|
Pagi itu, seorang guru sedang menjemput dua anak sekolah minggu
dengan sepeda motor tuanya. Ia begitu rajin melakukan tugas, baik
menjemput maupun mengantarkan mereka pulang ke rumah masing-masing
seusai sekolah minggu. Pada suatu hari, ia ditanya mengapa ia begitu
setia melakukan hal itu? Jawabnya, "Suatu saat aku ingin kedua anak
ini bukan saja menjadi orang yang percaya kepada Kristus (menerima
keselamatan di dalam Kristus). Aku ingin mereka menjadi murid
Kristus yang setia dan dapat menjadi terang dunia melalui seluruh
sikap hidupnya yang baik, yang menjadi kesaksian bagi banyak orang
di sekitarnya."
Guru yang saya ceritakan di atas, entah sadar atau tidak, memiliki
visi Bapa bagi kedua muridnya. Ia adalah guru yang memiliki visi ke
depan.
Visi adalah penglihatan (vision) yang diterima seseorang untuk
sebuah tujuan yang diharapkannya terwujud di masa mendatang.
Misalnya, visi bangsa Indonesia adalah mewujudkan masyarakat yang
adil dan makmur. Visi adalah tujuan yang diharapkan terwujud. Karena
itu, setiap guru sekolah minggu diharapkan memiliki visi.
Guru sekolah minggu yang tidak memiliki visi akan menjadi seperti
pemain olahraga tanpa target (pemain sepak bola tanpa gol).
Sebaliknya, guru yang memiliki visi akan dengan penuh semangat dan
setia melakukan pelayanannya, seperti guru di atas.
Ada dua macam visi yang perlu kita pahami: visi global Bapa dan visi
pribadi setiap guru.
VISI GLOBAL BAPA
Bapa, sebagai perencana keselamatan dan pemelihara seluruh
kehidupan, sudah memiliki visi global, yaitu:
mewujudkan Kerajaan Allah di muka bumi ini sehingga semua
makhluk akan merasakan shalom (damai sejahtera Allah) di bumi
ini;
Matius 28:19-20: "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa
murid-Ku dan baptiskanlah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh
Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah
Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah Aku menyertai kamu
senantiasa sampai kepada akhir zaman."
Visi global Bapa yang sering disebut sebagai Amanat Agung Yesus bagi
para murid ini sekaligus menjadi visi wajib, visi pokok, atau visi
utama kita (para guru sekolah minggu).
Visi di atas membuat kita harus berjuang bersama Kristus yang
menyertai kita. Berjuang untuk membuat semua bangsa (sebanyak
mungkin orang) mau menerima Kristus dan menjadi murid-Nya! Jadi,
anak-anak sekolah minggu bukan saja diharapkan menjadi anak yang
percaya kepada Kristus. Lebih dari itu, mereka harus dididik menjadi
murid Kristus. Murid yang belajar taat dan melakukan apa yang
diperintahkan sang Guru, yaitu Yesus sendiri.
"Ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang Kuperintahkan
kepadamu." Guru bukan hanya bertugas membuat anak-anak memahami apa
yang Yesus ajarkan, apa yang Yesus kehendaki, apa yang diberitakan
oleh Alkitab, melainkan lebih dari itu. Guru diharapkan membuat
anak-anak menjadi pelaku firman.
Ajar anak-anak itu melakukan segala sesuatu yang diperintahkan Yesus
kepada kita, yaitu mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati dan
mengasihi sesama seperti diri kita sendiri (Mat. 22:34-40).
Membuat para murid menjadi pelaku-pelaku firman yang melakukan
perintah Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, merupakan visi wajib
setiap guru sekolah minggu. Untuk itu, guru tidak cukup hanya pandai
bercerita, meminta para anak belajar menghafalkan ayat, atau rajin
ke sekolah minggu. Guru harus mengajar para murid untuk menjadi
pelaku firman. Itu berarti setiap guru harus menjadi teladan bagi
murid-muridnya. Setiap guru sekolah minggu harus menjadi kitab
terbuka bagi semua muridnya sehingga mereka tahu bagaimana harus
menjadi pelaku firman karena ada contoh nyata dalam hidup mereka.
Beranikah para guru memperjuangkan visi global Bapa ini? Mudahkah?
Tidak mudah, bahkan sangat sulit! Membawa seorang anak ke sekolah
minggu saja tidak mudah, apalagi memuridkan anak itu menjadi
pelaku-pelaku firman. Visi ini sungguh tidak mudah. Karena itulah,
Kristus menyatakan: "Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir
zaman." Penyertaan Yesus inilah yang menjadi kekuatan bagi kita yang
lemah untuk mewujudkan visi global Bapa.
Sebuah visi biasanya adalah sebuah tujuan yang ideal, yang "hampir
mustahil" untuk terwujud dengan sempurna. Namun, visi menjadi arah
perjuangan kita. Walaupun menjadikan semua anak pelaku firman yang
baik itu sulit, namun itulah visi kita. Visi global Bapa menjadi
arah utama bagi pelayanan setiap guru sekolah minggu.
VISI PRIBADI SEORANG GURU SEKOLAH MINGGU
Di samping visi global Bapa yang merupakan visi utama seorang guru
sekolah minggu, kita sebagai pribadi tentu saja boleh memiliki visi
pribadi, sejauh tidak bertentangan dengan visi global Bapa. Jadi,
visi pribadi harus mendukung visi global Bapa. Contohnya seperti
berikut ini.
Seorang guru bersemangat melayani kelasnya karena terdiri dari
anak-anak "kampung" dengan tingkat ekonomi rendah dan dari kalangan
orang tua yang belum mengenal Kristus. Walaupun hanya mengajar empat
orang murid setiap Minggu, ia melakukannya dengan setia. Sebab ia
berharap empat murid itu menjadi cikal bakal kekristenan di daerah
itu. Puji Tuhan, dua keluarga dari murid itu menjadi orang percaya
karena pekabaran Injil anaknya sendiri. Dan sepuluh tahun kemudian,
beberapa keluarga di daerah itu menjadi percaya dan ada cukup banyak
anak menjadi murid sekolah minggu. Bagaimana dengan ekonomi
masyarakat? Kelompok kecil orang percaya ini menjadi kesaksian yang
indah. Mereka berhasil memiliki tingkat kehidupan yang lebih baik.
Anak-anak sekolah minggu yang telah mendapat beasiswa berhasil
memperoleh pekerjaan yang baik. Dengan demikian, visi guru itu
berhasil, meski baru sebagian karena ada begitu banyak anak di
daerah terbelakang yang kondisinya seperti itu. Adakah guru lain
yang memiliki visi yang sama?
Visi pribadi setiap guru mungkin berbeda. Hal itu dapat terjadi
karena perbedaan latar belakang dan situasi, serta kondisi pelayanan
yang berbeda. Visi pribadi biasanya lebih bersifat jangka pendek dan
terbatas.
Sumber: Mereformasi Sekolah Minggu: 8 Kiat Praktis Menjadikan Sekolah Minggu Berpusat pada Anak, Paulus Lie, , halaman 72 -- 74, PBMR Andi, Yogyakarta, 2003.
|