Ajari Anak Anda


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Kategori Bahan PEPAK: Penginjilan Anak - Misi Anak

Bernard dari Clairvaux, doktor gereja abad ke-12 yang menulis himne O Sacred Head, Now Wounded ("Kepala yang Berdarah - Red.), membuka renungan klasiknya On Loving God ("Tentang Mengasihi Allah" - Red.) dengan kata-kata berikut: "Anda ingin saya memberi tahu Anda mengapa dan bagaimana Allah seharusnya dikasihi. Jawaban saya adalah bahwa Allah sendiri adalah alasan mengapa Dia harus dikasihi. Lalu, perihal bagaimana Dia harus dikasihi, tidak ada batasan untuk kasih itu." Demikian pula, Shema (Ulangan 6:4-5 - Red.) menuntun kita dari kontemplasi keberadaan dan esensi Allah pada respons kita dalam mengasihi-Nya. Untuk artikel ini, kita akan membahas secara khusus tentang tugas (dan sukacita) orang tua untuk mengajar anak-anak mereka untuk mengasihi Tuhan Allah.

Kewajiban orang tua ini pun berakar pada sifat keesaan Allah seperti yang terungkap dalam kekekalan-Nya. Karena Allah, seperti yang ditulis Musa di tempat lain, "dari selama-lamanya sampai selama-lamanya," sedangkan rentang hidup manusia ibarat rumput yang tumbuh pada waktu pagi hanya untuk menjadi layu pada sore hari (Mazmur 90), satu cara untuk memastikan bahwa kasih kita kepada-Nya "tidak terbatas" adalah dengan mengerjakannya secara turun-temurun, yaitu dengan generasi sekarang memuji karya-Nya dan menyatakan kuasa-Nya kepada generasi berikutnya (Mazmur 145:4).

Gambar:kebersamaan keluarga

Kelayakan Allah tidak hanya menyerukan kasih dari generasi ke generasi, tetapi pekerjaan Allah juga harus bersifat perjanjian sehingga setiap perintah dan pengakuan, termasuk Shema, diberikan untuk "kamu dan anak cucumu" (Ulangan 6:2). Ini mungkin juga terkait dengan kekalnya keesaan Allah. Pernyataan-Nya kepada Abraham yang fana, misalnya, tak terelakkan mencakup frasa yang dilekatkan: "dan kepada keturunan-keturunan sesudahmu" (Kejadian 17:7-8) -- murah hati, tentu saja, tetapi juga menenangkan. Lebih penting lagi, rencana Allah untuk memenuhi bumi dengan para penyembah dikerjakan dalam perjanjian sehingga perihal "Beranakcuculah dan berlipatgandalah" (Kejadian 1:28) menjadi tidak terpisahkan dari "mengajarkan semuanya itu terus-menerus" (Ulangan 6:7).

Kita menemukan ekspresi yang indah dari gagasan ini saat kita membandingkannya dengan panggilan Abraham, yang tujuan klimaksnya adalah untuk memberkati semua keluarga di bumi (Kejadian 12:3), dengan pernyataan Tuhan pada kemudian hari bahwa Dia telah mengenal Abraham: "Sebab Aku telah mengenalnya, dia akan memerintahkan kepada anak-anaknya dan seisi rumahnya sesudah dia ... sehingga TUHAN akan memberikan kepada Abraham apa yang telah dijanjikan-Nya kepadanya" (Kejadian 18:19). Jadi, kita melihat bahwa salah satu cara paling konsisten agar tujuan Allah untuk memberkati semua keluarga di bumi dapat berlangsung adalah melalui ruang sekolah kecil -- atau, istilah yang mungkin lebih baik, "gereja kecil" -- dalam rumah tangga Kristen.

Sekarang, marilah kita melihat sekilas cara Ulangan 6:6-7 membimbing kita untuk mengajar anak-anak kita secara terus-menerus. Pertama, mengajar anak-anak kita membutuhkan waktu. Di sini, kita harus menangkis kesesatan pada akar mitos tentang waktu yang berkualitas lebih berbobot daripada kuantitas waktu. Mengajar anak-anak kita "terus-menerus" didefinisikan dan dijabarkan sebagai berbicara kepada mereka "ketika kamu duduk di rumahmu, ketika kamu sedang dalam perjalanan, ketika kamu sedang berbaring, dan ketika kamu bangun" (ay. 7). Parafrase yang sah mungkin adalah "ajarlah anak-anakmu di mana pun (di rumah atau di dunia luar) dan setiap saat (dari pagi hingga petang)." Dengan kata lain, kita perlu hidup bersama dengan anak-anak kita, ada bersama-sama dengan mereka ketika mereka berada di rumah atau di luar rumah. Gaya hidup pengajaran reguler mengharuskan kita memiliki hubungan dengan anak-anak kita, yang membutuhkan waktu.

