Membaca berbagai cerita. Saat membaca, perhatikan bagaimana
beberapa penulis bercerita tentang telinga (ini adalah
cerita-cerita yang Anda inginkan), sedangkan penulis lainnya
bercerita tentang mata. Beberapa cerita modern pada umumnya
bersifat literal -- lebih menekankan gaya daripada plot/alur
ceritanya -- sedangkan penulis seperti Elie Wiesel dan Leo
Tolstoy menulis seperti cara kita berbicara. Hampir semua cerita
Alkitab memiliki suatu "oral voice" (suara yang dikeluarkan oleh
mulut) yang memudahkan cerita itu untuk dituturkan. Perhatikan
cerita tentang Yunus atau perumpamaan dalam Perjanjian Baru
tentang orang Samaria yang baik hati. Kebanyakan cerita Alkitab
menimbulkan imajinasi yang kuat dan jelas bagi pendengar
modernnya.
Dari cerita yang Anda baca, pilihlah suatu cerita yang sederhana.
Untuk tantangan pertama ini, cerita yang disampaikan seharusnya
tidak lebih dari 3 atau 4 menit. Bacalah cerita itu 10 atau 15
kali, sampai Anda benar-benar memahaminya.
Persiapkan cerita itu dengan membacanya secara bersuara. Meskipun
Anda merasa seperti orang bodoh yang berbicara dengan tembok,
tidak ada jalan lain untuk bisa mengetahui bagaimana cerita itu
bila tidak dikatakan atau kata-kata mana yang harus Anda pilih.
Acara yang berupa kegiatan oral (oral event) memerlukan persiapan
oral pula.
Pada umumnya, akan sangat baik bagi Anda untuk mengingat setiap
kejadian yang ada dalam cerita Anda daripada setiap kata yang
ada. Hal ini untuk menghindari cerita menjadi kaku dan canggung.
Setelah membaca cerita itu selama lima belas kali, Anda bisa
merasakan bahwa Anda tidak perlu mengingatnya. Pengecualian dari
peraturan ini termasuk metode literal dalam menuturkan cerita
Alkitab dan ungkapan-ungkapan penting yang memerlukan bahasa yang
tepat.
Jangan terlalu banyak menggunakan kata-kata. Kebanyakan cerita,
baik yang diceritakan secara formal maupun secara informal,
gagal disampaikan karena kita terlalu banyak menggunakan
kata-kata. Contoh cerita yang bisa digunakan adalah
perumpamaan-perumpamaan yang digunakan oleh Yesus yang tidak
banyak menggunakan kata-kata.
Carilah pendengarnya dan mulailah. Saya terberkati dengan
hadirnya dua anak yang menyukai cerita dan secara alami menjadi
pendengarnya. Bila Anda tidak punya anak, mintalah bantuan
beberapa anak.
Gunakan suara yang alami. Hindari suara pendeta atau suara aktor
yang dibuat-buat. Duduk akrab membentuk lingkaran bersama dengan
pendengar atau dengan mendekati pendengar dapat membantu menjaga
suara kita tetap terdengar alami. Meskipun beberapa orang yang
memiliki nada suara tinggi perlu menurunkan suara mereka,
kebanyakan orang harus dapat berbicara seolah-seolah mereka
sedang bercakap-cakap dengan teman-teman mereka.
Anda diharapkan membuat rekaman cerita pertama yang Anda
sampaikan. Kritik yang sangat jelas bisa membantu Anda
menghindari ucapan yang sedikit berlebihan, misalnya kata-kata
"ehm" dan "em" yang muncul ketika pencerita menyampaikan
ceritanya.
Apa yang harus dihindari saat bercerita?
Seperti kebanyakan tugas lainnya, kepekaan umum dan intuisi akan
menyebabkan pencerita lebih mudah menyampaikan ceritanya dengan
lebih meyakinkan daripada serangkaian peraturan. Mungkin saya telah
mempersempit batasannya, tetapi bila Anda masih ragu-ragu, berikut
beberapa tips tambahan dalam bentuk negatif.
