Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Tujuh Hal Dasar yang Wajib Dimiliki Guru Sekolah Minggu


Jenis Bahan PEPAK: Tips

Salah satu aspek untuk membentuk karakter ketaatan dalam diri seorang pelayan anak adalah dengan taat dalam menjalankan panggilannya. Berikut ini adalah tujuh hal dasar yang wajib dimiliki dan ditaati guru sekolah minggu. Tujuh hal tersebut dapat membantu kita untuk menjadi seorang pelayan anak yang taat terhadap panggilan pelayanan yang sudah Tuhan berikan kepada kita. Seorang guru harus memiliki tujuh hal berikut ini agar dapat mengajar dengan baik, efektif, dan efisien. Meyakini panggilan-Nya

Salah satu aspek untuk membentuk karakter ketaatan dalam diri seorang pelayan anak adalah dengan taat dalam menjalankan panggilannya. Berikut ini adalah tujuh hal dasar yang wajib dimiliki dan ditaati guru sekolah minggu. Tujuh hal tersebut dapat membantu kita untuk menjadi seorang pelayan anak yang taat terhadap panggilan pelayanan yang sudah Tuhan berikan kepada kita.

Seorang guru harus memiliki tujuh hal berikut ini agar dapat mengajar dengan baik, efektif, dan efisien.

  1. Meyakini panggilan-Nya sebagai guru penuh waktu.
  2. Memahami visi dan misinya sebagai guru.
  3. Hidup dipimpin dan mengandalkan Roh Kudus.
  4. Rela mempersembahkan totalitas dirinya bagi pelayanan anak.
  5. Berdoa syafaat bagi anak.
  6. Hadir dan mengajar dengan cinta.
  7. Menjadi seorang gembala bagi anak-anaknya.

Agar lebih jelas, masing-masing dari ketujuh hal di atas akan dijelaskan secara lebih mendalam.

Meyakini Panggilan-Nya Sebagai Guru Penuh Waktu

Setiap guru harus meyakini bahwa ia dipanggil bukan sekadar menjadi guru bantu. Guru bantu yang dimaksud adalah orang yang merasa bahwa tugasnya sebagai guru hanyalah:

  • membantu guru senior yang ada di kelasnya. Misalnya, menjaga agar anak tidak ribut di kelas. Ia bertugas hanya bila diminta bantuannya oleh guru senior;
  • mengajar bila dijadwalkan oleh pengurus atau mengajar pada "waktu" tertentu (misalnya, sekali dalam sebulan); atau
  • guru yang bukan penanggung jawab kelas tempat ia mengajar.

Setiap guru dipanggil menjadi guru "penuh waktu". Tentu saja yang dimaksudkan di sini bukanlah menjadi "full timer" gereja dalam bidang sekolah minggu atau menjadi pengerja gereja untuk sekolah minggu. Istilah "penuh waktu" ini sengaja diambil untuk menegaskan bahwa seorang guru yang baik adalah guru yang tidak "memberi diri" setengah-setengah, namun menyerahkan totalitas dirinya untuk melayani.

Jadi, yang dimaksud guru "penuh waktu" adalah sebagai berikut.

  • Ia seperti seorang pendeta bagi jemaatnya. Ia merasa seluruh anak di kelasnya adalah "domba-domba Allah" yang dititipkan kepadanya untuk "dirawat dan dipelihara".
  • Guru yang bersedia senantiasa hadir (setiap Minggu) dan bertanggung jawab melayani anak-anak di sebuah kelas tertentu dengan segala kegiatannya. Ia merasa bertanggung jawab atas seluruh kegiatan di kelasnya. Maju dan berkembangnya pelayanan anak di kelasnya adalah bagian dari tujuan pelayanannya.
  • Guru yang benar-benar memikirkan pembinaan dan pertumbuhan rohani anak-anak di kelasnya.
  • Guru yang bersedia menghayati pergumulan hidup setiap anak di kelasnya dan melayani mereka. Ia bersama guru-guru yang lain di kelasnya adalah gembala bagi anak-anak di kelasnya.

Jika guru meyakini panggilannya sebagai guru, maka ia tidak akan menjadi guru yang melayani dengan "setengah hati".

