|
Pada tahun 1978, keluarga kami membangun sebuah rumah. Sementara
bekerja, kami membicarakan hal-hal yang akan kami lakukan jika
bangunan rumah tersebut telah selesai. Pada tahun-tahun berselang,
kami mengadakan penambahan, membentuk ulang model kamar mandi dan
dapur, dan menyiapkan untuk membuat tambahan. Kami tidak lagi
membicarakan penyelesaian rumah itu. Kami menyadari bahwa kami akan
selalu mengubah rancangan rumah kami. Selalu akan ada perbaikan
tertentu yang harus dilakukan.
Kegiatan membangun rumah bukan sekadar peristiwa dalam kehidupan
kami sebagai sebuah keluarga, tetapi lebih daripada itu, kegiatan
ini telah menjadi gaya hidup! Komunikasi adalah seperti itu.
SUATU KEHIDUPAN YANG BERKOMUNIKASI
Komunikasi bukan hanya mendisiplinkan, tetapi juga untuk mengajar
atau memuridkan, menggembalakan atau membimbing anak-anak Saudara ke
dalam jalan Allah. Seperti pengajaran dari Ulangan 6, komunikasi
yang utuh terjadi sementara berbaring, bangun, terjaga dalam
perjalanan, dan sementara duduk. Para orang tua sering terlalu sibuk
untuk berkomunikasi, kecuali ada sesuatu yang tidak beres. Suatu
kebiasaan yang rutin untuk berbicara bersama menyiapkan jalan untuk
pembicaraan pada situasi-situasi yang tegang. Saudara tidak akan
pernah memiliki hati anak-anak Saudara jika Saudara berbicara dengan
mereka hanya ketika sesuatu berjalan tidak beres.
MENGGEMBALAKAN HATI
Saya telah menggunakan frasa "menggembalakan hati" untuk memberikan
bentuk yang jelas terhadap proses membimbing anak-anak kita. Itu
berarti membantu mereka memahami diri mereka sendiri, karya Allah,
jalan-jalan Allah, bagaimana dosa bekerja dalam hati manusia, dan
bagaimana Injil sampai kepada mereka pada tingkat paling mendasar
dari kebutuhan manusia. Menggembalakan hati anak-anak juga mencakup
membantu mereka mengerti berbagai motivasi, tujuan, keinginan,
harapan, dan hasrat. Hal itu memaparkan ciri sebenarnya dari
realitas dan mendorong iman kepada Tuhan Yesus Kristus. Saudara
melaksanakan proses penggembalaan melalui komunikasi yang kaya serta
berdimensi banyak, seperti telah saya uraikan secara garis besar.
MEMPERHITUNGKAN PENGORBANAN
Komunikasi yang jujur, mendalam, serta benar-benar alkitabiah,
memerlukan pengorbanan. Percakapan yang berwawasan dan tegas
membutuhkan waktu dan keluwesan. Anak-anak tidak akan mencurahkan
isi hati atau membuka dirinya menurut jadwal yang diminta. Orang tua
yang bijaksana berbicara ketika suasana hati anak-anak sedang baik.
Setiap suasana hatinya demikian, mereka akan sering mengajukan
pertanyaan, mengemukakan komentar, menyatakan aspek kecil tertentu
dari hati mereka. Pada saat-saat seperti itu, ketika suara hati
mereka kacau, Saudara perlu berbicara. Untuk bisa memanfaatkan momen
yang penting ini, Saudara mungkin harus membatalkan sesuatu. Berilah
perhatian khusus!
Saudara harus menjadi pendengar yang baik. Saudara akan kehilangan
kesempatan berharga jika Saudara hanya mendengarkan anak-anak
Saudara setengah-setengah. Cara terbaik melatih anak-anak Saudara
menjadi pendengar aktif ialah mendengarkan mereka dengan penuh
perhatian.
