|
Dalam suratnya untuk jemaat di Roma, Paulus menulis, "Sebab apa yang
tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan
keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak
dunia diciptakan" (Roma 1:20). Ketika guru mengesampingkan alam dan
ilmu pengetahuan dari pelayanan gereja untuk anak-anak, mereka
mengabaikan sumber pengajaran yang mempunyai dampak besar. Tuhan
sendiri menggunakan alam sebagai alat untuk mengajar. Bunga bakung,
burung pipit, bahkan biji sesawi adalah alat bantu visual yang
dipakai-Nya.
Para pelajar mungkin berpikir bahwa pelajaran tentang iman itu
diperoleh melalui gereja atau sekolah minggu; pelajaran tentang
dunia ada di sekolah, dan keduanya sama sekali tidak berkaitan.
Ketika anak-anak bisa mempelajari Sang Pencipta dan ciptaan-Nya di
tempat yang sama, mereka bisa mendapatkan pandangan Kristen yang
benar. Bagi anak-anak yang diajar di sekolah Kristen, dimasukkannya
kebenaran Alkitab ke dalam kurikulum dapat menjadi pengalaman
sehari-sehari yang berharga bagi mereka, tapi untuk kebanyakan anak,
isi Alkitab harus datang dari orang tua, guru-guru sekolah minggu,
atau acara-acara khusus lainnya.
Seorang guru yang ingin membawa alam ke dalam ruangan kelas tidak
perlu menjadi ilmuwan. Mereka yang berhasil menanamkan rasa takjub
pada murid-murid adalah mereka yang juga kagum akan ciptaan Tuhan
dan memberikan ketakjuban mereka sendiri hanya dengan membagikan
rasa takjub itu. Dalam semua pembelajaran, penemuan kebenaran
mempunyai dampak lebih banyak daripada yang hanya diberikan oleh
seorang guru yang bertindak sebagai sumber eksklusif pengetahuan.
Jawaban guru terhadap semua pertanyaan yang berkaitan dengan dunia
ciptaan Tuhan haruslah, "Ayo kita cari tahu bersama-sama!"
Pelajaran dari Kejadian yang mengungkapkan tema penciptaan memberi
banyak kesempatan untuk membagikan berbagai penemuan tumbuh-tumbuhan
dan hewan-hewan. Kelas yang berpusat pada alam bisa saja mengadakan
kegiatan yang secara langsung menyentuh daun-daunan, tempurung,
fosil, biji-bijian, dan binatang hidup (yang diawasi) secara
berkala. Kaca pembesar dan mikroskop bisa meningkatkan kemauan dan
kemampuan para murid untuk menyelidiki sesuatu. Buku dan majalah
bisa mendorong mereka untuk menyelidiki sesuatu dengan lebih lagi.
Sekali lagi kita berkata bahwa kapan pun panca indera yang terlibat
dalam proses belajar lebih dari satu, maka pengetahuan akan
meningkat. Bandingkan dampak yang muncul hanya dari mendengar bahwa
Tuhan membuat "binatang melata" (Mazmur 148:10) dibandingkan dengan
melihat dan menyentuh tikus hidup!
Tidak semua pelajaran bisa disisipi kegiatan alam. Dan sangat baik
untuk menghilangkan kegiatan yang tidak mendukung dan tidak
memperkuat tema utama dari kurikulum. Namun demikian, ada banyak
sekali kebenaran tentang Tuhan yang bisa dipelajari dari
penyelidikan atas ciptaan-ciptaan-Nya dan selain itu juga ada banyak
tema yang harus diperkuat oleh kegiatan-kegiatan tambahan.
Penyajian alam yang paling baik adalah secara dekat dan langsung,
akan tetapi film dan buku yang dipinjam dari perpustakaan bisa pula
menjadi pembangun kesadaran para murid yang efektif. Penelitian
lapangan yang diadakan pada hari apa pun bisa meningkatkan pemahaman
para murid dan membangun hubungan antara guru dan murid. Perjalanan
ke taman, pusat alam, museum, planetarium, atau kebun binatang
benar-benar bisa memperkaya pengalaman hari Minggu. Bahkan
jalan-jalan di sekitar kompleks gereja atau rumah dengan panduan
guru bisa menjadi kegiatan belajar yang sangat menyenangkan.
Pengalaman sederhana dari mengamati perubahan cuaca melalui jendela
kelas bisa meningkatkan rasa penghargaan terhadap kuasa Tuhan.
Ada banyak guru yang bisa memberikan, setidaknya satu pelajaran
dengan pergi ke jendela dan melihat pelangi yang baru pertama kali
dilihat oleh sang anak atau kepingan salju yang turun pada musim
itu. Di luar negeri, guru-guru yang berpengalaman menggunakan
kepingan salju sebagai "waktu untuk mengajar". Anak-anak boleh
meninggalkan pelajaran untuk sesaat, lalu guru-guru itu membariskan
para murid di sekitar jendela dan menjelaskan bahwa Bapa mereka yang
di surga "menurunkan salju seperti bulu domba" (Mazmur 147:16).
Karena anak kecil hanya belajar secara literal dan konkrit,
sebaiknya guru tidak menggunakan simbol apa pun juga. Anda bisa
menunjukkan bagaimana induk ayam merawat anak-anaknya, kemudian
bandingkanlah dengan Tuhan yang ingin memelihara kita; namun,
menggunakan cangkang telur, putih, dan kuning telurnya untuk
mengajarkan sifat Allah yang Tritunggal hanya akan mendatangkan
masalah. (Salah seorang guru yang menggunakan telur untuk
menjelaskan masalah itu dibuat bingung dengan kuning telur yang
berganda dan harus menjelaskan banyak hal.)
Kesadaran untuk mengajarkan kuasa Allah dengan belajar dari alam
berarti melibatkan beragam gaya belajar anak-anak. Metodenya
melibatkan seni, drama, menulis, musik, dan kegiatan-kegiatan yang
melibatkan banyak penelitian. Anak-anak yang tidak bicara dengan
bahasa yang guru mereka gunakan, yang lemah fisik dan mental, atau
yang mempunyai keterbatasan dalam belajar bisa menanggapi alam
sesuai tingkat pemahaman mereka sendiri. Kebun binatang, museum,
perpustakaan, atau universitas setempat mungkin mempunyai koleksi
bahan-bahan yang bisa dipinjam. Lembaga-lembaga seperti itu mungkin
juga menyediakan lokakarya untuk guru-guru yang berminat mengajar
secara lebih lagi tentang alam dan bagaimana mengajarkannya kepada
anak-anak.
Saat kesadaran akan masalah polusi dunia berkembang, banyak
pelatihan Kristen menyertakan pembelajaran alam dan perlindungan
alam dalam program pendidikan luar ruangan mereka. Pelayanan anak
yang memasukkan pelatihan atau retret harus memanfaatkan kesempatan
itu untuk mendidik anak-anak.
Para guru harus terlebih dulu menemukan lagi rasa takjub mereka akan
kuasa dan kemuliaan Sang Pencipta. Dengan demikian, mereka bisa
memercikkan ketakjuban yang serupa di dalam pikiran murid-murid
mereka dengan memberikan kesempatan untuk melihat pekerjaan Tuhan di
dunia-Nya.
(t/Dian)
Sumber: The Complete Handbook for Children Ministry: How to Reach and Teach Next Generation, Dr. Robert J. Choun & Dr. Michael S. Lawson, , halaman 222 -- 224, Thomas Nelson Publishers, Nashville, 1993.
|