Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Pesta Ulang Tahun untuk Yesus


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Apa yang membedakan Natal pada masa kanak-kanak saya dengan Natal pada masa dewasa saya? Salah satunya, dalam hal menerima dan memberi. "Taking and giving".

Pada masa kanak-kanak saya, Natal berarti orang lain -- Sinterklas, orang tua, om, tante, dan semua orang yang mencintai saya -- memberi, dan saya menerima, "taking". Sekarang, pada masa dewasa saya, Natal berarti saya memberi, dan orang lain menerima, "giving".

Pada masa kanak-kanak saya, Natal berarti merepotkan orang lain. Bayangkan, menjelang Natal, saya mulai mendaftarkan dan "mengumumkan" hadiah-hadiah yang saya impikan, atau jika mau jujur ... tuntut! Kini, pada masa dewasa saya, Natal berarti di-"repot"-kan oleh orang lain. Menjelang natal, agenda saya penuh dengan undangan melayani di sana-sini, sampai waktu untuk memperingati Natal bersama keluarga sendiri berulang kali nyaris tersita!

Pada masa kanak-kanak saya, Natal berarti memperoleh banyak. Sekarang, pada masa dewasa saya, Natal berarti "kehilangan" banyak -- waktu, tenaga, pikiran, dan tentunya ... uang!

Bukan berarti sekarang saya tidak lagi menerima kado, atau merepotkan orang lain, atau mendapat banyak pada saat Natal. Nyatanya, setiap hari Natal saya tetap mendapat banyak kado dari orang-orang yang mencintai saya. Saya juga masih sering merepotkan orang lain, entah sengaja atau tidak. Bahkan, peringatan Natal selalu mendatangkan berlimpah berkat bagi saya. Namun, bukan semua itu lagi yang mendefinisikan Natal bagi saya. Dengan kata lain, tanpa semua itu Natal tetaplah Natal, tak kekurangan secuil pun makna, dan ... tetap berkesan!

Karena itu, bagi saya selalu ada dua macam Natal. Natal yang "kanak-kanak" dan Natal yang "dewasa". Natal yang "kanak-kanak" adalah Natal yang bersemangatkan menerima (taking). Sedangkan Natal yang "dewasa" bersemangatkan memberi (giving). Natal yang "kanak-kanak" adalah saat untuk menerima. Sedangkan Natal yang "dewasa" adalah kesempatan untuk memberi.

Macam Natal yang mana yang Saudara peringati setiap tahun? Macam Natal yang mana yang ingin Saudara alami di tahun ini? Jawabannya terkait langsung dengan semangat apa yang memenuhi sanubari Saudara menjelang Natal -- menerima atau memberi. "Taking or giving".

Semangat apa yang hidup di hati mereka yang terlibat dalam dan menjelang peristiwa Natal yang pertama -- "the first Noel"? Terutama, di hati Maria sang perawan, yang dipilih oleh Allah untuk mengandung dan menjadi bunda dari Sang Mesias? Jika Saudara memiliki semangat yang sama, Natal tahun ini akan menjadi Natal yang lebih indah, bermakna, dan berguna ketimbang Natal-Natal sebelumnya.

Semangat menjelang "the first Noel" terangkum dalam tanggapan Maria terhadap pesan ilahi yang disampaikan oleh malaikat Gabriel, bahwa ia akan mengandung dan melahirkan Sang Mesias. Jawab sang perawan, "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." (Lukas 1:38)

Pada hakikatnya, ucapan tersebut adalah suatu doa, yang memuat baik pengakuan -- "aku ini adalah hamba Tuhan" -- maupun harapan atau permohonan -- "jadilah padaku menurut perkataanmu itu". Dalam teks Yunani, kata "jadilah" di sini bernuansa "optative" -- mengungkapkan harapan (a wish). Artinya, itu keluar dari hatinya yang paling dalam. Itulah semangat yang mengantar Bunda Maria menyongsong "the first Noel". Dan semangat itu tidak lain dari semangat memberi. Memberi dirinya bulat-bulat ke dalam tangan dan kehendak Tuhan. Memberi kandungannya untuk didiami dan menjadi tempat bersemayam Sang Janin Kudus!

Jadi, kalau Saudara berpikir bahwa perawan Maria menjalani masa-masa mengandung Sang Mesias dengan berat atau susah hati, apalagi terpaksa, Saudara salah besar! Mengapa? Karena itulah harapannya -- supaya pesan Tuhan baginya benar-benar terealisasi, bahwa dia akan mengandung dan melahirkan Sang Raja Adiraja. Itulah sukacitanya -- dipercaya untuk mengemban tugas yang sangat agung. Bayangkan, menjadi bunda bagi Sang Juru Selamat! Baru setelah menyadari hal ini, Saudara bisa lebih menghayati nyanyian pujian Maria di Lukas 1:46-55, khususnya pernyataan yang mengawalinya: "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamat-ku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya."

Mengapa bisa begitu? Jawabannya tersingkap dalam pengakuan yang mendahului permohonan Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan." Maria sadar siapa dirinya. "Hamba Tuhan". Sebutan ini memuat sebuah paradoks. Di satu sisi, sebutan ini menyatakan kerendahan dan kehinaan. Maria cuma hamba. Namun, di sisi lain sebutan ini juga menyatakan kebesaran dan kemuliaan. Bagaimanapun, Maria bukan sembarang hamba. Dia hamba Tuhan! Artinya, dia agen ilahi! Utusan Allah! Pemikul firman Allah! "The bearer of God's word!" Betapa penting dan agung keberadaannya!

Kesadaran akan jati dirinya sebagai hamba Tuhanlah yang membuat Maria siap, bahkan bergairah dalam menyambut kehendak Tuhannya. Dalam teks Yunani, ucapan Maria berbunyi: "idou he doule kuriou". Kata seru "idou" di sini menyatakan dan menegaskan kesiapan dan hasrat sang perawan untuk menaati kehendak Allah. Seolah-olah ia berkata, "Lihat (idou), siapa saya, saya adalah hamba Tuhan! Karena itu, saya berharap kehendak Tuhan jadi atas diri saya, tidak kurang tidak lebih!" Maria sadar siapa dirinya -- hamba Tuhan. Dan hasrat seorang hamba sejati cuma menyenangkan hati tuannya. Karena itulah sang hamba berseru, "Jadilah padaku menurut perkataanmu itu."

Menjelang Natal di penghujung tahun ini, semangat apa yang hidup di hatimu, wahai Saudaraku? Kesadaran apa yang berdenyut di nadimu? Hasrat apa yang bersemi di hatimu? Yang siap menggerakkan anggota-anggota tubuhmu? Taking ... or giving?

Diambil dan disunting seperlunya dari:

Kategori Bahan PEPAK: Perayaan Hari Raya Kristen

Sumber
Judul Buku: 
Harta Karun Natal
Pengarang: 
Erick Sudharma, dkk.
Halaman: 
34 -- 38
Penerbit: 
Mitra Pustaka dan Literatur Perkantas
Kota: 
Bandung
Tahun: 
2005

Komentar