"Sebab, Engkau membentuk bagian dalam tubuhku, Engkau menenun aku di dalam rahim ibuku ... di dalam kitab-Mu semua tertulis, hari-hari yang akan disusun bagiku, ketika belum ada satu pun darinya." (Mazmur 139:13, 16, AYT)
Judy dan saya sering mendapat pertanyaan, "Berapa anak yang kalian miliki?" Jawabannya: empat -- Beth, Mary, Rob, dan Josh. Kini mereka semua sudah dewasa, dan Tuhan telah memberkati kami sampai hari ini dengan enam cucu.
Mari kita ajukan pertanyaan lain: "Apa kebenaran terpenting yang perlu diketahui orang tua tentang anak-anak mereka?" Judy dan saya percaya jawabannya adalah ini: anak-anak adalah milik Allah. Dia adalah Pencipta mereka. Dia memercayakan mereka kepada kita untuk diasuh hanya untuk suatu masa. Masa itu bisa berlangsung enam puluh tahun, enam puluh hari, atau bahkan hanya enam puluh jam. Namun, yang pasti, Allah tetap memegang kendali.
Anak-Anak Adalah Milik Allah. Dia Adalah Pencipta Mereka.
Dalam memiliki anak, orang tua memiliki hak istimewa dan Membesarkan anak adalah hak istimewa sekaligus tanggung jawab yang besar. Baik anak kandung maupun anak angkat, kebenaran ini tetap sama. Baik dalam keluarga dengan dua orang tua maupun orang tua tunggal, prinsip ini tetap berlaku: anak-anak adalah milik Allah terlebih dahulu. Kedengarannya sederhana, bukan? Kami setuju, tetapi menjalankannya tidaklah mudah. Semua ini mungkin berawal dari pengakuan bahwa sebagai orang tua kita sering merasa tahu yang terbaik bagi anak-anak kita. Kita lupa bahwa Allah adalah Pencipta setiap anak, dan Dia sudah menyiapkan rencana yang unik bagi setiap anak laki-laki maupun perempuan. Karena itu, kita perlu berpaling kepada Allah untuk mencari bimbingan dalam membesarkan anak-anak kita. Firman-Nya penuh dengan tuntunan yang dapat menolong.
Lalu, bagaimana orang tua melakukannya? Bagaimana kita bekerja sama dengan Allah dalam mendidik anak-anak kita? Kami percaya semuanya dimulai dari diri kita sendiri, dengan memiliki hubungan pribadi bersama Tuhan. Saat kita menaruh iman kepada Yesus Kristus, kita mulai belajar memercayai Allah. Kita percaya kepada Dia untuk keselamatan kekal kita, dan kita juga belajar percaya kepada Dia untuk menolong dalam kehidupan sehari-hari. Bagian penting dari kedewasaan iman adalah bertumbuh dalam kepercayaan kepada Allah agar Dia menolong kita membesarkan anak-anak sesuai dengan kehendak-Nya. Hal ini terjadi ketika kita menjadikan firman Tuhan sebagai sumber utama untuk membimbing kita dalam memimpin dan mengajar anak-anak. Dan dalam perjalanan menaati serta bekerja sama dengan Allah ini, kami menemukan bahwa doa memegang peranan sangat penting.
Doa
Doa dapat melakukan apa saja yang Allah sanggup lakukan. Saat kita mencari Bapa Surgawi, Dia mendengar doa-doa kita dan menyediakan apa yang kita perlukan untuk mendukung anak-anak kita. Melalui doa, Allah membekali kita dengan kasih, keberanian, pengharapan, kekuatan, dan ketekunan yang dibutuhkan untuk menjadi orang tua yang saleh. Oh ya, jangan lupa kesabaran -- Allah pun akan memberikannya!
Kami mengasihi anak-anak kami, tetapi kasih itu tidak pernah sebesar kasih Allah.
