|
Guru sekolah minggu merupakan faktor penting dalam pendidikan
Kristen yang efektif. Barangkali dari semua orang dalam gereja, ia
memunyai lebih banyak kesempatan untuk menyalurkan kehidupan
Kristus dan kehidupannya sendiri kepada orang-orang. Umumnya, ia
memunyai hubungan yang terdekat dengan murid dalam pengalaman
gerejawi murid. Tidak usah heran jika murid mencontoh ia.
Bagaimanakah seorang guru dapat menjadi teladan yang layak? Ia
harus berusaha menjawab pertanyaan ini dengan terus terang dan
dengan tulus.
KEDUDUKAN SEORANG GURU
Pertama-tama, seorang guru harus menginsafi kedudukannya yang
tinggi. Hak mengajar di sekolah minggu itu penting karena merupakan
satu pelayanan yang suci. Ketika seorang guru menyadari hal
tersebut, ia memperkuat sikapnya sebagai guru dan akan mendapat
penghormatan dan tanggapan yang lebih besar dari kelasnya.
Seorang guru menunjukkan jalan menuju iman Kristen. Syarat mutlak
yang pertama bagi seorang guru adalah pengalaman kelahiran baru yang
kemudian diikuti oleh kehidupan yang suci. Persekutuannya dengan
Allah membuktikan besarnya berkat dalam hal menjadi seorang Kristen.
Para guru sekolah minggu memunyai lebih banyak kesempatan daripada
kebanyakan orang untuk memenangkan jiwa-jiwa yang kekal kepada
Kristus karena Injil yang mereka ajarkan itu adalah pusat iman
Kristen.
Seorang guru memengaruhi pertumbuhan Kristen. Pendidikan Kristen
diterangkan sebagai "hal membimbing pelajar melalui
pengalaman-pengalaman kebenaran ke dalam kehidupan pelayanan yang
memuliakan Allah". Dikatakan bahwa pendidikan Kristen memunyai
hubungan dengan hal membangunkan, menanamkan, menolong, mengilhami,
membetulkan, dan membimbing. Sebagai seorang anggota gereja yang
berserah, seorang pelajar Alkitab yang teliti, seorang pelayan
Kristen yang setia, guru memiliki kesempatan untuk memimpin
murid-muridnya dalam hal menjadi orang Kristen yang dewasa, yang
menyatakan Kristus kepada dunia ini.
SIAP MENGAJAR
Tampaknya guru-guru yang berhasil adalah mereka yang memiliki
kecakapan untuk mengajar. Namun, pengajaran yang berhasil terbit
dari mendisiplin diri dalam hal belajar dan persiapan pribadi.
Persiapan dasar bagi seorang guru sekurang-kurangnya harus meliputi
hal-hal berikut.
Pengetahuan Alkitab
Karena Alkitab merupakan buku pegangan yang terpenting dalam
sekolah minggu, guru harus paham mengenai isinya. Ia harus
mengusahakan dirinya untuk mempelajari Alkitab dengan
sungguh-sungguh dan sistematis. Misalnya, untuk mengerti
pelayanan Yesus, bukan saja pokok-pokok utama dari pengajaran-Nya
yang harus diketahui, tetapi juga keadaan sosial, politik,
ekonomi, dan rohani yang menjadi latar belakang seluruh pelayanan
Yesus di bumi. Bagaimanakah hal-hal ini memengaruhi
tindak-tanduk-Nya? Atau bagaimanakah kehidupan pada zaman Yesaya,
Yeremia, atau Yehezkiel? Pada saat apa dalam sejarah bangsa
Yahudi, mereka bernubuat? Penelaahan Alkitab sedemikian itu tidak
dilakukan sebagai ibadah pribadi, itu merupakan satu usaha
sistematis untuk memahami arti Alkitab dan menguasai isinya.
Ketika seseorang melakukan hal ini, pengajarannya menjadi makin
berkuasa dan Alkitab menjadi lebih nyata dalam pikiran
murid-murid.
Teologi
Kadang-kadang orang memikirkan teologi sebagai satu pelajaran
yang rumit. Pelajaran ini tampak kepada mereka sebagai satu
campuran teori dan pikiran-pikiran yang abstrak dan kabur.
