|
Ya, anak-anak kita perlu mengenal Tuhan secara pribadi dalam hidup
mereka. Ini berarti bahwa kita sendiri harus mengenal Tuhan karena
Tuhan bisa menjadi lebih nyata bagi mereka jika Tuhan sudah nyata
bagi kita. Ada orang-orang yang menyekolahkan anak-anaknya ke
sekolah Kristen karena mereka ingin anak-anak mereka memeroleh
pendidikan Kristen meskipun mereka sendiri bukan orang Kristen. Dulu
saya pernah mengirim sebuah e-mail berbau Kristen kepada orang
seperti itu -- dan e-mail itu dikembalikan kepada saya. Saya sangat
terkejut. Saya hanya berharap jika putrinya bersekolah di sekolah
Kristen, setidaknya ibu itu sendiri harus mau membuka diri terhadap
pesan-pesan kristiani. Ternyata saya salah. Saya rasa ini cukup
tragis.
Anak-anak membutuhkan lebih dari sekadar nilai-nilai Kristen.
"Mengkristenkan" mereka tidaklah cukup. Apa pun itu tidak akan
benar-benar cukup, kecuali pengalaman Kristen yang dialami secara
pribadi dan sungguh-sungguh. Mereka membutuhkan persekutuan dengan
Tuhan, Pribadi yang menciptakan mereka. Tuhan jauh lebih mengenal
dan mengasihi mereka daripada kita. Hal itu memang sulit dipahami
jika kita sangat mengasihi mereka -- tapi jika ada Pribadi yang
lebih mengasihi mereka, maka tentu saja mereka harus mengenal-Nya,
bukan?
Kita hidup di dunia yang begitu menakutkan. Ada banyak sekali
pengaruh-pengaruh buruk di luar sana yang dapat menghancurkan
anak-anak kita, baik secara fisik, mental, emosional, atau secara
spiritual. Ada banyak hal yang menakjubkan juga di dunia ini -- dan
semuanya berasal dari Tuhan, Pencipta segala yang baik. Cara yang
paling bisa diandalkan untuk melindungi anak-anak kita supaya tidak
menjadi sasaran pengaruh buruk dan supaya mereka memeroleh hal-hal
yang baik adalah dengan membimbing mereka kepada Pribadi yang akan
memberikan fondasi yang kuat dalam hidup mereka.
Amsal 3:6 menasihati kita untuk mengakui-Nya di dalam segala jalan
kita dan Dia akan mengarahkan jalan kita. Sudah pasti setiap orang
tua menginginkan anaknya bisa melewati dunia yang berbahaya ini
dengan bimbingan seorang Pribadi yang akan memimpin mereka ke segala
yang benar, baik, dan bermanfaat. Jika kita menginginkannya, kita
sendiri harus mengakui Tuhan di hadapan mereka sejak mereka masih
kanak-kanak. Sehingga kemungkinan besar mereka akan mengakui Tuhan
seiring mereka bertumbuh dewasa. Anak-anak yang paling manis dan
lugu pun dapat masuk ke jalan yang salah saat mereka melalui
masa-masa labil di usia remaja mereka. Jujur, saya akan sangat
takut mengambil risiko membesarkan anak pada masa-masa ini tanpa
mereka memiliki pengetahuan akan Tuhan dan rencana-rencana-Nya untuk
hidup mereka.
Selama bertahun-tahun, saya mengetahui banyak orang tua yang
membiarkan anaknya memutuskan sendiri saat mereka dewasa nanti
apakah mereka akan pergi ke gereja atau tidak. Hal ini hanyalah
usaha untuk menghindari kewajiban dan itu tidak akan berhasil.
Mungkin hanya ada sedikit anak yang tumbuh tanpa pengaruh Kristen
yang kemudian mencari Tuhan sendiri. Namun, Anda sama saja dengan
berjudi jika melakukan hal itu, pasalnya ada banyak kemungkinan yang
mungkin akan terjadi. Mereka membutuhkan peran orang tua untuk
menunjukkan jalannya. Bahkan, mengirim anak-anak Anda ke sekolah
minggu atau kegiatan-kegiatan gereja yang lain pun tidaklah cukup.