Jangan terburu-buru. Tempo merupakan hal yang penting dalam
menciptakan cerita yang bagus seperti halnya dalam menciptakan
lagu yang baik. Kecenderungan untuk terburu-buru sering terjadi
pada awal bercerita, ini disebabkan oleh rasa takut yang
mendorong kita untuk terburu-terburu, misalnya saat mengatakan,
"Mari segera kita selesaikan kegiatan ini." Berikan jeda supaya
cerita Anda terdengar alami/natural. Seperti rancangan sebuah
iklan yang baik, jarak antarhuruf sering kali sama pentingnya
dengan kata-kata itu sendiri. Jeda menimbulkan rasa ketertarikan
untuk membangun dan membuat imajinasi pendengar melayang.
Hindari penggunaan alat-alat yang justru merusak cerita.
Penggunaan alat peraga yang terlalu banyak justru tidak membantu
dalam membuat cerita menjadi menarik, tetapi malah menghalangi
komunikasi yang alami antara pencerita dengan pendengarnya. Salah
satu alat peraga yang sering digunakan, yaitu peraga dari kain
flanel, sangat tidak efektif untuk digunakan. Ketika pencerita
menempatkan peraganya di papan, maka hilanglah kontak mata dengan
pendengarnya. Saya biasa menggunakan rompi dari flanel bila
mendapat kesempatan untuk menyampaikan cerita. Dengan menggunakan
rompi ini, saya bisa menempelkan peraga di rompi saya sambil
memandang pendengar sehingga saya tidak kehilangan kontak mata
dengan mereka. Meskipun rompi bisa memberi nilai lebih pada
penampilan, sering kali saya merasa rompi bisa menjadi cara
untuk menjalin kontak antara pencerita dan pendengar.
Bila Anda menggunakan sebuah gambar, lebih baik Anda menggunakan
gambar abstrak supaya menimbulkan rangkaian imajinasi. Meskipun
saya enggan menggunakan gambar, namun saya pernah harus
menunjukkan foto Martin Luther pada hari Minggu Reformasi. Saya
melihat anak-anak menganggap saya sedang bercerita tentang tokoh
besar pembela hak asasi itu. Sejak saat itu, saya hanya
menunjukkan gambar sesaat sebelum saya mulai bercerita, kemudian
saya simpan gambar itu ketika saya menyampaikan cerita.
Hindari menggurui atau menempatkan ajaran-ajaran moral dalam
cerita Anda. Tidak ada yang bisa dengan cepat membuyarkan cerita
Anda selain menyertakan ajaran moral itu beserta penjelasannya.
Bila Anda menghormati pendengar Anda, cukup sampaikan cerita itu
kepada mereka. Hormati mereka dengan membiarkan mereka
menggambarkan sendiri kesimpulannya. "Mereka yang memunyai
telinga, biarkanlah mendengar."
Bila suatu diskusi bisa membantu mengembangkan cerita, menurut
pendapat saya, pencerita diizinkan untuk membuat diskusi, tetapi
tidak lagi memunyai kekuasaan untuk mengarahkan interpretasi
orang lain. Tidak seperti seorang guru yang menyampaikan
pelajarannya, cerita memunyai keberadaannya sendiri.
Jangan membuat ilustrasi cerita yang membingungkan.
Ilustrasi-ilustrasi saja tidaklah cukup; ilustrasi itu
menunjukkan makna yang lebih besar. Cerita memiliki arti
tersendiri. Dengan luar biasa, Yesus "menjelaskan"
perumpamaan-perumpaman-Nya dan dalam beberapa saat kemudian Ia
hanya memberikan suatu permintaan. (t/Ratri)
Sumber: Speaking in Stories, William R. White, , Artikel The Appeal of Storytelling; Resources for Christian Storytellers, halaman 17 -- 20, Augsburg Publishing House, Minneapolis 1982.
|