|
Saat kebutuhan guru akan informasi dan keterampilan ditetapkan,
berarti kita harus meresponi kebutuhan-kebutuhan tersebut dengan
strategi yang spesifik untuk melengkapi mereka agar dapat melakukan
tugasnya dengan lebih efektif. Kita sedang berbicara mengenai
memperlengkapi seseorang lebih dari sekadar memberikan pelatihan,
sebab orang lebih membutuhkan pelatihan pada saat mereka sedang
melakukan pekerjaan. Mereka membutuhkan pembekalan dan dukungan dari
sumber-sumber selain strategi pelatihan. Salah satu cara terbaik
untuk melengkapi seseorang dalam menyelesaikan pekerjaan adalah
melalui sebuah kelas atau lokakarya. Walaupun hal itu merupakan cara
yang tepat, tetapi tidak selalu menjadi strategi yang terbaik jika
digunakan dalam gereja yang memunyai sedikit jemaat, di mana potensi
kehadiran peserta dalam pertemuan tersebut akan relatif sedikit.
Meskipun demikian, tetaplah memungkinkan untuk bekerja sama dengan
gereja lain guna menyokong sebuah pertemuan atau lokakarya, di mana
semua guru akan diundang. Pertemuan serupa itu harus berfokus pada
informasi dan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan seluruh
peserta tanpa menghiraukan kurikulum yang digunakan dalam denominasi
masing-masing. Misalnya, lokakarya mengenai "Seni Tanya-Jawab".
Lokakarya tersebut dapat bermanfaat bagi seluruh guru, diterapkan
dalam berbagai tingkat kelas, dan dalam semua gereja. Atau lokakarya
untuk seluruh pengurus dapat difokuskan dalam sebuah topik
"Merencanakan dan Memimpin Rapat". Keterampilan yang diperlukan
dalam memimpin rapat rata-rata sama untuk setiap orang atau gereja.
Dengan demikian, apa pun tugas atau fokus dari para pengurus,
seorang pemimpin dapat memeroleh manfaat dengan mengembangkan
beberapa keterampilan dasar, seperti mempersiapkan agenda,
mendelegasikan tugas, membuat keputusan, dan berkomunikasi dengan
orang lain. Berikut ini beberapa faktor yang perlu diperhatikan
ketika mempersiapkan sebuah lokakarya untuk memperlengkapi guru-guru
sekolah minggu.
Pilihlah seorang pembicara yang menguasai dan terampil berkenaan
dengan materi yang akan disampaikan. Ia juga harus seorang yang
dapat secara maksimal melibatkan peserta dalam lokarya tersebut,
bukan seorang yang hanya sekadar menyampaikan materi yang telah
ditentukan.
Promosikan lokakarya dengan informasi yang jelas dan menarik,
sehingga peserta mengetahui apa yang diharapkan dan manfaat yang
akan mereka terima jika menghadiri pertemuan tersebut.
Buatlah target undangan yang jelas kepada orang yang sangat perlu
mengikuti lokakarya tersebut.
Berikan kesempatan kepada para peserta untuk berinteraksi dengan
peserta lainnya.
Rencanakan waktu bagi para peserta untuk mempraktikkan
keterampilan atau mendiskusikan informasi yang menjadi fokus
dalam lokakarya tersebut.
Persiapkan terlebih dahulu satu atau dua halaman makalah yang
berisi ringkasan butir-butir penting dari lokakarya tersebut,
termasuk saran-saran "bagaimana melakukannya" atau rekomendasi
sumber-sumber yang mendukung.
Aturlah tempat di mana lokakarya diadakan sehingga para peserta
dapat merasa nyaman.
Jika ada meja untuk menulis, peserta akan merasa lebih nyaman
dibandingkan hanya duduk di kursi tanpa meja.
Lokakarya tidak hanya memperlengkapi para guru dengan keterampilan
dan informasi, tetapi juga menyediakan ketentuan yang penting
mengenai pengarahan dan dukungan.
Paling tidak ada tiga sumber lain, selain kelas-kelas dan lokakarya,
yang mungkin secara khusus tepat untuk melengkapi para guru di
gereja yang jemaatnya sedikit. 1) buku-buku dan majalah-majalah,
2) teman yang berpengalaman, 3) dan pembekalan. Buku-buku dan
majalah yang ditujukan kepada para guru sekolah minggu dan pemimpin
dalam pendidikan Kristen, memuat berbagai hal yang akan menolong
mereka secara penuh, dan ini merupakan suatu cara untuk mendapatkan
informasi yang diperlukan. Tidak jarang terdapat banyak artikel yang
sangat fokus terhadap keterampilan tertentu. Mungkin bukan hal mudah
bagi setiap guru atau sekolah minggu untuk berlangganan majalah
tertentu maupun membeli buku-buku. Meskipun demikian, mungkin dapat
mengajukan kepada gereja untuk menganggarkan biaya berlangganan satu
atau dua majalah dan membeli dua atau tiga buku setiap tahunnya.
Orang yang paling mungkin memilih majalah atau buku-buku tersebut
adalah pendeta, satu atau lebih orang lain yang peduli pada
kebutuhan para guru dan pemimpin, dan mereka yang tertarik untuk
membaca dan membagikan informasi tentang pendidikan Kristen. Setelah
membaca sumber-sumber itu setiap bulannya, mereka dapat membagikan
artikel-artikel atau bab-bab yang penting kepada setiap individu
yang sekiranya akan mendapatkan banyak manfaat dengan membaca buku-
buku tersebut.
Ada saat-saat di mana teman yang berpengalaman dapat menjadi sumber
yang sangat berharga untuk memperlengkapi guru-guru yang belum
berpengalaman. Teman-teman tersebut mungkin anggota dari gereja yang
sama atau yang berbeda. Beberapa orang yang sepakat untuk melayani
sebagai guru sekolah minggu harus mengenal dengan baik guru-guru
lain yang sudah terlebih dahulu melakukan tugas yang sama dengan
mereka. Pendeta pun dapat mendorong beberapa orang agar menghubungi
teman mereka untuk meminta bimbingan dan dukungan saat mereka mulai
melakukan pelayanan di posisi yang baru. Bahkan ada saat-saat yang
tepat bagi pendeta untuk melayani sebagai "matchmaker" (comblang)
yang menyatukan dua orang sebagai rekan pelayanan, di mana yang satu
lebih berpengalaman untuk mendukung mereka yang belum berpengalaman.
Saya teringat akan dua situasi di mana strategi seperti di atas
berhasil dengan baik. Di sebuah gereja, pemimpin sekolah minggu yang
baru memiliki seorang teman yang telah melayani selama beberapa
tahun sebagai pemimpin di sekolah minggu yang lain. Sebelum dia
menerima posisi itu, dia menghubungi temannya untuk belajar beberapa
tanggung jawab sebagai seorang pemimpin sekolah minggu. Saat dia
memulai tugasnya, secara rutin dia bertemu dengan temannya untuk
membicarakan situasi yang dia hadapai saat itu dalam pelayanannya.
Situasi kedua, seorang ayah setuju untuk mengajar di kelas kecil
sebuah sekolah minggu. Dia tidak memiliki pengalaman sebelumnya
selain kehadirannya yang jarang di sekolah minggu sewaktu dia masih
anak-anak. Dia memiliki motivasi yang tinggi untuk melakukan
pekerjaan mulia ini karena anak lelakinya juga mengikuti sekolah
minggu. Dia menyadari bahwa dia membutuhkan pertolongan dan
memutuskan untuk menghubungi anggota jemaat yang adalah seorang guru
kelas lima di sebuah sekolah dasar. Guru yang dimintai tolong ini
tidak hanya merasa tersanjung karena dimintai nasihat, tetapi
tertantang pula untuk menolong guru baru ini. Setelah beberapa
waktu, dua orang ini menjadi teman akrab yang saling membagikan
pengalaman dan minat mereka. Si guru sekolah dasar merasa tidak
dapat berkomitmen untuk mengajar secara teratur di hari minggu,
tetapi merasa tertantang dan sangat puas dapat menolong orang lain.
Guru sekolah minggu yang belum berpengalaman senang bisa belajar
mengenai kemampuan, minat, dan kebutuhan anak. Dia belajar tentang
apa yang diharapkan dari kelompok umur yang diajarnya dan kegiatan
apa saja yang tepat untuk digunakan di kelas ini.
Dalam dua situasi di atas, tidak ada dalam perencanaan atau struktur
resmi yang memfasilitasi orang-orang tersebut untuk menjalin
hubungan dan bertemu. Hal ini murni merupakan inisiatif dari orang
yang belum berpengalaman tersebut. Meskipun demikian, dengan sedikit
perencanaan dan pemikiran ke depan, ada banyak orang yang dapat
ditolong jika seseorang dapat mengusulkan atau paling tidak
memberikan beberapa nama orang yang telah berpengalaman, yang
mungkin bersedia untuk membimbing para guru baru ini dalam memulai
tanggung jawab barunya.
Pembekalan adalah pertemuan yang dipimpin oleh pendeta, pemimpin
sekolah minggu, guru senior, atau pemimpin lain dalam sekolah minggu
yang membantu mempersiapkan kelas yang akan diadakan. Pembekalan
merupakan strategi yang sangat menolong guru yang telah
berpengalaman maupun yang masih baru. Sebagai contoh, pendeta dapat
bertemu dengan pemimpin komisi pendidikan Kristen selama beberapa
hari atau satu minggu sebelumnya untuk mengadakan rapat di komisi
tersebut. Walaupun mungkin hanya ada 3 -- 6 orang dalam komisi
tersebut dan mereka mungkin mengenal satu sama lain dengan baik,
tetapi tetaplah penting untuk merencanakan sebuah rapat sehingga
segala permasalahan dapat ditelusuri, program dapat direncanakan,
dan keputusan dapat dibuat. Dengan persiapan seperti itu, setiap
orang yang hadir dapat merasa pertemuan tersebut tidaklah sia-sia,
dan ada sesuatu yang dihasilkan. Pada waktu pembekalan, yang mungkin
dapat memakan waktu kira-kira satu jam, ada beberapa hal yang dapat
dibicarakan.
Bagaimana penilaian pemimpin komisi sekolah minggu mengenai hasil
dari pertemuan sebelumnya?
Topik apa dan bagian manakah dari Alkitab yang dapat dijadikan
fokus pada ibadah pembukaan, yang akan menolong peserta rapat
mengenal dengan lebih jelas lagi dasar-dasar pendidikan Kristen
dalam gereja?
Hal-hal terpenting apa yang perlu didiskusikan dalam pertemuan
tersebut? Masalah-masalah apa yang menyangkut hal-hal terpenting
tersebut (waktu, orang-orang, anggaran, dan sebagainya)?
Jika ada anggota komisi yang tidak melaksanakan tanggung
jawabnya, bagaimana kita dapat menolongnya?
Program apa saja yang akan dilaksanakan beberapa bulan mendatang,
yang harus dipersiapkan dan direncanakan terlebih dahulu?
Pembekalan bagi para guru memiliki tujuan dan fokus yang
berbeda-beda, tetapi akan tetap bermanfaat. Di suatu sekolah minggu,
seminggu sekali kepala sekolah mengadakan pertemuan dengan setiap
tim dari empat tim guru (pra TK, TK, SD, dan remaja).
Pertemuan-pertemuan ini tidak hanya untuk melaksanakan rencana
pelajaran bulan berikutnya. Dia bertemu selama kurang lebih satu
setengah jam dengan setiap tim di waktu dan tempat yang nyaman bagi
semua orang. Selama satu bulan pengajaran, mereka melakukan banyak
hal bersama-sama.
Mereka mempelajari Alkitab dengan level untuk orang dewasa karena
mereka sendirilah yang akan mengajarkan pelajaran tersebut dalam
satu pertemuan atau mungkin lebih.
Mereka mendiskusikan kebutuhan murid-murid tertentu dan cara-cara
untuk meresponi mereka.
Mereka mengulas satu atau dua sumber yang direkomendasikan dalam
kurikulum yang digunakan untuk pelajaran bulan berikutnya.
Mereka saling membagikan ide-ide dan sumber-sumber yang mereka
miliki, yang mungkin melengkapi apa yang disarankan dalam
kurikulum.
Mereka mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan teologis dan
alkitabiah untuk membangun beberapa kejelasan dalam pikiran
mereka sebelum menggabungkannya dengan pelajaran yang akan
diberikan kepada anak-anak.
Dan, mereka berdoa bersama untuk diri mereka sendiri, anak-anak
yang mereka ajar, pelayanan di gereja mereka, dan untuk apa saja
yang diperlukan atau yang berhubungan dengan kebutuhan saat ini.
Pembekalan tidak hanya menyiapkan seseorang dengan pengetahuan dan
keterampilan yang lebih banyak lagi supaya lebih diperlengkapi dalam
memimpin suatu pertemuan atau mengajar di kelas; pembekalan juga
memberikan kontribusi dalam membangun komunitas dan hubungan yang
membangun di antara mereka yang hadir dan bekerja bersama-sama dalam
tugas yang diberikan.
Dalam kelas-kelas, seminar, buku-buku dan majalah-majalah,
teman-teman yang berpengalaman, dan pembekalan, ada
strategi-strategi lain yang sangat membantu untuk melengkapi para
pemimpin dan guru. Retret yang menyertakan waktu untuk mempelajari
dan memuji Tuhan, seminar sepekan untuk pengembangan kepemimpinan,
video mengenai pendidikan kristen, pengamatan tentang pengajaran di
dalam kelas-kelas, dan studi kasus untuk mendiskusikan
masalah-masalah pendidikan -- semua berpotensi untuk melengkapi
para guru dan pemimpin dengan pengetahuan dan kemampuan yang
diperlukan untuk memampukan mereka melayani dengan efektif. Semua
strategi belum tentu bermanfaat bagi setiap orang. Tergantung pada
kebutuhan, minat, gaya belajar, dan waktu yang dimiliki oleh
seseorang. Satu strategi akan lebih tepat bagi seseorang dan
strategi lain untuk orang yang lainnya lagi. Sangat penting untuk
memertimbangkan berbagai strategi dan mencoba untuk memadankan
dengan orang-orang yang berbeda. (t/Ratri)
Sumber: Christian Education in The Small Church, Donald L. Griggs & Judy McKay Walter, , Artikel Equipping and Nurturing Educational Leaders, halaman 61 -- 68, Judson Press Valley Forge, 1988.
|