Mereka perlu tahu bahwa kekristenan adalah sesuatu yang Anda yakini
dan seriusi -- bahwa kekristenan adalah sesuatu yang bukan hanya
bermanfaat di masa kecil, tapi juga di sepanjang hidup seseorang.
Jika tidak, mereka hanya akan percaya pada Tuhan seperti halnya
mereka percaya pada sinterklas, kelinci Paskah, dan peri gigi.
Kita menemukan hikmat lagi di dalam kitab Amsal, di mana kita
diperintah untuk "mendidik orang muda menurut jalan yang patut
baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari
pada jalan itu" (Amsal 22:6).
Jelas, tidak ada kebijakan asuransi dalam mendidik anak. Kita tidak
dapat menjamin bahwa anak-anak kita tidak tersesat meski kita telah
dengan setia menuntun mereka di jalan yang benar. Akan tetapi,
kesempatan mereka untuk berjalan di jalan yang benar akan meningkat
tajam jika kita mau dengan konsisten menujukkan mereka jalan kepada
Tuhan dan mendorong mereka untuk menjadikan Allah sebagai Tuhan
dalam hidup mereka. Tuhan akan memberi mereka petunjuk hidup, makna,
dan pemenuhan hidup. Tanpa Tuhan, hidup akan menjadi sebuah jalan
simpang-siur yang mustahil untuk dilalui, yang terlalu membingungkan
sehingga anak-anak berjalan kian-kemari tanpa tujuan, dan dengan
mudahnya menjadi mangsa orang-orang yang berniat jahat, yaitu mereka
yang sudah tercengkeram dalam lingkaran musuh Allah.
Tanpa Tuhan juga, apa pun yang ditawarkan dunia seakan-akan hampa
dan tak berarti. Bahkan anak-anak yang sepertinya memiliki banyak
potensi dan masa depan yang cerah dapat merasakan adanya jurang
kehampaan yang besar dalam jiwa mereka. Ada sebuah kutipan yang
terkenal, yang saya yakini keluar dari mulut Pascal, yang mengatakan
bahwa ada kekosongan yang diciptakan Tuhan dalam jiwa manusia yang
hanya bisa diisi oleh Tuhan sendiri.
Jika Tuhan tidak disertakan dalam kehidupan anak-anak, mereka
mungkin mencoba mengisi hidup mereka dengan banyak hal -- baik dan
jahat -- dalam usaha untuk mencapai kepuasan atas kebutuhan mereka.
Tapi pada akhirnya, tidak ada yang lebih berarti daripada Tuhan yang
adalah pusat dari segalanya.
Mungkinkah itu yang menjadi alasan mengapa banyak anak muda pada
zaman ini sangat tidak bahagia, bahkan sangat tertekan? Mungkinkah
hal itu ada hubungannya dengan sikap mereka yang cenderung merusak
diri? Mungkinkah hal itu yang menjadi alasan mengapa bunuh diri
menjadi hal umum di kalangan para remaja dan muda dewasa?
Jika kita tidak berhasil memberikan makna paling pokok yang mereka
butuhkan dalam hidup mereka, berarti kita membiarkan mereka jatuh
terperosok, tak peduli seberapa banyak kesenangan duniawi,
pengetahuan, kesempatan, dan keberuntungan yang mungkin kita berikan
kepada mereka. Sudah menjadi tanggung jawab kita sendiri untuk
membuat anak-anak kita mengenal Tuhan. Dia adalah Batu Karang yang
teguh di mana semua kehidupan harus dibangun di atasnya supaya bisa
bertahan dari badai hidup dan menjadi cahaya yang memberi inspirasi
kepada sesama yang menjalani kehidupan di masa yang akan datang.
(t/Setyo)
Sumber: Helium, http://www.helium.com/items/794773-children-personally-their-lives, Artikel Should Our Children Know God? oleh Ruth Woodhouse.
|