Penulis dan Orang Tua Sedang Memikirkan Ulang Cara Memupuk Kasih Anak-Anak terhadap Kitab Suci


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Status Sumber: situs

Kategori Bahan PEPAK: Pelayanan Anak Umum

Setelah buku cerita Alkitab, selanjutnya apa?

Harapan terbesar orang tua Kristen bergema dalam 3 Yohanes: "Aku tidak memiliki sukacita yang lebih besar daripada mendengar bahwa anak-anakku berjalan dalam kebenaran" (ayat 4). Sepanjang setiap generasi, para ibu dan ayah telah mencari cara untuk mengarahkan anak-anak mereka pada Alkitab sebagai sumber utama kebenaran, kebijaksanaan, dan transformasi rohani. Orang dewasa mungkin ingat bagaimana, pada tahun-tahun pembentukan mereka, mereka diajari melafalkan kitab-kitab Alkitab, mempelajari karakter dan alur cerita penting, atau menghafal ayat-ayat kunci, dengan penekanan pada pemikiran dan perilaku saleh yang berkembang sebagai hasilnya.

anak cinta Alkitab

Sementara fokus pada pengetahuan Alkitab dan hidup yang benar tetap penting, beberapa penulis bangkit untuk melihat dengan cara yang baru bagaimana orang tua kontemporer dapat memperkenalkan anak-anak pada Kitab Suci dengan cara yang memupuk hubungan autentik dengan Allah dan kasih sayang yang berkomitmen untuk Firman-Nya. Pendekatan mereka memprioritaskan peran yang dapat dimainkan Alkitab dalam pembentukan rohani anak-anak, membantu anak-anak menghubungkan Firman Allah dengan kerinduan mereka yang terdalam. Mereka menekankan dengan melihat semua ayat Kitab Suci sebagai teks yang terhubung yang menjelaskan kebutuhan kita akan Kristus. Dan, mereka percaya bahwa mengajar anak-anak untuk menghargai Kitab Suci dimulai dengan ibu dan ayah yang mengembangkan kehidupan rohani mereka sendiri.

Kembangkan Ritme Percakapan

"Saya pikir beberapa dari kita dibesarkan dengan anggapan bahwa pengetahuan Alkitab adalah sesuatu yang anak-anak kita dapatkan melalui gereja atau program, dan kita hanya berharap seseorang yang pintar atau cukup suci akan memberi mereka pengetahuan ini," kata penulis dan seniman Ruth Chou Simons. "Tapi kenyataannya, keseluruhan dari bagaimana kita diberitahu untuk menceritakan kisah tentang kesetiaan Allah diatur dalam konteks hubungan."

Simons mengutip nasihat Perjanjian Lama yang diberikan orang tua dalam Ulangan 6:4-9 untuk terus membahas cara-cara Allah dengan anak-anak mereka sepanjang ritme kehidupan sehari-hari mereka: "Kamu harus mengajarkan semuanya itu terus-menerus kepada anak-anakmu, dan bicarakanlah ketika kamu duduk di rumahmu, ketika kamu sedang dalam perjalanan, ketika kamu sedang berbaring, dan ketika kamu bangun. Ikatkanlah itu sebagai tanda peringatan pada tanganmu dan pasangkanlah itu di dahimu. Tuliskanlah itu pada tiang pintu rumahmu dan gerbangmu" (ayat 7-9). Bagian ini adalah inti dari filosofi pengasuhan Ruth dan suaminya Troy.

"Kita diberi tahu untuk membaca dan menceritakan kembali kisah-kisah itu, mengulangi dan mengingatkan satu sama lain tentang apa yang benar ketika kita bangun, ketika kita berjalan, ketika keadaan sulit atau ketika kita kelelahan, atau ketika kita melanjutkan perjalanan kita," kata Simons. Berkenaan dengan mengajar enam putranya sendiri tentang Alkitab, "Itu semua terjadi dalam konteks hubungan kita saat kita menjalankan hidup sesuai Injil satu sama lain. Bagaimana lagi anak-anak akan menemukan bahwa Injil itu sebenarnya indah dan berharga untuk seluruh hidup mereka jika kita memperlakukannya seperti subjek akademis versus sesuatu yang membingkai tujuan dan alasan kita untuk hidup?"

