Mengajarkan Berulang-Ulang


Edisi PEPAK: e-BinaAnak 702 - Memuridkan Anak dengan Firman Tuhan (II)

Suatu kali, seorang guru Sekolah Minggu menegur Kevin, murid yang dikenal badung dan suka berbuat iseng di kelasnya. "Kevin, tidak boleh begitu! Tuhan Yesus tidak suka kalau Kevin begitu." Dengan enteng, Kevin menjawab, "Ah biarin, nanti Tuhan Yesusnya saya 'smack down'." Mendengar pernyataan muridnya tersebut, sang guru mendekat dan menasihatinya.

Memang perlu diakui bahwa anak-anak lebih mudah mengikuti teladan tokoh atau acara tertentu di televisi dibandingkan cerita Alkitab, bahkan Tuhan Yesus sendiri. Mengapa? Karena Tuhan Yesus tidak terlihat, sedangkan televisi lebih nyata. Ini wajar karena salah satu pintu belajar seorang anak adalah penglihatan. Jadi, bagaimana caranya agar anak tersebut dapat belajar tentang Allah secara nyata? Orang tualah jawabannya. Orang tua harus mewujudkan dan menunjukkan contoh penerapan dari pengajaran mengenai Allah, dalam kehidupan sehari-hari. Dalam sebuah bukunya, Cornelius Plantinga Jr. mengatakan bahwa anak akan belajar mengenai Allah justru waktu ia melihat orang tuanya berdoa, menyebut nama Allah, menghindari dosa, dan memprioritaskan Allah dalam hidupnya.

Kondisi zaman dan kemajuan teknologi memang dapat memberi pengaruh yang positif, tetapi sekaligus mendatangkan peringatan bagi orang tua kristiani. Setiap orang tua harus sungguh-sungguh mencondongkan hati kepada Allah dan hidup takut akan Allah. Supaya pengajaran mengenai Allah dapat ditangkap sepenuhnya oleh anak-anak ketika mereka melihat langsung cara hidup orang tuanya. Itulah artinya mengajarkan tentang Allah secara berulang-ulang kepada anak-anak.

Diambil dan disunting dari:

Nama situs : SABDA.org
Alamat URL : http://www.sabda.org/publikasi/e-rh/2010/10/24
Penulis artikel : RY
Tanggal akses : 20 Februari 2015

Kategori Bahan PEPAK: Anak - Murid

Komentar


Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK