SITUS INI ADALAH SITUS PEPAK VERSI LAMA.
SEJAK 1 JUNI 2008 KAMI MENGGUNAKAN SITUS BARU.
KLIK DI SINI
UNTUK BERKUNJUNG KE SITUS PEPAK VERSI BARU.

 
PEPAK PEPAK
Kamis, 4 Desember 2008   
    Utama | Pustaka | e-BinaAnak | e-BinaGuru  
         Pustaka  
  Utama > Pustaka > Orang Kaya dan Lazarus yang Miskin  

Cari di Pustaka Cari di Pustaka
   

Topik TOPIK
  Pelayanan Anak Umum (98)
Pelayanan Sekolah Minggu (74)
Guru - Pendidik (148)
Anak - Murid (170)
Metode dan Cara Mengajar (160)
Kurikulum - Pedoman Mengajar (15)
Fasilitas Pelayanan Anak (15)
Penginjilan Anak - Misi Anak (55)
Pengajaran - Doktrin (277)
Doa - Musik - Ibadah (80)
Program Khusus Anak (43)
Perayaan Hari Raya Kristen (186)
Aktivitas dan Ketrampilan Anak (110)
Literatur untuk Anak (11)
Organisasi Pelayanan Anak (4)
Sudut untuk Anak (27)
Kesaksian Guru (48)
Humor (10)

Total 1448 tulisan dalam 18 topik.
 

Frequently Asked Questions FAQ
  Darimana bahan-bahan dalam Situs PEPAK didapatkan? jawabannya  

Subscribe e-BinaAnak / e-BinaGuru Berlangganan
e-BinaAnak / e-BinaGuru

Orang Kaya dan Lazarus yang Miskin

Tanggal terbit:
25-10-2007

Topik:
Pengajaran - Doktrin

Tipe Bahan:
Bahan Mengajar

Tulisan ini pernah dimuat di:
e-BinaAnak edisi 354
Tampilan cetak
Beri tahu teman Anda
Kirim tulisan ini ke email Anda


Bahan Alkitab
Lukas 16:19-31

Tujuan khusus

Anak dapat:

  • menceritakan perbuatan orang kaya terhadap Lazarus;
  • membandingkan keadaan orang kaya dengan keadaan orang miskin;
  • memberikan contoh perbuatan yang harus dilakukan apabila ia berhadapan dengan orang seperti Lazarus.

Ayat hafalan

"Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu perbuatlah demikian juga pada mereka" (Matius 7:12-14).

Materi pelajaran

  1. Untuk Guru

    Renungan

    Bagian ini berbeda sifatnya dari perumpamaan. Sebab suatu perumpamaan biasanya merupakan cerita dari kehidupan sehari-hari, yang intinya dapat menjadi nasihat di bidang kerohanian. Sedangkan cerita ini merupakan suatu lukisan yang menggambarkan suatu kejadian, untuk menjadi peringatan.

    Orang kaya dalam cerita ini adalah orang yang suka dengan kemewahan. Tapi bukan berarti bahwa kesenangannya itu menjadikannya seorang yang bersalah. Alkitab juga tidak mengatakan bahwa memiliki kekayaan itu adalah suatu kesalahan. Sebab kekayaan itu merupakan berkat Tuhan kepada orang yang rajin bekerja.

    Jadi, di manakah letak kesalahan orang kaya ini? Kesalahannya adalah pada sikap yang ia perlihatkan ketika berhadapan dengan Lazarus, seorang miskin yang membutuhkan belas kasihannya. Orang kaya ini tidak berbuat apa-apa justru ketika ia harusnya melakukan sesuatu. Ia tidak memerhatikan atau memedulikan orang lain. Yang dipentingkannya adalah kesenangannya diri. Orang kaya ini tidak mempergunakan kekayaannya dengan baik. Ia tidak membagikan berkat yang diterimanya dari Tuhan kepada orang yang memerlukan pertologannya.

  2. Untuk Anak

    1. Cerita I

      "Aduh ... perutku pedih! Aku lapar sekali!" keluh Lazarus sambil memegang perutnya. "Ke mana aku harus mencari makan, ya? Ah ... seandainya saja aku sehat, aku akan bekerja sehingga tidak kelaparan seperti ini. Makin hari aku semakin lemah. Tapi daripada aku duduk diam di sini, lebih baik aku berjalan. Mudah-mudahan ada orang yang berbaik hati mau memberi aku makan," demikian pikir Lazarus.

      Pada siang hari yang terik, Lazarus lalu melangkah tertatih-tatih. Tubuhnya lemah karena sakit dan kelaparan. Selain itu, rasa nyeri luka-luka yang memenuhi tubuhnya begitu menyiksanya. Sebentar-sebentar ia duduk di tepi jalan untuk beristirahat.

