Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Disiplin Sebagai Kebutuhan Anak


Edisi PEPAK: e-BinaAnak 378 - Kebutuhan Anak untuk Disiplin

PENGANTAR

Disiplin merupakan salah satu kebutuhan dasar anak dalam rangka pembentukan dan pengembangan wataknya secara sehat. Tujuannya ialah agar anak dapat secara kreatif dan dinamis mengembangkan hidupnya di kemudian hari. Kalau orang tua mengasihi anaknya, maka mereka juga harus mendisiplinnya. Kasih dan disiplin harus berjalan bersama-sama secara seimbang. Dalam perkataan lain, kasih tanpa disiplin mengakibatkan munculnya rasa sentimen dan ketidakpedulian. Sebaliknya, disiplin tanpa kasih merupakan tindakan kejam (tirani).

Banyak orang tua, karena berbagai alasan termasuk kesibukan, tidak memunyai pemahaman dan pengertian, mengabaikan kebutuhan anak dalam disiplin ini. Akibatnya, di kemudian hari anak memberontak, sulit dikendalikan, mencari perhatian secara berlebihan. Orang tua demikian tentu akan mengalami konflik berkesinambungan dengan anaknya, bahkan tidak jarang yang mengalami kekecewaan dan perasaan terluka. Karena itulah bahasan kita mengenai disiplin ini amat perlu, selain menjadi masukan dalam pelayanan, juga menjadi alat refleksi bagi diri kita sendiri.

DASAR TEOLOGIS DISIPLIN

Pentingnya disiplin orang tua bagi anaknya bukan saja karena alasan sosiologis dan psikologis, tetapi juga karena pemahaman teologis. Keterangan singkat berikut ini akan menjadi pertimbangan bagi kita.

  1. Allah Bapa senantiasa mendisiplin manusia ciptaan-Nya, baik secara individual maupun secara kelompok. Cara Tuhan mendisiplin umat-Nya sama dengan cara ayah mendisiplin anaknya (Ul. 8:5; Mzm 6:2; 38:2-3). Tujuan Allah mendisiplin manusia adalah agar mereka taat, hormat, dan takut kepada-Nya. Karena itu Tuhan memberikan pengajaran, memberikan teguran, menyatakan nasihat, dan jika perlu mengizinkan terjadinya penderitaan, seperti sakit-penyakit, kerugian, bahkan pembuangan ke tempat atau negeri lain. Sejarah Israel menyatakan umat kerajaan Israel Utara terbuang selama 40 tahun ke Asyur dan umat Yehuda ke negeri Babilonia selama 70 tahun.

    Dalam Perjanjian Baru, penulis kitab Ibrani menyatakan bahwa Allah mendisiplin umat-Nya agar taat kepada-Nya. Ia menyatakan disiplin sebagai bukti kasih-Nya (12:5, 6) meskipun pada mulanya mendatangkan dukacita (12:10, 11).

  2. Tuhan Yesus Kristus pun menegakkan disiplin bagi murid-murid-Nya dengan memberikan contoh dalam segi-segi bagaimana menggunakan waktu, menggunakan uang, hidup berdoa secara tekun. Dia pun menyatakan bahwa kepentingan orang lain mesti didahulukan sebagaimana tampak dalam hal Yesus melayani orang yang datang kepada-Nya meskipun sering kali belum sempat (bd. Mrk. 3:20-21). Bilamana murid-murid-Nya degil, sering kali Ia berterus-terang menegur mereka dengan keras (bd. Mrk 8:14-21). Bilamana murid-murid ingin membalas kejahatan dengan kejahatan, Dia menyatakan sikap mengasihi dan mengalihkan perhatian mereka kepada tugas lain (bd. Luk. 9:51-56).

    Yesus pun menyatakan agar murid-murid-Nya belajar hidup secara tertib dalam arti memelihara kesucian hidup agar senantiasa merasakan kehadiran Allah (bd. Mat. 5:8). Bagi Yesus, orang dewasa harus mendisiplin anggota tubuhnya -- tangan, kaki, mata -- agar tidak membawa keburukan bagi orang lain, apalagi "menyesatkan" anak-anak di bawah asuhan mereka (Mat. 18:8-10). Sebab Dia sendiri melarang murid-murid mengabaikan atau meremehkan anak-anak kecil (Mat. 19:13-15). Tidak jarang pula Yesus menyatakan bahwa Dia tetap mengasihi murid-murid-Nya sekalipun mereka kurang cepat menangkap ajaran Sang Guru (Yoh. 13,15).

