|
Sekolah minggu mungkin merupakan organisasi yang paling sibuk saat
bulan Desember tiba. Bagaimana tidak, sejak bulan November
guru-gurunya sudah mulai rapat sana-sini untuk menentukan acara
Natal, hadiah-hadiah, pementasan, kostum, dana, dan lain-lain.
Tahun ini, seperti tahun-tahun biasanya, sekolah mingguku tidak
mengadakan acara yang spektakuler atau acara yang besar-besaran.
Tidak ada panitia Natal, tidak ada kesibukan mendekor ruangan Natal,
atau mencari persewaan kostum-kostum Natal. Tetapi bukan berarti
kami tidak memaknai Natal dan tidak mengajak anak untuk antusias
merayakan Natal. Bukan itu maksud kami. Kami hanya ingin mengajak
mereka larut dalam kesederhanaan seperti yang terjadi lebih dari dua
ribu tahun yang lalu. Kesederhanaan bukan dalam hal tidak
mengeluarkan banyak uang, tetapi bagaimana di masa Natal anak-anak
tidak lelah dengan seabreg latihan atau agar anak-anak tidak bingung
harus menggunakan baju baru di acara Natal sekolah minggu. Di mana
kita mengarahkan mereka kepada makna Natal yang sebenarnya.
Tahun ini, kami ingin anak-anak memaknai kasih yang ada dalam
peristiwa kelahiran Yesus. Sepanjang bulan Desember, ibadah sekolah
minggu tentu saja mengangkat kisah-kisah Natal dan menyanyikan
lagu-lagu Natal. Jadi perayaan Natal sekolah minggu kami bukan hanya
sekali dalam bulan Desember, tetapi tiap ibadah sekolah minggu.
Selain ibadah, dalam setiap ibadah ada kegiatan-kegiatan Natal.
Minggu pertama anak-anak kelas besar diminta untuk membuat puisi
Natal yang bertemakan kasih Natal, anak-anak kelas kecil diajak
untuk mewarnai gambar peristiwa kelahiran Yesus. Sebelum kegiatan
dimulai, terlebih dahulu disampaikan melalui pelajaran bahwa
kedatangan Yesus adalah bukti kasih Allah pada manusia.
Minggu kedua, anak-anak diajar menyatakan kasih mereka kepada orang
lain dengan cara membuat kartu Natal. Kartu Natal tahun ini akan
ditujukan kepada Bapak Gembala. Puisi yang sudah dibuat bisa
dipindahkan ke dalam kartu Natal tersebut. Sedangkan untuk anak
kelas kecil, setiap guru harus berupaya terlebih dahulu dengan
membuat kartu yang sudah jadi lengkap dengan gambar yang siap
diwarnai dan tulisan selamat hari Natal di dalamnya. Lebih seru lagi
jika mereka diminta membubuhi tanda tangan mereka. Pastilah dengan
serius atau dengan gaya layaknya orang dewasa, mereka akan mencari
model tanda tangan mereka untuk dibubuhi di kartu tersebut.
Minggu ketiga, setelah pelajaran disampaikan dalam kelas terpisah,
anak-anak kelas besar maupun kecil diajak untuk menceritakan kembali
arti Natal bagi mereka. Bagi anak-anak yang belum sekolah, mereka
boleh menyanyikan satu lagu Natal.
Minggu keempat, tidak ada ibadah sekolah minggu karena digabung
dengan perayaan Natal gereja kami. Saat ini saat yang
ditunggu-tunggu. Mereka akan mementaskan drama Natal yang sudah
dilatih setiap hari minggu sore sepanjang bulan Desember. Dramanya
tidak ada hafal-menghafal dialog, jadi lebih mudah bagi mereka untuk
melakonkan. Bukan hanya kelas besar saja loh yang berperan, tetapi
juga kelas kecil, bahkan yang belum sekolah pun tidak mau
ketinggalan. Hari itu juga akan menjadi hari yang dinantikan karena
ada pembagian hadiah Natal tentunya.
Tanggal 31 Desember, rangkaian perayaan Natal di sekolah minggu kami
ditutup dengan cerita mengenai sukacita Natal. Dalam kesempatan itu
pula, kami mengajak anak-anak bersukacita dengan bertukar hadiah
satu sama lain atau roll kado. Anak-anak membawa kado seharga
Rp 2.000,00 per anak dan nantinya akan ditukarkan dengan kado lain
dari teman-temannya. Isi kado harus ada ucapan selamat Natal dan
sebuah ayat untuk memasuki tahun yang baru.
Nah, gitu deh perayaan Natal di sekolah minggu gerejaku. Gimana
dengan yang lain? Perayaan Natal di sekolah minggunya kegiatannya
apa aja? "Sharing" donk biar jadi masukan buat kita-kita di
tahun-tahun mendatang ....
Oh iya, tolong kritik dan sarannya untuk metode perayaan Natal di
sekolah minggu yang sudah saya sharingkan di atas ya ..., thanks
before.
Kiriman dari: Love
Bisa dilihat juga di: http://www.sabdaspace.org/natal_sekolah_minggu
|