Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Bagaimana Memulai Bercerita?


Jenis Bahan PEPAK: Tips

  1. Membaca berbagai cerita. Saat membaca, perhatikan bagaimana beberapa penulis bercerita tentang telinga (ini adalah cerita-cerita yang Anda inginkan), sedangkan penulis lainnya bercerita tentang mata. Beberapa cerita modern pada umumnya bersifat literal -- lebih menekankan gaya daripada plot/alur ceritanya -- sedangkan penulis seperti Elie Wiesel dan Leo Tolstoy menulis seperti cara kita berbicara. Hampir semua cerita Alkitab memiliki suatu "oral voice" (suara yang dikeluarkan oleh mulut) yang memudahkan cerita itu untuk dituturkan. Perhatikan cerita tentang Yunus atau perumpamaan dalam Perjanjian Baru tentang orang Samaria yang baik hati. Kebanyakan cerita Alkitab menimbulkan imajinasi yang kuat dan jelas bagi pendengar modernnya.

  2. Dari cerita yang Anda baca, pilihlah suatu cerita yang sederhana. Untuk tantangan pertama ini, cerita yang disampaikan seharusnya tidak lebih dari 3 atau 4 menit. Bacalah cerita itu 10 atau 15 kali, sampai Anda benar-benar memahaminya.

  3. Persiapkan cerita itu dengan membacanya secara bersuara. Meskipun Anda merasa seperti orang bodoh yang berbicara dengan tembok, tidak ada jalan lain untuk bisa mengetahui bagaimana cerita itu bila tidak dikatakan atau kata-kata mana yang harus Anda pilih. Acara yang berupa kegiatan oral (oral event) memerlukan persiapan oral pula.

  4. Pada umumnya, akan sangat baik bagi Anda untuk mengingat setiap kejadian yang ada dalam cerita Anda daripada setiap kata yang ada. Hal ini untuk menghindari cerita menjadi kaku dan canggung. Setelah membaca cerita itu selama lima belas kali, Anda bisa merasakan bahwa Anda tidak perlu mengingatnya. Pengecualian dari peraturan ini termasuk metode literal dalam menuturkan cerita Alkitab dan ungkapan-ungkapan penting yang memerlukan bahasa yang tepat.

  5. Jangan terlalu banyak menggunakan kata-kata. Kebanyakan cerita, baik yang diceritakan secara formal maupun secara informal, gagal disampaikan karena kita terlalu banyak menggunakan kata-kata. Contoh cerita yang bisa digunakan adalah perumpamaan-perumpamaan yang digunakan oleh Yesus yang tidak banyak menggunakan kata-kata.

  6. Carilah pendengarnya dan mulailah. Saya terberkati dengan hadirnya dua anak yang menyukai cerita dan secara alami menjadi pendengarnya. Bila Anda tidak punya anak, mintalah bantuan beberapa anak.

  7. Gunakan suara yang alami. Hindari suara pendeta atau suara aktor yang dibuat-buat. Duduk akrab membentuk lingkaran bersama dengan pendengar atau dengan mendekati pendengar dapat membantu menjaga suara kita tetap terdengar alami. Meskipun beberapa orang yang memiliki nada suara tinggi perlu menurunkan suara mereka, kebanyakan orang harus dapat berbicara seolah-seolah mereka sedang bercakap-cakap dengan teman-teman mereka.

  8. Anda diharapkan membuat rekaman cerita pertama yang Anda sampaikan. Kritik yang sangat jelas bisa membantu Anda menghindari ucapan yang sedikit berlebihan, misalnya kata-kata "ehm" dan "em" yang muncul ketika pencerita menyampaikan ceritanya.

Apa yang harus dihindari saat bercerita?

Seperti kebanyakan tugas lainnya, kepekaan umum dan intuisi akan menyebabkan pencerita lebih mudah menyampaikan ceritanya dengan lebih meyakinkan daripada serangkaian peraturan. Mungkin saya telah mempersempit batasannya, tetapi bila Anda masih ragu-ragu, berikut beberapa tips tambahan dalam bentuk negatif.

