SITUS INI ADALAH SITUS PEPAK VERSI LAMA.
SEJAK 1 JUNI 2008 KAMI MENGGUNAKAN SITUS BARU.
KLIK DI SINI
UNTUK BERKUNJUNG KE SITUS PEPAK VERSI BARU.

 
PEPAK PEPAK
Jumat 22 Agustus 2008   
    Utama | Pustaka | e-BinaAnak | e-BinaGuru  
         Pustaka  
  Utama > Pustaka > Janji: Uji Hati Saya  

Cari di Pustaka Cari di Pustaka
   

Topik TOPIK
  Pelayanan Anak Umum (98)
Pelayanan Sekolah Minggu (74)
Guru - Pendidik (148)
Anak - Murid (170)
Metode dan Cara Mengajar (160)
Kurikulum - Pedoman Mengajar (15)
Fasilitas Pelayanan Anak (15)
Penginjilan Anak - Misi Anak (55)
Pengajaran - Doktrin (277)
Doa - Musik - Ibadah (80)
Program Khusus Anak (43)
Perayaan Hari Raya Kristen (186)
Aktivitas dan Ketrampilan Anak (110)
Literatur untuk Anak (11)
Organisasi Pelayanan Anak (4)
Sudut untuk Anak (27)
Kesaksian Guru (48)
Humor (10)

Total 1448 tulisan dalam 18 topik.
 

Frequently Asked Questions FAQ
  Bahan apa saja yang bisa Anda dapatkan dalam Situs PEPAK? jawabannya  

Subscribe e-BinaAnak / e-BinaGuru Berlangganan
e-BinaAnak / e-BinaGuru

Janji: Uji Hati Saya

Tanggal terbit:
4-1-2008

Topik:
Pengajaran - Doktrin

Tipe Bahan:
Bahan Mengajar

Tulisan ini pernah dimuat di:
e-BinaAnak edisi 363
Tampilan cetak
Beri tahu teman Anda
Kirim tulisan ini ke email Anda


Refleksi untuk Orang Tua/Guru

Sejak kecil kita diajar bahwa janji adalah sesuatu yang suci. "Jangan berjanji bila kamu tidak dapat menepatinya" adalah nasihat yang diturunkan dari generasi ke generasi. Mengapa? Tidak menepati janji dapat membuat kita kehilangan kepercayaan dari orang-orang yang mengandalkan kita. Kita cenderung untuk tidak memercayai kata-kata seseorang yang tidak dapat atau tidak mau mewujudkan kata-kata dalam tindakan.

Namun, kita dapat berbicara dengan penuh keyakinan tentang Sang Pencipta yang selalu menepati janji-Nya. Salah satu karakter Allah yang paling menonjol adalah bahwa Dia senantiasa teguh memegang janji. Kitab Mazmur banyak berbicara tentang "kesetiaan" Allah kepada kita. Janji-janji Allah senantiasa lebih mulia dan agung dibandingkan dengan apa yang kita inginkan atau harapkan. Orang timpang dalam Alkitab ingin agar ia dapat berjalan. Namun, Yesus memberinya lebih: Dia mengampuni dosa-dosanya dan ia dapat berjalan sambil membawa tilamnya.

Ada hal-hal tertentu yang tidak pernah Allah janjikan. Allah tidak berjanji akan membebaskan kita dari hal-hal yang merupakan bagian kehidupan, seperti kekecewaan, ketakutan, kegagalan, pergumulan, penderitaan, kepedihan, iri hati, ketidakadilan, dan pencobaan. Lalu hal-hal itu dipadukan dengan sukacita, damai sejahtera, kepuasan, kasih, kesukaan, dan kemenangan sehingga terbentuklah kisah hidup manusia. Bila Anda menyelidiki karakter Allah yang senantiasa setia pada janji-Nya dan kedalaman janji-janji itu, Anda akan menemukan bahwa janji-janji Allah bagaikan batu karang teguh yang mampu menghadapi tantangan hidup ini.

Refleksi untuk Seluruh Anggota Keluarga/Kelas

Berjanji adalah sesuatu yang serius sebab orang memercayai kita saat kita berjanji. Terkadang Tuhan menepati janji-janji itu, meski dengan cara yang tidak kita pikirkan. Terkadang kita punya alasan yang tepat mengapa kita tidak dapat menepatinya dan terkadang pula kita tidak punya alasan sama sekali. Kita sering merasa jengkel bila seseorang tidak dapat menepati janjinya, apalagi tanpa alasan yang tepat.

Janji-janji Allah sangat berbeda dengan janji-janji manusia. Bagi Allah, janji adalah sesuatu yang serius; Allah tidak pernah memberi janji yang tidak akan ditepati-Nya. Allah tidak berjanji kepada kita bahwa hidup ini akan berjalan mulus atau segala sesuatu akan selalu adil, tetapi janji-janji Allah membantu kita untuk menjalani hidup sebaik mungkin dan untuk menemukan kebahagiaan dalam menjalaninya!

