Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Golgota


Jenis Bahan PEPAK: Bahan Mengajar

Tuhan Yesus memandang kayu salib itu, tetapi sepatah kata pun tidak keluar dari mulut-Nya. Pakaian-Nya ditanggalkan. Hanya sarung pinggang yang masih melekat pada tubuh-Nya. Dengan sabar Dia membiarkan mereka menyiksa Dia. Sebuah cawan disodorkan kepada-Nya.

Karena haus, Ia segera menerima cawan itu. Tetapi, baru saja Dia menaruh bibir-Nya pada pinggir cawan itu, Ia segera mengembalikan cawan itu. Cawan itu berisi campuran anggur dengan cuka. Minuman itu diberikan untuk meringankan penderitaan, untuk mengurangi kepedihan- Nya. Tetapi Tuhan Yesus tidak mau menerima-Nya, Ia tidak mau penderitaan-Nya diringankan. Cawan kesedihan sepenuhnya akan dikosongkan-Nya sampai habis. Dengar sadar, Ia akan menderita untuk umat-Nya.

Tangan-Nya yang suci, yang selama ini hanya dipakai-Nya untuk memberkati orang, kini dipaku di kayu salib. Darah-Nya mengalir ke bawah. Kaki-Nya yang tak pernah beristirahat dan selalu siap melangkah bila ada orang yang memerlukan pertolongan-Nya, dipaku juga di kayu salib itu. Ujung kayu salib itu berwarna merah karena darah yang mengalir ke bawah.

Karena rasa pedihnya, Ia pun berbicara. Namun Ia tidak mengutuk, malah berdoa kepada Allah Bapa supaya mengampuni dosa orang-orang yang telah menyiksa-Nya.

Kata-Nya, "Ya, Bapa, kiranya Engkau mengampuni dosa mereka, karena mereka tidak tahu apa yang telah diperbuatnya!"

Tak sampaikah kata-kata yang amat mulia itu ke telinga para pembunuh? Tidak, karena mereka sedang sibuk menyalibkan dua orang lagi, seorang di sebelah kanan, yang seorang lagi di sebelah kiri. Di atas tiap-tiap kayu salib dipakukan sebuah papan. Di atas papan itu tertulis perbuatan jahat yang telah mereka lakukan.

Apakah yang tertulis di atas kepala Tuhan Yesus? Tulisan itu tertera dalam bahasa Yunani, Latin, dan Ibrani sehingga segenap manusia dapat membacanya "Yesus orang Nazaret, Raja bangsa Yahudi".

Para imam kepala terperanjat ketika membaca tulisan di atas palang itu. Dengan berangnya mereka berkata kepada walinegara itu, "Jangan tulis Raja bangsa Yahudi; melainkan apa yang sudah Dia katakan, yaitu: Akulah Raja bangsa Yahudi."

Tetapi Pilatus menyahut dengan tegas, "Aku tidak mau mengubah apa yang sudah kutuliskan."

Demikianlah tulisan `Raja bangsa Yahudi` itu tergantung pada kayu salib. Ia menanggung hukuman yang tidak boleh diberikan kepada seorang Roma karena terlalu hina bagi mereka.

Demikianlah Juruselamat, Pelepas yang selama berabad-abad sudah ditunggu itu sekarang dihina dan disiksa. Demikianlah Anak Allah, Raja langit dan bumi, seperti seorang terkutuk yang harus menjalani hukumannya. Ia harus menderita untuk menebus dosa seluruh dunia.

Prajurit-prajurit yang menyalibkan Yesus tidak mengerti peristiwa agung yang terjadi di dekat mereka. Mereka duduk di dekat salib Yesus dan membagi-bagikan pakaian Tuhan Yesus. Ada empat orang prajurit di sana dan masing-masing mendapat sehelai pakaian, kain kepala, ikat pinggang, baju luar, dan sepasang kasut. Dan tinggal sehelai jubah yang sangat mahal. Keempat prajurit itu sepakat, "Janganlah kita koyakkan jubah itu, tetapi lebih baik kita undi siapa yang berhak mendapatkannya." Sementara Yesus sangat menderita di kayu salib, mereka membuang undi di dekat-Nya.

Demikianlah telah digenapi apa yang sudah diramalkan oleh Raja Daud seribu tahun lampau, "Mereka membagi-bagikan pakaian-Ku dan membuang undi atas jubah-Ku."