Simons berkata bahwa kecintaannya pada Kitab Suci lahir dari partisipasinya dalam konseling awam -- karena dia perlu melihat perubahan dalam dirinya, pernikahannya, dan keluarganya. "Saya belajar pentingnya percaya dengan benar ketika Anda melihat bagaimana mengubah, mendamaikan, atau melihat transformasi," katanya. "Jika Anda ingin menemukan cara hidup yang benar, Anda harus mulai dengan kepercayaan yang benar. Teologi berarti percaya dengan benar dan mengetahui kebenaran tentang Firman Allah -- tentang siapa Dia dan apa yang Dia katakan." Inilah gagasan di balik "Foundations: 12 Biblical Truths to Shape a Family", buku renungan bergambar Ruth dan Troy baru-baru ini. Simons menggambarkan proyek tersebut sebagai resolusi untuk mengelola hati. Buku ini menekankan prinsip-prinsip inti alkitabiah dalam gaya percakapan yang sesuai untuk orang tua dan keluarga.

Dia dan suaminya memandang pembelajaran Alkitab dan pemuridan sebagai ajakan berkelanjutan yang mereka sampaikan kepada anak-anak mereka. "Kami mengajak mereka masuk ke dalam hubungan yang kami miliki dengan Allah Yang Mahakuasa," katanya. Kunci dari pendekatan mereka adalah mencontohkan cinta kepada Kitab Suci dan kebiasaan percakapan terbuka tentang bagaimana Firman Allah berhubungan dengan setiap aspek kehidupan. Misalnya, hampir setiap pagi, anak laki-laki turun untuk melihat ayah mereka membaca Alkitab sambil minum kopi. Ketika tiba waktunya untuk membahas bagian-bagian yang datar dari kitab-kitab seperti Ratapan, dia mungkin berkomentar bahwa dia siap untuk sesuatu yang lebih menarik, kata Simons. Akan tetapi, pada akhirnya ini menunjukkan keyakinannya bahwa setiap kata dari Allah memiliki kemampuan untuk mengubahnya, jadi dia bersedia untuk tetap mempelajari seluruh Kitab Suci.

Cara lain yang mereka pelajari untuk mengajak anak laki-laki mereka ke dalam hubungan mereka dengan Allah adalah dengan bergerak melampaui upaya modifikasi perilaku ketika pertengkaran saudara muncul untuk menempatkan situasi dalam kerangka alkitabiah tentang kebutuhan mereka akan penebusan. Simons berkata, "Saya belajar bahwa adalah normal dan baik untuk mengatakan, 'Argumen yang kita miliki ini mengungkapkan alasan utama mengapa kita membutuhkan Yesus, karena, jika itu diserahkan pada diri kita sendiri, kita akan terus berjuang untuk apa yang kita inginkan. ... Jadi, mari kita minta maaf karena berusaha menemukan kebahagiaan kita dengan berusaha untuk mengontrol atau mengubah satu sama lain. Mari kita melihat ke Kitab Suci bersama-sama dan belajar bagaimana Yesus datang untuk mengubah kita.'"

Kembangkan Kebiasaan Membaca dan Belajar

Para orang tua yang secara teratur membaca Alkitab di depan mata anak-anak mereka sambil menawarkan untuk membagikan apa yang mereka pelajari, mengomunikasikan dua kebenaran penting. Yang pertama, menurut laporan Barna's 2018 Guiding Children, adalah bahwa orang tua mencontohkan pembelajaran seumur hidup dan rendah hati, yang membantu anak-anak memahami mengapa mereka perlu membaca Firman Allah. Kedua, ini menunjukkan bahwa pengikut Kristus tidak pernah berhenti membutuhkan Kitab Suci, bahkan ketika mereka bertambah dewasa, kata Alison Mitchell, penulis dan editor senior The Good Book Company, yang memproduksi buku anak-anak Kristen dan sumber daya untuk keluarga. "Ini adalah tentang menjelaskan kepada mereka bahwa ini bukan sesuatu yang kamu lakukan karena kamu masih anak-anak," kata Mitchell.