Pelajaran

  1. Abraham memperoleh janji Allah mendapat seorang anak (Kejadian 15:1-5).

    Abraham telah membuktikan bahwa ia adalah seorang hamba yang taat kepada Allah melalui sebuah peristiwa yang berkaitan dengan Raja Sodom.

    1. Apa bedanya janji Allah kepada Abraham dengan permintaan Abraham?
    2. Ceritakanlah suatu peristiwa ketika Allah menjawab doamu lebih dari yang kamu minta.
  2. Janji tentang Firdaus (Lukas 23:39-43).

    Yesus difitnah dan dijatuhi hukuman mati di kayu salib. Menjelang akhir hidup-Nya, Dia digantung di antara dua orang yang dikenal sebagai penjahat.

    1. Mengapa Yesus menjanjikan Firdaus kepada salah seorang penjahat itu?
    2. Hal-hal apa saja yang membuat kamu merasa tidak layak menerima janji-janji Allah dan tidak berani mengklaimnya bagi dirimu sendiri?

    Pikirkanlah bagaimana penjahat yang digantung di sebelah Yesus memiliki keberanian untuk mengajukan permohonan. Apakah permohonan yang kamu ajukan kepada Allah hari ini?

  3. Janji Roh Kudus (Lukas 24:36-49).

    Yesus sudah disalibkan dan dibangkitkan. Dia telah menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sebelum ini, dan mengadakan percakapan penting dengan dua orang murid-Nya dalam perjalanan ke Emaus.

    1. Mengapa Yesus menginginkan agar murid-murid-Nya tetap tinggal di Yerusalem?
    2. Sering kali, menunggu merupakan hal yang sukar. Adakah kamu sedang menunggu pimpinan Allah dalam mengambil sebuah keputusan atau memahami sesuatu? Apakah itu?
  4. Janji untuk seluruh keluarga (Kisah Para Rasul 2:29-40).

    Roh kudus telah turun ke atas orang-orang yang berkumpul di Yerusalem pada hari Pentakosta. Petrus diberi keberanian untuk tidak lagi bersembunyi dan berkhotbah tentang ketuhanan Yesus Kristus.

    1. Apa yang diminta dari seseorang yang mencari Allah di dalam Yesus?
    2. Bagaimana kita dapat mengklaim janji Allah bagi diri kita sendiri hari ini?
  5. Janji bagi mereka yang bertahan dalam ujian (Yakobus 1:12-21).

    Mahkota dari rangkaian daun atau bunga dikenakan oleh orang-orang Yahudi sebagai lambang sukacita dan penghormatan pada pesta-pesta dan pernikahan.

    1. Kepada siapakah Allah menjanjikan "mahkota kehidupan?"
    2. Apakah yang sedang kamu hadapi hari ini?
  6. Janji yang mulia. (1 Petrus 1:3-9)

    1. Ke mana janji-janji Allah memimpin kita pada akhirnya?
    2. Apakah janji-janji yang kamu buat kepada Allah?
Sumber:
  • Belajar Bersama, Janice Y. Cook, , halaman 131 -- 133, Yayasan Gloria, Yogyakarta, 1999.


  • Berikut ini beberapa tulisan yang bertopik sama:
  • Siapa yang Bertakhta di Hatimu?
    12-6-2008 | Bahan Mengajar
  • Diberkati untuk Menjadi Berkat
    5-6-2008 | Bahan Mengajar
  • Memberi Itu Menyenangkan Semua Orang
    29-5-2008 | Bahan Mengajar
  • Yang Kecil Dapat Menjadi Besar
    23-5-2008 | Bahan Mengajar
  • Yesus Naik ke Surga
    9-5-2008 | Bahan Mengajar
  • Yesus dan Nikodemus
    1-5-2008 | Bahan Mengajar
  • Materi Pelajaran Kelas Bayi September 2005: Aku Bertumbuh Seperti Yesus
    3-4-2008 | Bahan Mengajar
  • Orang Samaria yang Baik Hati
    21-2-2008 | Bahan Mengajar
  • Pelajaran-Pelajaran Mengenai Alkitab
    15-2-2008 | Bahan Mengajar
  • Mengukur Cinta Kasih Tuhan
    8-2-2008 | Bahan Mengajar

  • Tentang Kami | Kontak Kami | Buku Tamu | Promo | Situs YLSA | Links | FAQ | Sumber | Info Anda
     

    SITUS INI ADALAH SITUS PEPAK VERSI LAMA.
    SEJAK 1 JUNI 2008 KAMI MENGGUNAKAN SITUS BARU.
    KLIK DI SINI UNTUK BERKUNJUNG KE SITUS PEPAK VERSI BARU.

     
    Disclaimer | © 2008 Yayasan Lembaga SABDA | Email: pepaksabda.org |Laporan Masalah/Saran

    ^ Ke Atas