Kedua, gaya hidup mengajar kita haruslah murni. Merupakan kenyataan yang menakutkan bahwa kita mewariskan kepada anak-anak kita bukan apa yang kita "percayai" melainkan apa yang kita sukai. Seorang ayah mungkin memimpin rumah tangganya dalam peribadatan keluarga setiap hari, tetapi jika kenangan terbaik anak-anaknya dengan dirinya adalah bersorak dan meneriaki permainan bola, kita dapat yakin bahwa anak-anak itu akan tumbuh untuk bersorak dan meneriaki permainan bola dengan anak-anak mereka sendiri (tetapi tidak begitu yakin dalam hal ibadah).

Ajaran kita tidak hanya harus mengalir dari hati, tetapi harus ditujukan ke hati, dipenuhi dengan doa untuk jiwa anak-anak kita.


Facebook Twitter WhatsApp Telegram

Berbicara tentang hal-hal yang terkait dengan Allah di rumah Anda, ketika Anda sedang berjalan, ketika Anda berbaring, dan ketika Anda bangun adalah tugas yang mustahil jika itu tidak terjadi secara alamiah. Ini tidak berarti bahwa praktik itu terjadi tanpa usaha, sama sekali bukan, melainkan pengajaran kita harus tulus, mengalir secara alamiah dari hati yang mengasihi Allah, hati yang menginginkan Allah menjadi sukacita utama anak-anak kita. Dengan perkataan lain, jika kasih kita kepada Allah itu tulus, itu juga akan konsisten -- di mana pun dan selalu. Oleh karena itu, nasihat dari ayat 7 merupakan akibat dari perintah dalam ayat 6: "Ingatlah selalu perintah-perintah yang kusampaikan kepadamu hari ini." Kasih kita, tanpa ragu, akan mengalir ke setiap ranting pohon keluarga yang mulai bertunas. Hal ini, dengan menyadari hati kita sendiri yang memberontak, bersama dengan kemampuan luar biasa anak-anak untuk mendeteksi ketidakjujuran, seharusnya membuat kita berlutut, memohon kepada Tuhan untuk memberi kita apa yang kurang dan sangat kita butuhkan: sukacita yang tulus dalam Allah, yang sedemikian rupa sehingga kita menikmati menyembah Dia melebihi segala hal lainnya.

Ketiga, ajaran kita tidak hanya harus mengalir dari hati, tetapi harus ditujukan ke hati, dipenuhi dengan doa untuk jiwa anak-anak kita. Kasih untuk Allah dan hal-hal yang terkait dengan Allah menjadi tujuannya; ketaatan merupakan ungkapan dari kasih tersebut. Dengan mengingat hal ini, sangat penting untuk memahami bahwa selain memahami hukum, kasih juga menjadi konteksnya -- anak-anak Allah berdosa dalam keluarga Allah. Peraturan, penghakiman, dan perintah dalam Ulangan diatur dalam kerangka kesepakatan perjanjian Allah yang penuh kasih: Dia membebaskan Israel dari tempat perbudakan, memimpin mereka melewati padang gurun, dan menyediakan sistem pengorbanan di tabernakel sebagai jalan pemulihan atas pelanggaran mereka dari hukum Taurat sehingga setiap hati yang hancur akan menemukan jaminan pendamaian. Jadi, kita mengajar anak-anak kita tidak hanya untuk mematuhi hukum, tetapi, melalui hukum itu, seberapa besar mereka (para pelanggar hukum yang gigih dan layak dihakimi, sama seperti kita) telah diampuni -- yaitu, kita mengajari mereka seberapa dalam Allah telah mengasihi mereka dalam Kristus. Sebab, tujuannya adalah agar mereka mengasihi Allah, dan karena -- seperti yang Yesus katakan -- orang yang sedikit diampuni mengasihi sedikit (Lukas 7:47), kita memberi kesan kepada anak-anak kita betapa besar kita telah diampuni melalui kurban penebusan Yesus Kristus. Kita juga mengajar mereka -- dengan rasa syukur dalam hati kita -- bahwa Yesus telah dengan sempurna menaati semua hukum Allah menggantikan kita, dan bahwa ketaatan-Nya adalah anugerah bagi kita, hanya oleh iman.

Singkatnya, mengajar anak-anak kita secara terus-menerus berarti senantiasa mengarahkan pandangan mereka pada segala kecukupan Yesus Kristus dan pada kasih Allah yang tiada tara bagi kita, yang ditunjukkan melalui salib. (t/N. Risanti)

Diterjemahkan dari:
Nama situs : Ligonier
Alamat situs : https://ligonier.org/learn/articles/teach-your-children
Judul asli artikel : Teach Your Children
Penulis artikel : Michael Morales

Komentar


Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK