Haruskah Saya Membiarkan Anak Saya Mempertanyakan Imannya?


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Kategori Bahan PEPAK: Penginjilan Anak - Misi Anak

Seingat saya, sejak kecil saya dibesarkan "dalam iman." Selama bertahun-tahun saya tumbuh dewasa, ayah adalah seorang pendeta, dan berbicara tentang dan mempelajari hal-hal rohani adalah bagian rutin di kehidupan keluarga kami. Meskipun saya sendiri belum beriman secara pribadi sampai usia 12 tahun ketika saya menerima Kristus sebagai Juru Selamat saya, ada prinsip dan doktrin yang ditanamkan ke dalam diri saya (dengan cara yang baik), bahkan sebelum saya dapat memahaminya.

Hal-hal seperti berikut ini:

  • Allah menciptakan dunia
  • Yesus adalah Anak Allah
  • Yesus adalah Allah
  • Allah itu Tritunggal -- tiga pribadi, tetapi satu Allah
  • Yesus lahir dari seorang perawan
  • Yesus tidak pernah berdosa
  • Alkitab itu murni dan sempurna
  • Firman Allah harus menjadi dasar bagi kehidupan kita
  • Setiap orang akan menghabiskan kekekalan di Surga atau di Neraka
  • Adalah tanggung jawab kita sebagai orang Kristen untuk membawa orang lain kepada Kristus.

Bagi kebanyakan di antara Anda, seperti saya, semua kebenaran ini dan lebih banyak lagi telah dipelajari dan bahkan mungkin dihafal sejak usia dini. Kita diajari untuk memercayai hal-hal ini karena itu benar dan karena itu didasarkan pada otoritas Kitab Suci.

SATU HAL YANG SELALU DILARANG UNTUK KITA LAKUKAN ...

mengajarkan anak

Namun, satu hal yang banyak dari kita tidak pernah lakukan adalah mempertanyakan hal-hal tentang iman kita ini. Mereka harus dianggap sebagai kebenaran. Titik.

Dan, meskipun kita diizinkan untuk mengajukan pertanyaan untuk mempelajari dan memahami prinsip-prinsip ini dengan lebih baik, itu tidak disukai (baik disengaja atau tersirat) ketika kita mengajukan pertanyaan yang benar-benar mempertanyakan validitas tentang hal-hal ini.

Baru-baru ini, saya dan anak saya yang berusia 8 tahun sedang menonton acara bersama di PBS. Mereka menyebutkan ungkapan umum "jutaan tahun yang lalu" ... Jadi, saya hanya menyela dan berkata kepada anak saya, "Kita tahu bahwa bumi sebenarnya tidak berumur jutaan tahun. Menurut Alkitab, umur bumi hanya sekitar 6.000 tahun." Dan, dalam benak saya, saya bangga pada diri sendiri karena membuat rekor langsung untuk anak saya sehingga dia tidak akan ditipu oleh "sains".

Namun, yang mengejutkan saya, penjelasan dua kalimat sederhana saya tidak cukup untuk meyakinkan anak berusia 8 tahun. Jadi dia mulai mempertanyakan pernyataan saya dengan beberapa pertanyaan yang sangat valid:

  • "Ayah, bagaimana kita tahu bahwa bumi hanya setua itu?" ...
  • "Tapi, tidak ada dari kita yang tahu saat itu." ...
  • "Tapi, bagaimana jika bumi lebih tua dari yang kita kira?" ...

Dan, sementara anak saya membombardir saya dengan 20 pertanyaan, saya memiliki pilihan internal dan disengaja tentang bagaimana saya merespons. Dalam kedagingan saya, saya hanya ingin tegas dan berkata, "Nak, aku adalah ayah, kamu adalah anak kecil berusia 8 tahun. Jangan bertanya, percaya saja apa yang kukatakan!" Akan tetapi, seberapa banyak bantuan yang diberikan kepada anak saya pada saat dia mencari jawaban jujur dengan mengajukan pertanyaan jujur dari hati yang tulus ingin tahu? Jawaban sederhananya adalah itu tidak akan membantu sama sekali.

Pada saat itu, saya memilih untuk mendengarkan, dan dengan anggun menanggapi setiap pertanyaannya, menjawabnya sebaik mungkin sampai rasa penasarannya terpuaskan. Mengapa? Karena saya tidak ingin dia percaya pada keyakinan saya. Saya ingin iman saya menjadi imannya. Dan, satu-satunya cara itu akan terjadi adalah ketika dia yakin bahwa apa yang dikatakan Alkitab benar-benar benar, bukan hanya karena "Ayah (atau Alkitab) mengatakan demikian, dan itu sudah final."

Namun, coba tebak, kami membesarkan remaja di rumah kami, dan mereka juga memiliki pertanyaan! Di rumah kami, kami memiliki kebijakan "tidak ada pertanyaan yang terlarang" yang memungkinkan anak-anak kami mempertanyakan hal-hal yang kami lakukan atau hal-hal yang kami yakini ketika mereka tidak sepenuhnya memahami atau mengetahui alasan di baliknya.

Kebijakan pintu terbuka (mendorong keterbukaan dan transparansi - Red.) terhadap keyakinan kami telah memungkinkan kami untuk melakukan banyak percakapan sebagai keluarga tentang mengapa kami memercayai apa yang kami yakini, dan pada akhirnya memperkuat iman anak-anak kami, bukan melemahkannya, seperti yang ditakuti oleh beberapa orang tua.

TITIK TEMPAT TEORI DIUJI DALAM PRAKTIK ...

Kita mengatakan bahwa kita ingin anak-anak kita memiliki iman mereka sendiri, tetapi jika itu benar, maka kita harus memberi mereka beberapa kesempatan untuk menjadikannya sebagai iman mereka sendiri.

