Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs PEPAK
Loading

Sikap Anak Tentang Allah


Jenis Bahan PEPAK: Artikel

Ketika anak berpikir tentang Allah, pengertiannya mungkin belum matang bahkan terkadang kabur dan kontradiktif. Tetapi perasaan- perasaan anak tentang Allah biasanya cukup meyakinkan. Ada anak-anak yang pada usia sangat dini sudah belajar untuk takut akan Allah sebagai hakim yang sangat berkuasa, yang akan menghukum mereka untuk setiap kesalahan yang mereka perbuat. Anak yang secara terus-menerus didisiplin dengan ancaman, teriakan, dan hukuman akan mulai memikirkan Allah sebagai pribadi yang pemarah dan pendendam. Ada anak-anak lain yang belajar menghubungkan Allah dengan semua pengalaman menyenangkan dalam hidup mereka dan menganggap-Nya sebagai sahabat yang suka menolong dan peduli akan kesejahteraan mereka.

Hampir semua anak menaruh rasa kagum dan takjub pada Allah, meski ada sedikit perasaan tidak pasti. Meskipun anak dapat mengungkapkan kekaguman akan tindakan-tindakan Allah, tetapi cenderung hanya bersifat permukaan, bahkan kadang-kadang memiliki makna yang sama sekali berlawanan.

Sikap dasar anak terhadap Allah terutama terbentuk dalam proses interaksinya dengan orang dewasa, khususnya orangtuanya. Meskipun Allah selalu dilihat lebih berkuasa daripada orangtuanya, jenis hubungan yang dimiliki anak dengan orangtuanya mendominasi kesannya tentang Allah. Saat pemikiran anak menjadi lebih dewasa, berangsur-angsur ia mulai mentransfer perasaan-perasaannya tentang kemahakuasaan orangtua kepada idenya mengenai Allah.

Orangtua yang mudah kehilangan kesabaran terhadap anak-anaknya akan membuat mereka memiliki gambaran tentang Allah sebagai si Pemarah. Janji yang tidak dipenuhi, standar yang tidak konsisten, dan moralitas yang munafik membuat perasaan anak terhadap orangtuanya menjadi tidak pasti. Akibatnya, anak memunyai konsep bahwa Allah tidak dapat dipercaya. Ungkapan-ungkapan kasih, penghargaan terhadap minat anak, disiplin yang masuk akal dan konsisten, dan perilaku etis memberikan dasar yang positif bagi suatu konsep tentang Allah yang positif. Kesalahpahaman yang tidak dapat dihindarkan tentang Allah dapat diminimalkan jika anak memiliki lingkungan yang sehat dan kokoh untuk membentuk sikap-sikapnya.

Pikiran Anak Tentang Allah

Bagi anak-anak, gambaran yang menonjol dan hampir universal tentang Allah adalah bahwa Allah itu kurang lebih seperti manusia. Meskipun mereka mengakui kuasa-Nya yang besar, anak-anak cenderung memandang Allah sebagai kakek tua dengan jubah panjang dan jenggot putih "yang lebih panjang dari jenggot Sinterklas." Sejumlah besar imajinasi yang kekanak-kanakan ini jelas terlihat melalui penggambaran anak-anak tentang Allah, baik secara lisan maupun dalam bentuk gambar. Dia mungkin manusia yang paling kuat, atau lebih besar dari manusia mana pun. Tetapi dalam analisa akhir seorang anak, Dia tetap manusia dengan sifat-sifat manusia.

Allah Itu Baik

Meskipun anak akan mengatakan bahwa segala sesuatu yang Allah lakukan itu baik, beberapa tindakan Allah terkadang tampak agak mencurigakan. Anak-anak kelihatannya percaya bahwa Allah mirip dengan orang dewasa yang sering melakukan hal-hal aneh tanpa alasan yang jelas, meskipun anak itu diberitahu bahwa orangtua tahu yang paling baik. Anak-anak mungkin menerima hal itu begitu saja. Namun dalam situasi khusus, mereka dengan gigih akan menolak saat perilaku orang dewasa tidak sesuai dengan perbuatan yang dianggap paling baik sebagaimana diharapkan anak.

Sebagian dari masalah yang timbul dalam membedakan apakah Allah ataupun orangtua telah melakukan hal yang benar disebabkan oleh adanya kesulitan anak dalam memahami pandangan orang lain. Anak sering menerapkan motivasinya sendiri dalam menggambarkan tindakan Allah. Dengan amat logis, ia akan menyimpulkan bahwa Allah bertindak dengan cara yang mirip dengan bagaimana ia bereaksi. Pemahaman akan kemarahan Allah ditafsirkan sebagai perilaku yang kekanak-kanakan, seperti misalnya ketika ia marah atau frustrasi. Dengan demikian, dari sudut pandang anak, Allah dapat mengubah pikiran-Nya dan dapat melakukan kesalahan, tetapi pada saat yang bersamaan anak amat percaya akan perlindungan Allah.

