|
Mungkin akan sedikit menakutkan ketika kita diminta mendongeng
sebuah cerita. Hal pertama yang harus diingat adalah jangan panik.
Karena bisa jadi, Anda lebih berpengalaman daripada apa yang Anda
cemaskan. Hanya sedikit orang yang mencapai masa dewasanya tanpa
pernah mendengarkan cerita yang dibacakan untuk mereka, membaca
cerita sendiri, dan mungkin bercerita untuk orang lain. Pikirkan
bagaimana Anda menikmati sebuah gaya bercerita dan simpan hal itu
dalam pikiran selama Anda mempersiapkan diri Anda sendiri. Ingat
kembali berbagai pengalaman dalam bercerita yang pernah Anda lakukan
di masa lalu. Mungkin Anda pernah bercerita secara langsung kepada
sekelompok orang atau waktu Anda tidak harus bercerita secara
langsung, misalnya melawak, menceritakan sebuah anekdot,
menggambarkan liburan atau peristiwa-peristiwa tertentu, mengingat
kembali peristiwa lucu atau sedih yang pernah Anda alami.
Membaca Keras Melawan Bercerita dari Ingatan
Anda harus yakin bahwa dengan membaca cerita sesuai nada dan
intonasi yang baik maka:
- Anda akan mendapatkannya dengan tepat;
- Anda tidak akan mencoba dan mengingat segala sesuatu yang lebih
rinci;
- Anda tidak akan meninggalkan sesuatu yang penting;
- Anda akan lebih percaya diri dengan sebuah buku atau cerita yang
tertulis di depan Anda;
- Anda masih perlu latihan tetapi lebih sedikit daripada bercerita
tanpa membaca dengan keras.
Bercerita tanpa membaca teks akan:
- membuat Anda lebih mudah mengadakan kontak mata;
- membantu Anda melihat minat anak-anak sehingga Anda bisa merespons
hal itu dengan cepat;
- membantu setiap pendengar untuk terlibat dalam cerita;
- membantu orang yang kurang percaya diri.
Berceritera Seperti yang Kitab Suci Ceritakan
- Bisakah cerita itu dibacakan kepada anak-anak?
- Bisakah Anda menemukan buku cerita Kitab Suci anak-anak untuk
dibaca?
- Bisakah Anda menuliskan cerita itu dengan lebih sederhana dengan
bahasa Anda dan membacakannya dengan keras?
- Akankah Anda menceritakan sesuatu dengan bahasa Anda sendiri
tanpa teks?
Memilih Cerita Kitab Suciku Sendiri
Jika Anda memerlukannya, mintalah bantuan untuk menemukan sebuah
cerita dengan satu tema yang jelas. Karena banyak cerita yang sangat
luas dan akan membutuhkan banyak waktu untuk menceritakannya.
Mungkin mereka sangat puas di akhir cerita jika setiap orang telah
bekerja sesuai tugasnya, tetapi anak-anak mungkin akan meninggalkan
ruangan selama proses bercerita berlangsung.
Idealnya, cerita Anda seharusnya berisi drama, ketegangan, dan
konflik. Pilihlah sebuah cerita yang memunyai alur yang jelas, baik
pada bagian awal, bagian tengah, maupun pada bagian akhirnya. Bagian
awal seharusnya berisi situasi, keadaan sulit, konflik, atau
kedaruratan. Bagian tengah berisi tentang ketegangan, keadaan
bahaya, serta klimaks yang lalu mencapai penyelesaian.
Contoh cerita Kitab Suci: Yesus meredakan Angin Ribut (Markus
4:35-41).
- Bagian awal: Yesus dan murid-murid-Nya sedang menyeberangi danau
dengan perahu. Cuaca begitu tenang, tidak ada tanda-tanda akan ada
angin ribut. Yesus pun tertidur.
- Bagian tengah: Angin topan bertiup dengan kencang disertai hujan.
Ombak menyembur masuk ke dalam perahu sehingga perahu itu mulai
penuh dengan air. Para murid mulai panik dan ketakutan, meskipun
beberapa dari mereka adalah nelayan yang sudah berpengalaman
dengan badai taufan. Tetapi kali ini adalah badai yang terburuk.
Mereka nyaris tenggelam. Yesus masih tertidur. Murid-murid-Nya
membangunkan Yesus dan menuduh-Nya tidak memedulikan keadaan
tersebut.
- Klimaks: Yesus pun bangun, menghardik angin itu dan berkata:
"Diam! Tenanglah!" Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh
sekali. Yesus mendamprat murid-murid-Nya karena tidak percaya
kepada-Nya. Murid-murid-Nya pun takjub akan kekuatan-Nya, dan
mereka menyadari bahwa Dia adalah Anak Allah.
- Inti cerita: Yesus menunjukkan kuasa Allah yang besar.
- Aplikasi: Yesus memiliki kekuatan untuk selalu menjagaku.
Sekarang Giliran Anda ....
- Akankah Anda membacakan cerita yang telah Anda pilih untuk
anak-anak?
- Dapatkah Anda menemukan buku cerita anak-anak tentang Kitab
Suci untuk dibacakan?
- Apakah Anda akan menulisnya dengan bahasa Anda sendiri lalu
membacakannya?
- Dapatkah Anda menulisnya dengan bahasa Anda sendiri lalu
membacakannya dengan keras?
- Apakah Anda akan menceritakannya dengan bahasa Anda sendiri
berdasarkan ingatan Anda? Anda bisa memegang buku atau Kitab Suci
untuk berjaga-jaga jika Anda lupa bagaimana kisah berikutnya, atau
tuliskan garis besarnya dalam kartu-kartu untuk membantu Anda
mengingatnya kembali.
Menyampaikan Cerita Fiksi
Jika Anda merasa asing dengan cerita fiksi anak-anak, Anda perlu
mencari petunjuk atau saran. Kunjungi perpustakaan anak setempat dan
tanyakan daftar buku yang paling populer dan sesuai dengan usia
anak-anak yang berhubungan dengan Anda. Jika Anda
mengenal seseorang yang juga mengajar anak-anak seperti Anda,
mintalah nasihat atau saran kepadanya.
Bacalah beberapa contoh dengan nada yang keras, hitung waktunya dan
tambahkan beberapa menit lagi. Carilah salah seorang yang Anda rasa
nyaman dengannya, dan pikirkan apa yang terbaik untuk
pendengar-pendengar Anda dan tenggat waktu yang Anda berikan. Jangan
khawatir jika anak-anak mengatakan kalau mereka tidak siap mendengar
ceritanya. Anak-anak yang lebih muda biasanya menyukai dan menikmati
pengulangan. Anak yang lebih tua dapat disuruh untuk mendengarkan
dengan cermat dan setelah itu mengatakan alasan mereka mengapa
mereka berpikir bahwa cerita itu adalah cerita yang populer untuk
anak seusia mereka.
- Apakah Anda akan membaca cerita pilihan Anda dari buku?
- Apakah Anda akan menulis dan membacanya dengan bahasa Anda
sendiri?
- Apakah Anda akan menceritakannya dengan bahasa Anda sendiri tanpa
teks? Anda bisa memegang buku untuk berjaga-jaga jika Anda lupa
apa yang terjadi selanjutnya atau menuliskan garis besarnya dalam
kartu untuk membantu Anda.
Membuat Cerita Sendiri
Setiap orang pasti memunyai cerita sendiri, entah itu diambil dari
pengalamannya atau pengalaman orang lain. Bagaimanapun juga, jika
Anda belum pernah melakukan sebelumnya, Anda perlu berlatih untuk
menuliskan pengalaman di atas kertas dan menjadikannya sebagai suatu
jenis cerita. Jika Anda benar-benar perlu menyampaikan cerita Anda
sendiri maka:
- buatlah cerita sependek mungkin;
- gunakan prinsip-prinsip yang sama seperti cerita-cerita yang
lain, misalnya dengan memberikan drama, ketegangan, dan adanya
konflik;
- berikan awal yang bagus dan situasi yang tepat;
- berikan bagian tengah juga, bangunlah rasa penasaran, ketegangan,
dan drama.
- berikan akhir ceritanya, lalu tunjukkan penyelesaiannya;
- jika Anda berharap untuk mengambil suatu inti cerita dari
cerita tersebut, buatlah sesingkat mungkin;
- buatlah garis besar yang singkat untuk membantu agar tetap berada
pada alur cerita selama Anda bercerita.
Apalagi yang Mungkin Diperlukan?
Pikirkan usia dan kemampuan anak-anak yang akan mendengarkan cerita
Anda. Lihatlah melalui bab sebelumnya untuk mengetahui jika ada satu
atau dua ide sederhana yang dapat Anda masukkan untuk menambah
dimensi lain dalam cerita Anda. Untuk membantu Anda berkonsentrasi
pada cerita Anda, mintalah seseorang untuk membantu Anda.
Berlatihlah dengannya.
Jika Anda ingin membawakan cerita Anda dalam sebuah "setting",
mintalah bantuan untuk memikirkan ide-ide dan mengaturnya. Beberapa
ide telah diberikan dalam bab sebelumnya. Sekarang Anda memiliki
cukup bekal untuk bercerita.
Latihan
Apa pun jenis cerita Anda, dan metode mana pun yang Anda pilih,
Anda masih tetap perlu latihan.
- Ketahuilah isi cerita Anda meskipun Anda akan membacakan
ceritanya dengan keras.
- Lihatlah diri Anda saat membaca atau bercerita di depan kaca.
- Hal ini akan membantu Anda membuang ekspresi dan tingkah laku yang
tidak baik.
