|
Mungkin kebanyakan gereja di Indonesia tidak memunyai pelayanan
pastoral untuk anak-anak. Barangkali karena gereja memandang belum
perlu, tidak pernah terpikir, tidak peduli, atau tidak tahu apa yang
harus dilakukan. Mungkin semua asumsi ini benar. Padahal, sama
halnya dengan orang dewasa, anak-anak pun perlu mendapatkan
bimbingan dan pelayanan pastoral. Pelayanan ini bisa dilakukan
bekerja sama dengan sekolah minggu yang adalah bagian dari pelayanan
gereja.
KRISIS MASA ANAK-ANAK
Sebagaimana orang dewasa, anak-anak pun dapat mengalami krisis
ketika terjadi suatu peristiwa dalam hidupnya seperti: perceraian
orang tua, kematian orang penting dalam hidupnya (misalnya, orang
tua, saudara kandung, kakek, nenek, teman), sakit keras, masuk rumah
sakit, terjadi kekerasan (seperti fisik, seksual, emosi),
kecelakaan, dan trauma.
Ketika anak-anak berada dalam krisis, kemampuan mereka ditantang.
Seperti kebanyakan orang dewasa, anak-anak yang sedang menghadapi
krisis, mungkin merasa tidak dapat mengendalikan diri, menjadi
korban situasi, tidak siap, dan bingung.
Banyak anak yang terlantar dan tidak pernah mendapatkan bimbingan/
konseling bukan karena ketidakmampuan atau keterbatasan waktu
pendeta dan para pelayan anak, melainkan karena ketidakpedulian dan
ketidaksadaran mereka akan masalah yang dihadapi anak-anak. Program
konseling dalam gereja dibuat untuk jemaat dewasa, tetapi tidak
menyadari akan kebutuhan rohani anak-anak.
Yesus merupakan teladan dalam hal memperlakukan anak-anak, terutama
dalam tindakan pelayanan yang setia dan efektif. Gereja dapat
belajar dari Yesus tentang bagaimana memperlakukan anak-anak. Dia
menempatkan pelayanan anak-anak dalam prioritas pelayanan-Nya. Yesus
begitu memihak kepada anak-anak sehingga Ia berkata bahwa orang yang
memerhatikan anak-anak sebenarnya mengindahkan-Nya, sebagaimana
dicatat oleh Markus: "Lalu Yesus mengambil seorang anak kecil dan
menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu
dan berkata kepada mereka, `Barangsiapa menyambut seorang anak
seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa
menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus
Aku` (Markus 9:36-37)."
Anak-anak yang sedang berada dalam krisis/masalah sangat membutuhkan
intervensi karena cara mereka mengalami dan menafsirkan krisis akan
memengaruhi setiap segi perkembangan dirinya kelak. Bila anak-anak
yang sedang menghadapi krisis diintervensi, diharapkan mereka dapat
mengatasi kekacauan di dalam dan di luar diri mereka dengan efektif.
Hal ini akan sangat berpengaruh terhadap harga diri, kepercayaan,
dan kemampuan mereka untuk mengatasi krisis di kemudian hari.
BIMBINGAN DAN PELAYANAN PASTORAL
Ketika anak-anak tidak mendapat bimbingan yang tepat, maka makna
krisis mereka mungkin berubah. Emosi mereka tertekan dan dampaknya
sangat serius terhadap perkembangan mental mereka. Bisa jadi mereka
akan membuat kesimpulan yang salah tentang sifat dan cara Allah
berhubungan dengan dunia. Mereka mungkin beranggapan bahwa Allah itu
pemarah, jahat, atau tidak punya perhatian terhadap mereka. Hal ini
akan terus mengganggu masa kanak-kanaknya hingga remaja, bahkan
mungkin sampai dewasa. Banyak masalah emosi, relasi, dan rohani yang
diderita orang dewasa diakibatkan oleh krisis masa kanak-kanak yang
tidak terselesaikan dengan tuntas.
Anak sebagai warga kelompoknya sering kali terhambat dalam krisis.
