|
Berikut ini petunjuk-petunjuk dari seorang guru yang memberkati saya
mengenai teknik berkomunikasi saat mengajar.
Jangan pikirkan mengenai kesan apa yang Saudara berikan. Pikirkan
untuk menyatakan pandangan Saudara kepada para pendengar Saudara.
Pikirkan keadaan mereka itu.
Jangan khawatir mengenai gerakan-gerakan tangan Saudara.
Persiapkan diri Saudara. Pelajarilah bahan itu sebaik-baiknya.
Pikirkanlah itu seluruhnya. Jadikanlah hal itu sesuai dengan
pribadi Saudara. Hiduplah sesuai dengan itu.
Bersikaplah wajar, tetapi lupakanlah diri Saudara saat
menyampaikan pandangan-pandangan Saudara. Berusahalah
sebaik-baiknya agar Saudara didengar dan dipahami.
Saran-saran praktis ini sangat berharga bagi guru-guru sekolah
minggu. Akan tetapi, ada beberapa hal lainnya yang sama pentingnya.
Untuk merumuskannya, saya perlu kembali mengingatkan pengaruh yang
paling besar atas kehidupan saya kepada guru-guru. Satu hal yang
sama mereka miliki yaitu cara berbicara mereka menyatakan bahwa
mereka itu milik Kristus dan sedang bertumbuh kepada-Nya dalam
segala hal. Inilah rumusan singkat dari ciri-ciri percakapan mereka
yang sesuai dengan Kristus.
Kehidupan dan perbuatan mereka menyokong percakapan mereka. Mereka
tidak menjadikan kami merasa seolah-olah mereka itu sempurna, tetapi
orang-orang berdosa yang diselamatkan oleh Kristus. Mereka mengakui
kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangannya. Di dalam sikap
rendah hati serta penuh pertobatan, mereka memiliki satu keyakinan
akan Kristus.
Mereka tidak membatasi perhatian mereka kepada ruangan kelas atau
gereja saja, tetapi pada segala segi kehidupan.
Mereka senantiasa berusaha keras untuk bersaksi bagi Kristus sebagai
Jalan, Kebenaran, dan Hidup. Mereka menyadari bahwa sama seperti
Kristus harus diterima dengan iman sehingga kita memiliki
keselamatan yang kekal, demikian juga kita harus menerima-Nya dengan
iman. Bersama-sama Paulus, mereka melaksanakan hal melupakan segala
perkara yang di belakang dan berlari-lari kepada sasaran yang di
atas di dalam Kristus Yesus.
Mereka tidak pernah meninggalkan jalan lurus dan sempit untuk
menyeleweng ke samping atau menyeberang kepada tafsiran khusus atas
azas kepercayaan yang disenanginya saja. Dengan kata-kata lain,
untuk mengutip dari Paulus, mereka memunyai kesetiaan yang sejati
kepada Kristus (2Korintus 11:3).
Tingkah laku mereka nyata di dalam percakapan mereka -- kasih dari
kehidupan Kristen, semangat bagi hal itu sebagai hidup yang
berkelimpahan, kewaspadaan, kesabaran, kejujuran untuk mengakui
bila mereka sungguh-sungguh tidak mengetahui sesuatu, pengakuan atas
kegagalan mereka sendiri, sikap yang penuh pengorbanan.
Mereka tidak pernah berbantah-bantahan saat mengemukakan kebenaran
itu, tetapi penuh dengan kasih dan menarik hati. Mereka tidak pernah
menjatuhkan orang, tetapi menghormati kepribadikan dari para
pendegarnya. Mereka sungguh-sungguh mirip dengan Kristus karena
mereka memiliki-Nya di dalam hati mereka.
Sumber: Cara Mengajar yang Lebih Berhasil, Joe L. McMillin, , Artikel Bersiaplah Agar Diperhatikan, halaman 45 -- 47, Lembaga Literatur Baptis, Bandung, 1995.
|