Sebenarnya, setiap orang memiliki teologi, yakni sesuatu yang
dipercayainya mengenai kebenaran Kristen. Kepercayaannya mungkin
tidak tersusun dan ia mungkin tidak dapat menyatakannya dengan
jelas; walaupun demikian, ia yakin bahwa semua yang
dipercayainya itu benar. Dalam hal mengajar, bilamanapun seorang
guru berbicara tentang Allah, tentang Yesus, Alkitab, kasih, dan
iman, ia sedang mengajarkan teologi. Betapa pentingnya
kesesuaian pengajarannya itu dengan pengajaran-pengajaran Alkitab
dan apa yang dipercayai gerejanya.
Sifat-Sifat Kelompok Usia
Pengajaran itu efektif bila dilakukan dengan mengingat minat,
keperluan, dan sifat-sifat murid. Dalam hal mengajar di sekolah
minggu, banyak anggota kelas tertinggal sementara guru maju dalam
suatu perjalanan rohani karena guru tidak memulainya pada tingkat
pengertian si murid. Para guru yang mengajar anak-anak harus
mempertimbangkan tingkat perkembangan murid-muridnya agar tidak
mengajarkan konsep-konsep agama yang tidak mungkin dipahaminya.
Para guru orang dewasa harus memastikan bahwa mereka memberi
pengajaran yang cukup dalam yang perlu bagi pendewasaan kelas
itu.
Teknik Mengajar
Penggunaan teknik-teknik dengan bijaksana akan menjadikan
pengetahuan Alkitab lebih berarti dan tetap. Hukum dasar dalam
hal belajar adalah bahwa pengajaran itu lebih berhasil bila para
murid melibatkan diri dan saling memengaruhi. Jadi, seorang guru
harus mengetahui teknik-teknik manakah yang akan menerbitkan
tanggapan terbaik atas suatu kebenaran pelajaran yang diberikan.
Ia juga harus mengetahui batas-batas dari bermacam-macam teknik
itu, cara untuk menyesuaikannya dengan kesanggupan kelompok usia
itu, dan bagaimana waktu serta ruangan yang tersedia memengaruhi
pemilihan suatu metode mengajar. Misalnya, seorang guru tidak
menceritakan sebuah cerita dalam cara yang sama dalam kelas
kanak-kanak dan kelas tunas remaja; ia juga tidak akan
memisah-misahkan kelas itu dalam beberapa kelompok diskusi jika
hanya ada lima atau enam murid yang hadir dalam kelas itu.
HAL MENYIAPKAN DAN MENYAMPAIKAN PELAJARAN
Persiapan seorang guru berpusat pada dua hal -- yang pertama adalah
Alkitab, dan yang kedua adalah murid serta kebutuhannya.
Isi pelajaran berpusat pada Alkitab
Yang menjadi perhatian guru dalam hal ini adalah "Apa yang
dikatakan Alkitab?" Ia harus mengetahui tokoh-tokoh Alkitab, apa
yang mereka lakukan, dan di mana serta kapan mereka melakukannya.
Biarpun cerita atau kebenaran asasi itu sudah lazim bagi guru,
ia harus selalu bertanya kepada dirinya: "Terdapat pelajaran
apakah bagi saya pribadi di sini?" sambil mengizinkan Roh Kudus
menyatakan penerapan yang baru baginya. Lalu ia akan mempelajari
pelajaran itu dari segi pandangan murid, lagi pula menyadari
bahwa pandangan seorang anak kelas satu SD akan jauh berbeda dari
seorang remaja.
