Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Yesus Disalibkan dan Mati


Jenis Bahan PEPAK: Bahan Mengajar

Bacaan Alkitab:

Yohanes 19:1-27

Tujuan:

Anak dapat:
  • menyebutkan nama tempat Yesus disalibkan;
  • menyebutkan tulisan yang ada di atas kayu salib Yesus;
  • menceritakan kembali dengan bahasa mereka peristiwa penyaliban Yesus;
  • menjelaskan arti kematian Yesus bagi mereka; dan
  • menjelaskan hal yang akan mereka lakukan bagi Yesus yang, mati baginya.

Materi Pelajaran:

RENUNGAN UNTUK GURU

Salib sebagai lambang kematian yang memalukan ternyata dipakai Allah menjadi sarana bagi maksud penyelamatan-Nya atas manusia. Peristiwa penyaliban Tuhan Yesus melambangkan betapa Allah telah ikut bersama dengan manusia di dunia ini, mengalami penderitaan yang paling berat. Salib telah membuktikan pula bahwa Allah tidak membiarkan manusia sendiri menanggung penderitaan akibat dosanya. Salib menjadi lambang "kepedulian" Allah terhadap manusia.

Tindakan kepedulian Allah yang sudah menjadi konkret dalam kematian Tuhan Yesus seharusnya melandasi tindakan kita selaku pengikut Kristus. Itu sebabnya kita dituntut pula untuk "peduli" terhadap dunia di sekitar kita, terhadap orang lain yang membutuhkan pertolongan kita.

Mestinya selaku pengikut Kristus kita dapat mencerminkan kepedulian Allah yang sudah kita rasakan itu ke dalam bentuk-bentuk yang konkret. Kita harusnya peka terhadap penderitaan orang lain, bahkan kita seharusnya mampu mengulurkan tangan kepada yang membutuhkan. Dengan demikian dunia boleh semakin merasakan kehadiran Allah yang telah dinyatakan dalam diri Tuhan Yesus.

CERITA UNTUK ANAK

Di sebuah kota di Jawa Tengah, tepatnya kota Rembang, tinggallah seorang pelukis. Memang dia bukan seorang pelukis terkenal, tetapi orang di kota itu mengenal dia sebagai pelukis terbaik. Nama pelukis itu, Pak Sarwono.

Pak Sarwono hidup berdua saja dengan anaknya, Ito. Istrinya sudah lama meninggal dunia. Untuk biaya hidupnya sehari-hari bersama anaknya, Pak Sarwono banyak melukis. Setelah jadi, lukisan itu dijual. Uangnya dipakai untuk membeli keperluan hidup mereka.

Hari itu seperti biasanya tangan Pak Sarwono memegang kuas dan melukis sesuatu. Sebentar-sebentar terdengar Pak Sarwono menarik nafas panjang. Sepertinya ia sedang mengalami kesulitan. Lalu ia terdiam sebentar dan meletakkan kuas yang penuh dengan warna cat itu di atas meja. Sambil merenung, mata Pak Sarwono memandang ke luar rumah. Tak lama kemudian terdengar lagi suara tarikan nafas panjangnya.

"Mmmmhhh ... ke mana saja anakku si Ito ini, ya?" tanyanya dalam hati. Memang, sejak siang tadi Ito belum juga pulang ke rumah. Entah ke mana dia pergi. Ito tak pernah pamit pada ayahnya bila hendak pergi.

Selesai melamun begitu, Pak Sarwono hendak mulai bekerja lagi. Diperhatikannya lukisan yang hampir selesai itu. Belum pernah selama hidupnya ia menemukan kesulitan melukis seperti saat ini. Berkali- kali digambarnya tetesan darah itu, namun berkali-kali pula dihapusnya kembali.

"Mengapa aku tak dapat menggambar dengan baik, butir-butir darah, yang mengalir dari kepala Tuhan Yesus yang bermahkota duri ini?" keluh Pak Sarwono sambil menghapus gambar tetesan darah itu.

Belum selesai Pak Sarwono menyeka, tiba-tiba ... brakkkk!! Pintu rumahnya dibuka dengan keras dan kasar. Pak Sarwono terkejut sekali, tapi kemudian ia diam saja karena yang membuka pintu itu ternyata si Ito, anaknya sendiri. Pak Sarwono hanya memperhatikan tingkah anaknya.

"Pak, aku minta uang!" kata Ito.