Mitchell menekankan pentingnya anak-anak melihat orang tua mereka secara individu dan secara teratur membaca Alkitab cetak -- daripada membacanya di ponsel, tablet, atau perangkat lain. Meskipun rasanya tidak seefisien itu, tidak ada keraguan bahwa Ibu atau Ayah sedang membaca Alkitab alih-alih memeriksa berita atau cuaca. "Saya pikir anak-anak dapat menangkap kebiasaan membaca Alkitab dengan melihat orang tua mereka melakukannya," kata Mitchell. "Mereka belajar bahwa itu adalah penting."

Mitchell menganjurkan pendekatan berlapis-lapis dalam membantu anak-anak terhubung dengan Alkitab. Memprioritaskan waktu membaca, belajar, atau beribadah bersama keluarga adalah penting. "Itulah kunci bagaimana seorang anak belajar menggunakan Alkitab untuk dirinya sendiri -- ketika keluarga melakukannya bersama-sama," katanya.

Mengajar anak-anak untuk mempelajari Kitab Suci -- tidak hanya membacanya -- dapat dimulai sejak usia muda. Quina Aragon, artis pembaca puisi dan penulis buku bergambar cerita Alkitab anak-anak "Love Made", melakukan pendekatan sederhana yang sesuai usia dengan putrinya yang berusia empat tahun. Aragon berkata bahwa dia akan sering memulai pelajaran Alkitab singkat dengan meminta gadis kecilnya mengulangi beberapa frasa yang dia pelajari dari program anak-anak Bible Study Fellowship. "Saya akan berkata, 'Alkitab adalah ...' dan kemudian putri saya akan berteriak, 'Firman Allah!' Lalu, saya akan berkata, 'Dan, semua firman Allah adalah ...' dan dia akan berteriak, 'Benar!' Dan, kemudian saya akan berkata, "Dan, seluruh Alkitab adalah tentang ... 'dan dia akan berteriak, 'Yesus!'"

Aragon berfokus hanya pada sedikit bagian Kitab Suci pada satu waktu. "Akhir-akhir ini kami telah membahas beberapa ayat dari kitab Markus," kata Aragon. "Saya akan membuka Alkitab saya dan menunjuk ke huruf M karena putri saya sudah mulai belajar alfabet. Saya akan berkata, 'M untuk Markus.' Kemudian saya menjelaskan bagaimana angka mewakili pasal dan ayat. Kami akan membaca tiga atau empat ayat, dan saya akan membagikan satu konsep atau poin dari bagian itu yang dapat dia ulangi kembali kepada saya. Kemudian saya akan berdoa dan memberinya kesempatan untuk berdoa."

Mitchell menyarankan ide lain untuk mempelajari Kitab Suci dengan anak-anak dari berbagai usia: Buatlah petunjuk visual menggunakan poster besar dengan pertanyaan "Seperti apakah Allah itu?" tertulis di atasnya. "Setiap kali Anda membaca sebuah cerita dalam Alkitab yang menceritakan sesuatu tentang karakter Allah, tulis atau gambarlah itu di atas kertas," kata Mitchell. "Anda akan melihat bagaimana Dia baik, penuh kasih, penyayang, dan seperti apa anugerah-Nya. Itu akan membangun dan membangun." Ini adalah salah satu cara bagi anak-anak untuk belajar tentang atribut Allah dan mulai memproses pengalaman hidup melalui lensa mengenal dan memercayai karakter-Nya, jelas Mitchell.

Bertanya-tanya dan Merenungkan Bersama

Bagaimana orang tua memilih untuk berbicara tentang Alkitab dan cerita-ceritanya sama pentingnya dengan persiapan untuk melakukannya sejak awal, kata penulis Lacy Finn Borgo, yang baru-baru ini menulis buku "Spiritual Conversations with Children" (Percakapan Rohani dengan Anak-anak - Red.) dan juga bekerja sebagai pembimbing rohani untuk anak-anak. dan remaja. "Dalam masyarakat yang penuh informasi, bisa jadi tergoda untuk menyajikan Alkitab kepada anak-anak sebagai informasi, bukan sebagai cara untuk bertemu dengan Allah," kata Borgo. "Namun, ini tidak mengarah pada hubungan yang menopang seumur hidup dengan Allah -- yang merupakan inti dari Kitab Suci."