Tentu saja, doa bukan satu-satunya sarana. Nasihat dari orang-orang saleh juga sangat menolong kami. Selain itu, pengalaman adalah guru yang hebat, asalkan kita mau belajar dan menerapkan pelajaran dengan benar. Kami menyadari, kami belajar bukan hanya dari hal-hal yang berhasil kami lakukan, tetapi bahkan lebih banyak lagi dari kesalahan-kesalahan kami. Syukurlah, anak-anak biasanya mudah memaafkan dan memiliki daya tahan yang luar biasa.
Kami mengasihi anak-anak kami, tetapi kasih itu tidak pernah sebesar kasih Allah. Judy dan saya masih ingat, kami sudah berdoa bagi mereka bahkan sebelum mereka lahir -- sebelum kami tahu jenis kelaminnya, karunia dan kemampuan mereka, maupun kepribadian masing-masing. Namun, renungkanlah hal ini: kasih Allah bagi anak-anak kita, juga anak-anak Anda, sudah ada jauh sebelum itu. Seperti tertulis dalam Mazmur 139:13, Allah yang membentuk kita sejak dalam kandungan ibu. Dan di ayat 16 kita membaca bahwa Allah telah menetapkan semua hari dalam hidup kita sebelum satu pun dari hari itu terjadi.
Intinya, Allah memiliki rencana bagi setiap kita. Dia juga sudah menyiapkan rencana bagi setiap anak. Rencana-Nya selalu sempurna, meskipun sering kali tidak sejalan dengan rencana yang kita susun sebagai orang tua. Karena itu, penting sekali untuk mengingat kebenaran ini, terutama di masa-masa sulit. Dalam perjalanan hidup kami, Allah telah memberi banyak kesempatan untuk belajar semakin memercayai Dia.
Kisah Kami
Pada Februari 2008, putra kami, Rob, pulang dari tugas militer di Afghanistan ke markasnya di Vicenza, Italia, untuk menjalani R&R (istirahat dan rekreasi). Dia bertugas di 173rd Airborne Brigade (Brigade Lintas Udara ke-173). Bersama istrinya, Jen, mereka sudah dikaruniai seorang putra bernama RJ. Mereka berdoa agar Jen dapat mengandung anak kedua, dan Tuhan menjawab doa itu. Hanya beberapa minggu kemudian, Jen membawa kabar gembira kepada Rob yang saat itu kembali bertugas di Afghanistan.
Namun ketika usia kehamilan Jen bertambah, masalah mulai muncul. Dokter di Vicenza merujuknya ke Landstuhl Regional Medical Center di Jerman untuk menjalani serangkaian tes. Setelah hasil keluar, seorang dokter Jerman dan seorang dokter Amerika duduk bersamanya dan menyampaikan kabar yang mengejutkan. Bayi perempuan di dalam kandungan Jen didiagnosis menderita hidrosefalus -- istilah medis untuk penumpukan cairan di otak. Selain itu, para dokter juga meyakini bahwa bayi tersebut telah mengalami stroke sejak dalam kandungan.
Berdasarkan data medis yang tersedia, para dokter melukiskan gambaran yang suram. Mereka menasihati Jen untuk mengakhiri kehamilannya. Menurut perkiraan mereka, bayinya mungkin tidak akan bertahan hidup cukup lama untuk dilahirkan. Bahkan jika dia berhasil lahir cukup bulan, gadis kecil itu diperkirakan akan mengalami masalah besar dan kemungkinan besar tidak akan tumbuh mendekati normal. Dalam keadaan seperti itu, hidup Rob dan Jen akan berubah sepenuhnya karena harus merawat seorang anak dengan kebutuhan khusus.
Dalam situasi seperti ini, laporan siapa yang akan Anda percayai? Para dokter telah memberikan saran medis terbaik yang mereka miliki, tetapi Jen tidak sanggup mengikutinya. Dia sudah melihat gambaran kehidupan kecil di dalam rahimnya. Bayi itu seorang perempuan, dan Jen bersama Rob telah memberinya nama -- Jillian. Dengan keberanian, mereka memilih untuk memertahankan Jillian dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Tuhan.
