Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK

Merayakan Hari Natal Di Rumah


Jenis Bahan PEPAK: Tips

Edisi PEPAK: e-BinaAnak 694 - Natal (II)

Bagaimana Anda dapat meninggalkan kesan indah di hari Natal untuk anak-anak? Kesan dan pengalaman rohani apa yang bisa Anda berikan, yang sesuai dengan dunia mereka? Pendidikan iman apa yang dapat Anda berikan dalam kesempatan Natal ini? Ada beberapa ide yang bisa Anda pilih untuk merayakan Natal di rumah.

1. Menjelaskan tentang Sinterklas

Saya tidak bisa melupakan masa-masa indah dan lucu di hari Natal. Saat memasukkan rumput ke dalam sepatu dan meletakkannya di kolong tempat tidur. Saat saya menengadah ke langit-langit rumah dan berkata kepada sinterklas, "Bapak sinterklas, saya minta mainan dokter-dokteran." Saat pagi-pagi, saya melongok ke kolong ranjang dan melihat mainan dokter-dokteran sudah ada di dekat sepatu tanpa rumput lagi. Saat saya kecewa setelah mengetahui bahwa yang meletakkan hadiah bukannya sinterklas, tetapi ibu dan kakak-kakak saya. Namun, itu juga merupakan saat-saat kesenangan menyelip di hati karena mengetahui bahwa mereka memerhatikan saya di hari Natal. Saat-saat indah dan lucu itu tidak akan terulang lagi karena saya sudah akan menjadi seorang ibu.

Kontroversi:

Sebagai seseorang yang pernah merasakan hal itu, saya ingin mengulanginya untuk anak saya. Namun, sebagai seorang penginjil dan pendidik anak, saya mengakui bahwa hal itu tidak sehat bagi kerohanian anak. Ada orang yang berkata, "Tokoh anak-anak masih hidup di dalam imajinasinya, dan hal itu tidak ada pengaruh apa-apa dalam hidup kerohanian anak-anak di masa mendatang." "Sama saja tokoh dengan menceritakan cerita dongeng?" "Kasihan anak-anak kalau tidak boleh merasakan pengalaman dengan sinterklas, padahal waktu kita kecil kita pun percaya pada sinterklas."

Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan tentang masalah sinterklas ini:

  1. Kejujuran orang tua.
  2. Apakah bedanya menceritakan cerita dongeng dengan menceritakan eksistensi sinterklas kepada anak? Sudah tentu ada bedanya. Ketika kita menceritakan dongeng, seperti Donald Duck, kita tidak menekankan kebenaran dari cerita itu. Tujuan utama dari cerita dongeng adalah "entertainment" dan mengembangkan daya imajinasi anak. Kita dapat mengatakan kepada anak bahwa cerita itu tidak sungguh-sungguh terjadi, hanya dibuat oleh manusia. Donald Duck hanya ada di buku, film, atau bonekanya saja. Bagaimana dengan sinterklas? Kebanyakan dari kita justru menekankan kebenaran keberadaan sinterklas, jika tidak, kita tidak punya kekuatan untuk meyakinkan anak untuk tidak nakal supaya bisa mendapatkan hadiah. Dalam hal ini permasalahannya bukan terletak pada dampak bagi anak, akan tetapi tanggung jawab pribadi orang tua kepada Tuhan dalam hal kejujuran dengan anak. Hal ini memang kelihatan kecil, anak-anak pun menikmati kebohongan orang tua sebagai sesuatu yang indah di masa kecilnya. Akan tetapi, bagaimana dengan integritas iman orang tua kepada Tuhan? Jika hal yang kecil sudah diabaikan, jika akhirnya kita kompromi karena sejarah sudah meng-"OK"-kan hal ini, di manakah letak tanggung jawab kita sebagai orang Kristen?

