SITUS INI ADALAH SITUS PEPAK VERSI LAMA.
SEJAK 1 JUNI 2008 KAMI MENGGUNAKAN SITUS BARU.
KLIK DI SINI
UNTUK BERKUNJUNG KE SITUS PEPAK VERSI BARU.

 
PEPAK PEPAK
Kamis, 4 Desember 2008   
    Utama | Pustaka | e-BinaAnak | e-BinaGuru  
         Pustaka  
  Utama > Pustaka > Teknik Berkomunikasi  

Cari di Pustaka Cari di Pustaka
   

Topik TOPIK
  Pelayanan Anak Umum (98)
Pelayanan Sekolah Minggu (74)
Guru - Pendidik (148)
Anak - Murid (170)
Metode dan Cara Mengajar (160)
Kurikulum - Pedoman Mengajar (15)
Fasilitas Pelayanan Anak (15)
Penginjilan Anak - Misi Anak (55)
Pengajaran - Doktrin (277)
Doa - Musik - Ibadah (80)
Program Khusus Anak (43)
Perayaan Hari Raya Kristen (186)
Aktivitas dan Ketrampilan Anak (110)
Literatur untuk Anak (11)
Organisasi Pelayanan Anak (4)
Sudut untuk Anak (27)
Kesaksian Guru (48)
Humor (10)

Total 1448 tulisan dalam 18 topik.
 

Frequently Asked Questions FAQ
  Apakah bedanya antara Topik dan Tipe Bahan? jawabannya  

Subscribe e-BinaAnak / e-BinaGuru Berlangganan
e-BinaAnak / e-BinaGuru

Teknik Berkomunikasi

Tanggal terbit:
22-11-2007

Topik:
Pelayanan Anak Umum

Tipe Bahan:
Tips

Tulisan ini pernah dimuat di:
e-BinaAnak edisi 358
Tampilan cetak
Beri tahu teman Anda
Kirim tulisan ini ke email Anda


Selain perlu mengetahui hambatan-hambatan komunikasi, orang tua perlu juga mempelajari teknik komunikasi untuk membangun suatu hubungan yang baik.

  1. Menguasai Teknik Mendengar

    Seorang pendengar yang baik adalah yang memerhatikan keluhan pihak lain. Itu berarti ia harus tertarik kepada perasaan, usulan anak, dan berusaha mengerti. Apabila ada yang tidak dimengerti, tanyakanlah dan dengarlah dengan hati yang terbuka, anggaplah si anak yang di hadapan kita adalah orang yang paling penting. Sewaktu anak dengan sedih datang dan mengeluh di hadapan orang tua, dengarkanlah dengan saksama dan usahakan untuk melihat dari sudut pandang mereka. Dan apabila anak datang dengan hati yang gembira untuk mengutarakan sesuatu, milikilah perasaan yang sama, jangan menyiramkan air dingin kepada mereka. Mendengar dengan saksama mengandung arti kasih, hormat, menerima, dan mengenal dia.

    Teknik mendengar itu adalah sebagai berikut.

    1. Gunakan waktu yang tepat dan aktif mendengarkan pengungkapan isi hati anak, khususnya pada saat-saat suasana gembira dengan sengaja menyediakan waktu untuk berkomunikasi dengan anak.

    2. Jangan mendengarkan keluhan anak pada waktu-waktu sibuk atau ketika sedang emosi sebab ini akan merusak suasana komunikasi tersebut.

    3. Berikan kesempatan kepada anak untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Jangan terlalu cepat memberikan pendapat atau mencari jawaban bagi mereka. Pendengar yang baik membiarkan anak mencari jawaban sendiri.

    4. Dalam proses mendengar, berilah selalu respons yang boleh dilakukan dengan menjawab atau dengan bahasa tubuh agar anak merasa sedang didengar.