Matahari sudah tinggi di langit sebelah selatan. Luka-luka yang terbuka itu mulai terasa perih. Jantung berdebar-debar. Panas pun mulai mengamuk, seakan-akan menghanguskan seluruh badan orang yang dihukum itu.

Iba ... iba hati melihat penderitaan yang terlalu berat itu. Tetapi masih ada juga manusia yang sampai hati mengolok-olok Dia. Rupa- rupanya setan sendirilah yang tinggal di dalam hati mereka pada waktu itu. Orang yang lewat di sana mengolok-olok-Nya, katanya, "Kau yang akan merombak Bait Suci dan akan membangunnya kembali dalam tiga hari saja. Nah, bebaskanlah Diri-Mu sendiri dan turunlah dari kayu salib itu!"

Para imam kepala serta ahli-ahli Taurat itu bergirang hati di dekat kayu salib Yesus. Hati mereka puas. Mereka tak perlu kuatir lagi. Ia tak perlu lagi diajak bicara. Mereka sekarang berkata satu sama lain untuk menyakiti hati Tuhan Yesus.

"Yang lain sudah dilepaskan-Nya, padahal Ia sendiri tak dapat membebaskan diri-Nya. Apa itu! Jika Ia benar-benar Juruselamat, nah, baiklah Ia turun dari kayu salib lalu kami akan percaya kepada-Nya. Ha ... ha ... ha ... Ia percaya kepada Tuhan Allah. Kata-Nya Ia Anak Allah! Mengapa tak dilepaskan oleh Tuhan Allah-Nya?"

Seorang manusia pun tak akan dapat menahan segala sengsara itu. Sebenarnya sepatah kata pun sudah cukup akan membinasakan musuh- Nya. Tetapi Ia diam saja. Karena Ia datang bukan akan memusnahkan jiwa manusia, melainkan menyelamatkannya.

Prajurit-prajurit itu lebih kejam lagi menyiksa Dia. Waktu mereka melihat bahwa Ia sangat haus dan ingin minum seteguk air saja, mereka menyuguhkan kepada-Nya anggur yang asam, segar, seraya mengejek Yesus, "Kalau Kau Raja bangsa Yahudi, bebaskanlah Diri-Mu sendiri!"

Siksaan ini pun diderita-Nya dengan sabar, Ia tak mengeluarkan sepatah kata pun. Inilah mujizat kasih Tuhan Yesus! Ia masih menurut meskipun disiksa mati-matian, terus-menerus sampai ajal-Nya tiba.

Kedua orang pembunuh yang tergantung sebelah kiri dan kanan-Nya tidak tinggal diam. Dengan susahnya mereka melirik dan memandang kepada Tuhan Yesus. Mungkin saja, jikalau Ia Kristus, barangkali mereka masih dapat diselamatkan.

Mereka tertawa sambil mengejek, "Benar, kalau Engkau Kristus, bebaskanlah Diri-Mu dan kami ini!"

Tetapi baru saja yang seorang berkata demikian, digigitnya bibirnya. Entah apa yang membuat dia bertobat saat itu. Entah mata Tuhan Yesus yang suci itu atau entah doa-Nya untuk musuh-Nya tadi.

Sementara penjahat yang lain terus menghina Dia, jiwanya penuh dengan rasa hormat. Dalam hatinya lahirlah kepercayaan yang besar. Ia yakin bahwa Yesus yang menderita itu meskipun penuh dengan sengsara, benar-benar Raja, Juruselamat yang datang ke dunia.

Ia tidak tahan lagi mendengar temannya mengejek Yesus. Dipalingkannya mukanya, "Belum juga kau takut kepada Tuhan Allah, padahal sebentar lagi kau berdiri di hadirat Tuhan? Kita memang sepatutnya disalibkan, karena kita orang yang jahat. Tetapi Orang ini sedikit pun tak bersalah." Kemudian dia berkata kepada Yesus, "Ya Tuhan, ingatlah kepadaku, bila Engkau sudah sampai dalam Kerajaan-Mu."

Wah, tergambarlah kebahagiaan yang suci di muka Tuhan Yesus itu. Ia masih dapat menyelamatkan satu jiwa. Mata Tuhan Yesus penuh penghiburan ketika dia memandang orang itu. Dengan suara yang tegas Ia berkata, "Sesungguhnya Aku berkata, sekarang juga engkau akan beserta-Ku di Firdaus."