  3. Pengenalan anak akan kebenaran.
  4. Pada usia yang sangat muda (Balita), anak masih berpikir secara konkret. Segala sesuatu dianggap benar (termasuk dongeng). Jika berbicara mengenai tikus yang berbicara, anak akan menganggap tikus betul-betul bisa berbicara. Semakin majunya zaman, anak-anak semakin hidup di dalam alam yang tidak konkret (power rangers, dll.). Masalahnya sekarang adalah, ketika kita menceritakan cerita Alkitab, mereka akan menempatkan cerita ini dalam golongan yang sama dengan dongeng. Bahkan, mungkin mereka lebih tertarik dengan cerita-cerita dongeng daripada cerita Alkitab. Dengan kita menghadirkan sinterklas sebagai tokoh yang hadir "hari ini", "di sini", tanpa kita sadari kita semakin melemahkan cerita Alkitab. Tuhan Yesus yang di dalam kenyataannya hadir "hari ini", "di sini", digantikan dengan sinterklas yang sebenarnya adalah tokoh legendaris saja. Akhirnya, anak dalam usianya yang muda mengenal hal yang tidak benar.

  5. Fokus iman anak.

Dalam menghadapi permasalahan sinterklas ini, kita harus bertanya, "Apakah saya percaya bahwa anak saya yang masih kecil dapat mempunyai hubungan pribadi dengan Tuhan?" Pertanyaan ini sangat menentukan sikap Anda menghadapi tradisi sinterklas. Jika Anda memegang prinsip bahwa dalam usia balita, anak belum mampu untuk berhubungan dengan Tuhan; jika Anda beranggapan bahwa masa kecil hanya merupakan masa persiapan bagi anak untuk memiliki pengertian iman di masa dewasa, Anda tidak akan mempermasalahkan masalah sinterklas ini.

Masalah sinterklas akan menjadi serius jika Anda memegang prinsip bahwa Anda percaya dan rindu agar anak mempunyai hubungan pribadi dengan Tuhan di usia balitanya. Sekalipun pengalaman dengan dongeng sinterklas tidak berpengaruh untuk kehidupan iman pada masa dewasa, bukankah dongeng itu sudah berpengaruh dalam kehidupan iman pada masa kecilnya, pada hari Natal tersebut? Pada saat itu, anak-anak seharusnya menikmati waktu doa kepada Tuhan Yesus, tetapi mereka menikmati doa kepada sinterklas. Pada saat anak-anak seharusnya belajar melihat keistimewaan bayi surga yang lahir di kandang, mereka lebih menikmati bapak tua yang secara instan memberikan apa yang mereka inginkan. Sudah barang tentu, untuk anak-anak, keberadaan sinterklas yang konkret lebih mudah diterima. Akhirnya, di hari Natal, kita memfokuskan iman anak-anak pada objek yang salah.

Bagaimana sebaiknya?

Kita harus mengetahui kebenaran yang sesungguhnya dari keberadaan sinterklas, dan itulah yang akan kita ceritakan kepada anak-anak. Sinterklas sebenarnya adalah tokoh legendaris yang cukup baik untuk dicontoh oleh anak-anak. Nama kecil Sinterklas adalah Nikolas. Sejak kecil, Nikolas adalah orang yang sangat dermawan. Dia sangat memerhatikan kebutuhan tetangganya yang miskin, dan dengan diam-diam memberikan apa yang diperlukan tetangganya untuk pernikahan anak-anak gadisnya. Pemberian itu ia masukkan ke dalam kaus kaki yang sedang dijemur dekat perapian. Kemurahan hati Nikolas menyebar ke seluruh daerahnya, dan sepanjang hidupnya ia berikan untuk orang lain. Ia sangat baik dengan anak-anak, dan banyak memberikan hadiah untuk mereka. Akhirnya, Nikolas dianggap sebagai orang suci (Santa). Ia lebih dikenal sebagai Santa Claus.

Bukankah cerita ini memang baik untuk diceritakan kepada anak-anak? Akan tetapi, sayangnya, tokoh Nikolas tidak lagi hanya sebagai tokoh teladan, akan tetapi tokoh pemujaan bagi anak-anak. Tokoh Nikolas telah menggantikan posisi utama dari Tuhan Yesus pada hari Natal.

Sebenarnya, kita dapat memakai kesempatan Natal untuk menceritakan teladan Santa Claus dan mengajarkan arti kemurahan hati. Ketika anak-anak melihat sinterklas, tekankanlah bahwa Tuhan Yesus sangat senang dengan anak-anak yang murah hati seperti Santa Claus. Anak-anak pun bisa bermurah hati di hari Natal dengan memberi hadiah kepada orang lain (pembantu, anak-anak yatim, tukang sapu, tukang sampah, dll.).