Kebutuhan anak mungkin tidak pernah terpenuhi karena orang dewasa
sibuk dengan kekhawatiran mereka sendiri sehingga anak-anak
dikesampingkan. Dalam situasi seperti ini, gereja dan sekolah minggu
dapat berperan dalam hal seperti:
- membantu mereka memeroleh informasi yang benar;
- berpartisipasi dengan mereka pada waktu mereka
menginterpretasikan suatu masalah;
- memberi penjelasan yang benar tentang suatu hal yang belum
mereka ketahui;
- membantu anak-anak mengembangkan rasa mampu mereka melalui
berbagai program, misalnya keterampilan.
Untuk melayani anak-anak dengan efektif, langkah yang harus
dilakukan terlebih dahulu adalah mengasihi mereka, ikut merasakan
perasaan mereka seperti sakit hati, takut, marah, cemas, khawatir,
dan rasa kehilangan. Kita dapat berempati dengan mereka, tetap
mendampingi mereka pada waktu mereka menghadapi krisis.
Berikut ini beberapa prinsip dasar pelayanan pastoral terhadap anak-
anak yang dapat dilakukan.
- Pendeta secara rutin mengunjungi kelas-kelas sekolah minggu dan
guru diharapkan selalu membuka kesempatan berdialog langsung
dengan anak.
- Mengadakan retret.
- Berkunjung ke rumah murid-murid.
- Menelepon.
- Mengadakan pertemuan informal.
Semua metode ini atau metode apa pun yang digunakan, tujuannya
adalah untuk membangun relasi dan komunikasi dengan anak-anak
sehingga mereka merasa dikasihi, memiliki teman serta tidak
dikesampingkan. Dampaknya, mereka akan terbuka untuk diajak
berdialog dan tidak merasa takut untuk mengemukakan masalahnya.
BERMAIN, SENI, DAN BERCERITA
Berbagai kegiatan dalam sekolah minggu dapat dipakai sebagai sarana
untuk memberikan konseling bagi anak-anak yang membutuhkannya. Di
antaranya adalah melalui kegiatan bermain, kegiatan seni, dan
cerita-cerita yang disampaikan.
Salah satu tempat paling wajar untuk berbicara dengan anak-anak
adalah saat bermain. Ajaklah mereka bermain karena anak-anak paling
suka bermain. Jika memungkinkan, siapkan satu ruang khusus untuk
bermain di gereja. Ruangan bermain dapat menjadi tempat yang paling
aman dan nyaman bagi mereka apalagi jika mereka sudah sangat akrab
dengan ruangan tersebut.
Bagi anak-anak, bermain sama seperti berbicara dan bekerja bagi
orang dewasa. Oleh karena itu, untuk mendapatkan jalan pikiran dan
perasaan anak yang paling komplit, seseorang harus masuk ke dalam
dunia anak. Melalui bermain, banyak hal tentang diri mereka sendiri
ditampakkan tanpa mereka sadari dan dapat memberikan pelayanan
pastoral yang mereka butuhkan.
Bermain adalah jalan terbaik menuju pengertian. Melalui bermain,
tingkat spontanitas anak-anak dapat tercapai. Tidak semua anak dapat
diajak berbicara secara normal. Banyak anak yang dalam situasi
normal pun sulit diajak berbicara langsung dengan orang dewasa.
Apalagi kalau mereka dalam keadaan cemas, takut, atau stres.
Masalahnya akan menjadi lebih sulit. Selain itu, tidak mudah juga
untuk mendekati anak-anak untuk diminta menceritakan persoalan
mereka. Hambatan datang bukan saja dari anak tersebut yang tertutup
atau sulit mengemukakan persoalannya, tetapi hambatan terbesar
justru datang dari orang tua anak yang merasa diintervensi urusan
keluarganya.