Tak pernah orang yang tergantung pada kayu salib itu mengalami rasa damai yang sejati seperti itu, karena ia yakin jiwanya sudah selamat di tangan Tuhan Yesus meskipun ia masih menderita sengsara.

Itulah yang selalu dikehendaki Yesus, bahkan pada waktu tergantung di kayu salib, yaitu memelihara orang lain, mengurus yang sakit, dan menghibur yang bersedih hati.

Dari kayu salib Ia memandang ke bawah. Dengan mata yang pedih, Ia mencari di antara orang yang berdiri di bukit itu. Di antara rakyat yang berkumpul di situ tampaklah sekelompok orang yang bersusah hati. Tampaklah perempuan yang sejak dari Galilea yang mengikuti Dia, Maria Magdalena, seorang murid, yang dulu dibebaskan dari tujuh jin yang jahat. Lalu Maria, istri Kleopas yang dengan patuh mengabdi kepada-Nya. Kemudian Salome, ibu Yakobus serta Yohanes.

Tampak juga Maria, Ibu Yesus yang sedang menangis di dekat kayu salib Anaknya. Hatinya seakan-akan diiris sembilu, pedih, amat pedih melihat Anaknya begitu menderita. Melihat ibu-Nya yang sedang bersusah hati itu, Tuhan Yesus lebih sedih lagi. Lebih pedih daripada luka-luka-Nya. Di dekat Maria tampaklah Yohanes, yang terus mengikuti Gurunya itu.

Yesus memandang ibu-Nya kata-Nya, "Hai Ibu, lihatlah anakmu." Kemudian kepada Yohanes, "Lihatlah ibumu." Keduanya mengerti maksud- Nya. Sejak itu Maria tinggal di rumah Yohanes, dan Yohanes mengurus segala keperluannya.

Sekarang matahari tinggi sekali di sebelah selatan dan cahaya yang panas terik hampir-hampir tegak lurus jatuhnya ke atas kepala orang yang tergantung di situ. Makin berat penderitaan-Nya. Badan-Nya penat. Urat-urat-Nya sudah kaku, makin lama makin susah menarik nafas ... aduh pedihnya.

Itulah yang harus ditanggung oleh-Nya, padahal Ia sendiri selalu meringankan penderitaan manusia lainnya, bahkan kadang-kadang membebaskan orang dari sengsaranya. Ia yang menyembuhkan luka orang lain, sekarang penuh dengan luka-luka yang parah dan berlumuran darah.

Ia yang menggerakkan kaki orang yang lumpuh dan yang timpang, sekarang tak dapat bergerak. Ia yang menghidupkan kembali orang yang mati sekarang Ia harus mati ... tak berdaya.

Tiba-tiba terjadi sesuatu yang menggemparkan. Matahari yang baru saja bersinar dengan teriknya, seakan-akan terbenam, kemerah- merahan. Hari seperti senja. Tidak lama kemudian matahari seolah- olah menghilang entah ke mana, ia lenyap di dunia yang penuh dosa. Sekarang hari gelap ... gelap gulita. Dunia berkabung. Tirai yang hitam kelam menyelubungi seluruh bumi.

Saat itu sunyi senyap. Hanya suara orang yang disalibkan terdengar terengah-engah dan mengerang kesakitan. Dalam gelap itu Tuhan Yesus mengalami penderitaan-Nya yang terakhir.

Sekarang ... di sini ... Ia tergantung di antara langit dan bumi, jauh dari Tuhan Allah. Ia amat haus, badan-Nya hangat, karena diserang demam dan maut yang dasyat serta kesedihan yang tak terhingga. Setan pun masih mencoba juga menggoda-Nya, membujuk-Nya, supaya jangan menurut kehendak Bapa-Nya.

Sekeliling-Nya gelap gulita ... sunyi senyap ... tak pernah dialami- Nya seperti itu. Lalu jiwa-Nya berseru kepada Allah-Nya, dan aduuhh ... Allah tak menyahut.

Tuhan Allah telah memalingkan muka dari-Nya. Hanya kegelapan, kesedihan, dan kemarahan yang ada. Ia menanggung beban dosa seluruh dunia. Ia menahan amarah Tuhan Allah kepada segenap manusia. Ia mengalami ketakutan serta sengsara neraka.

Tiga jam lamanya Ia menanggung sengsara itu. Akhirnya dada-Nya terlalu sesak, sehingga Ia berseru dengan takut-Nya, "Ya Allah Bapa, mengapa Engkau meninggalkan Aku?"