"Dari mana saja kamu, To? Sudah makan atau belum?" tanya pak Sarwono.

"Aku minta uang, Pak!" teriak Ito.

"Lho, kan baru tadi pagi Bapak memberimu uang? Untuk apa lagi sekarang kamu minta uang?" tanya Pak Sarwono.

"Untuk mentraktir teman-temanku. Aku malu, setiap kali aku dibelikan jajan oleh teman-temanku. Sedangkan aku, belum pernah aku membelikan jajan untuk mereka."

"Keadaan kita memang tak mungkin membelikan jajan buat mereka, To," kata Pak Sarwono. "Kita bisa makan teratur saja setiap hari sudah bersyukur. Makanya kalau berteman jangan dengan anak-anak orang kaya yang suka jajan, boros."

"Ah, Bapak nggak ngerti sih. Aku malu, Pak .... Pokoknya sekarang aku minta uang!"

"Bapak sekarang tidak punya uang, To."

"Nggak mau tahu, pokoknya aku minta uang .... Sekarang!!!" desak Ito.

Sambil memandangi lukisannya yang belum selesai itu Pak Sarwono diam saja mendengar rengekan si Ito. Ia tidak tahu lagi bagaimana caranya memberi pengertian pada si Ito. Sebaliknya, Ito menjadi marah melihat ayahnya cuma diam saja. Ia lalu melempar dan membuang apa saja yang ada di dekatnya. Sampai akhirnya ..., sebuah kaleng cat terlempar ke arah ayahnya dan mengenai kepalanya.

"Aduh!" teriak Pak Sarwono kesakitan. Kepala Pak Sarwono bercucuran darah. Lukisan yang belum selesai dibuat itu terkena percikan darah Pak Sarwono.

"Oh, lihat lukisanku ... oh, betapa indahnya percikan darahku yang menghiasi lukisan itu ...," erang Pak Sarwono. Sesudah itu Pak Sarwono jatuh.

Bukan main terkejutnya Ito melihat keadaan ayahnya. Ia lalu berteriak-teriak meminta, pertolongan tetangganya. Dengan tergesa- gesa, orang-orang datang lalu membawa Pak Sarwono ke rumah sakit. Tapi sayang nyawa Pak Sarwono tak dapat ditolong. Ia meninggal dunia.

Bagaimana dengan si Ito? Ia terpaksa mendekam di penjara anak-anak nakal. Akibat perbuatannya yang buruk, ayahnya yang begitu mengasihinya meninggal dunia.

Hari itu Ito sedang memandangi lukisan ayahnya yang terakhir, gambar kepala Tuhan Yesus bermahkotakan duri dengan diwarnai cucuran darah ayahnya. Luar biasa indahnya lukisan itu.

"Lukisan ini tidak akan pernah aku jual. Ia terlalu mahal dan teramat berharga. Gambar dalam Lukisan ini membuat aku teringat saat aku masih suka ke Sekolah Minggu dulu," demikian kata Ito dalam hati. Ya, lukisan itu membuat Ito menyadari kesalahannya dan ia pun menangis meminta ampun kepada Tuhan Yesus.

Akhirnya hukuman selesai dijalani Ito. Ia sekarang sudah bisa menikmati hidup bebas di rumah pamannya. Lukisan ayahnya tak lupa dibawanya serta. Lukisan itu telah membawa Ito kembali pada Tuhan, sekaligus juga membuat Ito sadar betapa ayahnya sebenarnya sangat mengasihinya. Tetesan darah ayahnya dan tetesan darah Kristus membawa keselamatan bagi Ito.

Aktivitas:

Kemudian guru memperlihatkan gambar kepala Tuhan Yesus yang berdarah atau gambar ketika Yesus disalib. Setelah itu tanyakan pada anak apakah mereka mengetahui cerita di balik gambar itu? Mintalah mereka menceritakannya dengan bahasa mereka sendiri. Terakhir, bacalah kitab Yohanes 19:13 dan 16b-18.

Kategori Bahan PEPAK: Perayaan Hari Raya Kristen

Sumber
Judul Buku: 
Pedoman Sekolah Minggu Anak Kecil (Umur 7 - 9 Tahun) Tahun II Jilid I
Halaman: 
104 - 110
Penerbit: 
BPK Gunung Mulia
Kota: 
Jakarta
Tahun: 
1994

Komentar