Selain informasi pengajaran, Borgo menyarankan agar orang tua fokus pada pembentukan rohani anak mereka saat menyampaikan pengetahuan Alkitab. Dia mendorong orang tua untuk melihat Kitab Suci sebagai mitra percakapan atau sebagai kesempatan untuk membantu anak-anak mereka bertemu Allah dalam cerita tokoh-tokoh Alkitab yang telah mengalami Allah selama berabad-abad. Saat membaca bagian Alkitab, Borgo merekomendasikan orang tua untuk mengajukan beberapa pertanyaan eksplorasi kunci. "Mereka dapat bertanya, 'Apa yang membuatmu bertanya-tanya tentang cerita ini? Apa yang kamu harap akan terjadi atau tidak terjadi?'" dia berkata.

Proses berpikir semacam ini membuka pintu bagi anak-anak untuk merenungkan Kitab Suci lebih dalam dan pada akhirnya mengidentifikasi keinginan dan kerinduan mereka sendiri, kata Borgo, dan itu memberi mereka tempat untuk bertemu dan mengalami Allah. "Dengan belajar mendengar kerinduan hati mereka sendiri, mereka akhirnya menyadari kerinduan terdalam mereka, yaitu Allah sendiri."

Mendirikan Landasan Teologis yang Penuh Energi

Setelah memiliki keluarga, Danielle Hitchen mencari buku karton tebal untuk bayi, balita, dan anak prasekolah yang memperkenalkan konsep teologis awal. Kecintaannya pada teologi dimulai pada tahun-tahun kuliahnya ketika dia berpartisipasi dalam program (membaca) buku-buku hebat. "Kami mulai dengan Homer dan melanjutkan perjalanan ke C. S. Lewis ," katanya. "Saya membaca banyak teologi sebagai bagian dari itu, dan itu sangat membentuk iman saya sendiri."

Hitchen berharap menemukan sesuatu yang mirip dengan primer BabyLit, yang memformat ulang literatur klasik menjadi buku untuk anak-anak. Saya berpikir, 'Pasti seseorang telah melakukan ini dengan teologi.' Jadi saya mulai melihat-lihat. Saya tidak dapat menemukan apa pun. "

Jadi, Hitchen pun mulai menulis sendiri dan sejak itu menerbitkan tujuh buku karton tebal yang berfokus pada teologi untuk bayi dan balita. Beberapa memperkenalkan kosakata yang menghubungkan arti sebuah kata dengan bagaimana kata itu digunakan dalam sebuah bagian Alkitab. Seseorang menghubungkan angka dengan konsep alkitabiah seperti Pentateuch (untuk 5), "Aku adalah" dari Yesus (untuk 7), Ucapan Bahagia (untuk 8), dan buah Roh (untuk 9). Buku terbaru Hitchen, "We Believe", adalah primer alfabet yang menyoroti arti kata-kata seperti Ascension (Kenaikan), Eucharist (Ekaristi/Perjamuan Kudus), Incarnation (Inkarnasi), dan Kyrie Eleison (Tuhan, kasihanilah aku).

"Harapannya adalah mulai membangun kosakata iman anak," kata Hitchen. "Blok bangunan dasar untuk mempelajari materi pelajaran apa pun adalah mempelajari kosakata subjek terlebih dahulu. Saya pikir mengajari anak-anak kebenaran ini akan membantu mereka mencintai kebenaran dari waktu ke waktu." Dia percaya membekali, bahkan anak-anak yang sangat kecil dengan konsep teologis dan doktrinal di balik kisah-kisah Alkitab yang dicintai, akan membantu memperdalam iman mereka dan memberi mereka landasan seumur hidup di mana iman mereka dapat bertumbuh.

Dalam nada yang sama, buku bergambar Aragon, "Love Made", menjalin teologi saat mengeksplorasi keindahan Allah Tritunggal melalui penuturannya tentang kisah penciptaan. Buku itu tidak hanya mendefinisikan Allah Tritunggal untuk anak-anak, tetapi juga menguraikan kekuatan emosi cinta dan kegembiraan yang mendorong Bapa, Putra, dan Roh Kudus untuk secara kolektif membentuk dunia menjadi ada. "Sukacita yang Allah miliki dengan diri-Nya sendiri begitu besar sehingga Ia membiarkannya meluas ke dalam apa yang kita sebut penciptaan," tulis Aragon. "Love Made" membuat berdasarkan ide ini untuk juga membahas penciptaan kehidupan baru dalam keluarga manusia, dengan mengatakan bahwa seorang anak dibentuk sebagai "seseorang yang mengingatkan kita akan kesenangan Allah pada diri kita," seperti pribadi-pribadi Allah Tritunggal senang satu sama lain.

