SITUS INI ADALAH SITUS PEPAK VERSI LAMA.
SEJAK 1 JUNI 2008 KAMI MENGGUNAKAN SITUS BARU.
KLIK DI SINI
UNTUK BERKUNJUNG KE SITUS PEPAK VERSI BARU.

 
PEPAK PEPAK
Jumat 22 Agustus 2008   
    Utama | Pustaka | e-BinaAnak | e-BinaGuru  
         Pustaka  
  Utama > Pustaka > Mata-Mata  

Cari di Pustaka Cari di Pustaka
   

Topik TOPIK
  Pelayanan Anak Umum (98)
Pelayanan Sekolah Minggu (74)
Guru - Pendidik (148)
Anak - Murid (170)
Metode dan Cara Mengajar (160)
Kurikulum - Pedoman Mengajar (15)
Fasilitas Pelayanan Anak (15)
Penginjilan Anak - Misi Anak (55)
Pengajaran - Doktrin (277)
Doa - Musik - Ibadah (80)
Program Khusus Anak (43)
Perayaan Hari Raya Kristen (186)
Aktivitas dan Ketrampilan Anak (110)
Literatur untuk Anak (11)
Organisasi Pelayanan Anak (4)
Sudut untuk Anak (27)
Kesaksian Guru (48)
Humor (10)

Total 1448 tulisan dalam 18 topik.
 

Frequently Asked Questions FAQ
  Bagaimana cara berpartisipasi dalam pelayanan di Situs PEPAK? jawabannya  

Subscribe e-BinaAnak / e-BinaGuru Berlangganan
e-BinaAnak / e-BinaGuru

Mata-Mata

Tanggal terbit:
23-7-2007

Topik:
Kesaksian Guru

Tipe Bahan:
Artikel

Tulisan ini pernah dimuat di:
e-BinaAnak edisi 340
Tampilan cetak
Beri tahu teman Anda
Kirim tulisan ini ke email Anda


"Mari kita berdoa!" rekanku mengucapkan kata itu dengan lantangnya di depan murid-muridku yang sudah siap sedia mengikuti ibadah di kelas sekolah minggunya yang mungil.

Aku sudah siap-siap menutup mata pula saat aku terpancing dengan gerakan cepat seorang bocah kecil yang langsung menutup seluruh wajahnya dengan tangan mungilnya. Jari-jarinya tidak rapat dan kulihat bola matanya bergulir ke sana kemari dari sela-sela jemarinya. Aku berdiri agak jauh dari mereka dan leluasa mengawasi mereka. Ada lagi yang terang-terangan mendongakkan kepalanya ke atas, dengan mata terbuka, seolah-olah di langit-langit kelas yang hanya tergantung satu alat penerang itu ada banyak benda yang menarik. Wah lebih parah lagi, ada anak yang saling berpandangan dari balik jemarinya dan saling menuding, seolah berkata, "Ayo, kamu gak berdoa ya ...!"

Melihat polah mereka di luar ajaranku mengenai sikap doa yang benar aku bersiap-siap menghampiri mereka. Aku ingin melakukan kebiasaanku dan rekan-rekanku yang lain saat melihat anak-anak itu bersikap tidak benar dalam berdoa. Ya, aku ingin mencolek mereka, dan berbisik untuk meminta mereka berdoa dengan benar. Atau mungkin bisa saja aku memelototi mereka yang tidak berdoa itu.

Saat akan melangkah, ada suara kecil, "Hei, ngapain kamu? Kamu mau mengatakan pada anak-anak itu bahwa kamu juga tidak berdoa dengan sikap yang benar? Kamu mau jadi hakim bagi mereka untuk kesalahan yang juga kamu lakukan?"

Aku tidak jadi melangkah. Iya ... ya ... aku kok malah jadi mata-mata ya .... Seharusnya aku bisa mengajarkan lebih baik lagi dengan memberikan contoh sikap doa yang benar dalam setiap acara doa di kelasku. Bukan hanya dengan kata-kata dan perintah kepada mereka. Aku sendiri harus memberi contoh buat mereka. Jangankan jadi contoh, lihat aja aku sekarang sedang tidak berdoa, tapi malah terang-terangan membuka mata, tidak ada tundukan kepala, dan tangan ku tidak aku lipat. Padahal sekarang ini lagi acara doa.

"Amin!" rekanku mengakhiri doanya dan melanjutkan acara.

Aku masih memikirkan diriku yang tadi hampir jadi hakim. Satu imajinasi lucu muncul di kepalaku. Seandainya tadi aku memutuskan untuk mencolek atau menegur mereka dan menyuruh mereka berdoa dengan benar, bisa saja mereka berbisik kepadaku dan berkata, "Aku kan bantuin Kakak liatin temen-temen yang gak berdoa." Andaikan itu bukan imajinasi, tapi kenyataan, wuaahhh ... mungkin aku mau minta cuti dulu jadi guru sekolah minggu.

Sepertinya ini saat dimana aku harus putuskan berhenti jadi mata-mata acara doa nih. Aku tidak mau berdiri jauh-jauh lagi dari mereka, tetapi berdiri dekat mereka. Aku mau saat mata kecil mereka mengembara sendiri saat acara doa sedang berlangsung, dia bisa melihat guru-gurunya melakukan sikap doa yang benar. Aku mau dengan contoh nyata, pengajaran yang kami berikan lewat bibir kami tidak sia-sia dan mereka dapat semakin mengerti apa yang kami ajarkan.

Anak-anak menangkap hanya 30% dari apa yang mereka dengar dan 70% dari apa yang mereka lihat. Jadi kalau hari ini di kelas masih ada anak yang suka curi-curi pandang waktu berdoa, mungkin itu berarti masih ada guru yang berprofesi ganda sebagai mata-mata saat acara doa.

Jadi, siapa yang menyusul saya untuk pensiun jadi mata-mata?

Solo, 7 Agustus 2006

URL: http://www.sabdaspace.org/mata_mata

Oleh: Love



Berikut ini beberapa tulisan yang bertopik sama:
  • Sumber yang Melimpah
    15-5-2008 | Artikel
  • Pendeta yang Mengajar Sekolah Minggu
    22-4-2008 | Artikel
  • "Hanya" Seorang Pelayan Anak-Anak
    24-1-2008 | Artikel
  • Ketaatan
    18-1-2008 | Artikel
  • Kesaksian Guru
    9-1-2008 | Artikel
  • Kesaksian: Natal Sekolah Minggu
    13-12-2007 | Artikel
  • Menyentuh Masa Depan
    23-7-2007 | Artikel
  • Setiap Orang adalah Pencerita
    23-7-2007 | Artikel
  • Melatih Anak untuk Peka
    23-7-2007 | Artikel
  • Pelayanan Anak Jalanan: Mereka Juga Ingin Punya Masa Depan
    2-3-2007 | Artikel

  • Tentang Kami | Kontak Kami | Buku Tamu | Promo | Situs YLSA | Links | FAQ | Sumber | Info Anda
     

    SITUS INI ADALAH SITUS PEPAK VERSI LAMA.
    SEJAK 1 JUNI 2008 KAMI MENGGUNAKAN SITUS BARU.
    KLIK DI SINI UNTUK BERKUNJUNG KE SITUS PEPAK VERSI BARU.

     
    Disclaimer | © 2008 Yayasan Lembaga SABDA | Email: pepaksabda.org |Laporan Masalah/Saran

    ^ Ke Atas