  3. Alkitab mengajarkan bahwa Roh Kudus datang untuk menyatakan kebenaran Ilahi bagi orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Dia hadir ke dunia untuk membuat orang insyaf akan dosa dan kejahatannya lalu berbalik kepada Sang Kebenaran yang memerdekakan, yaitu Yesus Kristus (Yoh. 16:6-8, 11-13). Roh Kudus juga datang untuk membuat orang memiliki hikmat hidup dan kekuatan batiniah agar dapat hidup sesuai kehendak Allah. (Ef. 1:16, 17; 3:16-18). Roh Kudus pun datang ke dalam hidup dan persekutuan orang-orang percaya guna memberikan kekuatan dalam mengatasi kelemahan (Rom. 8:2-6) serta buah kehidupan (Gal. 5:22-23).

    Dalam Kisah Para Rasul tampak sekali bagaimana sikap dan tindakan Roh Kudus dalam menegakkan disiplin. Ingatlah kasus Ananias dan Safira karena ingin "mencari nama dan muka" lalu berdusta kepada rasul Petrus (Kis. 5). Ingat pula kasus Simon tukang sihir di Samaria yang ingin terkenal lalu hendak membeli kuasa Roh Kudus dengan uang (Kis. 8). Rupanya Roh Kudus tidak menginginkan sikap pura-pura terjadi terjadi dalam kehidupan anak-anak Tuhan.

    Surat Paulus kepada jemaat di Korintus cukup banyak menyinggung masalah disiplin hidup agar mereka tertib dalam kehidupan bersama, kehidupan persekutuan, kehidupan memelihara tubuh, dan sejenisnya. Dia mengajak jemaat untuk terus sadar bahwa Roh Kudus mendiami mereka sehingga mereka menghindarkan diri dari segala godaan mencemarkan diri (3:16; 6:19-20). Mereka harus menertibkan cara berpikir mereka sendiri agar tetap memelihara suara hati yang jernih di dalam mengambil keputusan dalam hidup bersamaan dengan orang lain (8:1-3). Mereka harus mengendalikan diri dalam ibadah agar tidak menonjolkan diri, mencari kemuliaan diri sendiri sehingga firman Allah tidak diberitakan sebagaimana mestinya (12-14).

TUGAS ORANG TUA

Paul Meier (1982) menegaskan karena pentingnya disiplin bagi anak, kitab Amsal saja menuliskan beberapa nats mengenai tugas orang tua untuk mendisiplin anaknya (13:24; 19:18; 22:6; 22:15; 23:13; 29:15, 17). Ditambahkan pula oleh Meier bahwa ayah harus mendapat tempat sebagai kepala rumah tangga; dan ibu sebagai pendampingnya (bd. Kej. 2:18). Kalau ayah tidak berperan sebagai kepala dalam rumah tangga, maka anak tidak memiliki idola yang jelas, tidak memunyai konsep otoritas secara jelas dan benar pula. Akhirnya keadaan demikian dapat menimbulkan gangguan kepribadian pada anak, seperti timbulnya pemberontakan terhadap orang tua dan orang lain.

Rasul Paulus juga menyatakan tekanan yang sama dalam surat kirimannya (Ef. 6:4; Kol. 3:21). Tugas orang tua ialah mendidik anak dalam ajaran dan nasihat Tuhan sehingga anak terhindar dari "sakit hati" dan "tawar hati". Betapa kecewanya anak di kemudian hari karena orang tua tidak pernah menegakkan ketertiban; tidak membantu anak mengerti mana yang baik dan mana yang buruk; dan tidak menolong mereka mengatasi tantangan dan kejahatan serta bagaimana melakukan kebaikan. Sikap otoriter justru menimbulkan rasa takut dan keinginan balas dendam pada diri anak. Sikap mengekang orang tua justru menimbulkan kepasifan dan tiadanya kreativitas dan inisiatif pada kehidupan anak di kemudian hari.

