribadah dengan sikap memberikan diri kita sendiri -- karunia yang kita miliki dan hidup kita -- kepada Tuhan.

  6. Melibatkan diri dalam kehidupan gereja akan menghilangkan sifat individualisme kita yang mementingkan diri sendiri. Dalam zaman individualistis ini, semua berpusat pada "aku". Di gereja, sikap demikian sering lebih hebat dari yang kita duga. Sangat mudah bagi saya untuk mengartikan seluruh iman Kristen dari sudut diri saya sendiri -- kebutuhan saya, pertumbuhan saya, dan sebagainya. Ibadah yang sejati dan hidup akan meniadakan kecenderungan kita untuk melihat segala sesuatu hanya dengan mengingat pengaruh apa yang dapat diberikannya untuk hidup kita sendiri.

    Oleh karena itu, tak ada alasan bagi seseorang untuk berkata, "Aku tidak suka berada bersama orang-orang itu; aku dapat beribadah kepada Tuhan, sama saja baiknya bila hanya sendirian saja." Itu salah. Kita tidak dapat berkata bahwa beribadah kepada Tuhan sendirian sama baiknya dengan bersama-sama. Itu adalah situasi yang berlainan; jelas ibadah umum dan ibadah pribadi itu saling menunjang. Membuat diri sendiri disiplin secara rohani akan banyak memperkaya kehidupan bersama kita, demikian pula sebaliknya. Kita membutuhkan kedua bentuk ibadah itu. Tetapi, hanya dengan bersama-samalah kita akan benar-benar memahami arti praktis dari bagian-bagian Alkitab yang berbicara tentang merendahkan diri seorang kepada yang lain dan bertanggung jawab seorang kepada yang lain.

  7. Dengan terlibat di dalam kehidupan masyarakat Kristen, kita ikut serta dalam tiga fungsi pokok ibadah: pengucapan syukur, pengajaran, dan pertobatan. Kita mengucap syukur bersama saudara- saudara kita di dalam perkumpulan ibadah. Kita diajar, saat Allah berbicara kepada kita melalui Firman-Nya. Kita menyadari kebutuhan kita dan kita bertobat.

Ibadah berarti pengucapan syukur. Allah telah bertindak dalam sejarah -- sepanjang abad sejarah alkitabiah, selama abad-abad gereja, dan dalam masyarakat kita sendiri yang percaya. Dalam ibadah kita mengucap syukur karena siapa Allah itu dan bagaimana Ia membawa penebusan kepada dunia dengan perantaraan Yesus Kristus. Kita mengucap syukur atas pekerjaan Roh yang menjadikan kita umat-Nya di dunia ini.

Melalui gereja Allah berbicara kepada kita melalui Firman-Nya. Allah mengajarkan kepada kita jalan yang harus kita tempuh. Kita mendengar Firman Allah yang dibacakan, dikhotbahkan, dinyatakan melalui nyanyian, kesaksian, dan mungkin juga melalui drama. Roh berbicara melalui Firman itu. Melalui ibadah kita mendengar Firman Allah dan kita menanggapi sesuai dengan apa yang Allah katakan kepada kita. Seringkali tanggapan kita adalah pujian dan pengucapan syukur. Tetapi saat lain, tanggapan yang tepat adalah pertobatan. Seperti Yesaya, yang melihat Tuhan (Yesaya 6), kita melihat bahwa diri kita ini kotor dan menyesalinya, menyerahkan diri kita kepada Tuhan untuk Ia bersihkan dan Ia beri tugas. Dengan demikian, bagi kita ibadah itu meliputi unsur-unsur pengucapan syukur, pengajaran, dan pertobatan.

Bergereja adalah salah satu cara yang terpenting bagi kita untuk bertumbuh dalam Yesus Kristus.

Kategori Bahan PEPAK: Doa - Musik - Ibadah

Sumber
Judul Buku: 
Pola Hidup Kristen Penerapan Praktis
Halaman: 
517 - 521
Penerbit: 
Kerja Sama antara Gandum Mas, Yayasan Kalam Hidup, dan YAKIN
Kota: 
Malang, Bandung, dan Surabaya
Tahun: 
2002

Komentar