Allah Itu Mahahadir

Banyak anak tampaknya memahami konsep kemahahadiran Allah, yang biasanya merupakan penghiburan pada saat-saat tertekan. Tetapi konsep ini didominasi oleh ketergantungan anak pada kualitas fisik sehingga sering kali agak menggelikan. "Apakah Allah benar-benar berada di sini bersama kita? Apakah Dia ada di balik gorden? Apakah Dia ada di saku saya?" Sifat nonfisik Allah sering membingungkan anak.

Allah Sebagai Roh

Bahkan ketika anak dapat memakai istilah-istilah yang "benar" untuk menggambarkan Allah sebagai roh, pemahaman mengenai kata itu amat terbatas. Stefani yang berusia 6 tahun dapat berkata, "Allah adalah roh". Ketika ditanya apa artinya, ia menjelaskan, "Itu berarti Dia tidak memiliki tubuh". Tetapi ketika didesak lebih lanjut untuk menjelaskan tentang Allah, ia menggambarkan-Nya begini, "Dia mengenakan jubah putih yang panjang, dan memiliki dagu serta kumis." Kata-kata saja ternyata tidaklah cukup untuk membawa Stefani melampaui batas-batas pemikiran konkret. Ia harus menggambarkan "Makhluk" ini sebagai tanpa tubuh yang memakai pakaian dan memiliki jenggot yang mengagumkan.

Kuasa Allah

Kualitas pemikiran anak secara literal menimbulkan masalah dalam memahami kuasa Allah. Anak-anak sering kali melihat Dia menggunakan "tangan" dan "lengan" atau melayang di udara seperti tukang sulap. Mereka mengharapkan Allah bekerja pada situasi eksternal. Misalnya, seorang anak kecil menafsirkan ide pemeliharaan Allah dengan pengertian bahwa bila ia menyeberang jalan, Allah akan menyediakan tempat yang aman dengan menghentikan mobil-mobil yang lewat di jalan tersebut.

Kasih Allah

Anak-anak tampaknya juga amat yakin bahwa Allah mengasihi setiap orang. Namun dalam situasi khusus mereka dengan amat mudah meyakini bahwa satu pribadi atau kelompok lebih disukai daripada yang lain. Dalam banyak cerita Alkitab, bagi anak, "pahlawan" layak memperoleh lebih banyak kasih daripada "penjahat". Dalam kehidupan sehari-hari, misalnya, anak sungguh-sungguh yakin bahwa ia lebih dikasihi Allah daripada orang lain. Biasanya, keluarga dan teman dekat juga dianggap termasuk dalam kelompok orang-orang yang paling istimewa bagi Allah.

Sekali lagi, pandangan anak yang terbatas membuatnya hanya memiliki sebuah sudut pandang. Seorang anak bisa dengan sungguh-sungguh menyatakan bahwa Allah juga mengasihi anak laki-laki dan perempuan di berbagai negara, tetapi kata-kata semacam ini bukanlah ukuran yang tepat bagi perasaannya yang sesungguhnya.

Surga

Surga juga ditafsirkan dengan imajinasi yang kekanak-kanakan. Bagi anak, surga adalah sebuah tempat secara fisik, yang terletak di suatu tempat di langit, mungkin di dalam atau di atas awan. Bagi beberapa anak, surga merupakan tempat kediaman yang kabur dan berkabut dari Allah. Beberapa anak lainnya memiliki gambaran yang menyenangkan bahwa surga adalah tempat bermain yang menakjubkan, anak-anak bebas melakukan apa saja yang mereka inginkan. Hal-hal yang menyenangkan tentang surga biasanya tidak selalu cukup untuk membuat anak sungguh-sungguh ingin pergi ke sana. Fungsi surga hanyalah tempat serba guna untuk menemukan binatang-binatang peliharaan atau keluarga yang sudah meninggal.

Pada kebanyakan keluarga Kristen, Allah bukanlah bagian integral dari pengalaman anak sehari-hari. Kecuali untuk doa makan dan doa menjelang tidur, terkadang pembacaan cerita Alkitab, Allah benar-benar digeser dari kehidupan anak. Secara umum, pola ini disebabkan karena orangtua tidak mengaitkan Allah dengan saat-saat penting dalam kehidupan mereka sendiri. Anak dan orang dewasa cenderung dikuasai oleh hal-hal yang bersifat jasmani sehingga tidak peduli dengan Allah yang tidak dapat dilihat secara kasat mata.

Diambil dan disunting dari:

Kategori Bahan PEPAK: Anak - Murid

Sumber
Judul Buku: 
Mengenalkan Allah Kepada Anak
Pengarang: 
Wes Haystead
Halaman: 
137--141
Penerbit: 
Yayasan Gloria
Tahun: 
1998

Komentar