Untuk menghubungkan dengan cerita Alkitab, kita juga bisa menghubungkan dengan kemurahan hati pemilik penginapan di Betlehem, pemberian hadiah dari orang-orang Majus, dan gembala. Lebih dari itu, kita bisa menghubungkan dengan Kasih Allah yang memberikan Yesus untuk kita sehingga kita kenal siapakah Allah yang tidak kelihatan itu.

Kita tidak perlu "antisinterklas". Jika ada sinterklas di mal, supermarket, dll., kita juga bisa mengajak anak-anak ikut. Namun, tidak untuk sekadar anak-anak mendapatkan hadiah langsung dari tangan sinterklas, tetapi untuk melihat bagaimana sinterklas membagikan hadiah. Ketika Anda dan anak Anda duduk menantikan giliran, ingatkan anak bahwa bapak itu memakai baju Bapak Nikolas dan mencontoh perbuatan Bapak Nikolas. Tekankan kepada anak betapa senangnya memberi. Ajak anak melihat bahwa Bapak Nikolas sering tersenyum dan tertawa karena ia sering memberi. Memberi adalah perbuatan yang baik yang Tuhan suka. Demikian juga para gembala dan orang-orang Majus sangat senang dan bahagia karena mereka memberikan persembahan kepada Tuhan. Jangan lupa untuk menyeimbangkan pengalaman anak Anda ini dengan pengalaman memberikan persembahan di gereja.

2. Membuat Hiasan Natal

Persiapan yang paling umum pada hari Natal adalah mendekorasi rumah dengan pohon Natal dan dekorasi-dekorasi lainnya. Anda dapat membuat hiasan-hiasan Natal bersama anak Anda. Buatlah sesuatu yang sederhana dan mengandung arti bagi Anda dan anak Anda. Buatlah kue-kue yang dibentuk bermacam-macam simbol Natal (gembala, bintang, malaikat, bayi Yesus, dll.). Sambil membuat hiasan-hiasan atau mencetak kue tersebut, buatlah percakapan yang mendidik dengan anak Anda, misalnya:

Untuk Balita: Sekarang, kita mau membuat bintang. Waktu Tuhan Yesus lahir, Bapa di surga membuat bintang yang besar sekali supaya orang-orang tahu di mana Yesus lahir.

Untuk anak-anak: Kamu tahu tidak, mengapa Allah Bapa membuat bintang yang besar sekali waktu Tuhan Yesus lahir?

Untuk anak besar: Waktu kamu lahir di rumah sakit, suster menuliskan kartu di tempat tidur kamu supaya tamu yang datang bisa tahu yang mana anak mama. Namun, waktu Tuhan Yesus lahir, tandanya hebat sekali. Bukan kartu, tetapi bintang di langit. Seluruh dunia bisa melihatnya. Tuhan Yesus memang sangat istimewa. Menurutmu, hal istimewa apa lagi yang ada pada kelahiran Tuhan Yesus?

Selain untuk perayaan Natal di rumah, hiasan-hiasan dan kue tersebut bisa dijadikan hadiah untuk saudara-saudara atau teman dekat di sekeliling Anda. Anak akan mempunyai pengalaman belajar "memberi pada hari Natal".

3. Membantu Mempersiapkan Pesta Natal di Dapur

Melibatkan anak untuk bekerja di dapur kadang-kadang memang merepotkan. Akan tetapi, sebenarnya hal ini dapat menjadi pengalaman belajar yang berguna bagi mereka.

Anak usia 2,5 -- 4 tahun: berikanlah tugas-tugas sederhana seperti merobek-robek kol, meremas-remas kacang goreng supaya terlepas dari kulitnya, mencuci kentang, atau hal-hal lain yang tidak membutuhkan alat masak selain tangan anak sendiri. Jangan mengharapkan kesempurnaan. Tujuan Anda adalah partisipasi anak, bukanlah hasil kerja anak. Jika Anda membuat kue, anak dapat membantu menuang tepung, gula, dan bahan-bahan kering lain yang sudah ditimbang ke dalam mangkuk dan mengaduknya.

Anak 5 -– 6 tahun: perkenalkan alat-alat masak sederhana yang tidak tajam dan tidak membahayakan, misalnya pisau tumpul (di bawah pengawasan) untuk mengupas atau memotong sayuran yang lunak dan buah. Anak-anak usia ini adalah pekerja yang rajin. Dengan kesempatan membantu yang saudara berikan, anak belajar menghargai diri dan hasil pekerjaannya.