Dalam hal apa sajakah orang tua membantu anak hidup tertib, teratur, dan memiliki rasa tanggung jawab? Jawabnya, dalam segala aspek kehidupan, antara lain:

  1. pola dan waktu minum dan makan serta istirahat,
  2. buang air (toilet tranning) dan buang sampah,
  3. kehidupan iman, rohani, ibadah, doa pribadi dan bersama,
  4. mengurus diri sendiri -- mandi, berpakaian, memelihara "mainan", atau barang pribadi lainnya,
  5. belajar -- mengerjakan PR, persiapan ujian, dll.,
  6. membantu pengurusan kebersihan rumah serta lingkungan.
  7. dalam hal berelasi serta berkomunikasi secara sopan, memberitahukan kepada orang tua rencana-rencana kerja, atau kegiatan di sekolah dan di luarnya.
  8. menepati janji atau ucapan, termasuk mengembalikan barang pinjaman dari teman.

Disiplin dengan Tegas dan Kasih Sayang

James Dobson merupakan tokoh pendidikan anak yang terkenal dalam mengemukakan berbagai prinsip efektif bagi orang tua di dalam mendisiplinkan anak. Buku-bukunya yang mengemukakan gagasan disiplin ini ialah "Dare to Discipline" (1970) dan "Discipline With Love" (1983). Menurut Dobson, tujuan disiplin bagi anak ialah agar mereka dapat belajar bagaimana cara hidup bertanggung jawab. Prinsip Dobson yang dituangkan dalam karyanya "The New Dare to Disciplin" (1992) adalah sebagai berikut.

  1. Orang tua harus mengembangkan rasa hormat dalam diri anak terhadap orang tuanya sendiri. Rasa hormat itu harus ditumbuhkan melalui komunikasi yang akrab, lalu dikembangkan dan dipelihara dengan penyediaan waktu dalam menjawab pertanyaan anak. Dengan begitu anak belajar mengenai otoritas secara benar dan tepat.

  2. Orang tua harus menghukum anak atas tingkah lakunya yang jelas memberontak atau menentang orang tua; melawan terhadap aturan yang sudah diterangkan dan ditetapkan atau disetujui sebelumnya. Hukuman fisik harus dikenakan bagi anak, pada bagian "pantat" (spanking). Orang tua harus memberitahukan mengapa ia melakukannya; dan jangan dilakukan hukuman jauh setelah anak melupakan pelanggaran yang dibuatnya.

    Menurut Dobson, kalau anak sudah berusia sembilan tahun, tidak tepat lagi memukulnya di bagian pantat, atau mengenakan hukuman fisik pada bagian tubuh lainnya, tetapi paling-paling menekan bagian tertentu dari bahunya untuk menyadarkan dirinya bahwa ia bersalah.

  3. Orang tua harus mengendalikan diri agar tidak menyimpan amarah berkepanjangan. Jangan pula ia menyimpan emosi benci terhadap anak ketika menghukumnya secara fisik. Sebelum melakukan hukuman fisik, orang tua harus menghitung dalam hatinya angka satu hingga sepuluh guna meredakan emosinya.

  4. Orang tua tidak memberikan sogokan kepada anak berupa benda, agar ia berlaku tertib. Hal ini dapat menumbuhkan akar materialisme.

Sekalipun demikian, Dobson juga mengemukakan bahwa untuk mendisiplin anak, kita dapat memperkuat sikap dan perilaku positif dengan jalan menghargainya. Kalau ada hal positif, patut dipuji yang diperbuat anak, ia patut mendapat sanjungan orang tua. Prinsip ini disebut "reinforcement". Hal ini dilakukan dengan memberikan hadiah karena ia berbuat baik. Prinsipnya antara lain adalah sebagai berikut:

  1. hadiah harus sesegera mungkin,
  2. hadiah tidak selalu berupa benda, bisa juga pujian, kata yang membangun (Ef. 4:29), dan
  3. kalau tingkah laku yang diharapkan terbentuk, maka perbuatan memberi hadiah dihentikan saja.

Perkara lain yang harus diperhatikan dalam membangun sikap disiplin pada diri anak ialah prinsip kerja sama. Untuk menimbulkan rasa tanggung jawab dalam diri anak, orang tua perlu menyatakan keinginannya kepada anak. Bahwa orang tua meminta pendapat atau meminta tolong kepada anak tidak salah, justru dapat membuat anak merasa berharga. Apalagi kalau anak itu sudah berusia di atas lima tahun (TK atau SD).