  1. Jangan terburu-buru. Tempo merupakan hal yang penting dalam menciptakan cerita yang bagus seperti halnya dalam menciptakan lagu yang baik. Kecenderungan untuk terburu-buru sering terjadi pada awal bercerita, ini disebabkan oleh rasa takut yang mendorong kita untuk terburu-terburu, misalnya saat mengatakan, "Mari segera kita selesaikan kegiatan ini." Berikan jeda supaya cerita Anda terdengar alami/natural. Seperti rancangan sebuah iklan yang baik, jarak antarhuruf sering kali sama pentingnya dengan kata-kata itu sendiri. Jeda menimbulkan rasa ketertarikan untuk membangun dan membuat imajinasi pendengar melayang.

  2. Hindari penggunaan alat-alat yang justru merusak cerita. Penggunaan alat peraga yang terlalu banyak justru tidak membantu dalam membuat cerita menjadi menarik, tetapi malah menghalangi komunikasi yang alami antara pencerita dengan pendengarnya. Salah satu alat peraga yang sering digunakan, yaitu peraga dari kain flanel, sangat tidak efektif untuk digunakan. Ketika pencerita menempatkan peraganya di papan, maka hilanglah kontak mata dengan pendengarnya. Saya biasa menggunakan rompi dari flanel bila mendapat kesempatan untuk menyampaikan cerita. Dengan menggunakan rompi ini, saya bisa menempelkan peraga di rompi saya sambil memandang pendengar sehingga saya tidak kehilangan kontak mata dengan mereka. Meskipun rompi bisa memberi nilai lebih pada penampilan, sering kali saya merasa rompi bisa menjadi cara untuk menjalin kontak antara pencerita dan pendengar.

    Bila Anda menggunakan sebuah gambar, lebih baik Anda menggunakan gambar abstrak supaya menimbulkan rangkaian imajinasi. Meskipun saya enggan menggunakan gambar, namun saya pernah harus menunjukkan foto Martin Luther pada hari Minggu Reformasi. Saya melihat anak-anak menganggap saya sedang bercerita tentang tokoh besar pembela hak asasi itu. Sejak saat itu, saya hanya menunjukkan gambar sesaat sebelum saya mulai bercerita, kemudian saya simpan gambar itu ketika saya menyampaikan cerita.

  3. Hindari menggurui atau menempatkan ajaran-ajaran moral dalam cerita Anda. Tidak ada yang bisa dengan cepat membuyarkan cerita Anda selain menyertakan ajaran moral itu beserta penjelasannya. Bila Anda menghormati pendengar Anda, cukup sampaikan cerita itu kepada mereka. Hormati mereka dengan membiarkan mereka menggambarkan sendiri kesimpulannya. "Mereka yang memunyai telinga, biarkanlah mendengar."

    Bila suatu diskusi bisa membantu mengembangkan cerita, menurut pendapat saya, pencerita diizinkan untuk membuat diskusi, tetapi tidak lagi memunyai kekuasaan untuk mengarahkan interpretasi orang lain. Tidak seperti seorang guru yang menyampaikan pelajarannya, cerita memunyai keberadaannya sendiri.

  4. Jangan membuat ilustrasi cerita yang membingungkan. Ilustrasi-ilustrasi saja tidaklah cukup; ilustrasi itu menunjukkan makna yang lebih besar. Cerita memiliki arti tersendiri. Dengan luar biasa, Yesus "menjelaskan" perumpamaan-perumpaman-Nya dan dalam beberapa saat kemudian Ia hanya memberikan suatu permintaan. (t/Ratri)

Kategori Bahan PEPAK: Metode dan Cara Mengajar

Sumber
Judul Artikel: 
The Appeal of Storytelling; Resources for Christian Storytellers
Judul Buku: 
Speaking in Stories
Pengarang: 
William R. White
Halaman: 
17 -- 20
Penerbit: 
Augsburg Publishing House, Minneapolis 1982

Komentar