Penerapannya berpusat pada murid
Bila guru hanya memerhatikan apa yang dikatakan Alkitab,
pelajaran akan menjadi terlalu teoritis dan tidak berhubungan
dengan soal-soal kehidupan yang sedang dihadapi oleh
anggota-anggota kelas. Jadi, guru harus memikirkan apa yang
diperlukan murid-muridnya dan menyusun suatu tujuan pelajaran
yang akan memimpin ia untuk memberi pelajaran yang sesuai dengan
kebutuhan dan pengertian mereka. Dalam hal menyusun tujuan-tujuan
pelajaran, perlu diingat bahwa tujuan pelajaran harus cukup
singkat supaya dapat diingat, cukup jelas supaya dapat dicatat,
cukup terbatas supaya dapat dicapai, dan cukup bersifat pribadi
supaya dapat mengubahkan hidup. Setelah mempelajari
bahan-bahannya dan menentukan metodenya, guru perlu membuat suatu
rencana pelajaran. Rencana pelajaran itu makin menolong ia
mengatur bahannya dan menyajikan pelajarannya dengan lebih
efektif.
Seluruh persiapan pelajaran memuncak dalam penyajian pelajaran. Pada
saat inilah para murid dipimpin dan digerakkan. Meskipun guru telah
merencanakan dengan teliti dan merasakan sebelumnya apa yang akan
menjadi tanggapan kelasnya, ia tahu bahwa ia harus menyisihkan apa
pun yang perlu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang tak
disangka-sangka, untuk mengubah satu kehidupan meskipun ia tidak
menyampaikan seluruh pelajarannya! Teknik mengajar yang
bermacam-macam itu memungkinkan seorang guru menyesuaikan
pengajarannya dengan keadaan kelasnya.
GURU SEBAGAI ANGGOTA TIM
Sebagai seorang guru sekolah minggu, ia menjadi seorang pemimpin
di gereja. Sebagai pemimpin, ia bertanggung jawab memelihara
hubungan-hubungan yang berikut.
Gembala sidang dan gereja
Dengan pelajaran dan teladannya, guru harus memengaruhi
murid-murid untuk menaruh kepercayaan di dalam gembala sidang dan
majelis gereja. Ia harus menjadi seorang yang tetap menghadiri
kebaktian.
Kepada pemimpin dan staf sekolah minggu
Ia harus selalu menyadari bahwa ia adalah anggota sebuah tim.
Jika ia cenderung untuk memikirkan kelasnya sebagai semacam
"gereja" kecil miliknya sendiri, tanpa disadarinya, ia menabur
benih-benih suatu keadaan yang tidak sehat. Usaha kerja sama
merupakan jalan untuk membangun sebuah sekolah minggu dan dengan
demikian, membangun kerajaan Allah. Guru harus berunding dengan
pemimpinnya mengenai persoalan-persoalannya. Ia harus memberikan
bantuan sepenuhnya untuk proyek-proyek sekolah minggu dan dengan
tetap menghadiri rapat-rapat pekerja serta pertemuan-pertemuan
sekolah minggu lainnya. Ia harus mengindahkan guru-guru lain
serta usaha mereka. Para guru hendaknya bekerja bahu-membahu
untuk melaksanakan sebaik-baiknya tugas mereka di bidang
pendidikan Kristen bagi murid-murid yang ada di bawah didikan
mereka.
Kepada murid-muridnya
Sokrates, salah seorang guru besar di dunia, tak pernah
mengizinkan dirinya disebut sebagai guru. Ia menganggap para
pelajar mudanya sebagai rekan, bukan pelajar atau murid. Bagi
Sokrates hal mengajar berarti membangkitkan pikiran, menggiatkan
pikiran-pikiran yang tumpul. Tujuan seorang guru adalah
menggerakkan murid-muridnya ke suatu pengalaman sejati mengenai
pertobatan dan menyediakan pimpinan dan asuhan untuk perkembangan
selanjutnya menuju ke persekutuan dengan Kristus yang bermakna
dan dewasa. Hal ini mencakup doa, kunjungan, bimbingan, perhatian
yang aktif dalam kesejahteraan pribadi dan rohani setiap murid.
Telah dikatakan bahwa pendidikan umum berusaha menyampaikan
pengetahuan kepada manusia; pendidikan Kristen berusaha membentuk
manusia. Pernyataan itu sangat menekankan pentingnya guru sekolah
minggu.
Sumber: Buku Pintar Sekolah Minggu jilid 2, , halaman 217 -- 219, Yayasan Penerbit Gandum Mas, Malang, 1996.
|