      "Ke mana aku akan berjalan mencari makan, ya? Oh, aku ingat sekarang! Di sebelah sana ada rumah seorang kaya. Ia memunyai banyak makanan. Sebab itu tiap hari ia berpesta dengan kawan-kawannya. Ia pasti mau memberi sedikit makanannya padaku," begitu pikir Lazarus.

      Dengan agak bersemangat, Lazarus lalu berjalan menuju rumah orang kaya itu. Dari kejauhan terlihat orang kaya itu sedang berdiri menghadapi meja makan. Banyak hidangan tersedia di atas meja. Berbagai jenis makanan dilihat oleh Lazarus.

      Lazarus lalu berbaring di dekat pintu rumah si orang kaya dan mengharapkan orang kaya itu akan memberi dia makanan. Sementara itu, beberapa ekor anjing datang mendekat lalu menjilati luka-luka di tubuh Lazarus.

      Adik-adik, Lazarus menunggu dan terus menunggu. Tapi ternyata orang kaya itu sama sekali tidak memedulikan Lazarus yang kelaparan. Ia asyik makan bersama tamu-tamunya saja.

    2. Tanya-Jawab

      Nah, adik-adik, apakah yang seharusnya dilakukan oleh orang kaya itu terhadap Lazarus? (Berikan waktu pada anak-anak untuk menjawab.) Dapatkah adik-adik menceritakan bagaimana perasaan adik-adik jika seandainya adik-adik menjadi seperti Lazarus? (Beri kesempatan lagi pada anak-anak untuk menjawab.) Kalau adik-adik menjadi orang kaya itu, apa yang adik-adik akan lakukan terhadap orang miskin seperti Lazarus itu? (Anak-anak menjawab.)

    3. Cerita II

      Sekarang kita teruskan cerita kita. Apakah yang kemudian terjadi? Pada suatu hari, matilah Lazarus yang miskin itu. Begitu juga si orang kaya. Keduanya mati.

      Lalu, apakah yang terjadi dengan Lazarus setelah ia mati? Ia masuk ke surga dan disambut oleh Tuhan beserta malaikat-malaikat-Nya. Lazarus yang ketika masih hidup di dunia banyak menderita, sekarang boleh bersenang-senang.

      Bagaimana dengan si orang kaya itu? Ia dihukum Tuhan dan tidak boleh masuk surga. Waktu hidup di dunia, orang kaya itu bersenang-senang saja dan tidak memerhatikan orang yang menderita. Sekarang setelah mati orang kaya itu, dihukum dan harus menderita. Ia masuk neraka.

    4. Aktivitas

      Sebagai aktivitas, ajaklah anak-anak untuk mendramatisasikan (memainkan drama) kisah ini. Tanyakan dulu pada anak-anak, apakah sebenarnya yang terjadi menurut kisah tadi. Bila mereka sudah mengetahui, mintalah seorang anak berperan menjadi Lazarus, dan seorang lagi menjadi orang kaya.

      Drama ini dilakukan tanpa suara (pantomim). Bila dua anak ini telah selesai berperan, mintalah dua orang anak lagi untuk memainkan drama yang sama. Jangan terlalu banyak anak yang melakukan permainan drama ini; cegahlah kebosanan.

Sumber:
  • Pedoman Sekolah Minggu Anak Kecil (Umur 7 - 9 Tahun) Tahun II Jilid I, , halaman 28 -- 32, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1994.


  • Berikut ini beberapa tulisan yang bertopik sama:
  • Siapa yang Bertakhta di Hatimu?
    12-6-2008 | Bahan Mengajar
  • Diberkati untuk Menjadi Berkat
    5-6-2008 | Bahan Mengajar
  • Memberi Itu Menyenangkan Semua Orang
    29-5-2008 | Bahan Mengajar
  • Yang Kecil Dapat Menjadi Besar
    23-5-2008 | Bahan Mengajar
  • Yesus Naik ke Surga
    9-5-2008 | Bahan Mengajar
  • Yesus dan Nikodemus
    1-5-2008 | Bahan Mengajar
  • Materi Pelajaran Kelas Bayi September 2005: Aku Bertumbuh Seperti Yesus
    3-4-2008 | Bahan Mengajar
  • Orang Samaria yang Baik Hati
    21-2-2008 | Bahan Mengajar
  • Pelajaran-Pelajaran Mengenai Alkitab
    15-2-2008 | Bahan Mengajar
  • Mengukur Cinta Kasih Tuhan
    8-2-2008 | Bahan Mengajar

  • Tentang Kami | Kontak Kami | Buku Tamu | Promo | Situs YLSA | Links | FAQ | Sumber | Info Anda
     

    SITUS INI ADALAH SITUS PEPAK VERSI LAMA.
    SEJAK 1 JUNI 2008 KAMI MENGGUNAKAN SITUS BARU.
    KLIK DI SINI UNTUK BERKUNJUNG KE SITUS PEPAK VERSI BARU.

     
    Disclaimer | © 2008 Yayasan Lembaga SABDA | Email: pepaksabda.org |Laporan Masalah/Saran

    ^ Ke Atas