Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Kamar Nomor 205


Jenis Bahan PEPAK: Bahan Mengajar

Bahan mengajar berikut ini dapat menjadi satu pilihan cerita ketika kita ingin memberikan contoh tentang bagaimana seharusnya kita sebagai orang Kristen yang menghadapai kematian. Cerita ini juga dapat menjadi satu bahan cerita untuk PASKAH.

KAMAR NOMOR 205
Oleh: Esther

Bau obat bius tercium di sepanjang lorong rumah sakit, Ishak berjalan perlahan-lahan. Ia sengaja berlambat-lambat.

Tuk ... tuk ... tuk .... Terdengar pelan suara sepatunya di lantai. Rasanya tak ingin masuk ke kamar 205 tempat Neneknya menderita karena sakit kanker. Nenek tercinta. Ia sayang sekali sama Nenek. Akibat sakit rambut Nenek hampir botak. Tubuhnya semakin lemah. Terkadang ia mengeluh tubuhnya sakit. Ah, kasihan Nenek ....

Tuk ... tuk ... tuk ... tuk ....

Ishak sudah sampai di depan pintu kamar nomor 205. Pintu kamar agak terbuka sedikit. Ia hendak mendorong pintu. Tapi, samar-samar didengarnya suara orang bercakap-cakap. Ia menangkap satu dua kata tentang "mati", "takut". Ia jadi penasaran. Apa yang sedang dibicarakan oleh Ayah dan Nenek? Mengapa tiba-tiba perasaannya jadi gelisah?

Sebenarnya Ishak ingin membatalkan niatnya untuk masuk dan menunggu saja di luar sampai mereka selesai. Tetapi rasa ingin tahunya tentang keadaan Nenek membuat ia terpaksa menguping dari balik pintu. Walaupun ia tahu tidak pantas menguping pembicaraan orang.

Terdengar suara Ayah, "Mami, aku ngerti perasaan Mami. Karena itu kami selalu menemani Mami." Kemudian terdengar suara Nenek. Pelan dan agak terputus-putus. "Aku tahu penyakitku ... nggak bisa sem ... buh. Tapi aku takut Sam. Akhir-akhir ini aku sering takut."

Nenek memanggil Ayah dengan "Sam", singkatan dari Samuel.

"Iya, Mam. Aku tahu .... Kami kan selalu ada dekat Mami. Dan Tuhan juga pasti selalu menyertai Mami." kata Ayah. Tampaknya Ayah berusaha menenangkan Nenek.

"Aku ini rasanya ... berdosa, Sam. Kok takut ... mati .... Aku ini kan percaya ... Kristus ...."

Jantung Ishak rasanya hampir berhenti berdetak mendengar kata-kata Nenek. Apa...?! Nenek akan mati...?! Ia tak tahan lagi. Segera didorongnya pintu dengan tiba-tiba dan berlari menghampiri Nenek sambil berseru, "Nenek nggak boleh mati ...!!"

Ayah dan Nenek terkejut. Mereka tidak menyangka Ishak mendengar percakapan mereka.

"Ishak ...." sapa Nenek.

"Nek, kenapa Nenek bilang begitu? Nenek bilang Nenek sebentar lagi pulang. Nenek juga sudah janji mau kasih aku hadiah kalau aku lulus ujian karate ...."

"Ishak, Ishak ...." Ayah memotong perkataan Ishak sekaligus menenangkannya. "Tenang dulu Is. Nenek nanti makin sedih lihat Ishak begini. Sini, duduk dekat sini," Ayah menarik kursi ke sebelahnya buat Ishak duduk. Ishak menurut.

"Ishak, sebenarnya tadi kamu nggak boleh menguping pembicaraan Ayah dan Nenek," tegur Ayah.

"Maaf, Yah. Tadi sih aku mau duduk di luar waktu dengar Ayah lagi bicara. Tapi aku dengar kok Nenek bilang ...," Ishak ragu-ragu meneruskan. Sesaat mereka terdiam. Tampak Ayah dan Nenek jadi serba salah. Apakah Ishak perlu mengetahui hal yang sebenarnya akan terjadi?