Bimbingan pastoral terhadap anak-anak dapat juga dilakukan melalui
kegiatan seni. Seni adalah pernyataan keinginan hati, harapan,
ketakutan, ide, atau pengomunikasian kebutuhan emosi. Seni merupakan
alat pernyataan diri yang sangat baik. Seni visual adalah alat yang
paling banyak digunakan untuk melambangkan pengalaman manusia yang
terdalam. Seni tidak tergantung pada kala-kata dan keterampilan
verbal. Anak-anak akan merasa lebih bebas mengekspresikan diri
mereka melalui karya seni, tanpa menyadari bahwa pikiran dan
perasaan mereka dapat dimengerti dari karya seni yang mereka buat.
Pemilihan warna sering kali menggambarkan situasi yang sedang mereka
alami. Dengan demikian, mereka akan mengungkapkan hal-hal penting
tentang diri mereka sendiri melalui apa yang mereka gambar atau
lukis, ini akan memudahkan gereja dalam melakukan pelayanan pastoral
terhadap mereka. Pendeta pun dapat mengomunikasikan fakta kepada
anak-anak melalui seni. Seni juga dapat berfungsi sebagai alat untuk
menyusun interviu atau alat evaluasi. Ketika seorang anak menolak
untuk berbicara pada garis pikiran tertentu, seni dapat membantu
memecahkan kebuntuan komunikasi.
Metode lain yang dapat digunakan dalam membimbing anak-anak adalah
bercerita. Cara utama yang digunakan umat manusia untuk menyatakan
imajinasi mereka adalah cerita. Cerita selalu digunakan umat manusia
untuk mempertahankan dan mengomunikasikan hal-hal dasar tentang
norma-norma atau iman kepercayaannya.
Mitos, dongeng, peribahasa, legenda adalah alat utama yang digunakan
kelompok agama untuk meneruskan pusat kebenaran pengalaman rohani
mereka kepada anak-anaknya. Contoh yang paling penting adalah makna
pokok Injil yang terdapat dalam narasi Injil itu sendiri.
Anak-anak yang sedang dalam krisis umumnya terbuka terhadap ajaran
baru. Sering kali mereka memberi tafsiran religius terhadap kejadian
dan peristiwa yang membuat krisis. Penyampaian cerita kepada anak-
anak adalah metode yang memberi pandangan hidup baru kepada anak-
anak.
Tujuan ini dapat tercapai dengan menceritakan kisah Alkitab kepada
mereka. Melalui cerita Alkitab tertentu, anak-anak memiliki
kesempatan memikirkan krisis tertentu yang mereka alami. Misalnya,
setelah anak-anak mendengar cerita tentang kesedihan Tuhan Yesus
karena kematian Lazarus (Yohanes ll:1-44), mereka dapat berbicara
tentang dukacita.
Pada umumnya, anak-anak senang mendengarkan cerita dan juga
bercerita. Pada waktu anak-anak bercerita, mereka mengungkapkan
informasi penting tentang pikiran dan perasaan dalam hati mereka.
Dunia emosi menurut pandangan anak-anak, seperti takut, marah,
harapan, cemas, atau rasa bersalah terungkap melalui cerita.
Misalnya, ketika anak-anak berusia antara lima sampai sembilan tahun
bercerita, maka begitu banyak dari diri mereka sendiri yang masuk ke
dalam cerita.
Dengan demikian, teknik bercerita merupakan salah satu cara
bimbingan pastoral yang sangat baik untuk kalangan anak-anak. Memang
untuk anak-anak di atas usia sembilan tahun, kadang-kadang mereka
malu bercerita, atau kalau pun mereka bercerita, ceritanya sudah
mereka sensor terlebih dahulu. Mereka malu menceritakan diri mereka
sendiri, oleh karena itu bisa juga dipakai cara menulis. Karenanya,
banyak anak yang senang menulis puisi atau buku harian.
Kerja sama sekolah minggu dengan gereja diharapkan dapat menjadikan
bimbingan maupun pelayanan pastoral kepada anak dengan dasar kasih
yang juga dimiliki Yesus kepada anak-anak.
Sumber: Sahabat Gembala, Pebruari 2006, Elisa, , halaman 36--40, Kalam Hidup, Bandung, 2006.
|