Memahami Visi Dan Misinya Sebagai Guru

Setiap guru harus tahu visi dan misinya sebagai guru, baik visi misi pribadi (sesuai dengan panggilan Tuhan kepadanya), maupun visi dan misi gerejanya (atau komisi anak di gerejanya).

Hidup Dipimpin Dan Mengandalkan Roh Kudus

Guru yang ingin berhasil dalam pelayanannya haruslah menyadari bahwa ia yang terbatas itu tidak dapat melakukan apa-apa tanpa Allah Roh Kudus menyertai pelayanannya.

Yesus sendiri membutuhkan Roh Kudus dalam pelayanan-Nya. Para rasul melayani dengan penyertaan dan pimpinan Allah Roh Kudus, apalagi kita. Tanpa Roh Kudus, kita akan melayani tanpa sukacita, tanpa semangat, berbeban berat. Dan tanpa kuasa-Nya, kita akan menemui banyak hambatan besar dan masalah dalam pelayanan. Namun, jika kita menyerahkan pelayanan kita pada kuasa pimpinan Allah Roh Kudus, maka kita akan melayani dalam kuasa-Nya. Ada sukacita dan keringanan karena Dia yang berjalan di depan kita mengatasi segala persoalan kita.

Berkali-kali saya merasa tidak dapat berbuat banyak ketika berada di depan kelas (saat mengajar), apalagi jika mengajar anak yang begitu banyak dan tampaknya mereka tidak dapat tenang/sulit dipimpin. Berkali-kali ketika saya memimpin KKR anak (yang sering diikuti ratusan bahkan ribuan anak), perasaan "saya tidak dapat menguasai anak-anak" itu muncul, lalu bagaimana? Berserah kepada Allah Roh Kudus adalah segalanya. Berkali-kali perasaan khawatir "tidak dapat menguasai suasana kelas" terhapus oleh kenyataan Roh Kudus yang berkuasa untuk menenangkan suasana dan anak-anak dapat mendengarkan cerita dengan baik dan komunikatif. Saya sadar bahwa semua itu semata-mata pekerjaan Roh Kudus. Ia yang sesungguhnya memiliki "acara pesta rohani" itu. Ia yang memimpin dan berbicara kepada anak-anak melalui kita, guru sekolah minggu. Jadi, libatkan selalu Allah Roh Kudus dalam pelayanan.

Allah Roh Kudus baru dapat semakin leluasa bekerja jika dalam hidup sehari-hari, kita juga berserah kepada-Nya dan bersedia hidup taat dalam pimpinan-Nya. Hidup taat kepada pimpinan-Nya membuat Roh Kudus dapat semakin memakai kita menjadi alat pelayanan yang baik bagi kemuliaan dan pekerjaan pelayanan-Nya.

Rela Mempersembahkan Seluruh Totalitas Dirinya Bagi Pelayanan Anak

Seorang guru harus berani "membayar harga atas panggilan kudus yang diterimanya dari Tuhan". Ia rela mempersembahkan semuanya bagi Tuhan, baik waktu, tenaga, pemikiran, maupun uang bagi pelayanan anak.

Agar pelayanannya berhasil, ia harus mempersiapkan diri sebaik mungkin, baik secara pribadi maupun bersama teman guru lainnya.

Persiapan mengajar merupakan hal yang wajib dilakukan oleh para guru sekolah minggu, baik secara pribadi maupun secara bersama-sama guru yang lain.

Agar persiapan mengajar dapat dilakukan dengan baik, guru harus rela mempersembahkan waktu, tenaga, pikiran, dan bahkan mungkin uang.

Mempersembahkan waktu, tenaga, pikiran, dan uang:

  • untuk mengikuti persiapan guru sekolah minggu di gereja (idealnya setiap minggu perlu satu kali pertemuan guru untuk persiapan mengajar);
  • untuk mempersiapkan bahan mengajarnya sendiri (secara pribadi) sebaik mungkin;
  • untuk mempersiapkan perlengkapan, alat peraga, aktivitas, dan sebagainya;
  • untuk berdoa bagi pelayanannya dan bagi anak-anaknya;
  • untuk mengunjungi anak-anak (yang sakit atau bermasalah);
  • untuk datang ke sekolah minggu lebih awal, dan sebagainya.