Kemudian orang tua dapat mengajak anaknya melakukan apa yang direncanakan bersama-sama. Dengan begitu, orang tua memberikan contoh di hadapan anaknya. Selanjutnya, orang tua perlu memberikan tugas bagi anak agar ia mengerjakannya. Jika ada kesalahan, orang tua memberikan koreksi dan kesempatan kedua. Jika anak berhasil, maka anak layak mendapat pujian dan penghargaan. Bisa melalui hadiah material dan bisa pula dengan pujian bahwa anak itu hebat, pintar, dan sejenisnya. Hal ini dapat diterapkan dalam kegiatan belajar, kegiatan ibadah dan doa, kegiatan membersihkan rumah, mencuci piring, pakaian, dll. (Parents & Children, ed. Jay Kesler, 1986; The Enycyclopedia of Parenting, 1982).

MASALAH NILAI BUDAYA

Salah satu persoalan yang tidak biasa kita mungkiri ialah pengaruh nilai budaya terhadap kehidupan orang tua yang selanjutnya memberi dampak bagi pendisiplinan anaknya. Biasanya pengaruh dan gaya disiplin yang diperoleh orang tua dari keluarga asalnya (family of origin) ikut serta terefleksi dalam pendidikan dan pembinaan anaknya.

  1. Boleh saja (permisif).
    Ada orang tua yang tidak mendisiplin anaknya, sehingga di rumah anak bebas melakukan apa saja, tanpa peraturan dan pedoman atau batasan (boundary) yang jelas. Hal demikian terjadi karena orang tua sibuk, lemah, dan kurang pemahaman mengenai pendidikan anak secara baik.
  2. Kekuasaan.
    Ada orang tua yang amat menekankan sikap otoriter terhadap anaknya; banyak larangan; sehingga anak takut dan merasa tidak bebas untuk berkreasi; takut berbuat kesalahan dan mencoba memperbaikinya. Anak yang diancam oleh orang tua namun tidak pernah terlaksana ancaman itu, bisa membuat anak memandang rendah wibawa mereka. Bisa saja anak memandang orang tuanya sebagai "pembohong".
  3. Hierarkis.
    Ada orang tua yang takut mendisiplin anaknya karena kehadiran nenek atau kakek. Campur tangan kakek atau nenek dalam mendisiplin anak pada dasarnya menghambat anak memiliki konsep yang benar mengenai ayah atau bapak. Anak demikian akan manja, tidak punya pendirian yang baik. Sebaliknya pengaruh kakek atau nenek bagi anak harus diminimalkan oleh kehadiran ayah dan ibu di tengah-tengah rumah tangga.
  4. Penumbuhan rasa malu dan takut.
    Ada orang tua yang terus mengumandangkan istilah "Kamu nggak tahu malu!" bagi anaknya yang berlaku tidak sopan. Ada pula yang menakut-nakuti anak agar berperilaku baik seperti takut kepada polisi, dokter, dll.. Model demikian cukup sering kita temukan di tengah-tengah masyarakat. Di samping membawa hasil baik, hal demikian tentu saja membawa pengaruh negatif. Anak kurang diajak berpikir rasional.
  5. Pengaruh pembantu rumah tangga.
    Di perkotaan sudah banyak orang tua yang karena sibuk, maka pembinaan anak ditangani oleh pembantu rumah tangga. Banyak pembantu rumah tangga tidak memunyai keterampilan dalam pembinaan dan disiplin anak, di samping memunyai motif ekonomis saja dalam menunaikan tugasnya. Pada umumnya, anak yang diasuh dan dibesarkan oleh pembantu cenderung nakal, tidak tertib karena pembantu rumah tangga tidak mampu mengendalikan secara kreatif.

Bahan bacaan:
Baker. 1997. Kendalikan Selagi Mampu (Terj.). Bandung: Kalam Hidup.
Drehner, John. 1992. Tujuh Kebutuhan Anak. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Dobson, James. 1992. New Dare to Discipline.
Kesler, Jay. 1986. Parents & Children. Victor Books.
Meier, Paul D. 1977. Christian Child-Rearing and Personality Development. Baker.

Komentar