- Ingatlah untuk selalu tersenyum dan rileks.
- Jangan membuat cerita yang membingungkan dan ambil nafas untuk
jeda.
- Tetap antusias pada cerita Anda.
- Cobalah untuk menyelipkan improvisasi, lelucon, serta permainan
perasaan.
Bagaimana Jika Salah?
Semua orang membuat kesalahan ketika sedang membawakan sebuah
cerita, khususnya ketika kita tidak menguasainya. Kita mungkin
merasa bahwa pengalaman buruk merupakan sebuah bencana. Apa pun yang
terjadi, jangan pernah menyerah! Kita akan memperbaiki rasa percaya
diri dan kemampuan selama kita terus berlatih dan terus berbenah.
Sering kali anak-anak tidak memerhatikan kesalahan, dan meskipun
mereka memerhatikannya, mereka cenderung tidak banyak komentar
dibandingkan dengan orang dewasa.
Lupa Mengatakan Sesuatu yang Sangat Penting!
Jika Anda lupa mengatakan sesuatu yang sangat penting, berhentilah
dan katakan, "Oh saya lupa sesuatu yang sangat penting ...." lalu
katakan apa yang terlewatkan, lalu lanjutkan ceritanya.
Tidak Fokus dan Kehilangan Perhatian Anak-anak!
Ketika Anda menyadari hal itu, berhentilah dan tanyakan kepada
mereka, "Tadi sampai di mana, sebelum saya nyelonong?" Anak-anak
akan menjawabnya jika mereka tahu. Maka kembalilah ke poin terakhir,
ulangi dengan cepat, dan lanjutkan kembali ceritanya.
Dalam Latihan Butuh Sepuluh Menit, Tetapi Praktiknya Hanya Lima
Menit
Jika kita gemetar, kita akan berbicara dengan cepat. Atur kecepatan
Anda dalam berbicara dan jangan lupa ambil napas untuk jeda. Siapkan
suatu kegiatan, lagu atau syair yang berhubungan dengan cerita Anda,
sebagai persiapan jika ternyata Anda bisa menyelesaikannya lebih
awal. Untuk anak yang lebih tua, siapkan beberapa pertanyaan
singkat, atau mintalah agar mereka ganti bercerita untuk Anda
tentang cerita yang baru saja mereka dengar.
Kehilangan Perhatian Anak-anak!
Jika Anda kehilangan perhatian anak-anak dan tidak bisa
mengembalikannya, selesaikanlah cerita Anda secepat mungkin lalu
berpindahlah kepada hal selanjutnya dalam program Anda. Katakan pada
anak-anak bahwa Anda akan melakukannya lebih baik lagi di lain
waktu. Belajarlah dari pengalaman, tetapi jangan terlalu dipikirkan
sehingga membuat Anda tidak pernah mencobanya lagi.
Salah Satu Anak Ketakutan dan Mulai Menangis
Sebagian besar anak-anak memiliki imajinasi yang jelas. Bahkan
beberapa di antaranya sangat sensitif dan dengan mudah mengenali
tokoh-tokoh dalam cerita Anda. Berpikirlah dengan hati-hati tentang
peperangan atau bagian yang sensitif secara emosional dan cobalah
untuk menemukan keseimbangan antara membuatnya senang, sedih, atau
tegang.
Jika Anda melihat ada anak yang kecewa, beritahu tenaga pendamping
untuk menenangkannya. Kemudian bicaralah dengannya dan sampaikan
permohonan maaf karena membuatnya kecewa. Pastikan mereka mengerti
bagaimana cerita berjalan, dan ingatkan mereka tentang
bagian-bagian yang baik atau lucu dari cerita Anda.
Setelah itu, lanjutkan cerita Anda meskipun begitu menyakitkan bagi
Anda. Lihatlah poin-poin yang baik dan berikan tepukan ke pundak
Anda sendiri. Perkirakan kira-kira di mana Anda telah berbuat
kesalahan. Tanya pada seseorang yang Anda percayai dari tim Anda
untuk mengatakan dengan jujur, tetapi lembut, bagaimana sebaiknya
Anda berbenah diri. Jangan pernah menyerah. Bercerita bisa jadi
menakutkan, pekerjaan yang berat, memakan waktu, pembawa malapetaka
atau kegembiraan. Bercerita meminta Anda untuk selalu siap bertindak
dan menjadi apa saja pada suatu waktu, untuk membuat setiap orang
terlibat dalam cerita Anda. Tetapi ketika Anda memberikan apa yang
Anda miliki, Anda akan menemukannya sebagai suatu kegembiraan yang
terbesar dan pengalaman yang bermanfaat karena telah bekerja dengan
anak-anak.
Sumber: Gaya Bercerita yang Efektif, Ruth Alliston, , Artikel Mengajar Cerita Alkitab, halaman 105 -- 114, Prestasi Pustaka Kasih, Jakarta 2005.
|