    5. Sewaktu pertolongan diperlukan, berikan informasi secukupnya. Tetapi perlu diingat agar menyelidiki terlebih dahulu apa masalahnya, dan jangan bertindak gegabah.

  2. Menguasai Teknik di Luar Bahasa

    Komunikasi dapat dilakukan melalui tiga perantara: isi, nada, dan bahasa tubuh. Pernyataan tanpa bahasa termasuk nada dan mimik muka, sikap, atau gerak-gerik. Dalam suatu penyelidikan dinyatakan bahwa dari tiga perantara itu, persentase isi menduduki 7%, nada suara 38%, dan bahasa tubuh 55%. Apabila seorang ibu yang sedang membersihkan lantai berkata kepada anaknya, "Jangan masuk dulu, masih licin, nanti terpeleset." Isi komunikasi yang sama, kalau diucapkan dengan nada yang kasar, akan mengakibatkan pernyataan kasih dari ibu itu terhapus.

  3. Menghindari Emosi

    Berkomunikasi dengan anak kadang-kadang bisa dengan nada emosional, dengan berteriak atau marah. Ketika seorang dikuasai oleh emosi, ia akan mengalami kesulitan untuk bisa tenang berkomunikasi dengan orang lain sehingga isi, nada, dan sikapnya akan merusak komunikasi itu. Lalu kedua generasi akan mengalami hubungan yang tegang. Hadapi perilakunya, bukan pribadinya; hadapi masalahnya, bukan emosinya.

  4. Jangan Terlalu Cerewet

    Mengulang-ulang perkataan atau nasihat adalah kelemahan dalam keluarga. Definisi dari kecerewetan adalah terus-menerus mengkritik dan mencari kesalahan. Sudah tahu apa yang harus dikerjakan oleh anak, tetapi masih tetap terus mengingatkan. Hal seperti ini tidak berfaedah, malahan akan menimbulkan perlawanan. Orang tua biasa menjadi cerewet karena perkataannya sering tidak didengar oleh anak. Penyebab lain bisa juga karena permintaan orang tua tidak jelas. Anak diminta untuk membereskan mainannya dan dijawab, "Tunggu sebentar!", kemudian orang tua bertanya kembali, "Sampai kapan Ibu harus menunggu?" Bila permintaan orang tua jelas, perintah itu tidak perlu diulangi lagi.

Sumber:
  • Menerobos Dunia Anak, Dr. Mary Go Setiawani, , halaman 72 -- 74, Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 2000.


  • Berikut ini beberapa tulisan yang bertopik sama:
  • Persiapan Pelajaran Sekolah Minggu
    9-5-2008 | Artikel
  • Menanamkan Karakteristik Pikiran Ilahi
    8-2-2008 | Artikel
  • Motivasi yang Membangkitkan Pelayanan
    18-1-2008 | Artikel
  • Komitmen seorang Pelayan Tuhan
    4-1-2008 | Artikel
  • Percakapan yang Sesuai Menurut Kristus
    30-11-2007 | Tips
  • Memberikan Bobot dalam Komunikasi
    30-11-2007 | Artikel

  • | Artikel
  • Berkomunikasi dengan Anak Anda
    22-11-2007 | Tips
  • Rintangan dalam Komunikasi
    15-11-2007 | Artikel
  • Masalah Kata: Mengubah Perkataan
    15-11-2007 | Artikel

  • Tentang Kami | Kontak Kami | Buku Tamu | Promo | Situs YLSA | Links | FAQ | Sumber | Info Anda
     

    SITUS INI ADALAH SITUS PEPAK VERSI LAMA.
    SEJAK 1 JUNI 2008 KAMI MENGGUNAKAN SITUS BARU.
    KLIK DI SINI UNTUK BERKUNJUNG KE SITUS PEPAK VERSI BARU.

     
    Disclaimer | © 2008 Yayasan Lembaga SABDA | Email: pepaksabda.org |Laporan Masalah/Saran

    ^ Ke Atas