Berdoa Syafaat Bagi Anak

Guru sekolah minggu yang baik haruslah menjadi juru syafaat yang baik bagi anak-anaknya. Sebab ini juga merupakan "peperangan rohani" untuk merebut anak-anak dari pengaruh buruk dunia ini (dan semua yang ditawarkan dunia). Perjuangan ini semakin berat karena Iblis tidak pernah tinggal diam. Iblis terus berusaha menggagalkan pelayanan kita, baik dengan mencobai kita (sebagai seorang guru) maupun dengan mencobai anak-anak sekolah minggu. Jadi, doa menjadi benteng dan senjata terbaik bagi setiap guru sekolah minggu.

Mendoakan setiap anak merupakan hal wajib yang harus dilakukan oleh setiap guru sekolah minggu. Oleh karenanya, seorang guru harus hafal nama dan pergumulan tiap anak. Untuk itu, perlu dibuat daftar anak (lebih baik dengan foto anak itu) di kelas untuk mempermudah mendoakan mereka di kelas kita masing-masing.

Hadir dan Mengajar dengan Cinta

Cinta sangat memengaruhi cara dan suasana. Cinta kepada Tuhan dan cinta kepada anak-anak akan membuat cara kita melayani begitu hidup, bersemangat, bersahabat, dan penuh sukacita.

Sebaliknya, tanpa cinta kepada Tuhan dan kepada anak-anak, hanya akan membuat pelayanan ini penuh masalah, dan menjadi beban kewajiban yang berat, dan tidak menyenangkan, tidak membawa sukacita karena yang ada hanya kekecewaan dan masalah.

Menjadi Seorang Gembala Bagi Anak-Anaknya

Guru dipanggil bukan hanya untuk mengajar di kelas (saat kegiatan sekolah minggu diadakan), melainkan juga sebagai gembala bagi murid-muridnya. Ia adalah gembala dengan:

  • menjadi teman dekat yang mendampingi murid-muridnya ketika mereka sedang mengalami kesulitan, kedukaan, sakit, atau masalah;
  • menjadi penasihat yang baik ketika murid-murid sedang berada di persimpangan jalan karena suatu pergumulan hidup, atau ketika murid melakukan kesalahan/dosa;
  • menjadi imam (juru doa) yang baik ketika murid-muridnya membutuhkan seorang pendukung doa dalam pergumulannya;
  • menjadi sahabat yang datang mengunjungi muridnya di rumahnya masing-masing;
  • menjadi teladan dalam setiap perbuatan baik;
  • menjadi pahlawan ketika mereka sedang terjepit masalah;
  • menjadi orang tua ketika mereka membutuhkan pendampingan, perhatian, dan rasa aman; dan
  • menjadi pembawa firman yang sangat mereka butuhkan.

Jika setiap kelas sekolah minggu memiliki gembala-gembala yang baik, maka saya yakin kelas itu akan bertumbuh dan berkembang, bukan saja dari segi kuantitas, yang terutama adalah perkembangan/kemajuan kualitas pertumbuhan iman murid-muridnya.

Setiap anak membutuhkan panutan seorang gembala yang baik, yaitu gurunya, agar ia dapat semakin mengenal dan mencintai Yesus, Juru Selamatnya.

Setiap anak membutuhkan kehadiran guru untuk menjadi gembalanya yang baik, agar ia dapat menghayati betapa Kristus juga hadir dalam hidupnya sehari-hari, menjadi Gembala Agungnya.

Ketujuh hal di atas akan membentuk seorang guru menjadi guru yang:

  • melayani penuh dedikasi, disiplin, dan tanggung jawab;
  • melayani dengan sikap yang bersahabat dan rendah hati;
  • didorong dengan keinginan memberi yang terbaik, sehingga terdorong untuk melayani dengan persiapan yang lebih maksimal, rendah hati, dan sebagainya; dan
  • mau terus belajar mengembangkan keterampilan, pengetahuan, kreativitasnya sebagai seorang guru, ia akan rajin belajar, dan berlatih.

Kategori Bahan PEPAK: Guru - Pendidik

Sumber
Judul Buku: 
Mereformasi Sekolah Minggu
Pengarang: 
Paulus Lie
Halaman: 
93 -- 99
Penerbit: 
PBMR ANDI
Kota: 
Yogyakarta
Tahun: 
2003

Komentar