Betapa sering sebagai orang tua kita cepat menyerang anak-anak kita ketika mereka mempertanyakan kepercayaan atau keyakinan kita, membuat mereka merasa bersalah, daripada menyambut pertanyaan seperti itu, mengetahui bahwa itu memungkinkan mereka untuk memperdalam pemahaman mereka tentang hal-hal itu dan benar-benar menjadikannya milik mereka sendiri ?

Saat anak-anak kita bertumbuh, mereka secara alami akan mulai mengevaluasi dan menganalisis berbagai hal sendiri daripada hanya menerima kata-kata kita, dan tidak apa-apa. Akan tetapi, kecenderungan alami kita ketika mereka mulai mempertanyakan keyakinan kita adalah mode frustrasi atau "panik", yang keduanya tidak sehat.

Apakah Anda memiliki kebijakan pintu terbuka terhadap kepercayaan di rumah Anda?

Sebab, jika anak-anak Anda tidak pernah memiliki pertanyaan tentang iman mereka, sangat mungkin mereka juga tidak akan memiliki kedalaman tentang hal itu. Kedalaman seperti itu mengharuskan mereka diizinkan dan didorong untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan sulit.

Saya mendengar konsep ini baru-baru ini, dan menyukainya ... Sebagai orang tua dan pemimpin, kita harus merasa nyaman dengan keyakinan bahwa iman kita lebih kuat daripada pertanyaan apa pun yang mungkin ditanyakan anak-anak kita tentangnya. Dengan mengizinkan mereka mengujinya, kita sebenarnya mendorong mereka untuk memercayainya.

Mengizinkan anak-anak kita untuk mempertanyakan iman mereka (dan kita) adalah salah satu kunci untuk membantunya menjadi iman MEREKA. (Ini sama pentingnya jika Anda mengajar anak-anak di gereja atau tempat lain).

Anak-anak kita mendengar banyak hal yang berbeda dan bersaing dari banyak arah yang berbeda (teman, budaya, media, game, buku, dll.), dan jika kita tidak mau menjelaskan dan membela filosofi dan kepercayaan alkitabiah kita kepada anak-anak kita, seseorang lain dengan senang hati akan meyakinkan mereka tentang itu.

Dalam seluruh Kitab Suci, beberapa orang beriman yang besar mempertanyakan semua yang mereka percayai ... (Elia, Yohanes Pembaptis, Petrus, dll.), dan sebagai hasilnya, mereka kembali dengan lebih kuat dan lebih yakin akan kebenaran yang mereka pegang teguh.

APAKAH ANAK ANDA DIPERBOLEHKAN UNTUK MENGAJUKAN PERTANYAAN SULIT?

Dapat menjadi hal yang sangat berbahaya untuk membesarkan satu generasi dalam Kekristenan yang disuapi sendok.
  1. Facebook
  2. Twitter
  3. WhatsApp
  4. Telegram

Ibu dan Ayah, jangan khawatir atau takut ketika anak-anak Anda pada usia berapa pun mulai mempertanyakan kebenaran dan prinsip Alkitab yang secara pribadi telah menjadi dekat dan berharga di hati Anda. Bersyukurlah untuk itu, dan bahkan doronglah. Mengapa? Karena itu berarti mereka secara pribadi memikirkan dan memproses hal-hal ini untuk diri mereka sendiri. Mereka sedang mengevaluasi hal-hal ini. Dan, mereka ingin mengetahui kebenaran, daripada hanya menerima kata-kata orang lain begitu saja.

Dapat menjadi hal yang sangat berbahaya untuk membesarkan satu generasi dalam Kekristenan yang disuapi sendok.

Meskipun generasi sebelumnya mungkin bisa bertahan, itu tidak berarti kita bisa melakukannya hari ini. Generasi muda ini sangat menginginkan keaslian dan transparansi. Dan, kita seharusnya tidak mengharapkan mereka untuk serta merta menerima semua yang diberitahukan kepada mereka begitu saja, ketika mereka ingin memiliki hal-hal itu secara pribadi dan diyakinkan bahwa itu nyata. Ini mengharuskan mereka untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan sulit itu.

Dan, jika mereka menanyai Anda, dan Anda tidak memiliki jawaban yang sah mengapa Anda memercayai apa yang Anda yakini, mungkin Anda sebagai orang tua perlu melakukan evaluasi sendiri, untuk memastikan bahwa apa yang Anda yakini tidak hanya berakar pada apa yang selalu Anda dengar, tetapi berakar kuat di dalam Kitab Suci.

Apa yang diinginkan orang tua lebih dari seorang anak yang ingin mengetahui kebenaran, dan kesempatan terbuka untuk menjelaskan dan membela kebenaran itu, sehingga pada gilirannya, mereka akan dapat melakukan hal yang sama suatu hari nanti. Hal yang tidak Anda inginkan sebagai orang tua adalah seorang anak yang hanya mencerminkan keyakinan Anda sampai mereka meninggalkan rumah, tetapi tidak pernah secara pribadi menjadikannya milik mereka sendiri.

Meskipun ide ini mungkin bertentangan dengan inti dari semua yang telah diajarkan kepada kita, inilah mengapa saya percaya bahwa setiap anak harus diizinkan untuk mempertanyakan iman mereka. Apa Anda setuju? Tidak setuju? Saya ingin mendengar pendapat Anda. (t/Jing-Jing)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Church Leaders
Alamat situs : https://churchleaders.com/children/childrens-ministry-articles/382049-should-i-allow-my-child-to-question-his-or-her-faith.html
Judul asli artikel : Should I Allow My Child to Question His or Her Faith?
Penulis artikel : Andrew Linder

Komentar


Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK