Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Ibadah Keluarga


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

MAKNA IBADAH KELUARGA

Seorang dekan Fakultas Sosiologi di Universitas Haver, Dr. Pitirin Sorokin, menemukan bahwa keharmonisan keluarga berhubungan erat dengan ibadah keluarga. Keluarga yang setiap hari mengadakan kebaktian doa, persentasi perceraian terjadi hanya 15 dibanding 1000. Kebaktian keluarga yang sukses memberi sumbangsih yang besar terhadap pembinaan hubungan keluarga dan kerohanian anak.

ALASAN UNTUK MENGADAKAN KEBAKTIAN KELUARGA

  1. Bimbingan Keluarga

    Membina kehidupan rohani anak, bukan hanya bersandar pada waktu satu minggu sekali di Sekolah Minggu. Pembinaan dalam keluarga jauh lebih penting dan berpengaruh ketimbang yang diberikan oleh gereja.

  2. Tanggung Jawab

    Alkitab menegaskan tentang tanggung jawab keluarga. Seorang ayah sebagai kepala keluarga, harus lebih bertanggung jawab dalam mendidik anak. Musa mengajarkan kepada orang Israel, "Apa yang kuperintahkan kepadamu hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu" (Ulangan 6:6-9). Ayat itu jelas memberitahukan bahwa pendidikan agama merupakan tanggung jawab keluarga dan harus dilakukan setiap hari.

  3. Pengajaran dari Orangtua

    Bila orangtua secara serius ingin membekali kehidupan rohani anak, haruslah disampaikan secara terencana dan teratur. Pelajaran kebenaran harus disusun dengan sistematis, jangan hanya asal terima dari pendeta atau guru Sekolah Minggu.

  4. Meningkatkan Komunikasi

    Pada zaman ini, kesibukan dan ketegangan mewarnai kehidupan keluarga. Waktu untuk berkumpul dengan seisi rumah sangat sulit ditetapkan. Oleh karena itu, ibadah keluarga merupakan jembatan untuk menghubungkan seluruh keluarga masuk dalam komunikasi rohani.

KEGAGALAN IBADAH KELUARGA

  1. Biasa Dibatalkan

    Bila sudah terbiasa suka membatalkan waktu untuk mengadakan ibadah keluarga karena suatu alasan, maka akan sulit untuk diwujudkan kembali.

  2. Suasana Mati

    Suasana ibadah terlalu rutin dan tidak menarik sehingga, keluarga menjadi bosan.

  3. Menyelewengkan Tujuan

    Saat ibadah keluarga sering digunakan sebagai kesempatan untuk menghukum anak, "Mengapa hari ini kamu bertengkar dengan kakak" dan lain-lain. Atau menggunakan Alkitab untuk menghakimi, orangtua membacakan dulu ayat Alkitab sebelum menegur anak. Oleh karena suasana seperti itu, anak selalu menghindar untuk beribadah.

  4. Kurang Mengikutsertakan

    Jika ayah dan ibu yang terus memimpin, dan anak tidak diberi kesempatan, maka anak merasa kebaktian itu tidak ada sangkut pautnya dengan dia dan tidak berminat lagi untuk mengikuti ibadah keluarga.

  5. Menuntut Terlampau Tinggi

    Ada keinginan yang terlampau tinggi atau waktu ibadah terlalu lama. Masing-masing sudah terlalu disibukkan dengan acara sendiri. Belum lagi daya tarik acara televisi yang menarik. Semuanya dirasakan begitu banyak rintangan, sehingga akhirnya ibadah keluarga tidak dapat dilaksanakan.

USULAN TENTANG IBADAH KELUARGA

  1. Menyadari Prinsip yang Utama

    Ibadah keluarga yang baik harus mencakup 3 hal, yaitu:

    a. Alkitab : Firman Allah sebagai pedoman dan kekuatan dalam kehidupan keluarga.
    b. Doa : Berbicara dengan Allah dan menyerahkan segala beban.
    c. Berbagi rasa: Dalam suasana komunikasi yang indah semua merasakan, senang sama dicicipi sulit sama ditanggung.
  2. Mengingat Kebutuhan Anak Sesuai dengan Usia

    Anak yang masih kecil perlu gambar-gambar dari kisah di dalam Kitab Kejadian atau riwayat Yesus pada keempat Injil. Sedangkan bagi anak yang agak besar boleh masuk ke dalam pengajaran pada bagian Kitab Kisah Para Rasul, Surat kiriman Paulus dan Kitab sejarah.

  3. Memiliki Tekad yang Bulat

    Seisi rumah bertekad untuk memilih waktu yang tepat dan menjadikannya sebagai yang diutamakan. Bila waktunya tidak tepat, dapat diubah daripada ditiadakan. Atau bila semua sibuk, tetapkan waktu satu minggu satu/dua kali daripada selalu dibatalkan.

  4. Metode Penyelidikan Alkitab

    Gunakan berbagai metode dalam menyelidiki Alkitab, misalnya dengan membaca Alkitab terjemahan lain sebagai perbandingan. Atau menyelidiki para tokoh, mendengarkan kaset, menonton video rohani, atau boleh juga dipimpin secara bergilir.

  5. Mengadakan Doa

    Cara berdoa juga perlu bervariasi. Misalnya, dipimpin oleh satu orang, doa bersama, doa pendek sesuai dengan tema, membaca Mazmur sebagai doa, atau memberi kesempatan semua untuk berdoa. Yang penting orangtua mengumpulkan pokok-pokok doa, lebih luas yang didoakan lebih puas jiwa yang mendoakan. Berdoa bukan hanya untuk keluarga sendiri, tetapi juga untuk gereja, para hamba Tuhan, pekerjaan Tuhan, teman sekolah, tetangga, dan lain sebagainya. Isi doa, di dalamnya termasuk doa syafaat, doa syukur, doa pengakuan dosa agar melalui doa, anak mengalami kesungguhan hidup dengan Allah.

  6. Membagikan Pengalaman

    Ciptakan suasana yang manis saat setiap orang menceritakan pengalaman dan perasaannya. Ingat bahwa ibadah itu bukan suatu ritual keagamaan, melainkan persekutuan keluarga dimana komunikasi yang indah sangat dibutuhkan.

  7. Mengendalikan Waktu

    Paling baik, waktu ditentukan tidak lebih dari 30 menit supaya tidak terasa jemu. Biarkan ibadah keluarga menjadi sesuatu yang dikenang oleh anak-anak sehingga mempengaruhi pertumbuhan rohani mereka. Sebenarnya banyak masalah keluarga dapat diselesaikan dengan mudah jika ada ibadah keluarga. Kristus harus menjadi kepala keluarga. Seluruh keluarga bersukacita mencari Tuhan, berdekat dengan Tuhan. Jika anak dibesarkan dalam keluarga semacam ini, pasti ia tidak akan menyimpang dari imannya, mengasihi dan melayani Tuhan sampai hari tuanya.

Kategori Bahan PEPAK: Doa - Musik - Ibadah

Sumber
Judul Buku: 
Menerobos Dunia Anak
Pengarang: 
Dr. Mary Go Setiawani
Halaman: 
180 - 182
Penerbit: 
Yayasan Kalam Hidup
Kota: 
Bandung
Tahun: 
2000

Komentar