Ada yang menganggap bahwa mendengarkan ialah bila melakukan sesuatu
pada kesempatan-kesempatan yang ada untuk mengatakan sesuatu. Pada
saat kita pikir mereka mendengarkan, sebenarnya mereka tidak
mendengarkan sama sekali. Jangan menetapkan apa yang harus
dikatakan. Jangan menjadi orang tua seperti itu. Amsal mengingatkan
Saudara bahwa orang bebal tidak suka pada pengertian, tetapi hanya
suka membeberkan isi hatinya (Ams. 18:2).
Tentu sulit untuk membedakan kapan harus diam dan mendengarkan sebab
tidak seorang pun yang mengatakan mendidik anak itu mudah.
Kadang-kadang Saudara perlu berhenti dan memikirkan apa yang telah
Saudara katakan. Pikirkan juga mengenai apa yang belum Saudara
dengarkan. Berhenti dan mendengarkan memberi kesempatan untuk
menentukan kembali fokus dan menjadikan kreatif dalam percakapan
Saudara.
Komunikasi yang baik membutuhkan pengorbanan dalam bidang-bidang
lain. Hal itu menuntut tenaga fisik maupun rohani, juga daya tahan
mental. Kadang-kadang orang tua kehilangan kesempatan-kesempatan
berharga karena mereka merasa terlalu lelah untuk memerhatikan.
Kita mulai merasakan dengan nyata dimensi fisik ini ketika anak-anak
menginjak belasan tahun. Ketika masih kecil, kita biasa mengajak
mereka tidur sebelum malam tiba. Ini memberi kita kesempatan untuk
bercakap-cakap. Tetapi dengan anak-anak belasan tahun, percakapan
berlangsung pada saat-saat yang lebih malam. Saya tidak tahu pasti
mengapa, tetapi kerap kali kesempatan-kesempatan penting untuk
komunikasi datang pada malam hari. Orang tua yang bijaksana
berbicara ketika anak-anak siap untuk diajak berbicara!
Komunikasi yang tepat menuntut ketahanan mental. Saudara harus
menjaga pikiran Saudara agar terfokus. Saudara harus menghindari
godaan-godaan untuk memburu soal-soal yang tidak penting.
Pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab harus diajukan melalui
cara-cara yang baru dan segar.
Saudara harus memiliki integritas untuk menghadapi anak-anak
Saudara. Saudara membuat model dinamika kehidupan Kristen untuk
anak-anak Saudara. Saudara harus membiarkan mereka melihat diri
Saudara yang memiliki identitas sebagai anak Allah. Saudara harus
memperlihatkan pertobatan Saudara kepada mereka. Nyatakanlah
sukacita, pertobatan, serta rasa syukur Saudara. Akuilah jika
Saudara berbuat salah. Bersiaplah untuk meminta maaf jika Saudara
berbuat salah terhadap anak-anak Saudara. Hak untuk mencari tahu dan
pengakuan yang jujur dari anak-anak Saudara tergantung pada
kesediaan Saudara sendiri melakukan hal yang sama.
Baru-baru ini ada seorang ayah yang memunyai tiga orang anak,
menceritakan suatu keadaan di mana dia telah berbuat salah terhadap
salah seorang anaknya. Dia telah berbicara kasar dan memukul anaknya
secara kejam. Dia kelihatannya sangat menyesali perbuatannya. Ketika
saya bertanya apakah yang dikatakan anaknya ketika dia akan meminta
maaf, dia mengakui bahwa dia belum meminta maaf. Ayah ini tidak akan
pernah membuka komunikasi dengan anaknya, kecuali dia bersedia
merendahkan diri dan mengakui kesalahannya. Jika dia tidak mau
melakukan hal itu, usaha untuk berbicara tentang Allah akan menjadi
hal yang sulit dan pura-pura saja.
Sumber: Menggembalakan Anak Anda, Tedd Tripp, , Artikel Mengambil Metode-Metode yang Alkitabiah: Kehidupan yang Berkomunikasi, halaman 145 -- 149, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 2002.
|