Seiring berjalannya waktu, bukti medis justru semakin memburuk. Hasil pemindaian menunjukkan bahwa kepala Jillian sangat besar dan bentuknya tidak normal. Pada Juli 2008, ketika Rob menyelesaikan penugasan selama 15 bulan di Afghanistan, para dokter merekomendasikan agar Rob dan Jen segera dipulangkan ke Amerika Serikat dan ditempatkan dekat fasilitas medis yang mampu menangani persalinan dengan komplikasi berat. Angkatan Darat pun menugaskan Rob ke Naval Postgraduate School di Monterey, California, yang jaraknya kurang dari seratus mil dari sebuah rumah sakit di San Francisco dengan salah satu ahli bedah saraf anak terkemuka di negara itu.
Setelah kembali ke Amerika, Rob dan Jen rutin menemui ahli bedah saraf yang akan menangani kondisi Jillian. Namun, berita buruk terus berdatangan menjelang hari perkiraan lahir pada pertengahan November. Para dokter terus memaparkan serangkaian skenario pesimis, dan kemungkinan Jillian lahir dengan kondisi normal bahkan tidak pernah masuk dalam perkiraan mereka.
Meski demikian, Rob dan Jen tetap menyerahkan hidup Jillian kepada Tuhan. Pada awal Oktober, dokter bedah saraf anak memutuskan bahwa Jillian tidak bisa menunggu sampai cukup bulan. Kepalanya yang semakin membesar membuat operasi sesar menjadi pilihan terbaik untuk memberi kesempatan hidup baginya. Mereka pun sepakat untuk melahirkan Jillian pada 27 Oktober. Malam sebelum operasi, para dokter berkumpul bersama Rob dan Jen untuk mempersiapkan mereka menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi keesokan harinya. Mereka tidak ingin memberikan harapan yang keliru.
Rencana Tuhan bagi anak-anak kita selalu sempurna, tetapi sering kali tidak sejalan dengan rencana kita sebagai orang tua.
Dua tahun kemudian, Jillian tumbuh menjadi anak yang sehat, penuh energi, berkemauan kuat, dan memiliki senyuman yang mampu meluluhkan hati siapa pun. Memang, dia pernah mengalami beberapa masalah medis yang cukup menakutkan. Selain tiga kali menjalani operasi, dia juga mengalami lima kali kejang. Namun, meskipun demikian, pertumbuhan Jillian sejauh ini berlangsung normal dalam segala hal. Pada pemeriksaan terbaru, dokter bahkan mengatakan kepada Jen bahwa Jillian hanya perlu datang kembali untuk kunjungan rutin.
Saat ini, Rob, Jen, RJ, dan Jillian berada dalam keadaan baik. Dua setengah tahun terakhir benar-benar menjadi perjalanan panjang bagi keluarga mereka. Rob dan Jen sangat bersyukur kepada Tuhan atas belas kasihan dan anugerah-Nya yang nyata melalui kehidupan Jillian. Tidak seorang pun di keluarga menganggap enteng keberadaan si kecil ini -- terutama para kakek-neneknya. Orang tua maupun kakek-nenek Jillian merasa amat diberkati dengan hadirnya seikat kecil sukacita dalam keluarga kami. Namun, ada satu hal yang pasti: Jillian tetap milik Allah terlebih dahulu. Sebesar apa pun kasih Rob dan Jen kepada Jillian maupun RJ, kami tahu kasih Allah jauh lebih besar.
Hal yang sama juga berlaku bagi anak-anak Anda. Anda tentu mengasihi mereka, tetapi kasih Anda tidak pernah sebanding dengan kasih Allah. Menyadari kebenaran ini akan sangat penting ketika anak-anak Anda menghadapi masa-masa sulit. Itu bukan persoalan 'jika', melainkan 'kapan'. Pada saat-saat seperti itu, ingatlah: anak-anak Anda hanyalah titipan bagi Anda, sebab sesungguhnya mereka adalah milik Allah.
(t/Jing-jing)
|
Diambil dari: |
||
|
Nama situs |
: |
The Warriors Journey |
|
Alamat artikel |
: |
https://thewarriorsjourney.org/challenges/children-belong-god/ |
|
Judul asli artikel |
: |
Children Belong to God |
|
Penulis artikel |
: |
Scott McChrystal |