"Hmm ...." Ayah menarik nafas panjang.

Akhirnya Nenek yang lebih dulu bicara, "Sam,... Ishak perlu tahu." Ayah memandang Nenek, masih agak ragu. Tapi lalu menganggukkan kepala.

"Baiklah, kalau Mami ijinkan," katanya. "Is, kamu sudah cukup besar. Kami pikir kamu perlu tahu yang sebenarnya. Menurut dokter, sakitnya Nenek sulit sembuh. Tenang Is .... Lebih baik kamu dengarkan Ayah dulu, Is," kata Ayah ketika dilihatnya Ishak hendak memotong.

"Ini memang berat buat kita semua. Walaupun begitu kita yakin Tuhan akan menguatkan kita menghadapi hal ini. Nah, Is, bukan cuma kamu yang sedih. Nenek juga sama sedihnya, karena harus berpisah dengan kamu."

"Nenek ...." Ishak memeluk tangan Neneknya sambil menangis.

"Ishak,... jangan menangis, Is. Sini, Nenek mau tanya. Ishak ngerti nggak ... artinya kematian?" tanya Nenek.

"Artinya ...," Ishak mengusap pipinya yang basah. "Artinya kita dipanggil Tuhan Yesus buat ke surga," Jawab Ishak.

"Pintar ...." Puji Nenek.

"Betul, Is. Setiap anak Tuhan pasti suatu saat akan dipanggil pulang, "Rumah" kita sebenarnya adalah di surga. Jadi kita cuma pisah untuk sementara saja. Nanti kita akan ketemu lagi di surga," kata Ayah.

"Tapi, tapi kenapa Nenek takut pulang ke surga? Kan enak tinggal di surga. Sama-sama Tuhan Yesus."

"Is," tegur Ayah.

Nenek tertawa kecil, "Betul kamu Is. Nenek nggak usah ... takut ya."

"Begini, Is, Ayah jelaskan," kata Ayah. "Walaupun kita tahu kita akan ke surga, tapi waktu menghadapi kematian kita bisa merasa takut. Tapi kita percaya Tuhan pasti akan menenangkan kita. Sehingga akhirnya kematian itu nggak lagi menakutkan, Firman Tuhan bilang, maut sudah nggak ada sengatnya lagi. Maksudnya, sudah nggak bisa mengalahkan kita lagi. Sebab sudah dikalahkan Tuhan Yesus. Ini berarti setiap orang percaya pasti akan masuk surga."

"Oh, iya..." kata Nenek seperti teringat sesuatu, "Sebentar lagi ... Paskah."

"Astaga ...! Sampai lupa kalau empat hari lagi Paskah," Ayah ikut berseru.

Hampir bersamaan dengan itu Ayah baru menyadari ada perubahan dalam diri Nenek. "Mami, aku senang melihat Mami nggak secemas tadi," katanya. Benar. Wajah Nenek tampak lebih cerah.

"Iya, Sam. Rasanya ... aku sekarang sudah siap ... buat ke surga," ujar Nenek sambil terenyum. "Tuhan kita sudah ... menang ... menang ... Dia bangkit dari ... kematian. Sam, aku ... aku sudah siap, Sam."

Ayah dan Ishak terharu mendengarnya. Kemudian mereka bersama-sama mengucap syukur kepada Tuhan. Tuhan Yesus sudah menang. Hai maut dimanakah sengatmu?

Sekarang kamar 205 kosong. Tidak ada lagi Nenek disana. Sekalipun ada pasien, pasti bukan Nenek karena ia sudah di surga.

Kategori Bahan PEPAK: Sudut untuk Anak

Sumber
Judul Buku: 
KITA - Majalah Kristen untuk Anak-anak
Halaman: 
24 - 25
Penerbit: 
Lembaga Reformed Injili Indonesia
Tahun Edisi: 
1997
Nomor Edisi: 
47

Komentar