Anak 7 –- 9 tahun: mereka sudah dapat membantu menata meja, memasukkan dan mengeluarkan adonan ke dan dari oven, memakai microwave, mixer, blender, dll.. Awasilah pekerjaan anak.

Anak 10 -- 12 tahun: mereka sudah bisa memasak makanan sederhana dengan menggunakan resep. Ketika Anda mengerjakan masakan yang sulit, berikan mereka resep masakan sederhana. Anda harus terus mengawasi dan siap membantu ketika mereka bertanya atau membutuhkan bantuan.

Dengan partisipasi ini, mereka akan lebih menikmati makan malam Natal dengan rasa bangga. Ketika waktu makan tiba, Anda bisa memuji hasil kerja anak dan mengatakan bahwa apa yang dilakukan sangat berarti pada ulang tahun Tuhan Yesus. Mintalah salah satu anggota keluarga berdoa:

"Tuhan Yesus, selamat ulang tahun. Kami sekeluarga merayakan ulang tahun-Mu dengan masakan istimewa yang dibuat oleh (nama anak Anda) sebagai ucapan terima kasih kami akan kasih-Mu, dalam nama Tuhan Yesus. Amin."

4. Mempersiapkan Acara Natal Bersama

Pengalaman menarik lain di masa kecil saya adalah ketika mempersiapkan acara Natal di gereja. Latihan-latihan bersama teman-teman di gereja sangat menyenangkan. Akan tetapi, lebih menyenangkan lagi ketika saya melihat foto drama keluarga. Melihat saya berperan sebagai pembantu, kakak saya berperan sebagai kakek tua, keponakan-keponakan saya berperan sebagai anak-anak yang sedang bermain, dsb.. Memori indah kembali muncul ketika melihat foto tersebut. Anda pun dapat mempersiapkan acara yang dapat memberikan kesan bagi anak di masa dewasa nanti. Persiapkanlah waktu tiap minggu untuk latihan lagu-lagu Natal, drama Natal, dll. untuk disajikan di gereja, panti asuhan, atau dalam kebaktian keluarga, dengan mengundang tetangga-tetangga di dekat rumah Anda.

Hal ini akan memberikan dampak selain mempererat hubungan keluarga, memantapkan pengetahuan dan pengenalan mereka akan arti Natal, mereka juga dilatih untuk mengembangkan talenta bagi pelayanan.

5. Merayakan Malam Natal di Rumah

Salah seorang pembaca Buletin Eunike pernah melakukan hal yang unik dengan anak-anaknya di rumah. Pada malam Natal, ia meletakkan banyak sekali lilin di atas meja. Kemudian, ia dan suami serta anak-anaknya duduk di atas karpet melingkari meja tersebut, lampu dimatikan dan mereka menyanyikan lagu puji-pujian kepada Tuhan, berdoa bergantian mengucapkan selamat ulang tahun kepada Tuhan Yesus.

Bagi anak-anak kecil, pengertian bahwa Natal adalah hari ulang tahun Tuhan Yesus, lebih mudah dicerna. Jika anak-anak sudah cukup besar, bisa minta mereka menceritakan hal yang berkesan bagi mereka dari cerita kelahiran Tuhan Yesus yang sering mereka dengar di sekolah minggu atau cerita yang dibacakan di rumah.

Jika Anda mempunyai anak perempuan yang kreatif dan romantis, Anda bisa membelikan mereka patung-patungan kecil tentang peristiwa Natal dan pohon Natal kecil yang bisa diletakkan di kamarnya. Sediakan juga bantalan doa kecil. Biarkan dengan kreativitas anak tersebut, ia merayakan Natal sendiri di kamarnya.

Diambil dan disunting dari:

Nama situs : Eunike (Buletin Pendidikan Iman Anak)
Alamat URL : http://www.oocities.org/~eunike-net/01_10/natal95/
Judul asli artikel : Grow Sunday School by Sharing Your Salvation Testimony
Penulis artikel : Tidak dicantumkan
Tanggal akses : 30 September 2014

Kategori Bahan PEPAK: Perayaan Hari Raya Kristen

Komentar