|
Komunikasi antara orang tua dan anak sering dirusak oleh sikap dan
respons dari orang tua, seperti contoh berikut.
Nada Perintah
Contoh: Anak pulang dari sekolah diperbolehkan bermain sampai jam
empat sore, setelah itu harus pulang untuk belajar, apabila anak
bertanya, "Mengapa saya harus belajar?", orang tua menjawab, "Karena
Ayah/Ibu sudah mengatakannya demikian, kamu harus menurut dan jangan
banyak tanya!" Atau anak itu membantah, "Saya tidak mau belajar,
saya tidak suka sekolah!" Dan orang tua pun membalas, "Sebagai anak,
kau harus belajar, kecuali kalau Ayah/Ibu katakan tidak!" Jawaban
yang bernada perintah semacam ini, kalau sering terjadi, dapat
merusak komunikasi antara orang tua dan anak.
Gertakan
Secara tidak sadar, orang tua pun sering menggunakan gertakan.
Ketika anak mengutarakan suatu masalah, orang tua memberi respons
dengan nada gertakan dan tanpa memberi penjelasan atau petunjuk
sedikit pun kepadanya. Tidak jarang orang tua berkata seperti
berikut, "Kalau kamu tak mau lakukan, Ayah/Ibu akan mengunci kamu
dalam kamar gelap!" atau "Ayah/Ibu tidak akan mengajak kamu piknik!"
Padahal sebenarnya orang tua tidak akan melakukan hal tersebut, itu
sekadar menakut-nakuti saja. Seringnya orang tua berlaku seperti itu
akan membuat anak jengkel dan mereka tidak akan lagi menganggap
perkataan orang tuanya berwibawa. Anak pun enggan mengutarakan isi
hatinya kepada orang tua.
Bertele-tele
Keadaan yang sering merusak suasana komunikasi adalah sewaktu anak
mulai mengutarakan sesuatu yang dipandang tidak terlalu cocok dengan
pandangan orang tua, dan mulailah orang tua memberi kuliah panjang
lebar. Anak merasa bahwa orang tua mereka berada di dunia yang
berbeda dengan mereka, dan selanjutnya mereka tidak akan
mengutarakan sesuatu lagi. Dan hal tersebut lambat-laun akan
merusak komunikasi antara orang tua dan anaks atau antara guru
dengan murid.
Interogasi
Adakalanya orang tua sering menanggapi anak dengan nada menghakimi,
mengkritik, dan menyalahkan. Anak dituntut terlalu tinggi. Saat anak
mengutarakan pendapat yang berbeda dengan orang tua, anak langsung
ditegur dengan keras. Anak akan mengalami rasa rendah diri dan tidak
punya keberanian untuk mengutarakan sesuatu dengan orang dewasa.
Lebih baik menghindari cacian dan makian.
Mau Tahu secara Terinci
Ada orang tua yang terlalu ingin menguasai anaknya dan ingin
mengetahui kehidupan si anak secara terinci, sampai si anak tidak
memunyai kehidupan pribadi sendiri. Tidaklah menjadi masalah
apabila hal itu dilakukan dalam suasana yang wajar dan dalam
hubungan yang baik untuk mengenal kehidupan anak, namun bila dengan
paksa ingin mengetahui segala sesuatunya, bisa jadi akan timbul
kebencian dari si anak dan akan merusak hubungan.
Sumber: Menerobos Dunia Anak, Dr. Mary Go Setiawani, , halaman 71 -- 72, Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 2000.
|