Heh, apa itu? Terdengar suara dari surga menjawab. Cukuplah penderitaan itu. Tirai yang hitam kelam itu dinaikkan ke atas. Matahari muncul lagi. Cahaya terang yang berasal dari Tuhan Allah, tampak lagi. Di mana-mana cuaca terang. Tuhan Allah tidak murka lagi. Dengan penuh kasih sayang, Ia memandang kepada Anak-Nya.

Cahaya Tuhan Allah bersinar lagi di hati Tuhan Yesus.

Tuhan Yesus menyadari bahwa perjuangan-Nya sudah berakhir. Bahwa Ia sudah merebut kemenangan yang gilang-gemilang, karena telah menurut kehendak Bapa-Nya.

Hendak diserukan-Nya ke seluruh dunia, tetapi Ia hampir tak dapat bersuara lagi. Hampir tiba ajal-Nya. Mulut-Nya yang sudah kering hampir tak dapat bergerak lagi. Ia mengerang, "Aku haus."

Beberapa rabi yang mendengar seruan-Nya di kegelapan, sekarang memiliki keberanian lagi, karena cuacanya sudah terang, dan mereka mulai menghinanya kembali. Ketika ada seorang yang beriba hati hendak membasahi bibir-Nya dengan seikat lumut yang sudah dibasahinya dengan cuka lebih dulu, mereka berteriak, "Jangan! Ia telah memanggil Nabi Elia. Marilah, kita lihat, apakah Elia datang untuk membebaskan Dia!"

Tetapi orang itu tak sekejam rabi itu. Diletakkannya juga lumut itu kepada bibir Tuhan Yesus. Tenaga-Nya kembali lagi. Suara-Nya yang nyaring mendengung di bukit Golgota itu memberitakan bahwa Ia sudah menang. Dengarlah pekik kemenangan yang diucapkan dengan penuh kuasa, "Sudah genap."

Sekarang tak ada lagi rasa takut, tak ada lagi penderitaan. Pekerjaan-Nya sudah berakhir. Tugas-Nya yang amat mulia itu sudah dijalankan-Nya, tugas yang diberikan Bapa di surga. Kata Tuhan Yesus, "Ya Bapa, kepada-Mu Kuserahkan nyawa-Ku." Doa itu bunyinya seperti doa seorang anak kecil, penuh kepercayaan. Ia menundukkan kepala-Nya, lalu putuslah nyawa-Nya. Ia mati, Raja langit dan bumi. Gemparlah seluruh alam. Bumi gentar, batu gunung membelah. Gua kubur dalam gunung terbuka dan orang mati hidup kembali.

Perwira yang menjaga di kayu salib, dengan penuh hikmat menengadah ke atas, kepada tubuh yang tak bernyawa itu dan katanya tersentuh, "Sesungguhnya, Manusia ini benar-benar Anak Allah!"

Orang yang berkumpul di bukit Golgota, yang tadi menghina, juga orang yang tak mengenal Tuhan Allah, gemetar ketakutan. Mereka gempar melihat peristiwa yang amat dasyat itu. Karena kehilangan akal mereka berlari pontang-panting ke kota sambil menepuk dada. Mereka amat menyesal mengingat perbuatannya.

Di Bait Suci beberapa imam sedang mempersembahkan korbannya. Nah, tengoklah, tiba-tiba tirai yang memisahkan Ruang Kudus dan Ruang Mahakudus terbelah dari atas ke bawah. Mereka gempar! Hanya sekali saja Imam boleh masuk ke dalam Ruang Mahakudus itu pada hari Grapirat.

Sekarang Ruang Mahakudus itu terbuka untuk segenap manusia. Tak ada lagi yang memisahkan Tuhan Allah dari manusia. Tak perlu lagi imam serta korban itu. Imam Besar yang sebenarnya sudah mempersembahkan Korban-Nya. Dosa dunia sudah ditebus. Surga sudah terbuka untuk segenap manusia.

Inilah amanat yang terlebih mulia, yang penuh bahagia, yang pernah diumumkan kepada seluruh dunia.

Kategori Bahan PEPAK: Perayaan Hari Raya Kristen

Sumber
Judul Buku: 
Essential Parenting Tips
Halaman: 
231 - 237
Penerbit: 
MCDS and Fammily Matters
Kota: 
Singapore

Komentar