Rasa lapar akan firman Allah lebih cepat terbentuk melalui tindakan daripada perkataan.
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Karya Mitchell menekankan konsep teologis dengan mendorong anak-anak untuk melihat Alkitab bukan sebagai kumpulan cerita yang terpisah sendiri-sendiri tetapi sebagai teks terpadu yang menceritakan satu kisah yang berkelanjutan. Buku bergambarnya yang terbaru, "Jesus and the Lions' Den" (yang menerima penghargaan buku dari Christianity Today) menyoroti "momen-momen Yesus", dengan menggunakan petunjuk ilustratif untuk membantu pembaca mengenali ketika seseorang dalam cerita itu sedikit mirip seperti Yesus. Dalam kasus ini, Daniel dipenjara secara tidak adil dan dijatuhi hukuman mati, sama seperti Yesus. Daniel diselamatkan dari gua kematian; Allah membawa Putra-Nya keluar dari kematian.

Dalam bukunya, Mitchell berharap dapat membantu anak-anak memahami berapa banyak tokoh utama dalam Alkitab yang merupakan bayangan Yesus, menunjuk pada penggenapan yang dibawa Kristus sebagai versi terakhir dan kesempurnaan dari masing-masing karakter ini. Pendekatannya bertujuan untuk membantu anak-anak melihat Alkitab sebagai teks ekspansif yang mengomunikasikan satu kebenaran tematik: Kebutuhan kita akan keselamatan dan pembaruan ditemukan dalam pribadi Kristus.

"Ketika anak-anak menyadari bahwa Perjanjian Lama agak seperti buku teka-teki, dan mereka dapat mengerjakan teka-teki untuk mempelajari hal-hal tentang Yesus, mereka menikmatinya," kata Mitchell. "Mereka juga mulai melihat gambaran besar tentang apa yang Allah lakukan. Itu penting, karena semakin banyak anak dapat memahami karakter Allah, semakin mereka dapat mengatasi apa pun yang dilemparkan dunia kepada mereka. Mereka telah melihat kekuatan dan kebaikan-Nya di seluruh Alkitab. Mereka bisa percaya kepada-Nya."

Cintai Kitab Suci

Selain membangun ritme percakapan, mencontohkan kebiasaan membaca, mengajukan pertanyaan eksplorasi, dan memperkenalkan konsep teologis, mungkin cara paling signifikan orang tua mengajar anak-anak mereka agar mencintai Alkitab adalah dengan mencintai Alkitab secara mendalam. Orang tua menyampaikan nilai itu dengan sangat kuat melalui pemuridan sehari-hari mereka sendiri dan nada bicara mereka tentang Firman Allah. "Penting untuk mengetahui bahwa jika Anda tampaknya tidak menyukai Tuhan, anak-anak Anda juga tidak akan menyukai-Nya," kata Aragon. "Mereka mungkin melihat praktik rohani (seperti belajar) sebagai tugas atau sebagai sesuatu yang akan menyenangkan orang tua mereka, tetapi sampai mereka melihat bahwa Yesus itu menarik bagi Anda, saya tidak melihat ada motivasi yang besar atau abadi bagi mereka untuk benar-benar mengenal Allah bagi diri mereka sendiri. "

Rasa lapar akan firman Allah lebih cepat terbentuk melalui tindakan daripada perkataan. Sebagai orang tua, Aragon berkata, "Kami sedang mempelajari pentingnya putri kami melihat kasih kami sendiri kepada Allah." Ini tidak hanya dalam membahas Kitab Suci dengannya, tetapi juga "dalam cara kita bernyanyi tentang Dia, dalam cara kita membahas Dia dalam percakapan, dalam hal-hal yang kita buat, dan cara kita menggunakan karunia kita." (t/Jing-Jing)

Download Audio

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Christianity Today
Alamat situs : https://christianitytoday.com/ct/2020/october-web-only/authors-parents-rethinking-kids-love-scripture-bible.html
Judul asli artikel : Authors and Parents Are Rethinking Ways to Foster Kids' Love for Scripture
Penulis artikel : Corrie Cutrer

Komentar


Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK