SITUS INI ADALAH SITUS PEPAK VERSI LAMA.
SEJAK 1 JUNI 2008 KAMI MENGGUNAKAN SITUS BARU.
KLIK DI SINI
UNTUK BERKUNJUNG KE SITUS PEPAK VERSI BARU.

 
PEPAK PEPAK
Selasa 7 Oktober 2008   
    Utama | Pustaka | e-BinaAnak | e-BinaGuru  
         Pustaka  
  Utama > Pustaka > Kesaksian Guru  

Cari di Pustaka Cari di Pustaka
   

Topik TOPIK
  Pelayanan Anak Umum (98)
Pelayanan Sekolah Minggu (74)
Guru - Pendidik (148)
Anak - Murid (170)
Metode dan Cara Mengajar (160)
Kurikulum - Pedoman Mengajar (15)
Fasilitas Pelayanan Anak (15)
Penginjilan Anak - Misi Anak (55)
Pengajaran - Doktrin (277)
Doa - Musik - Ibadah (80)
Program Khusus Anak (43)
Perayaan Hari Raya Kristen (186)
Aktivitas dan Ketrampilan Anak (110)
Literatur untuk Anak (11)
Organisasi Pelayanan Anak (4)
Sudut untuk Anak (27)
Kesaksian Guru (48)
Humor (10)

Total 1448 tulisan dalam 18 topik.
 

Frequently Asked Questions FAQ
  Bagaimana menghubungi Tim PEPAK? jawabannya  

Subscribe e-BinaAnak / e-BinaGuru Berlangganan
e-BinaAnak / e-BinaGuru

Kesaksian Guru

Tanggal terbit:
9-1-2008

Topik:
Kesaksian Guru

Tipe Bahan:
Artikel

Tulisan ini pernah dimuat di:
e-BinaAnak edisi 364
Tampilan cetak
Beri tahu teman Anda
Kirim tulisan ini ke email Anda


Tiga tahun yang lalu, saya kembali mengajar sekolah minggu setelah enam tahun absen. Tujuan utama saya adalah mengajar tentang Allah melalui perbuatan-perbuatan yang kita lakukan setiap hari. Karena peraturan pemerintah mengenai doa yang dilakukan di sekolah negeri masih menjadi perdebatan hangat, saya mendapati banyak guru yang menghindari peraturan keagamaan itu. Yang lainnya, seperti saya, malah lebih menganggap bahwa Tuhan adalah anggota yang boleh datang ke setiap kelas. Dengan berbagai penekanan yang ditempatkan pada kreativitas di kelas, saya mulai bertanya-tanya, "Bagaimana setiap orang bisa kreatif tanpa kehadiran Allah? Bahkan guru tidak bisa melakukan yang terbaik bila kerohaniaanya tidak bertumbuh." Masalahnya adalah bagaimana menyatukan perasaan terhadap Tuhan tanpa menjadi begitu tertutup. Saya memecahkan masalah itu dengan melakukan infiltrasi (penyusupan)! Alasan saya, "Bila Komunis bisa melakukannya, maka orang Kristen pun bisa melakukan lebih dari mereka!"

Saya memulainya dengan menulis suatu ayat Alkitab berdasarkan alfabet di papan tulis saya. Satu ayat satu hari diulangi di ruang kelas saya. Saya terdorong untuk melakukan lebih banyak lagi setelah terjadi suatu peristiwa saat salah satu murid berkata, "Kami lupa ayat hafalan kami kemarin!"

Saat hari "Thanksgiving" berlalu, dan tidak ada program pertemuan yang direncanakan, departemen kami mulai membuat persiapan-persiapan untuk acara Paskah. Anak-anak perempuan anggota divisi Ekonomi Keluarga menyiapkan jamuan makan siang untuk seluruh pelayan di komunitas itu. Mereka yang membuat roti berbentuk kelinci itu bekerja keras supaya roti kelinci itu sempurna bentuknya. Dia melihat ke papan tulis dan kemudian bertanya, "Bu ..., saya tahu mengapa Anda menuliskan ayat di papan tulis itu. Saya membutuhkan ayat itu hari ini." Ayat itu adalah: "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku" (Filipi 4:13).

Hal ini menandakan bahwa ayat itu dan ayat-ayat lainnya mendorong saya untuk mencoba lebih giat lagi untuk menyatakan kepada Tuhan, bahwa Dia diperlukan di sana. Anak-anak tampaknya menghargai kerohanian yang lebih dalam lagi. Salah satu anak menunjukkan kepada saya suatu doa yang sangat penting yang telah ditulisnya, tetapi ia takut menunjukkannya kepada siapa pun. Tulisan itu benar-benar suatu mazmur modern. Kami menggunakannya di acara "Thanksgiving" berikutnya.

Pada saat saya menjadi ketua bazar, saya mulai bertanya-tanya bagaimana saya bisa menempatkan Tuhan dalam acara ini. Ternyata sangat mudah, temanya adalah nama daerah kami, Ohio, dan moto dari daerah kami adalah kutipan dari Alkitab, "Bersama dengan Allah, tidak ada yang mustahil". Salah satu anggota divisi Ekonomi Keluarga membuat peta Ohio yang indah dari beludru dan menuliskan moto Ohio dalam peta itu. Peta ini dibingkai dan sekarang digantung sebagai hiasan dinding di perpustakaan sekolah.

Musim gugur ini saya mulai mengajar di sekolah lain, yang pasti akan lebih menantang dari sekolah sebelumnya. (t/Ratri)

Sumber:
  • God in the Classroom, Sue Dallas, , Artikel Teacher`s Witness, halaman 40 -- 41, Good News Publisher, Illinois 1970.


  • Berikut ini beberapa tulisan yang bertopik sama:
  • Sumber yang Melimpah
    15-5-2008 | Artikel
  • Pendeta yang Mengajar Sekolah Minggu
    22-4-2008 | Artikel
  • "Hanya" Seorang Pelayan Anak-Anak
    24-1-2008 | Artikel
  • Ketaatan
    18-1-2008 | Artikel
  • Kesaksian: Natal Sekolah Minggu
    13-12-2007 | Artikel
  • Menyentuh Masa Depan
    23-7-2007 | Artikel
  • Mata-Mata
    23-7-2007 | Artikel
  • Setiap Orang adalah Pencerita
    23-7-2007 | Artikel
  • Melatih Anak untuk Peka
    23-7-2007 | Artikel
  • Pelayanan Anak Jalanan: Mereka Juga Ingin Punya Masa Depan
    2-3-2007 | Artikel

  • Tentang Kami | Kontak Kami | Buku Tamu | Promo | Situs YLSA | Links | FAQ | Sumber | Info Anda
     

    SITUS INI ADALAH SITUS PEPAK VERSI LAMA.
    SEJAK 1 JUNI 2008 KAMI MENGGUNAKAN SITUS BARU.
    KLIK DI SINI UNTUK BERKUNJUNG KE SITUS PEPAK VERSI BARU.

     
    Disclaimer | © 2008 Yayasan Lembaga SABDA | Email: pepaksabda.org |Laporan Masalah/Saran

    ^ Ke Atas